
Taufan menatap gadis cantik dihadapannya yang terlelap dan tangannya menyentuh pipi mulus itu. Seketika Taufan teringat saat pertama kali melihat gadis cilik yang menangis sambil menekuk lututnya dan dirinya terkesima dengan mata hijau yang penuh air mata kebingungan.
Sejak kecil memang matamu sudah indah. Cepat pulih Natasha ku. Taufan mencium kening Natasha lama lalu dirinya mengambil baju bersih dari duffle bagnya. Pria itu menyempatkan untuk pulang ke apartemennya saat Natasha masih dalam ruang pemulihan dan meminta Poppy menunggu di rumah sakit.
Taufan meminta ruang rawat VIP untuk Natasha agar gadis itu nyaman dan pria itu pun bisa menemani tanpa harus terganggu. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur yang nyaman, Taufan mulai menata sofa yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini.
Sebelum Taufan meletakkan tubuhnya, dia menghampiri Natasha dan kembali mencium keningnya. "Mimpi indah Nat."
Taufan pun berjalan menuju Sofanya dan merebahkan tubuhnya. Tak lama mata Taufan pun terpejam.
***
Pukul empat pagi Taufan sudah terbangun dan bergegas menghampiri Natasha. Wajah cantik itu masih terlelap dengan nafas teratur. Taufan tersenyum dan mengelus pipi gadis itu.
"Good morning, Natasha ku." Taufan lalu menuju kamar mandi untuk melaksanakan sholat subuh.
Natasha membuka matanya dan terkejut melihat sesosok Taufan yang sedang menjalankan ibadah subuh. Mata hijaunya menatap penuh penghargaan pria itu tidak melupakan kewajibannya.
Usai sholat, Taufan menoleh ke arah Natasha. "Sudah bangun sayang?" Pria itu pun menghampiri gadis itu. "Mau apa? Mau minum?"
Natasha mengangguk.
"Aku ambilkan." Taufan mengisikan air putih di gelas yang disediakan dan memberikan sedotan disana untuk memudahkan Natasha untuk minum.
Natasha meminum air yang diberikan oleh Taufan dan mata hijaunya menatap pria itu.
"Kamu tidak pulang?" tanya Natasha usai meminum air putihnya.
"No, Nat. Aku disini menemanimu sampai kamu benar-benar pulih dan boleh pulang. Nanti aku akan menemanimu di apartemen karena kamu belum boleh beraktivitas yang berat-berat."
Natasha mendelik. "Kamu kira aku akan langsung angkat barbel habis operasi?"
Taufan terbahak. "Siapa juga yang menyuruh kamu angkat barbel, sayang."
Natasha cemberut. Tangannya mencoba mencari bel untuk memanggil perawat.
"Kamu ngapain?"
"Panggil perawat lah!"
"Buat apa?" Taufan mengambil alih tombol perawat.
"Aku mau pipis!"
"Ya udah, ayo!" Taufan hendak membantu Natasha untuk bangun.
"Nggak mau sama kamu!" tolak Natasha judes.
"Ish, sudah. Ayo!" Taufan memegang bahu Natasha.
"Ish ! Dibilang nggak mau sama kamu!" bentak Natasha. "Panggil suster saja!"
"Ini masih subuh. Yakin para suster masih pada tidur. Ayolah Nat, jangan keras kepala! Daripada nanti ginjal mu sakit nanti." Taufan membantu Natasha untuk turun dari tempat tidur dengan pelan.
"Ssshhhh... Aduh perihnya"desisnya sambil bersandar di dada Taufan yang memeluk gadis itu.
"Pelan-pelan Nat, nanti jahitanmu terbuka" bisik Taufan di sisi telinga Natasha.
Setibanya di kamar mandi, Natasha melongo melihat Taufan ikut masuk. "Kamu mau ngapain? Lihat orang mau pipis?"
"Kamu bisa sendiri?" tanya Taufan perhatian.
"Bisa, Fan. Dah kamu keluar dulu." Taufan pun keluar tapi pintu kamar mandi tidak ditutup rapat. "Seriously Fan?" teriak Natasha.
"Aku nggak ngintip Nat. Aku berjaga - jaga kalau kamu butuh bantuan."
