
Natasha melotot tidak percaya ketika Taufan main sambar bibirnya dan menciuminya dengan mesra. Taufan menatap sayu mata hijau Natasha tanpa melepaskan ciumannya di bibir yang kemudian berpindah ke pipi dan pelipisnya.
"Kamu tahu Nat, aku sudah terkesima dengan mata hijaumu sejak kecil dan maafkan aku karena melupakan janjiku." Taufan merangkul bahu Natasha dan berbisik mesra di sisi telinga gadis itu. "Kita mulai dari awal ya?"
Natasha hanya menatap lurus ke depan dan diam-diam dia mengambil garpu dan menusukkan ke punggung tangan Taufan yang segera berteriak kesakitan.
"Astaghfirullah Natasha! Kamu itu bar-barnya nggak nguati!" pekik Taufan sambil mengusap punggung tangan kanannya yang terdapat empat titik merah dari garpu yang ditusuk oleh Natasha.
"Keturunan Pratomo kalau nggak bar-bar, nggak afdol!" cebik Natasha kesal karena lagi-lagi Taufan mencuri ciuman lagi.
Pelan-pelan gadis itu bangun dari kursinya dan Taufan tersenyum senang melihat bubur buatannya dimakan habis oleh Natasha, begitu juga obatnya.
"Perlu bantuan?" tawar Taufan melihat Natasha jalan pelan-pelan.
"Nggak! Kamu nanti punya agenda terselubung. Memangnya aku tidak tahu setiap malam mau tidur kamu mencium keningku?" Pendelik Natasha.
"Kok tahu?" Taufan menatap Natasha tidak percaya.
"Kerasa lah!"
"Apa kamu juga tahu kalau aku membisikkan kata cinta untukmu?" Taufan mendekati Natasha.
"Aku lagi mode autis jadi tidak dengar apa yang kamu ucapkan!" elak Natasha dengan wajah datar.
Taufan terbahak. "I love you Natasha Jennifer Neville" bisiknya.
Natasha hanya memandang Taufan tanpa ekspresi. "Aku ngantuk! Aku tidur dulu." Gadis itu membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya.
"Nat, jangan dikunci pintunya. Nanti aku kesulitan kalau kamu butuh bantuan" seru Taufan sambil mengetuk pintu kamar Natasha.
Tak lama suara kunci dibuka membuat Taufan bernafas lega. "Selamat tidur Natasha."
Pria itu menuju ke dapur dan membersihkan bekas-bekas makan Natasha lalu dirinya menyiapkan piring untuk dirinya sendiri makan siang. Taufan sengaja beli untuk dirinya sendiri karena tahu Natasha belum boleh makan yang spicy dan keras-keras.
Untuk makan siang ini, Taufan memilih fried chicken with mashed potatoes and veggies. Kebetulan tadi saat pulang dari mesjid, dia melihat restauran kecil dan membelinya
***
Natasha merebahkan tubuhnya dan merasa efek dari obatnya mulai bekerja dan tak lama dirinya terlelap.
Tanpa disadari Taufan membuka pintu kamarnya dan duduk di pinggir tempat tidur gadis itu. Perlahan dia membuka kaos Natasha dan melihat bekass operasinya yang sudah mengering.
Setelahnya Taufan menutup kaos Natasha dan berdiri lalu mengelus kepala Natasha.
"Cepat sembuh Nat." Taufan mencium kening Natasha lalu keluar dari kamar dan menutup pintunya perlahan.
Mata Natasha perlahan terbuka dan wajahnya tampak memerah.
Beraninya main buka kaos meskipun memeriksa hasil jahitan.
Natasha menaikkan selimutnya dan berusaha untuk tidur kembali.
***
Pukul empat sore Taufan sudah bersiap untuk memasak. Dirinya tampak bahagia bisa memasakkan bubur ayam meskipun harus menahan malu minta resep kepada Rajendra Blair, sepupu Hoshi. Iya, Taufan memang harus Rai gedheg ( muka tembok ) saat menghubungi chef terkenal itu.
Diluar dugaannya, Rajendra dengan senang hati membantu nya memberikan tutorial memasak bubur untuk adik sepupunya. Pada saat di rumah sakit, Taufan menelpon Rajendra yang menerimanya dengan ramah.
Karena pada dasarnya Taufan terbiasa hidup sendiri dan bisa memasak ala kadarnya, maka tutorial bubur ala Rajendra untuk Natasha tidak lah terlalu sulit dimasaknya.
"Kamu buat apa?" tanya Natasha yang tampak sudah segar dan sudah mandi.
