My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Bagaimana Bisa?



Jin hanya tersenyum tipis melihat dan mendengar ucapan ketiga orang yang berada di tahanan. Wajahnya tampak puas bisa mendengar apa yang ingin didengar lalu dia menghubungi David.


"Tuan David, sudah dapat kalimatnya 'hendak membunuh' dan saya kira ketiganya akan saling membunuh satu sama lain."


"Sudah kau rekam semuanya kan Jin?"


"Sudah tuan."


"Kita tunggu saja karena aku berharap mereka tetap bisa dihukum pidana bukan karena alasan kegilaan jadi bisa bebas dirawat di RSJ."


"Anda benar tuan, sepertinya mereka bertiga ingin lolos dari Pidana." Jin menatap layar monitornya. "Sepertinya mereka sudah mulai beraksi."


"Apa Jin? Aku masih di jalan bersama Didit."


"Dokter Rizal didatangi seseorang yang mengaku pengacara kiriman dari ayahnya."


"Kamu zoom si pengacara itu membawa apa. Jika ada yang mencurigakan, bilang sama Fathur atau Tama disana."


"Bang Dapid! Itu si dokter laki gila dikasih apa itu sama si pengacara tanda kutip" seru Benji.


"Haaaaahhh?" seru David dan Jin.


Beruntung yahg menyetir adalah Anandhita jadi David bisa leluasa memeriksa ipadnya yang sudah dihubungkan dengan CCTV di tahanan.


"Dokter Fathur, anda masih di markas kan?" David menghubungi Fathur menggunakan walkie.


"Masih let. Gimana?"


"Apa ada pengacara si Rizal datang?" tanya David.


"Ada Let dan kami melihat memang si pengacara itu memberikan sesuatu ke Rizal."


David terkejut. "Kok elu tahu?"


"Dih, Let, earpiece nya masih kepasang ini. Aku lupa lepas" kekeh Fathur.


David hanya melengos. "Thur, coba kamu geledah apa yang dikasih ke Rizal tapi setelah nya kamu kembalikan lagi."


"Siap Let."


***


Fathur dan Tama menghampiri Rizal yang sudah selesai ditemui oleh pengacaranya lalu menggeledah barang di ruang interogasi dan Fathur menemukan sebotol obat yang diaku Rizal sebagai vitamin. Tama mengalihkan perhatian Rizal agar Fathur bisa mengambil sampel dua tablet untuk diteliti.


"Oke dokter Rizal, ini vitamin anda saya kembalikan." Fathur menyerahkan kembali botol obat yang tadi diberikan oleh pengacaranya.


"Terimakasih." dokter Rizal mengambil botol obat yang diberikan oleh Fathur.


Setelahnya dokter Rizal diantar kembali ke ruang tahanan sedangkan Iptu Fathur bergegas menuju kantor forensik tempat Jimmy dan Toro disana.


***


"Sianida."


Fathur menatap Jimmy dengan tatapan terkejut. "Serius?"


"Serius. Ini mau dikasih ke siapa dulu? Farah atau Mentari?" tanya Jimmy sarkasme.


"Kalian harus waspada, karena kita tahu sendiri mereka itu otaknya sering diluar nalar manusia normal." Jimmy menatap serius ke Fathur.


"Tahu nggak Jim, letnan David ingin mereka semua saling membunuh satu sama lain agar selesai semuanya tapi kok ya brutal."


Jimmy dan Toro terbahak. "Nggak sih sebenarnya karena wajar kalau Letnan pengen mereka mati karena dia hampir mati, neng Dhita juga. Siapa yang nggak jengkel?" ucap Toro. "Meskipun aku ngarep jandanya neng Dhita sih."


Jimmy langsung mengeplak bahu Toro. "Keluarga Anandhita langsung nggak terima kamu, Ateng!"


"Lho kenapa? Aku kan nggak jelek-jelek banget juga meskipun perutku hanya sepack bukan six pack macam letnan David tapi aku serius sayang sama neng Dhita." Toro tidak terima dibilang tidak pantas.


"Kamu apa tidak lihat bagaimana pandangannya para keluarga besar Dhita yang ilfill lihat elu nangis lebay?!" kekeh Jimmy.


Fathur ketawa. "Aku baru tahu kalau keluarga besar istrinya letnan David ternyata Sultan."


"Tapi kamu lihat sendiri kan Dhita gimana, bang? Bukan tipe orang yang pamer kekayaan keluarganya." Jimmy menatap Fathur.


"Mereka keluarga Sultan yang humble."


***


Keesokan harinya, markas kepolisian pusat di ruang tahanan terjadi kehebohan yang membuat Kapten Kosasih dan AKP Thomas harus menghadap Kapolri. Tiga tahanan yang sedang dalam penyelidikan, tewas akibat racun sianida yang ada di minuman mereka.


Tentu saja berita itu membuat David dan timnya melongo. Bagaimana bisa?


***


"Siapa semalam yang jaga malam?" tanya Kapten Kosasih kepada para petugas piket malam.


"Saya dan Hari, Ndan" jawab Aiptu Udin.


"Bagaimana bisa kalian kecolongan?" tanya Kapten Kosasih marah.


"Kapten."


Kapten Kosasih menoleh dan tampak David, Jimmy dan Toro datang dengan membawa laptop.


"Apa Dave?" tanya Kapten Kosasih dengan nada tinggi.


"Semuanya ada disini." David menunjukkan flashdisk dan laptop ke kapten Kosasih.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Insyaallah satu dua chapter lagi David Anandhita selesai


Ini aku ngetik sambil ngantuk ...


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️