My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Taufan di Manchester



Taufan tiba di bandara Manchester bertepatan dengan masuk ke musim gugur hingga dirinya harus menaikkan kerah jaketnya. Pria itu lalu menuju ke tempat pemesanan taksi dan setelah mendapatkan, Taufan langsung meminta mengantarkan ke PRC Group Building di daerah Castlefield.


Setelah menempuh waktu hampir satu jam, taksi yang membawa Taufan pun tiba di sebuah gedung dengan desain antik berbata merah. Gedung yang dibeli oleh PRC group itu kemudian beberapa lokasinya disewakan ke perusahaan lain sedangkan PRC group sendiri hanya menguasai separuh gedung itu saja.



Taufan pun turun dari taksi masih dengan koper besarnya menuju resepsionis disana. Pria itu bisa melihat bagaimana khas Inggris terlihat jelas disana.


Foto besar Alexander Neville terdapat ruang lobby yang menunjukkan bahwa dirinya adalah pemimpin PRC group kawasan Eropa bersama dengan istrinya, Adinda Pratomo.


Taufan menghampiri meja resepsionis yang menyapanya ramah.


"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.


"Selamat pagi. Saya hendak bertemu dengan nona Natasha Neville" jawab Taufan.


"Nama anda?"


"Taufan Abisatya. Saya dari Giandra Otomotif Co Jakarta Indonesia." Taufan memperlihatkan id card nya dan resepsionis itu pun mengangguk paham karena ada kode tersendiri yang menunjukkan kaitan antara PRC dan Giandra.


"Tunggu sebentar Mr Abisatya. Saya hubungkan dengan Miss Neville." Resepsionis itu pun menghubungi asisten Natasha dan setelahnya menatap Taufan. "Maaf Mr Abisatya, Miss Neville tidak bisa menemui anda."


Taufan hanya bisa terdiam karena dia sudah menduga akan terjadi seperti ini.


"Tolong saya bisa meminta kertas dan bolpoin?" pinta Taufan.


Si resepsionis memberikan apa yang dipinta karena Natasha memblokir nomornya hingga Taufan tidak bisa menghubungi gadis itu.


***


Natasha terkejut ketika asistennya melaporkan bahwa ada seorang pria bernama Taufan Abisatya datang di lantai bawah meminta untuk menemui dirinya.


Gadis itu lalu memeriksa CCTV lobby PRC group dan melongo melihat Taufan benar-benar berada di bawah.


Astaga. Pria itu benar-benar datang ke Manchester? Natasha hanya bisa termangu melihat pria itu tampak gusar dan gelisah di depan meja resepsionis.



Bang Taufan ditolak


"Miss Neville, bagaimana?" tanya Poppy, asistennya.


"Bilang pada Taufan, saya tidak bisa menemuinya."


Poppy lalu menyampaikan kepada resepsionis ucapan Natasha.


Jantung Natasha berdebar ketika wajah Taufan mendongak ke arah kamera CCTV. Kenapa aku masih saja berdebar melihat mu, Fan?


Natasha memperhatikan bagaimana pria itu meminta kertas dan bolpoin karena Natasha sudah memblokir nomor kontak Taufan bahkan permintaan follower di akun Instagram gadis itu pun tidak digubris .


Natasha tidak tahu apa yang ditulis Taufan tapi usai itu pria itu melihat ke arah CCTV dengan wajah sendu. Dan kemudian pria itu berbalik sembari menyeret kopernya.


Astaga! Dia benar-benar mau disini lama? Natasha memperhatikan koper besar, duffle bag Dan tas ransel yang dibawa Taufan seperti hendak tinggal lama.


Gadis itu lalu menghubungi orang yang paling tahu soal Taufan.


"Assalamualaikum mas Hoshi."


***


Taufan tiba di sebuah apartemen yang memang disewanya untuk tiga bulan sesuai dengan masa cutinya yang diajukan olehnya ke Hoshi dan Bara.


Apartemen satu kamar itu pun tampak sudah lengkap dengan perabotan yang bagi Taufan lebih dari cukup. Taufan pun segera membereskan semua barang bawaannya dan setelahnya dia memesan makan siang lalu membuka MacBook nya untuk berkoordinasi dengan Hani yang sekarang menjabat sebagai asisten Hoshi selama dirinya di Manchester.



***


"Miss Neville, tuan Abisatya menitipkan ini untuk anda." Poppy menyerahkan secarik kertas yang dilipat rapi.


"Terimakasih Poppy" ucap Natasha sambil menerima kertas itu. Jantung Natasha berdebar penasaran dengan apa yang ditulis oleh Taufan di kertas itu. Sedikit gemetar, gadis itu mulai membukanya.


