
Taufan naik ke lantai empat tempat ruang kerja Natasha berada. Setelah keluar dari lift, Taufan bertemu dengan asisten gadis itu.
Poppy McGee sang asisten
"Selamat siang Mr Abisatya, saya Poppy McGee asisten miss Neville" ucap wanita yang usianya tampak diatas Natasha dengan rambut merah yang tergerai sembari mengulurkan tangannya yang disambut Taufan dengan senyum.
"Taufan Abisatya."
"Mari silahkan masuk. Miss Neville sudah menunggu anda." Poppy pun berjalan mendahului Taufan yang mengikutinya.
Tak lama mereka tiba di sebuah ruang kerja dengan nuansa putih dan abu-abu. Tampak Natasha duduk di sana sedang menatap iMac nya.
"Miss Neville, Mr Abisatya sudah tiba" lapor Poppy sambil tersenyum.
"Terimakasih Poppy" ucap Natasha tanpa mengalihkan pandangannya dari layar iMac nya.
"Saya makan siang dulu Miss."
"Silahkan Poppy." Wanita berambut merah itu pun mengundurkan diri sambil menutup pintu ruangan Natasha.
"Duduk Fan" ucap Natasha tanpa mau melihat Taufan.
"Boleh aku melepaskan jas aku?" tanya Taufan.
"Silahkan." Natasha mengangkat wajahnya dan keduanya saling beradu pandang. Wajah Natasha memerah melihat tatapan Taufan yang tampak kagum dengan dirinya.
"Kamu cantik hari, Nat."
Natasha melongo. "Hah?"
Curiga ya neng...
Yang bilang cantik
"Iya, Nat. Kamu cantik hari ini."
Natasha menatap Taufan yang hanya mengenakan kemeja putih dan vest warna abu-abu.
"Hanya hari ini?" kekeh Natasha.
"Setiap hari kamu cantik" rayu Taufan.
Natasha terbahak. "Apakah kamu sedang menggombal Mr Abisatya?"
"Apakah tidak boleh?"
"Tidak boleh."
"Kenapa, Nat?"
Natasha memajukan tubuhnya. "Karena aku mau lepas darimu."
Taufan mengetatkan bibirnya.
***
Tidak ada pembicaraan diantara Natasha dan Taufan untuk beberapa saat. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan pikiran masing-masing.
Natasha dengan berusaha menguatkan hatinya untuk move on, sedangkan Taufan yang berusaha merebut hati Natasha kembali.
"Ada perlu apa kamu kemari, Fan?" tanya Natasha.
"Mengajakmu makan siang." Taufan menjawab dengan tenang.
Natasha tersenyum smirk. "Are you sure Mr Abisatya?"
"Positive." Taufan mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu namun setelahnya dirinya menyesal karena bisa tercium harum parfum Natasha yang lembut. Duh, otakku kacau !
"Sayang sekali, Mr Abisatya, saya sedang ingin makan siang sendirian. Anda bisa makan siang di kantin. bawah."
"Apa enaknya makan siang sendirian?" Taufan lalu mengambil ponselnya dan mulai mencari-cari restauran di Manchester yang bisa delivery. "Kamu mau masakan apa? Jepang? Timur tengah?"
Natasha melongo. "Tidak usah. Aku pesan di kantin saja."
"Sekalian Nat. Aku pun belum makan siang. Tega kamu melihat aku kelaparan?" pinta Taufan memelas.
Natasha melirik tajam ke Taufan. "Pesan saja sendiri!"
Pria tampan itu pun manyun.
"Natasha."
"Kamu... serius mau melepas aku?" Taufan menatap dalam ke gadis cantik di hadapannya.
Natasha mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Taufan.
"Terus mau kamu apa? Kamu sendiri kan yang melupakan janjimu sendiri? Pada saat aku sudah memantapkan hati untukmu tapi kamu tak pernah mencari aku padahal kamu bekerja di perusahaan yang masih ada hubungannya dengan ku. Apa ya aku harus menunggu sampai lumutan buat nunggu kamu? No way, Taufan. Sudah cukup aku menunggu kamu 20 tahun."
"Kalau aku tidak mau kamu melepaskan aku?"
"Berarti kamu pria egois, Taufan. Tapi dimana-mana pria itu memang egois. Pada saat aku mengingatkan kamu, baru kamu sadar dan kamu melihat aku yang seperti ini baru kamu kejar-kejar aku. Apa jadinya jika kamu tidak ingat? Aku akan melajang seumur hidup sedangkan kamu bisa move on dengan membangun rumah tangga bersama wanita lain. Iya kan?" Natasha menatap Taufan kesal.
