
"Apakah kamu bisa mengetahui jumlah GHB yang masuk ke dalam sistem tubuh Tasya?" tanya David ke Jimmy.
"Tahu Dave."
"Bagus, segera kabari dokter Dwi Hartono agar dia bisa memberikan dosis yang tepat membangunkan Tasya."
Jimmy segera menghubungi dokter Dwi Hartono dan memberikan dosis GHB yang masuk ke dalam darah Tasya.
Anandhita masih berusaha mengetahui siapa pria yang tampak menyeramkan itu dan membandingkan dengan video CCTV yang diperoleh dari House and Ware melalui layar di sebelahnya.
"Jangan nyureng-nyureng neng Dhita. Nanti kerutannya banyak lho" goda Toro.
"Aku penasaran saja sih Aa Toro" jawab Anandhita.
"Oh, jantung Aa berdebar kencang dipanggil Aa sama neng geulis... Aduh!" Toro memegang belakang kepalanya yang terkena keplakan David.
"Kamu tuh kalau mau ngegombal, lihat-lihat ada pawangnya atau nggak! Dasar banteng! Main seruduk saja" omel David sebal.
"Neng Dhita, pindah kelain hati sama Aa saja. Si David orangnya judes, nyebelin, tukang maksa orang.."
"Elu tukang palak!" balas David.
"Lu kira gue kagak punya kehidupan? Gue juga pengen ke mall kayak anak jaman now, bukan berkutat di laboratorium forensik terus ketemunya Jimbong lagi... Jimbong lagi. Kalau kita jodoh, gimana?" ucap Toro dramatis.
"Eh Ateng! Gue kagak doyan terong lu!" teriak Jimmy kesal.
"Apa kamu mengenali pria itu Dit?" tanya David mengacuhkan keributan duo kadal.
"Entah apa yang membuat aku seperti pernah melihat dimana orang ini" gumam Anandhita. "Iiihhh gemesnya aku lupa!"
David memeluk Anandhita dari belakang sambil mencium pucuk kepala gadis itu. "Jangan dipaksa. Nanti pasti ingat."
"Kalian berdua! Apakah tidak kasihan dengan duo jomblowan akut disini?" rengek Toro.
"Nggak!" ucap David dan Anandhita bersamaan.
"Kalian kejaaammm!" Toro berlagak menangis.
"Dave! Bisa kesini sebentar?" panggil Jimmy.
David melepaskan pelukannya ke Anandhita dan berjalan menuju laboratorium. "Apa Jim?"
"Kamu tahu, dosis GHB yang dipakai dari tiga korban sebelumnya hingga ke Alisia, Calista dan Tasya, semakin meningkat kandungan xyremnya." Jimmy menunjukkan jas lab yang harus dipakai setiap masuk ke dalam laboratorium. "Lihat ini. Jumlahnya semakin meningkat. Alisia 0,001%, lalu Calista naik poin 1, Tasya naik lagi poin 1. Rupanya dia ingin kondisi korban dalam kondisi sleep hingga bisa leluasa melakukan aksinya."
David menatap layar monitor yang memperlihatkan kenaikan signifikan kadar xyrem yang terdapat di darah masing-masing korban.
"Orang ini benar-benar sakit jiwa!" umpat David.
"Sepertinya dia membenci waria maupun trans*gender, Dave." gumam Jimmy. "Dan dia sudah berani menyerang salah satu dari tiga waria yang masih hidup itu."
David mengangguk. Aku harus mencari jalan untuk bisa mendapatkan si pelaku.
***
Malam harinya, David mendatangi rumah sakit Bhayangkara dan melihat Fajar masih berjaga disana.
"Belum pulang Jar?" tanya David kepada bawahannya.
"Masih menunggu Mentari memeriksa nona Tasya ... atau mas Tasya ya? Aduh, saya bingung pak manggilnya apa" cengir Aiptu Fajar sambil menggaruk kepalanya.
"Tasya saja lebih gampang. Kalau Mentari sudah selesai, kalian berdua segeralah pulang."
"Baik Let."
David pun masuk ke dalam ruang rawat Tasya yang tampak sudah bangun namun masih tampak lemas. Efek GHB yang masuk ke dalam sistem tubuhnya benar-benar membuatnya teler. Wajah Tasya tampak masih pucat namun tanda-tanda kehidupan mulai tampak di matanya.
"Bagaimana Sus?" tanya Yulia ke Mentari yang sedang memeriksa tekanan darah Tasya.
