My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Taufan Meninggalkan Natasha



Natasha dan Taufan pun kembali ke Manchester setelah mereka menyelesaikan acara di Jakarta. Setibanya di apartemen, Taufan segera membersihkan diri dan memulai untuk membersihkan rumah.


Namun betapa terkejutnya Taufan melihat Natasha tampak membersihkan dapur yang berantakan akibat mereka pulang ke Jakarta terburu-buru.


"Nat, kamu masih capek masih jetlag, sudah aku saja tidak apa-apa" sergah Taufan sambil memakai sarung tangan plastik yang memang tersedia untuk bersih-bersih.


"Tidak apa-apa, Fan. Lagipula aku nggak nyaman gak gerak." Natasha masih tetap sibuk membersihkan meja dapur.


Taufan memeluk tubuh Natasha dari belakang. "Jangan capek-capek ya" bisiknya yang dijawab Natasha dengan anggukan. "Kita makannya pesan online saja ya. Jujur aku sedang tidak mood memasak."


"Terserah kamu saja, Fan" ucap Natasha sembari makin menempelkan tubuhnya dengan tubuh Taufan. Rasa nyaman sedang menjalari tubuhnya dan Taufan merasakan bagaimana gadisnya tampak relaks semakin erat memeluknya.


Bibir pria itu lalu menciumi pelipis, turun ke pipi dan rahangnya hingga ke ceruk lehernya yang harum parfum Christian Dior j'adore. Parfum yang selalu membuat Taufan mabok kepayang setiap berdekatan dengan Natasha.


"Oh Taufan..." de*sah Natasha yang membuat jantung Taufan berdegup kencang. Dia pria normal, berdekatan bahkan satu atap dengan gadis yang dicintainya membuatnya harus mati-matian menahan hasratnya. Tapi mendengar suara manja Natasha, Taufan tidak tahan.


Pria itu menurunkan sweater rumahan yang dipakai Natasha dan memperlihatkan bahu mulusnya. Bibir pria itu menciumi bahunya dan tangan pun mulai membuka kancing sweater Natasha. Masih dengan posisi membelakangi Taufan, Natasha mendongakkan kepalanya hingga bersandar di dada Taufan membuat pria itu semakin leluasa menciumi leher gadis itu dan memberikan banyak jejak disana.


Sweater Natasha terbuka dan dengan sedikit kasar, Taufan membukanya dan melemparnya sembarang tempat, meninggalkan tank top ketat yang dipakai Natasha. Gadis itu hanya mengenakan tank top berwarna abu-abu ketat dan celana rumah panjang bermotif bunga-bunga.


Perlahan tangan Taufan merayap ke arah depan tubuh Natasha dan menyelinap di balik tank topnya. Tangan itu menyentuh sebelah asetnya dan Taufan tersenyum smirk. "No br@, Nat?" bisiknya parau tanpa melepaskan cum*buannya di leher dan bahu Natasha.


"Oh Taufan... Ini nikmat sekali" racau Natasha sembari memejamkan matanya. Mendengar ucapan seduktif gadis itu membuat Taufan semakin berani. Tangan kirinya mulai menyelinap di balik celana piyama Natasha yang membuat gadis itu terkesiap.


"Taufan... stop" pintanya sambil menahan tangan Taufan. "Stop ..."


"Menikah lah denganku Nat... Sekarang. Aku tidak sanggup menunggu tiga bulan lagi hidup bersamamu seperti ini... Kamu terlalu nikmat, Nat." Tangan Taufan berhasil menyentuh bagian inti Natasha.


"Tunggu... Jangan seperti ini Fan..." Natasha segera menarik tangan Taufan dari balik piyamanya dan gadis itu melepaskan dari pelukan Taufan.


Wajah Taufan tampak memerah akibat menahan gairahnya begitu juga dengan Natasha yang harus menetralisir nafasnya. Keduanya saling menatap satu sama lain dan mata hijau Natasha melirik ke area tengah milik Taufan yang tampak menonjol. Astagaaa! Dia juga sudah berdiri?


"Damn it Nat! Aku benar-benar tidak tahan ..." Taufan langsung bergegas menuju kamarnya dan tak lama Natasha mendengar suara shower mengalir.


Sama Fan, sama. Aku juga terhanyut dengan permainan kamu. Astaghfirullah... Rasanya ternyata seperti itu.


