
Usai acara pernikahan, David dan Anandhita memilih untuk tetap tinggal di rumah Arya Ramadhan selama seminggu dan keduanya tidur di kamar feminin Anandhita.
"Ya ampun Dit, cewek kali kamarmu" komentar David yang baru pertama kali masuk ke kamar istrinya meskipun sudah bertahun-tahun pacaran.
"Lha kan aku memang cewek mas. Masa iya aku laki" ucap Anandhita sambil manyun.
"Dit..." David melepaskan jasnya dan meletakkannya di sofa kamar. "Unboxingnya mau disini atau di apartemen aku?"
Anandhita menatap David dengan tatapan tidak percaya. "Astaga! Memangnya aku kado?"
David tersenyum lalu menghampiri Anandhita yang sedang melepaskan perhiasan di meja riasnya.
"Kalau disini, masih banyak keluarga Dit" ucap David sambil memeluk Anandhita dari belakang.
"Aku sih terserah mas David, nyamannya gimana. Apalagi kan harus hati-hati dengan bekas jahitannya juga meskipun sudah kering sih." Anandhita berbalik ke arah David. "Mau unboxing disini atau di apartemen, intinya sama aja tho?"
"Lihat situasi kondisi ya Dit...tapi nyicil dulu boleh kan?" David menempelkan bibirnya ke bibir Anandhita yang semula hanya ciuman biasa berubah menjadi luma*Tan dan tautan lidah. Tangan David pun menuju ke punggung Anandhita dan menemukan resleting disana. Pelan-pelan pria itu menurunkannya dan ...
"David! Dhita! Makan dulu!"
Keduanya membeku. Sial! Lupa kalau ini jam makan malam! umpat David dalam hati. Mereka memang menemani para tamu yang merupakan keluarga hingga Maghrib.
"Kita makan dulu mas" bisik Anandhita dengan suara bergetar. Jujur dia sudah terhanyut tadi dan pasrah jika harus unboxing sekarang.
"Mandi dulu yang kilat khusus, baru turun ke bawah" timpal David.
"Aku mandi dulu ma" teriak Anandhita.
"Jangan lama-lama!" balas Amberley.
***
Taufan menatap gadis cantik di hadapannya dengan tatapan bingung. Benar dulu waktu kecil aku janji akan menikahi Natasha tapi... aku tidak menyangka dia masih mengingatnya. Keduanya kini berada di sebuah cafe yang ekslusif dan berada di ruang VIP.
"Kamu kenapa Fan?" Natasha memandangi pria yang selalu ditunggunya sejak usia lima tahun namun tidak pernah ada kejelasan.
"Ti...tidak apa-apa." Taufan merasa gugup sekali. Di usianya yang hampir 30 tahun ini, Taufan tidak pernah memikirkan pacaran atau boro-boro menikah. Taufan hanya memikirkan pekerjaannya apalagi memiliki boss seperti Hoshi, menguras energinya.
"Aku hanya ingin menanyakan apakah janjimu 20 tahun lalu itu masih berlaku?" Natasha menatap tajam ke Taufan.
"Nat... kenapa kamu masih mengingatnya?" tanya Taufan.
Mata hijau Natasha berubah menjadi lebih hijau jika dia merasa kesal. "Tentu saja aku masih mengingatnya, Bodoh! Karena janjimu, membuat aku berharap banyak tapi sepertinya kamu melupakannya begitu saja! Benar-benar aku yang bodoh! Berharap bahwa kamu akan datang tapi apa yang terjadi? Kamu tidak mengingatnya sama sekali! Entah sudah berapa cewek kamu gombali seperti itu Fan?" Nafas Natasha tampak memburu akibat emosi yang dirasakan.
Taufan terdiam. Aku mengatakan itu agar dia tidak menangis tapi ternyata Natasha benar-benar memasukkan dalam hati dan pikirannya. Apakah anda tahu nona, saya tidak pantas untuk pewaris PRC group Manchester.
"Brengsek kau Fan!" bentak Natasha sambil berdiri. Mata hijaunya kini berlinang air mata. "Aku benar-benar bodoh, jatuh cinta sejak usia lima tahun dan tetap menjaga hatiku tapi yang aku jaga ternyata tidak merasa."
Gadis itu berdiri. "Rasanya sia-sia aku datang ke Jakarta untuk mencari dirimu."
"Nat... " Taufan pun berdiri. "Maafkan aku jika membuat kamu merasa membuang waktu mu sia-sia."
"Kamu memang pria paling brengsek yang aku cintai! Tapi sekarang aku tahu, perasaan ku hanya bertepuk sebelah tangan." Natasha tertawa miris lalu mengambil tas Hermès nya. "Goodbye Taufan Abisatya. Aku tidak akan mengganggumu lagi."
Natasha pun keluar dari ruang VIP meninggalkan Taufan yang termangu.
***
Flashback Natasha dan Taufan 20 tahun lalu...
