My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Calon Menantu v Calon Mertua



Randy dan Fajar yang dikabari oleh David untuk terus mengawasi ketiga waria itu, merasa terkejut jika ada pengkhianat diantara mereka bertiga.


"Aku tidak bisa memberitahukan siapa, Ran, tapi yang jelas kalian bersikap seperti biasanya" pinta David.


Meskipun penasaran dan Randy tidak diberikan akses melihat CCTV tersembunyi, kedua anggota kepolisian itu tetap mengawasi ketiga waria di sebelah unit apartemen mereka.


"Pak Randy, kok semakin pelik ya. Sebenarnya mereka ada masalah hidup apa sih kok sampai tega sama pak David? Secara pak David nggak pernah nyenggol siapapun kecuali para penjahat." Fajar tidak habis pikir, atasannya yang baik meskipun sering absurd itu menjadi korban orang-orang yang tidak bisa berpikir normal.


"Aku sendiri nggak tahu Jar. Mungkin kurang piknik yang jauh... Ke kuburan misalnya" sahut Randy asal.


Fajar hanya mengangguk. "Mokat dong!"


"Baru ngeh Jar" kekeh Randy.


***


"Jadi pada saat simposium di Singapura, dokter Farah mengetahui kalau Dhita itu kekasihmu, Dave. Kamu pada saat itu setahunan kan masuk di Polsek Jakarta Selatan?" Hideo menatap David.


"Iya, aku baru masuk setahun lalu dari Bandung. Dan ketika mendapatkan kasus pertama, aku bertemu dengan dokter Tini dan dokter Farah untuk pertama kalinya."


"Dokter Farah jatuh cinta pada pandangan pertama ke kamu dan dia terobsesi padamu."


"Tapi polisi kampret ini jauh dari idaman para wanita kecuali Dhita" sanggah Arya.


"Pa, aku tuh calon menantumu lho" cebik David sebal. Nggak papa Arya, nggak Anarghya, nggak opa buyut Abi, kok semuanya manggil aku polisi kampret? Padahal kelakuan aku jauh dari kata kampret.


"Yang celakanya direstui oleh Ogan Abi" keluh Arya lesu.


"Aku nggak paham" sahut Hideo bingung.


"Nggak usah paham, H. Pusing berat nanti kamu" jawab David. "Yang jelas, sejak aku bangun mati suri itu, kepalaku ketambahan gegar otak."


"Lebay bin ngadi-ngadi kamu!" Arya mendelik ke David.


"Serius ini pa" rengek David.


"Hideo, apa ada bukti lain atau hasil penggalian lain yang semakin membuat kasus ini terkuak?" tanya Arya mengacuhkan calon menantunya.


"Masih menjadi kecurigaan aku dan Jin, Oom Arya. Jika benar, nanti aku sampaikan pada kalian" jawab Hideo.


"Oh berita kamu tertembak memang semua keluarga besar tahu tapi semua petugas rumah sakit sudah diminta tutup mulut seperti apa kondisimu saat dibawa kemari. Aku tidak mau ada ramai-ramai lalu membahayakan penyelidikan kita. Cukup keluarga inti ini saja yang tahu." Arya menatap ke David dan Hideo.


"Maksud papa, agar aku tidak dijadikan bahan bully keponakan papa lainnya terutama Bima dan Hoshi?" sahut David.


"Nah tuh tahu!"


Hideo hanya tersenyum mendengar keributan antara Arya dan David.


***


Anandhita datang ke rumah sakit bersama dengan Anarghya. Semenjak David tertembak, Anarghya semakin ketat menjaga sepupunya. Anandhita tidak seperti dengan gadis-gadis lainnya yang mampu beladiri, dia lebih memilih untuk bisa menembak dan memanah daripada harus gebuk-gebukan.


"Jadwalmu apa hari ini, Dhita?" tanya Anarghya.


"Aku nggak ada operasi sih cuma visite pasien saja kok Ga."


"Ya udah, sama suster Mira kan? Ada pengawal bayangan kamu kok. Soalnya aku ada jadwal operasi dua ini."


"Iya Ga. Sudah tenang saja."


"PPK mu dibawa kan?" Anarghya menatap sepupu cantiknya khawatir. Adrian baru pulang dari Melbourne lusa soalnya jadi selama kembarannya Anandhita belum di Jakarta, tugasnya lah yang harus menjaga.


"Ada Ga. Tadi mama juga bilang mulai sekarang harus dibawa kemana-mana" senyum Anandhita.