***


Taufan dan Natasha yang kini sudah sama-sama mandi di bawah guyuran air dingin tanpa memperdulikan cuaca di Manchester sedang amburadul, kini duduk berhadapan di meja makan setelah makanan yang mereka pesan datang.


Keduanya makan tanpa ada pembicaraan seperti biasanya dan masing-masing sibuk dengan pikirannya. Ketika mata keduanya tanpa sengaja saling bersirobok, baik Taufan atau pun Natasha saling menunduk, saling memalingkan muka dengan wajah memerah.


"Nat..." akhirnya Taufan membuka suara. "Maafkan aku. Aku...aku khilaf tadi..."


"Aku juga salah tanpa sadar memancing dirimu..." ucap Natasha pelan.


Taufan mengambil tangan Natasha dan membawanya ke bibirnya. "I love you, Nat. Bagaimana kita nikah secepatnya?"


Natasha menatap Taufan dengan senyuman. "Jangan sekarang Fan. Oom Levi dan Hoshi baru saja berduka dan aku tidak enak dengan keluarga besar seperti tidak menghargai dan tidak melihat situasi serta kondisinya."


"Kalau begitu, aku akan kembali ke apartemen aku di seberang..."


"Kenapa Fan?" Wajah Natasha tampak terkejut.


"Karena aku tidak yakin akan terus terusan bisa menahan diri untuk tidak menyentuh mu, Nat. Dan aku yakin aku tidak bisa berhenti seperti tadi."


***


Natasha memaksakan diri untuk berangkat ke PRC group meskipun dokter melarangnya bekerja yang banyak membutuhkan pikiran karena bisa membuatnya stress.


Oh Dokter kamu tidak tahu bahwa yang membuatku stress adalah tidak ada Taufan di apartemen aku.


Taufan benar-benar membuktikan ucapannya dan sehari setelah kejadian panas di dapur, pria itu kembali ke apartemennya yang berada di seberang apartemen Natasha. Gadis itu merasa kehilangan apalagi sekian lama, Taufan lah yang selalu ada di sisinya, di apartemennya dan memanjakannya.


Dan kini dirinya kembali ke perusahaan yang dipimpinnya setelah sekian lama ditinggalkan guna pemulihan dirinya pasca operasi usus buntu.


"Pagi miss Neville. Bukannya anda baru masuk bulan depan?" sapa asistennya Poppy McGee menghampiri bossnya yang datang dengan wajah sendu.


"Aku bosan jadi kaum rebahan" jawab Natasha.


"Tapi kata dokter..."


"Screw what a doctor said! Aku malah stress di rumah!" hardik Natasha kesal. Baru ditinggal Taufan sehari sudah muring-muring begini! Rasanya lebih menyebalkan saat ditinggal sekian tahun.


Poppy pun mengangguk paham kalau bossnya sedang jelek moodnya.


"Berikan semua laporan selama aku tidak masuk, Poppy. Semuanya!" titah Natasha usai duduk di kursi kebesarannya.


"Baik Miss Neville." Poppy pun keluar dari ruangan Natasha untuk ke meja kerjanya mengambil laporan yang sudah disiapkan. Poppy memang memberikan laporan rutin tapi Natasha tetap ingin memeriksanya ulang seperti kebiasaannya.


Semenjak Natasha mengambil cuti panjang, Poppy memang memindahkan meja kerjanya di luar ruang kerja bossnya agar lebih mudah untuk mengawasi kinerja para rekannya.


"Ini Miss Neville, semua laporannya selama anda cuti." Poppy menyerahkan beberapa ring binder diatas meja kerja Natasha.


"Terimakasih. Lalu bagaimana dengan posisi manajer yang kosong? Apakah pihak HRD sudah memutuskan? Sebab saya belum mendapatkan laporannya."


"Sebenarnya pihak HRD sudah mendapatkan kandidat yang potensial tapi karena ada kejadian meninggalnya Mrs Reeves, pihak HRD menghold dulu." Poppy menatap bossnya dengan wajah tersenyum.


"Siapa yang lolos?" tanya Natasha penasaran.


"Mr Taufan Abisatya" jawab Poppy tenang.


Natasha mendongakkan wajahnya. "Serius?"


"Serius miss Neville dan itu hasilnya itu memang murni. Mr Abisatya memiliki qualified yang dicari oleh PRC group."


Natasha memasang wajah datar namun jantungnya berdebar-debar. Aku akan menjadi boss Taufan? Seperti halnya mbak Freya dan mas Haris?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️