"Cukup sudah Fan, aku memelihara kebodohan aku hingga dua dekade. Bagi aku, hal itu merupakan sia-sia dan aku dibodohi dengan perasaan bagaimana ada prince charming yang berjanji menikahi tapi dia sendiri yang melupakan janjinya."
Taufan melihat bagaimana kecewanya Natasha. "Apakah kamu tahu alasan kenapa aku tidak mengingat janji aku padamu?"
"Tidak usah kasih alasan klise Fan."
"Alasanku mungkin kedengaran di telingamu klise tapi itu apa adanya." Taufan membasahi bibirnya. "Aku insecure dengan keluarga mu."
Natasha melotot. "Insecure? Insecure? Kamu belum mencoba saja sudah mundur! Laki-laki macam apa kamu?"
"Laki-laki yang jatuh cinta dengan anak perempuan bermata hijau yang tumbuh menjadi dewasa dengan cantiknya tapi laki - laki ini juga sama bodoh nya! Bodoh tidak berani menghadapi keluarga si gadis, bodoh melupakan janjinya, bodoh membuat seorang gadis harus menunggu sekian lama. Maafkan atas kebodohan aku, Natasha!"
Taufan pun berdiri dan membungkuk di hadapan Natasha yang membuat gadis itu terkejut.
"Fan, apa yang kamu lakukan?"
Taufan menegakkan tubuhnya. "Jika aku harus bersujud untuk menebus kesalahan fatalku padamu, akan aku lakukan, Nat."
"Tidak usah! Terlalu berlebih-lebihan."
Taufan berjalan menuju tempat Natasha duduk lalu berlutut di hadapan gadis itu. "Apa yang harus aku lakukan untuk menebus waktu yang aku sia-siakan padamu Nat."
"Cukup tinggalkan aku."
"Apapun selain itu!"
"Tapi itulah yang aku inginkan, Fan. Aku ingin kamu pergi." Taufan mendengar nada gemetar suara Natasha.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu kali ini, Nat. Jika rasa cintamu padaku berkurang maka aku akan menambahkannya bahkan aku akan memberikan lebih rasa cintaku padamu." Taufan menatap Natasha dengan tatapan serius.
Natasha menggelengkan kepalanya. "Kamu merasa seperti ini karena kamu baru ingat kan? Dan kamu baru tahu bahwa aku mencintaimu dan kamu hanya ingin memenuhi janjimu tapi soal perasaan mu, bisa jadi hanyalah euforia sesaat."
Mulut Taufan menganga. "No, Nat... "
"Pelajari dulu perasaan mu Fan. Dan selama itu, aku harap kita tidak perlu bertemu lagi. Pulanglah ke Jakarta, jangan tinggal di sini."
"Kenapa Nat?"
"Karena mas Hoshi membutuhkan kamu."
***
Taufan masih dalam mode keras kepalanya dengan menolak pulang ke apartemen dan tetap menemani Natasha makan siang meskipun gadis itu hanya memesan makanan untuk dirinya sendiri.
Pria itu pun akhirnya memesan makan siang untuk dirinya sebuah bento Jepang yang praktis. Taufan juga memesan mentai salmon dan sushi untuk Natasha karena tahu gadis itu pasti akan pulang agak lama di tanggal - tanggal tutup buku akhir bulan.
Poppy yang melihat Taufan duduk di sofa dengan MacBook nya sedang berkoordinasi dengan Hani yang juga lembur di Jakarta, hanya memandang Natasha dengan tatapan bertanya namun bossnya hanya mengedikkan bahunya.
Ketiga orang itu berada dalam satu ruang kerja Natasha dengan kesibukan masing-masing.
Hingga jam menunjukkan pukul enam sore, Taufan melihat Natasha masih sibuk bersama dengan Poppy.
"Makan dulu Nat" ucap Taufan sambil mengeluarkan mentai salmonnya.
"Nanti saja aku masih..."
"Makan Nat! Nanti kamu sakit! Atau mau aku suapin?"
Natasha menatap judes ke Taufan dan pelan-pelan dia membuka kotak makan yang berisi mentai salmon.
"Makan dan habiskan. Aku awasi dari sini." Taufan pun duduk di meja milik Poppy yang berada di seberang meja Natasha.
Gadis itu lalu menyuap mentainya dengan perasaan kesal.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️