Neng Dhita emang cantik sih


"Beneran ya! Kalau ada apa-apa, ada pengawal atau nggak kamu ke kamar si bang Dapid, kan ada Oom Arya disana" pesan Anarghya.


"Iya bawel! Sudah, aku dah di ruang praktek aku. Tuh dah ditunggu sama suster Mira." Anandhita mengedikkan dagunya ke arah Suster Mira yang sudah menunggu.


"Ingat pesan aku!" Anarghya menepuk kepala sepupunya lalu berjalan menuju ruang prakteknya.


Anandhita berjalan menuju ruang prakteknya. "Hari ini kita visite banyak sus?" tanya Anandhita.


"Lumayan dok."


"Yuk kita mulai bekerja."


***


"Biarkan saja mereka saling bunuh satu sama lain, pa. Tapi bagaimana caranya ya. Jujur aku muak dijadikan alasan terjadinya kasus pembunuhan begini. Mereka korban itu tidak tahu apa-apa lho" ucap David sambil memakan bubur tidak enaknya.


"Makanya kamu Ndang sembuh! Biar bisa menghajar bajigur-bajigur itu!" ledek Arya.


"Kenapa nggak papa saja seperti waktu bebasin Fay" sindir David.


"Calon menantuku, ini adalah kasus mu, kasus kepolisian. Mbok ya mikir! Bukan ranah kita menghajar mereka meskipun kamu terluka tapi itu kan tanggungjawab mu, kampret!" omel Arya gemas. "Pantas Ogan buyut niat ngeplak kamu!"


"Iya deh pa. Lagian waktu kasus Fay, aku juga nggak ikut, wong lagi dinas di Pati juga."


"Nah gening tahu. Dave, apa rencana kamu selanjutnya.?"


"Berlagak tidak tahu apa-apa. Aku keluar dari rumah sakit akan menyelidiki seperti biasa dan tetap menyamar seperti biasa, menjadi waria."


Arya memicingkan matanya. "Papa curiga deh, sebenarnya kamu tuh ada tendensi belok deh soalnya kok niat dan senang banget kamu jadi waria?"


David melongo. "Demi membangun kasus paaaa. Aku tuh nggak belok! Masih normal! Lagian pa, repot tahu jadi waria. Harus bersih-bersih makeup yang super tebal dengan berbagai macam produk. Air wudhu saja nggak bisa hilang."


"Lu kok jadi cowok metromini?" gumam Arya.


"Hah? Metroseksual kaleee pa."


"Ya itu lah, mikrolet."


"Terserah papa deehhh!" dengus David sebal.


"Pagi. Bagaimana keadaan pasien pagi ini?" suara merdu Anandhita membuat kedua pria beda usia itu menoleh.


"Dhita, kamu kok mau-maunya pacaran sama cowok metromini ini sih?" tanya Arya dramatis.


"Metroseksual pa" ralat Anandhita sambil memeriksa jahitan dan perban di bahu, dada dan perut David.


"Metromini ah!" goda Arya yang membuat David manyun.


Anandhita mengacuhkan keributan papa dan calon suaminya. "Jahitan yang dibuat Arga bagus dan rapi."


Dit, aku boleh pulang kapan?" rengek David memelas.


"Paling cepat ya dua Minggu lagi, soalnya harus diperiksa intensif ususmu itu mas."


"Aku bosan makan bubur terus."


***


Suster Mira sedang memeriksa daftar pasien yang akan divisite oleh Anandhita ketika seorang pria tampan menghampirinya.


"Selamat pagi suster. Apa dokter Anandhita ada?" tanya pria itu.


"Pagi. Oh dokter Anandhita sedang membesuk keluarganya yang dirawat" jawab Suster Mira yang memang hanya tahu sepupunya tertembak ketika sedang bermain senjata api.


"Apakah boleh tahu kamar mana?"


"Saya kurang tahu pak."


"Oke, terimakasih suster." Pria tampan itu pun pergi dari ruang praktek Anandhita.


Suster Mira hanya mengedikkan bahunya.


Ternyata tiga peluru belum bisa mematikan dirimu ya David. Apa perlu aku beri sianida di infus kamu?


Pria tadi masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama dia keluar mengenakan pakaian perawat pria rumah sakit itu. Berbekal id card yang dia curi dari seorang perawat yang mabuk di Club, dia bisa leluasa mondar mandir di rumah sakit.


Akan kubunuh kau lagi, David Hakim Satrio.


***


Yuhuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️