"Alhamdulillah sudah normal, tidak setinggi tadi siang. Makan yang banyak, nona Tasya. Biar cepat pulih" senyum Mentari.
"Te..Rima... ka..sih" bisik Tasya dengan mulutnya terangkat sedikit.
"Saya permisi dulu" pamit Mentari. "Pak David."
"Hati-hati pulangnya, Tari." Mentari mengangguk lalu keluar ruang rawat menuju ke tempat Fajar yang sudah menunggu.
***
David duduk di kursi sebelah Tasya yang menatapnya bingung. Matanya berusaha fokus ke arah pria tampan itu.
"Tasya, ingat saya?" tanya David.
"Pak...pol... ganteng. Mana...mungkin...eike...lupa" ucapnya pelan.
David tersenyum. "Apa kamu ingat saat pulang beli es krim?"
David mengangguk. Memang sebelum masuk kompleks apartemen ada sebuah taman yang dibangun developer dengan semak-semak rimbun dan pohon tinggi yang jaraknya tidak sampai 200meter ke apartemen dari lokasi mini market.
"Lalu?"
"Dari...arah kanan... tiba-tiba Eike diserang... Eike berusaha... melawan...tapi dia kuat... dan setelah...kena tusuk...Eike tidak ingat...lagi."
Viola dan Yulia menahan nafas mendengar cerita Tasya. David tetap merekam pembicaraan mereka.
"Apa kamu lihat wajahnya?"
Tasya menggeleng lemah, lehernya masih terbalut perban.
"Apa kamu ingat sesuatu?"
Tasya tampak berpikir. "Baunya."
"Kenapa dengan baunya?"
"Bau obat. Seperti dari rumah sakit..."
Mata hitam David membulat sempurna. "Maksudnya?"
"Kayak...bau alkohol... disinfektan gitu pak" jawab Tasya.
Nonik dari House and Ware juga mengatakan hal yang sama. Berarti pelaku adalah seorang dokter dan... kaya! GHB versi ini harganya selangit di black market dan hanya orang berduit serta ada akses ke Laboratorium rumah sakit untuk dapat mengambil zat xyrem.
"Saya bukan mau menakut-nakuti kalian, tapi yang jelas kalian bertiga dalam bahaya" ucap David serius membuat ketiga orang itu terkesiap.
"Kita kudu gimana pak pol?" tanya Yulia.
"Kalian tetap tinggal di apartemen kecuali Tasya. Biar Tasya tinggal di apartemen yang akan saya sewakan."
"Pak Pol...saya tidak...mau berpisah dengan... teman-teman saya..." ucap Tasya.
"Kamu yakin?" tanya David.
"Yakin" ucap Tasya tegas meskipun masih lemah.
"Baiklah tapi kalian harus mengikuti rencana saya." David menatap ketiganya dengan serius.
***
Randy yang malam itu disuruh datang ke rumah sakit Bhayangkara, hanya bisa melongo mendengar rencana David yang menurutnya sangat-sangat gila.
"Dave, kita kan harus laporan ke komandan dulu untuk melakukan pengawasan dan pengamanan ketiganya" ucap Randy ke David di ruang rawat Tasya.
Malam ini David dan Randy yang akan menjaga ketiga waria itu sambil membicarakan rencana besok.
"Aku sudah ijin komandan menghadap beliau besok pagi. Makanya kamu aku panggil buat menjaga mereka karena aku hendak mengambil baju-bajuku."
"Oh iya aku lupa mobilmu aku bawa" cengir Randy. "Jadi kita akan berada di apartemen mereka sembari mencari tahu si pelaku?"
"Yup."
"Dan harus menyamar seperti itu?" tanya Randy bergidik.
"Yup."
"Kamu yang benar saja!" desis Randy agar tidak terdengar karena ketiga orang lainnya sedang tidur.
"Lalu harus bagaimana? Didit sudah melihat beberapa foto yang bisa diselamatkan oleh Toro dan merasa dia mengenali orang itu tapi entah dimana."
Randy terkejut ketika mendengar nama Anandhita sudah bertemu dengan duo Kadal.
"Jika kita mau menangkap si pelaku, kita harus mendekati zona targetnya. Bukan tidak mungkin dia akan melakukan lagi, entah ke ketiga orang disana atau waria lain."
Randy memegang pelipisnya. Resiko menjadi aparat penegak hukum itu ya begini.
"Yang penting Dave, besok kita menghadap komandan dulu!" tegas Randy.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️