Natasha mendengus lalu perlahan dia duduk di kloset. Dirinya bersyukur memakai baju pasien jadi memudahkan dirinya untuk pipis meskipun setelahnya dia malu karena otomatis dia tidak mengenakan br@. Duh gimana caranya kudu pakai br@ ini.
Setelah selesai pipis dan membersihkan diri, Natasha pun berjalan pelan menuju pintu sambil menyeret tiang infusnya.
"Sudah ?" tanya Taufan yang dijawab anggukan oleh Natasha. "Ayo aku bantu naik tempat tidur. Kamu harus banyak istirahat."
Dengan lembut Taufan membantu Natasha tiduran lalu menyelimuti gadis itu.
"Tidurlah dulu. Masih gelap juga." Taufan mengusap kening Natasha. "Aku juga mau tidur barang satu jam."
***
"Selamat pagi" sapa sebuah suara asing membuat Natasha membuka matanya perlahan dan tampak seorang pria berumur memakai snelli menyapa dirinya.
"Pagi" balasnya pelan.
"Saya akan memeriksa jahitan anda ya Miss Neville" ucap dokter itu dengan didampingi dua orang perawat.
Taufan yang mendengar ada orang lain pun terbangun dan melihat seorang dokter sedang memeriksa Natasha. Pria itu pun bangun dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan Natasha dok?" tanya Taufan saat sudah dekat dengan dokter yang masih memeriksa gadisnya.
"Jahitannya masih harus menunggu kering dua hari ini dan miss Neville saya sarankan seminggu di rumah sakit hingga kondisinya benar-benar pulih." Dokter itu menatap Taufan sambil tersenyum. "Istirahat dulu ya Miss Neville."
"Terimakasih dok."
Sang dokter dan perawatnya pun pergi meninggalkan Natasha dan Taufan usai melakukan visite.
"Seminggu disini dulu ya Nat" ucap Taufan lembut.
"Terpaksanya!" sungut Natasha manyun.
"Don't worry, kan kamu tidak sendirian. Ada aku juga." Usai bicara seperti itu, Taufan pun ngeloyor ke kamar mandi.
Natasha melirik ke arah Taufan dengan wajah ditekuk. Kesempatan kamu ya!
***
Taufan sedang menikmati sarapannya yang berupa English breakfast. Bau toast bread, sosis goreng, scrambel eggs dan mashed potatoes membuat bibir Natasha menerbitkan air liur.
"Kamu belum boleh Nat" senyum Taufan yang tahu gadis itu ingin makan sarapannya karena sekali lagi dia hanya makan bubur dan ayam rebus hambar.
"Mending bubur dekat mansion Giandra kalau ini sih!" gerutu Natasha yang tahu dekat mansion Opa Ghani dan Oom Bara ada warung bubur ayam yang sudah turun temurun jualan disana sejak jaman Ogan Buyut Abi. Dan warung bubur ayam itu adalah favorit hampir semua keluarga besar.
"Sayangnya kita tidak berada di Jakarta, dear Natasha" cengir Taufan.
"Aku minta mashed potatoes mu Fan" rengek Natasha. Lidahnya memang membutuhkan sekolah rasa bukan sekolah hambar.
"No Natasha" ucap Taufan tegas.
"Oh please, Fan. Aku hanya minta mashed potatoes bukan sosisnya!"
Taufan menyeringai jahil. "Apa kamu mau sosiskku Nat?" tanyanya ambigu.
"Aku tidak mau sosis! Aku mau mashed potatoes!" eyel Natasha kesal.
"Yakin? Dari sosisku bisa jadi anak lho" kekeh Taufan yang membuat Natasha melongo.
"Astagaaa! Otakmu!" sungut Natasha jengkel.
Taufan berjalan mendekati Natasha sambil membawa piring berisikan sarapannya. "Yakin tidak mau sosisku?"
"Gak jelas banget! Sini kan mashed potatoes nya!" bentak Natasha. Emosi gadis itu sudah benar-benar di ujung tanduk.
Taufan menyuapi mashed potatoes ke Natasha. "Jangan banyak-banyak karena dokter berpesan padaku jangan makan aneh-aneh dan terlalu asin ataupun manis."
"Diam kamu! Lidahku bosan dengan rasa hambar!"
Taufan hanya tersenyum menghadapi gadis galak itu.
***
Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️