
David dan Arya sama-sama berpikir siapa saja kira-kira yang tahu kalau dirinya menyamar selain timnya.
"Pas kamu dandan itu, siapa yang dandani kamu?" tanya Arya. Pria paruh baya itu sudah mandi kedua kalinya dan sudah segar. Sengaja dia memutuskan untuk menemani David saat Anandhita dan Anarghya disibukkan dengan tugas mereka sebagai dokter. Amberley sudah pulang ke rumah keluarga Ramadhan.
"Yang dandani namanya Tasya dan Viola. Yang tahu aku pergi adalah Fajar, Randy, Jimmy dan Toro."
"Bukannya waria nya ada tiga, kenapa cuma dua yang kamu sebut?"
"Yulia sedang di kamar mandi, Pa."
Arya mengangguk sambil mencoret-coret sesuatu di kertas. "Total semua orang yang berhubungan dengan kamu di apartemen itu tahu kalau malam itu kamu pergi mencari informasi dan tahu bagaimana dandanan kamu."
"Betul Pa."
"Tampaknya orang terdekat kamu yang berani melakukan karena kalau bukan mereka, siapa lagi yang tahu kamu bentukannya seperti apa. Kami yang melihat dan menemukan kamu saja tidak tahu kalau itu kamu. Iya kan?" Arya menatap David serius.
"Tapi siapa ya pa. Aku harus memeriksa CCTV apartemen untuk mengecek alibi semua orang disana.
"Apa orang-orang disana tahu kamu memasang CCTV?" tanya Arya.
"Mereka hanya tahu CCTV yang terlihat, yang tidak terlihat hanya aku dan Randy yang tahu."
"Kapan kamu memasangnya?" tanya Arya.
"Saat Tasya diserang, aku langsung bergerak cepat dengan memasang CCTV di apartemen waria itu dan apartemen yang kami sewa."
"Harusnya kamu bisa akses sekarang, Dave."
"Ponselku kan jatuh pa, pas aku kena tembak."
Arya mengeluarkan ponsel David dari dalam nakas. "Ini ponselmu. Mamamu yang membawa clutch mu saat kami menggotong dirimu."
"Alhamdulillah... Makasih pa." David langsung mengutak Atik ponselnya dan berusaha membuka rekaman CCTV tersembunyinya.
"Astaghfirullah" ucapnya.
Arya yang penasaran pun melihatnya. "Astaghfirullah."
***
Jin Kawashima berhasil mendapatkan semua rekaman di Marina Bay di bulan Maret lalu. Dengan teliti pria berbadan gempal itu memeriksa setiap CCTV per hari dan dia folderkan dengan rapi.
Ketika sedang bekerja, ponselnya bergetar dan dilihatnya Hideo menelponnya.
"Halo tuan" sapa Jin setelah menekan tombol hijau.
"Jin, semalam David ditembak."
"Astaga. Bagaiamana keadaannya, tuan?"
"Beruntung Oom Arya sedang lewat di daerah situ dan langsung membawanya ke rumah sakit. Arga yang mengoperasi David dan menyelamatkan nyawanya. Apa ada kabar dari Singapura?" tanya Hideo.
"Saya baru mendapatkan seluruh CCTV di bulan Maret, tuan. Ini sedang saya folderkan per tanggal agar mempermudah penyelidikan."
"Apa kamu hanya mendapatkan bulan Maret saja, Jin?"
Jin Kawashima menyeringai. "Anda mengenal saya bukan, tuan?"
Hideo terbahak. "Of course tidak hanya di bulan Maret."
"Saya akan ke Jakarta jika semuanya sudah lengkap dan mengetahui latar belakang peristiwa ini."
"Oke Jin. Aku tunggu."
***
"Sudah siap, sayang?" panggil Hideo ke istrinya, Fayza setelah menyelesaikan telponnya ke Jin.
"Sudah. Shinichi biar sama nenek Mai dulu." Fayza keluar kamar dengan dandan santai tapi rapi. Nenek Mai adalah pengasuh Shinichi sejak bocah itu lahir. Karena Hideo dan Fayza hendak membesuk David, mereka harus meninggalkan putra mereka di rumah agar tidak tertular penyakit di rumah sakit.
Fayza Sky Park
"Kamu tuh..." ucap suaminya.
"Kenapa sayang?" tanya Fayza bingung.