*Dearest Natasha,


Besok aku tunggu makan siang di Red Cafe.


Yours truly,


Wajah Natasha memerah membaca pesan yang ditulis oleh Taufan dengan tulisan tangannya yang rapi. Meskipun Natasha ingin membenci pria itu tapi menghilangkan perasaan yang sekian puluh tahun ia pupuk tidaklah mudah.


Yours truly, Taufan Abisatya.


Satu kalimat yang bisa membuat Natasha deg-degan padahal di semua lembar surat bisnis dan lain sebagainya, kata 'yours truly' itu umum. Natasha pun bingung dengan sikap Taufan yang tiba-tiba mengajukan cuti besar lima tahunannya.


***


"Dia memang mengajukan cuti lima tahunannya yang belum diambil Nat" ucap Hoshi tadi saat Natasha menelpon kakak sepupunya yang juga atasannya Taufan.


"Tapi kenapa mas?"


"Mungkin dia ingin menebus kebodohannya?" kekeh Hoshi di seberang. "Look Natasha, tidak hanya wanita saja yang bodoh soal cinta, tapi pria pun sama saja!"


"Macam kau dan mbak Rina" ledek Natasha ke Hoshi dan istrinya yang sama-sama omongannya ramai satu sama lain.


"Hei, kami kan pasangan heboh!" gelak Hoshi.


"Memang!" balas Natasha.


"Nat, kamu harus jual mahal! Biarkan Taufan berjuang mendapatkan dirimu! Jangan lembek jadi perempuan karena di keluarga kita, selembek-lembeknya Oma Rain, tapi dia savage lho!"


Natasha tersenyum mendengar ucapan sepupunya karena memang itu kenyatannya. Keluarganya yang perempuan lembek jika menyangkut soal keluarga, mengupas bawang dan nonton acara drama di TV.


"Iya mas."


***


Keesokan harinya...


Taufan sudah tiba di Red Cafe yang terletak di komplek Old Trafford Stadium, stadion kebanggaan milik klub sepakbola Manchester United dimana dulu Opa Natasha adalah salah satu pemain legendaris disana.


Pria itu memarkirkan mobil sewaannya di tempat parkir sambil menikmati pemandangan di hadapannya. Sebagai fans berat klub yang dijuluki Red Devils atau Setan Merah itu membuat Taufan seperti mimpi. Sejak kecil dia sangat ingin datang kemari tapi karena kesibukannya, Taufan harus mengubur keinginannya tapi kini karena mengejar gadis dari masa lalunya, dia sampai juga disini.


Taufan pun masuk ke dalam cafe yang mulai ramai untuk acara makan siang apalagi hari Sabtu ini akan ada pertandingan home antara Manchester United dan Leicester City, membuat stadion yang terletak di Sir Matt Busby Way itu didatangi banyak fans Setan Merah yang ingin menyaksikan pertandingan itu.



Taufan menemui pelayan yang memberikan tempat duduk yang sedikit memojok agar dirinya bisa leluasa nantinya untuk berbicara dengan putri Mark Neville itu.


Pria itu tampak gugup menanti Natasha dan berharap gadis itu akan datang. Taufan mengirimkan pesan kepada Natasha di akun WhatsApp nya dan berharap blokirannya sudah dibuka.


Wajahnya sumringah melihat centang dua disana dan tak berapa lama berubah menjadi biru. Taufan bersyukur blokirannya sudah dibuka dan mulai menunggu meskipun Natasha tidak membalasnya.


Hampir setengah jam Taufan menunggu Natasha dan dirinya mulai meragukan apakah gadis itu akan datang sedangkan perutnya mulai berdemo karena tadi pagi dia hanya sarapan roti bakar.


Kemana gadis itu? Apakah dia benar-benar tidak mau datang?


Taufan yang sedari tadi hanya memesan air putih dan teh mulai gelisah menatap pintu masuk cafe berharap sosok yang dinantinya akan datang.


Disaat dirinya mulai meragu, seorang gadis dengan dandanan rapi masuk ke dalam cafe sambil menyapa ramah para pelayan disana yang menunjukkan tempat dirinya duduk.


Taufan melongo melihat bagaimana anggunnya gadis itu berjalan ke arahnya. Jantung Taufan berdetak kencang saat gadis itu tersenyum kepadanya.


"Halo Taufan" sapa Natasha.


Entah kenapa lidah Taufan menjadi kelu saat sosok yang dikejarnya duduk di hadapannya.



***


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️