
David dan Randy sampai di apartemen milik Yulia, Tasya dan Viola. Keduanya pun naik ke lantai tiga tempat apartemen mereka berada. Setelah memencet bel pintu, Yulia membukanya.
"Yey, pak pol sudah sampai kesindang. Yuuukkk masuk" ajak Yulia dengan gaya ngondek membuka lebar pintu apartemennya.
David dan Randy pun masuk dan ternyata apartemen ketiga waria itu bersih, tidak ada baju berantakan atau apapun yang membuat mereka bakalan risih.
"Kami pecinta kebersihan, pak pol. So don't you worry apartemen kami berantakan" kekeh Yulia seolah tahu apa yang ada di pikiran David dan Randy.
"So, yang lain pada kemana?" tanya David setelah Yulia mempersilahkan mereka duduk.
"Cari akikah pak pol?" tanya Viola dari dalam kamar. Saat ini kedua waria itu memakai baju rumah, kaos dan celana panjang jeans.
"Ada apa kalian menghubungi kami di markas?" tanya Randy serius.
Viola tidak menjawab tapi dia memberikan sebuah amplop coklat. David pun menerimanya dan membukanya. Ponsel milik Calista.
"Apakah ini ponsel milik..."
"Iya pak pol. Itu hp punya Calista. Sudah Eike bungkus dengan kantong plastik supaya tidak terkontaminasi." Viola sedikit meringis. "Kayaknya ada sidik jari Eike disitu soalnya pas dapat kiriman, Eike yang buka cyiiinnn."
David bergidik mendengar kata terakhir. Didiiitt, aku kudu piyeeee! Randy hanya memasang wajah datar meskipun sebal juga.
David mengambil sarung tangan lateks yang selalu dia bawa kemana-mana dari dalam saku jaketnya. Pria itu memasangnya dan mulai membuka bungkus plastik yang berisikan ponsel milik Calista.
"Yul, sepertinya kita kudu sedia sarung tangan kayak pak pol biar kagak ada sidik jari kita" ucap Viola.
"Maksud yey apaan cyiiinnn?" tanya Yulia.
"Kalau kita mau bantu pak pol ganteng mecahin kasus mokatnya Calista, kita kudu melindungi sidik jari dan DNA kita cyiiinnn."
Randy melongo. "Kalian itu bukan detektif jadi jangan coba-coba deh ..."
"Tenang pak pol, Eike akan banyak belajar dari tv seri CSI" sahut Viola.
David hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Viola namun setelahnya dia mengernyitkan dahinya.
"Kosong?" David memperlihatkan ponsel itu yang layaknya seperti baru dari toko. "Semua data hilang?"
"Iya pak pol. Eike waktu buka ponselnya juga kaget. Just like brand new. Semua data kosong" ucap Viola.
"Apa ada yang tahu nama cloud atau Gmail Calista?" tanya David.
Kedua orang disana menggelengkan kepalanya.
"Apa Tasya tahu?" tanya Randy.
"Kami tidak ada yang tahu pak pol. Yang membuat Eike terkejut ya itu. Pas Eike buka langsung masuk padahal Calista sangat ketat soal password."
David mengangguk. "Ngomong-ngomong Tasya kemana?"
"Tadi katanya mau beli es krim dan belanja bulanan." Kali ini Yulia yang berbicara.
David menatap kedua waria itu. "Bagaimana si pengirim ponsel ini tahu alamat Calista? Secara alamat dia di KTP masih alamat lama di Grobogan?"
Randy, Yulia dan Viola tersentak.
"Benar juga Dave. Alamat kalian, siapa saja yang tahu?" Randy menatap kedua orang di depannya.
"Tidak banyak yang tahu alamat kami pak pol" jawab Yulia.
"Apa kami dalam bahaya juga?" mata Viola melebar. Jika si pengirim itu tahu alamat kami, berarti dia juga tahu tentang kami.
"Semoga tidak" ucap David namun ada nada ragu didalamnya.
Suara ponsel David berbunyi dan pria itu mengangkatnya. "Dimana?" Mata hitam David menatap kedua waria di depannya. "Oke."
"Viola, Yulia, tadi Tasya beli es krim kemana dan pakai baju apa?"