Hideo Kojima Park
"Kancing bajunya lupa ketutup itu" senyum Hideo. Fayza menunduk dan tersenyum simpul.
"Ini aku kancingkan" senyumnya. "Yuk berangkat."
***
"Jin. Dia kan aku tugaskan ke Singapura."
Fayza mengangguk. "Apa Jin sudah menemukan sesuatu?"
"In progress, baby." Hideo tersenyum ke arah istrinya yang sudah tiga tahun dinikahinya. "I love you Fay."
Fauzan tersenyum. "Love you too. Gimana pertemuan dengan mas Bima?"
"Lancar dan kami sepakat untuk bekerja sama di bidang berlian dan safir."
"Alhamdulillah. Arimbi dan Arka gimana?"
"Well, Arka bikin julid Oom Bara sih" kekeh Hideo.
"Tapi memang deh, anak itu fotocopy nya mas Bima" senyum Fayza.
***
David terkejut melihat sepupu Anandhita datang membesuk dirinya dan seolah ada perjanjian, tidak ada yang tahu kondisi David saat tertembak seperti apa.
Arya meminta keluarga intinya untuk menutupi kalau David ditembak saat menyamar menjadi waria karena takut akan menambah ramai lagi dalam mendalami kasusnya.
Adrian yang berada di Melbourne sudah menceritakan pada papanya bahwa dia meminta bantuan Hideo untuk mencari tahu apa yang terjadi di Singapura. Meskipun awalnya kesal karena putranya main minta bantuan ke sepupunya tapi Arya bersyukur yang diminta tolong adalah Hideo yang dikenal pandai menyimpan rahasia.
Jelas lah dia bisa bekerja dalam senyap, mantan mafia gitu.
"Lu tuh makanya nggak usah gaya deh! Ketembak kan sekarang," Bima menatap sebal ke David. "Dibilang lamar Dhita, ambil alih perusahaannya Oom Arya, elu ga bakalan bahaya di jalan."
"Kok jadi lu yang atur Bim" balas David sebal. Bima dan Hoshi adalah sepupu yang membuat David paling gemas. Mulut mereka berdua itu sering tidak ada saringan.
"Nyaris kan Dhita jadi janda kembang bersegel sebelum elu apa-apain" lanjut Bima yang langsung mendapat keplakan dari Arimbi.
"Mulutmu itu lho mas! Ta kruwes tenan!" omel Arimbi kesal.
"Hajar saja Rimbi, aku ikhlas" ucap David dramatis.
"Untung mas Hoshi lagi di New York jadi nggak ada mulut nyebelin satu lagi" senyum Anandhita.
"Halo..." semua orang disana menoleh dan melihat Fayza dan Hideo datang.
"Haaaii. Sampai juga kesini akhirnya" sapa Arimbi sambil memeluk Fayza.
"Hai bro." Bima dan Anarghya menyambut Hideo hangat.
"Apa kabar kalian? Mana Shinichi?" tanya Amberley sambil memeluk Fayza dan Hideo bergantian.
"Ya nggak diajak lah Amber. Kasihan cucu ganteng satu itu kalau dibawa ke rumah sakit padahal sehat." Arya memeluk Fayza dan Hideo. "Sehat kan Fay?" Arya berusaha melupakan kejadian yang lalu. Baginya melihat Hideo insyaf dan mencintai Fayza dan Shinichi sedemikian rupa, sudah cukup.
"Alhamdulillah Oom." Fayza menyalami David. "Kok bisa sih bang? Nggak pakai rompi apa?"
"Lupa aku Fay" cengir David.
"Next time, pakai Dave. Aku ada tuh kevlar super tipis jadi seperti pakai kaos biasa gitu" ucap Hideo. "Nanti aku kasihkan padamu."
"Thanks H" balas David.
"Sama-sama" sahut Hideo.
"Sementara kamu nggak bisa makan enak dulu, harus bubur halus soalnya ususmu kan kena peluru" ucap Anarghya tegas.
"Lha padahal aku kebayang soto" gumam David melengos.
"Bisa sih elu makan soto" ucap Bima yakin.
"Gimana cara? Ga bisa mas!" balas Anarghya.
"Bisa. Sotonya diblender" cengir Bima.
Semua orang disana melotot mendengar ucapan pria slengean itu.
"Rasane piyeee Kuwi?" gumam Arya sambil menggelengkan kepalanya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Maaf agak telat Up nya
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️