"Kamu sudah mandi?" Taufan mengendus-endus mencium harum sabun mahal Natasha. "Bau mu enak. Harum."
Natasha hanya menatap Taufan dengan tatapan lempeng. "Kamu buat apa?" tanyanya lagi.
"Membuatkan bubur ayam dan mashed potatoes untukmu, sayang. Aku tahu kamu pasti bosan memakan bubur jadi aku buatkan mashed potatoes. Dan asal kamu tahu, semuanya adalah resep dari kakak sepupu mu."
"Mas Jendra?" Natasha mengerenyitkan dahinya. "Tapi... bagaimana bisa?"
"Aku Bonek ( bondo nekad ) Nat menghubungi pak Jendra karena aku ingin membuat makanan yang cocok untuk kondisimu. Makanya aku bertanya kepada ahlinya." Taufan mematikan kompor yang berisikan bubur sedangkan kompor lain tampak dirinya sedang merebus kentang.
"Kamu tuh kadang tidak lihat situasi ya Fan ! Mas Jendra itu orang sibuk! Janganlah kamu ributin dan recokin!" omel Natasha yang tahu bagaimana chef terbaik generasi kelima Reeves itu memiliki jadwal yang padat.
"Aku kan bilang untuk kesehatan kamu Nat. Semua keluarga kamu juga tahu kamu habis operasi usus buntu dan semuanya menyerahkan perawatan kamu ke aku. Kalau tidak percaya, tanya sajalah!" balas Taufan jengkel.
Natasha pun berjalan perlahan ke dalam kamarnya dengan wajah masam sedangkan Taufan harus menahan emosinya karena dia baru tahu betapa keras kepalanya gadis itu.
Ya Allah, sabar subur seber sibir sobor. Taufan mengelus dadanya sembari beristighfar. Astaghfirullah Al Adzim. Ternyata di dalam casingnya yang cantik, tersimpan bagaimana keras kepalanya gadis itu.
Taufan pun melanjutkan untuk membuatkan mashed potatoes buat Natasha.
***
"Memangnya kenapa Natasha? Apa masakan Taufan tidak enak?" tanya Rajendra yang sekarang sedang berada di New York. London lebih dulu 5 jam daripada New York dan sekarang adalah jam makan siang disana.
"Bukannya tidak enak tapi kok seberani itu menelpon mas Jendra padahal tahu mas pasti sibuk!" ucap Natasha.
"Nat, kita tahu Taufan ingin memperbaiki semuanya dan kami memang membiarkan karena kami ingin tahu bagaimana tingkat keseriusan anak itu mengingat dia pernah lupa berjanji. Lagipula, kamu sendiri pasti lebih nyaman kalau tinggal di apartemenmu sendiri kan?"
Natasha hanya mendengus kesal. "Tapi bukan berarti dia tinggal bersama denganku! Papa pun sama saja, main serahkan semuanya ke Taufan waktu aku mengadu. Alasannya masih ada proyek sama mas Hoshi!"
"Sudah Nat, jangan marah-marah. Nanti jahitanmu terbuka dan nggak sembuh-sembuh."
"Aku tuh mau move on mas! Aku sudah bertekad tidak akan mengemis janji dia yang dia sendiri lupakan! Cukup sudah selama dua puluh tahun aku dibodohi dengan fantasi kanak-kanak, seorang prince charming dengan kuda putih datang untuk menikahiku. Aku sadar kalau aku benar-benar tolol tidak mau membuka hati dan diri karena terpaku atas janji gombal!" ucap Natasha mengeluarkan semua uneg-unegnya.
"Nat, apa mungkin Taufan sekarang mulai jatuh cinta padamu dan bukan karena janji semata?" tanya Rajendra pelan-pelan.
"Aku rasa dia lebih karena perasaan bersalah membuat aku seperti orang bodoh! Dia tidak mencintai aku, mas. Dia lebih takut kena amuk mas Hoshi dan papa daripada menilai perasaannya sendiri."
"Jangan terlalu keras kepada Taufan, dik. Apa kamu benar-benar ingin lepas dari Taufan? Apa kamu sudah tidak ada perasaan lagi pada Taufan?" Rajendra mencoba membujuk Natasha.
"Sejak dia bilang lupa, aku sudah mencoba menutup rapat-rapat hatiku buat Taufan Abisatya."
"Apakah berhasil Nat?" suara Taufan membuat Natasha menoleh. Tampak pria itu berdiri disana sambil membawakan mashed potatoes.
Tiba-tiba lidah Natasha terasa Kelu.
***
Yuuuhhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️