
Anandhita berjalan menuju ruang prakteknya setelah melakukan operasi rumit yang membuat energinya terkuras. Gadis cantik itu tampak sedikit lelah di wajahnya tapi tetap menyapa ramah kepada semua perawat dan dokter yang berpapasan dengannya.
Setelah masuk ke dalam ruangannya, Anandhita lalu membuka kulkas kecilnya dan mengambil semangkuk es krim coklat yang selalu ada disana selain beberapa botol air mineral serta juice jeruk. Setelah duduk, Anandhita membuka es krim yang tinggal separo, mengambil sendok yang tersedia di dalam lacinya dan mulai memasukkan coklat dingin itu.
"Hhhmmm" gumamnya. "Enaknyaaaaa."
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" ucap Anandhita dan pintu pun terbuka. Tampak wajah tampan sepupunya sambil nyengir diantara pintu.
"Hai cantik!" sapa pria itu.
"Yuhuuu. Masuk Ga" pintanya.
Anarghya Giandra datang menghampiri sepupunya lalu duduk di hadapannya. Pria yang sebaya dengan Anandhita itu langsung membuka mulutnya.
"Aaaakkk."
"Apaan?"
"Minta es krim coklat, Dit."
"Ooh." Anandhita pun menyendokkan es krim itu dan memberikan pada sepupunya.
"Yummy" senyum Anarghya. "Babang Dapid apa kabar?"
"David, Arga. Kamu tuh hobinya ganti nama ih" kekeh Anandhita.
Anarghya Giandra, putra bungsu Bara Giandra dan Gendhis Arum Pradipta adalah seorang dokter mengikuti jejak Omanya Alexandra Giandra dan mamanya Arum. Jika Alexandra adalah dokter forensik, Arum dokter Obgyn, Anarghya adalah seorang dokter bedah sama dengan Anandhita.
"Biarin. Suka-suka lah." Anarghya meminta lagi es krimnya dan Anandhita pun menyuapi sepupunya. "Bang Dapid ada kasus apa Dit?"
"Katanya pembunuhan waria, Ga."
"Yang ramai di berita media elektronik dan media online itu?"
Anandhita mengangguk. "Lagi pusing tuh mas David. Digoda banci."
Anarghya terbahak. "Kasiaaannn."
"Eh, Arkananta gimana kabar?" tanya Anandhita teringat keponakannya dari Bima dan Arimbi.
"Duh nakalnya bikin mas Bima emosi. Masa semua kunci ban main tukar sama kunci rumah?"
Anandhita terbahak. "Tapi Arka tuh pintar lho. Benar-benar mas Bima darting sama anaknya."
"Parah bener, Dit. Babeh saja sampai jengkel sama cucunya" kekeh Anarghya.
"Kasihan Oom Bara, udah darting sama menantu ditambah cucunya."
"Tapi Arka tuh licik. Kalau sama Oma Alexandra dan mama, beeeuuhhh manisnya ngalah-ngalahin si Shiro!" Shiro adalah kucing ragdoll peliharaan Oma Alexandra. "Kalau sama Opa dan papa... Wis njelehi! Sampai-sampai kalau nggak ingat umur sama anak, papa bisa nangis kejer saking jengkelnya sama cucu gantengnya itu. Ga tahu tuh mas Bima bikin ulah apa atau mbak Arimbi ngidam apa, bisa-bisanya punya anak saingan sama chucky."
"Hush! Masa Arka ganteng gitu disamain sama Chucky?" kekeh Anandhita.
"Usilnya puooolll, Dithaaaa! Makanya kalau aku pergi trus itu setan cilik mau ke rumah, mending kamarku ta kunci."
Anandhita tertawa teringat Anarghya marah-marah melihat semua tas dokternya sudah diberantakin oleh Arka padahal hanya ditinggal mandi.
"Namanya juga anak kecil Ga" kekeh Anandhita. Suara ponsel Anandhita berbunyi dan wajah gadis itu tersenyum. "Assalamualaikum mas David."
***
Anarghya menatap David dengan cemberut begitu juga dengan kekasih Anandhita. Randy yang baru pertama kali melihat pacar sahabatnya terkesima melihat dokter cantik itu.
Pantas David tidak bergeming saat digoda oleh dokter Farah, wong kekasihnya cantik begini.
"Jadi ini yang namanya Randy Hutabarat?" senyum Anandhita.
"Iyes. Apa kabar Didit?" senyum Randy sambil mengulurkan tangannya.
"Kamu tidak boleh manggil pacarku Didit! Harus Nona atau dokter Anandhita" sahut David dingin yang membuat Randy merinding.
"Idiiihhh" cebik Anarghya. "Halo, aku Anarghya, bisa dipanggil Aga atau Arga atau dokter Anarghya. Aku sepupu Anandhita."
"Siapa itu dokter Farah?" Anarghya menatap tajam ke David.
"Dokter koroner, anak buahnya dokter Tini Srikandi" jawab Randy.
"Dokter Tini kenalan tante Gendhis, Ga. Jadi jangan suudzon dong" kekeh Anandhita. "Mas David kenapa?"
David hanya diam saja lalu menghampiri Anandhita, mengambil salah satu kursi dan menariknya. Pria itu duduk di sebelah Anandhita dan merebahkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Capek aku Dit" keluh David.
"Lha piyeeee. Meh mandeg jadi polisi?" goda Anandhita.
"Weeiiittsss! Ya jelas tidak!" seru David dengan tatapan horor ke gadisnya.
"Bang jangan sok imut gitu kenapa?" ledek Anarghya.
"Suka-suka gue lah! Pan Dhita cewek gue. Makanya elu cari pacar Ga. Jomblo dipiara" ledek David.
"Idiiihhh! Ga segampang itu bambaaaaannggg!" sergah Anarghya.
"Dave" panggil Randy.
"Nape?" sahut David judes.
"Emang elu kalau ketemu sama Dokter Arga begini?"
"Baru sebagaian ini bang. Kalau dah kumpul ma keluarga kami lainnya, lebih rusuh!" jawab Anarghya.
"Memang sejak kapan kalian pacaran?" tanya Randy.
"Aku dah naksir Didit sejak SMA. Aku kakak kelasnya. Aku kelas tiga, Didit kelas satu tapi baru jadian setelah aku tahun ke empat di Akpol" jawab David. "Tapi aku lebih dulu mendekati papa Arya."
"Babang Dapid mah penuh modus" cebik Anarghya.
"Dapid?" Randy nyengir ke David.
"Suka-suka si cumi satu itu lah!" dengus David sambil merebahkan kepalanya.
"Jadi kasus nya gimana?" tanya Anandhita ke Randy.
"Ternyata benar perkiraan kami, eh ... David kalau ini kasus pembunuhan berantai. Dan korban sudah ada mulai sejak tiga bulan lalu."
"Persamaannya apa Bang?" tanya Anarghya.
"Di dalam darah para korban terdapat GHB komposisi tertentu yang tidak dijual atau didapatkan di Indonesia" jawab Randy.
Anarghya menatap Anandhita. "Memang berapa komposisi GHB nya?" tanya Anarghya ke Randy.
"Aku tidak tahu komposisi nya karena yang memegang adalah Jimmy, tim laboratorium forensik."
***
"Dave" panggil Randy.
"Hhhmmm."
Kedua polisi itu sekarang berada di dalam mobil patroli menuju Laboratorium forensik alias kantor CSI ( crime scene investigation ).
"Kira-kira siapa ya Mr. Angel?"
"Itu yang aku ingin tahu juga Randy."
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H