Natasha sangat antusias bisa berlibur ke Jakarta bersama dengan kedua orangtuanya, Mark dan Anne Neville mengunjungi para sepupunya disana.
Bertemu dengan Arimbi, Anarghya, Falisha, Anandhita dan Adrian adalah suatu kebahagiaan sendiri bagi Natasha yang anak tunggal. Anne, sang mama tidak bisa mendapatkan anak lagi setelah ditemukannya sel kanker pada rahimnya dua tahun setelah melahirkan Natasha yang mengharuskan dokter mengangkat rahimnya.
Mark sendiri memilih Anne sehat karena baginya sudah ada Natasha itu sudah cukup. Mark tidak ingin kehilangan istri yang sangat dicintainya.
Dan kini Natasha bersama dengan para sepupunya berada di sebuah wahana permainan di Jakarta. Gadis cilik berusia lima tahun itu tampak semangat bisa bermain dengan para sepupu-sepupunya.
"Dik, jangan jauh-jauh ya" ucap Arimbi.
"Iya mbak." Natasha berjalan sambil digandeng Arimbi dan diapit oleh Falisha. Anarghya dan Adrian sendiri mengapit Anandhita. Keenamnya memang hanya berangkat dengan para pengawal karena para orangtua akan menyusul setelah urusan mereka selesai.
Ketika sedang berada di wahana ambil boneka, Natasha melihat ada penjual permen kapas. Melihat kakak-kakaknya sedang asyik mengambil boneka, Natasha pun berjalan sendiri untuk membeli permen kapas itu. Dia sudah dibekali uang oleh sang mama.
Para pengawal lebih fokus kepada kelima orang yang sedang bermain tapi lengah tidak memperhatikan Natasha yang diam-diam kabur.
Natasha yang senang mendapatkan permen kapas pun hendak kembali ke tempat saudara-saudaranya namun dia tidak menemukan.
"Kamu nggak papa?" sebuah suara anak laki-laki membuat Natasha mendongakkan wajahnya. Tampak seorang anak laki-laki seumuran dengan Arimbi berjongkok di hadapannya. Natasha terkesima dengan mata hitamnya yang tampak teduh.
"Are you okay?" tanya anak itu lagi. "I dont know if you are bule" kekehnya.
Natasha tersenyum. "Saya bisa bahasa Indonesia."
"Oh oke. Aku Taufan Abisatya. Kamu?"
"Natasha Jennifer Neville."
"Kamu kenapa menangis? Kepisah sama papa mama dan kakakmu?" tanya Taufan.
Natasha mengangguk. "Yuk aku bantu cari." Taufan mengulurkan tangannya yang disambut Natasha.
"Terimakasih" bisik Natasha.
"Kamu cantik, Nat."
"Terimakasih."
"Kamu bule mana? Logatmu aneh."
"Aku orang Inggris. Tinggal di Manchester."
Taufan menoleh. "Wah, Manchester United dan Manchester City!" serunya. "Apa kamu pernah ke Old Trafford atau Etihad Stadium?"
"Pernah tapi aku tidak suka sepakbola" jawab Natasha.
"Duh rugi dong! Aku ingin ke Manchester tapi entah kapan."
"Suatu saat bisa kesana." Natasha celingukan mencari para sepupunya. Mata hijaunya mulai memerah lagi.
"Nat, jangan nangis. Nanti ketemu kok." Taufan berjongkok di hadapan Natasha. "Kalau kamu nggak nangis, aku mau menikah sama kamu."
Mata hijau Natasha membola sempurna. "Me..
menikah? Seperti mommy dan Daddy?" bisiknya.
Taufan mengangguk. "Nanti kalau sudah dewasa ya. Sekarang kita masih kecil."
Natasha tertawa kecil. "Janji?" Gadis cilik itu mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji!" Taufan pun mengaitkan jari kelingkingnya.
"Natasha!" seru Anarghya dan Adrian. "Kamu kemana saja?" Natasha pun menghambur memeluk kedua sepupunya.
"Kamu siapa?" tanya Adrian dengan tatapan menyelidik.
"Aku Taufan Abisatya. Aku membantu Natasha mencari kalian."
"Terimakasih sudah menemani adikku" ucap Adrian.
"Sudah ketemu?" suara bariton itu membuat Taufan terkejut.
Tuan Bara Giandra. Boss papa? Jadi Natasha...
"Sudah Oom" jawab Adrian.
"Natasha, lain kali jangan seperti itu ya" ucap Bara yang dijawab anggukan Natasha. "Terimakasih boy, sudah menemani keponakan saya." Bara menatap Taufan.
"Sama-sama tuan."
"Kamu sama siapa kemari?" tanya Bara.
"Bersama kedua orang tua saya tuan. Kalau begitu, saya permisi." Taufan mengangguk hormat kepada semua orang disana.
Duh! Harusnya tadi aku tidak mengikuti emosiku kalau tahu dia keponakannya siapa. Taufan, Taufan ... Benar-benar seperti pungguk merindukan bulan.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️