"Jaket biru, kaos hitam dan celana jeans. Kami kalau pergi sekedar belanja, pakai baju normal seperti ini. Dia belanja di mini market jalan depan sana biasanya" jawab Viola.
"Kita ke rumah sakit Bhayangkara sekarang." David pun berdiri diikuti dengan Randy.
"Ada apa Dave?" tanya Randy.
David memasukkan ponsel Calista ke dalam tas Selempangnya. "Tasya diserang saat perjalanan kemari."
Viola dan Yulia menjerit shock.
***
Tasya tampak tergolek lemah dengan perban di lehernya dan beberapa di lengan serta tangannya. Menurut dokter, luka di tangan adalah luka membela dirinya sedangkan yang di leher, beruntung tidak kena aortanya.
"Baju korban ada dimana dok?" tanya David.
"Sudah kami simpan Pak David karena kami tahu itu barang bukti" ucap dokter itu.
"Terimakasih dok."
Randy melihat Yulia dan Viola duduk di sisi kiri dan kanan brankar tempat Tasya berada. Pria itu merasa terenyuh saat dua sahabat Tasya itu menangis meratapi nasib waria itu.
"Baju Tasya kita kirim ke labfor. Aku sudah menelpon Jimmy dan Toro untuk memeriksanya malam ini" ucap David. "Meskipun aku harus menyogok makan malam sesuai request mereka."
"Duo tukang palak itu minta apa?" kekeh Randy.
"Pizza, ukuran large, empat kotak!" sungut David.
Randy terbahak. "Bangkrut lu Dave!"
"Gaji nggak seberapa, kena palak melulu!" Randy hanya tersenyum geli. Tidak ada yang tahu selain dirinya kalau David sebenarnya memiliki uang sebelum masuk ke Akpol. Ayahnya memang seorang PNS tapi dia pintar saham dan sekarang David meneruskan setelah ayahnya meninggal.
Meskipun banyak uang tapi David tidak pernah menunjukkan dan tetap tinggal di apartemen biasa bukan apartemen mewah. Rumah milik orangtuanya, dia kontrakan jadi dia pun mendapatkan uang dari sana.
"Yulia, Viola, kalian disini saja. Jangan kemana-mana!" pinta David.
"Iya pak. Kami akan menunggu sampai Tasya sadar" jawab Yulia yang diikuti anggukan Viola.
"Kalau ada apa-apa, telpon saya" ucap David yang kemudian berjalan keluar ruang rawat Tasya.
"Pak..." panggil Viola.
"Ya?" David pun berbalik.
"Kami...tidak punya nomor ponsel...bapak" cengirnya.
"Saya belum kasih kartu nama saya?" tanya David bingung.
"Belum pak."
David menepuk jidatnya. "Ini kartu nama saya. Hubungi jika ada sesuatu." David menyerahkan kartu namanya dari dompetnya.
"Baik pak."
"Kopral Udin, tolong jaga kamar ini. Soalnya korban adalah seorang saksi" perintah David kepada bawahannya yang memang datang atas perintah Randy.
"Baik Let."
Setelahnya dua orang polisi itu keluar dan menuju laboratorium forensik setelah sebelumnya membelikan pizza buat Jimmy dan Toro.
***
"Penjahat tuh mbok yaaaa besok kenapa siiihhh?" omel Toro sambil memakan pizzanya. Pria itu sedang mengutak-atik ponsel milik Calista dengan tangan yang terbungkus sarung tangan lateks. Toro memakan pizzanya dengan garpu agar tangannya tidak kena minyak.
Jimmy yang sudah mengingatkan berulang kali agar hati-hati dalam meneliti barang bukti, sampai bosan.
"Buset! Ini iPhone benar-benar dihapus bersih! Aku tidak bisa menemukan apapun!" omel Toro. "Dave, apa tahu nama id cloud atau email-nya korban?"
"Dua temannya tidak tahu, satu malah terkapar" jawab David sambil memakan pizzanya.
"Beruntung si korban sekarang masih hidup. Semoga nanti kalau dia sadar, bisa kasih tahu siapa yang hendak membunuhnya" ucap Jimmy dari ruang steril untuk memeriksa baju milik Tasya.
"Iya, semoga."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️