
Anandhita berlari di lorong rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Amberley kalau David tertembak. Wajah cantiknya penuh dengan air mata dan jantungnya berpacu cepat sembari berdoa kencang.
Jangang mati, mas ! Jangan mati!
"Mamaaaa" teriak Anandhita melihat sang mama dan langsung memeluknya.
"Sayang" ucap Amberley sambil mengelus kepala putrinya.
Anandhita melihat kemeja biru muda Arya banyak darah, dan dia juga melihat sang mama pun gaun hijau mudanya juga banyak darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Anandhita panik.
"David ditembak orang tidak dikenal tapi... Dhita. Apa kamu tahu kalau David punya sisi lain yang kita tidak tahu?"
Anandhita menatap Arya bingung. "Maksudnya apa pa?"
Arya menatap putrinya. "Sayang, papa menemukan David dalam keadaan bukan David."
Anandhita semakin bingung. "Aku tidak paham."
Arya menghela nafas panjang. "David menjadi... waria."
Anandhita terkesiap dan menutup mulutnya.
Tidak mungkin!
***
Anarghya bersama para tim dokter berusaha menyelamatkan nyawa David. Tiga peluru bersarang di bahu kiri, dada kanan yang mengenai tulang rusuknya dan perut yang menembus ususnya.
Putra Bara Giandra itu berjuang keras menghentikan pendarahan di perut David dan ketika terdengar suara garis lurus, Anarghya menoleh panik.
"Siapkan defribrilator! Now!" Suster pun segera menyiapkan dan Anarghya segera menggosokkan lalu meletakkan di dada David.
"Dave! Kamu nggak boleh mati! Kamu dengar! Kamu nggak boleh mati! Aku tidak akan ijinkan kamu mati sebelum kamu jelaskan kenapa kamu jadi belok!" teriak Anarghya emosi.
Suara garis lurus masih terdengar dan Anarghya mengejutkan lagi setelah minta dinaikkan voltnya.
"David Hakim Satrio! Kau dengar! Aku tidak ijinkan kamu mati!" bentak Anarghya. "Apa kamu mau Dhita diambil Ateng? Ikhlas kamu!"
Suara jantung berdetak mulai terdengar.
"Dok, sudah stabil."
Anarghya lega. "Alhamdulillah! Kalian harus waspada jika pasien drop. Aku akan membereskan ususnya dia!"
***
David merasa dirinya berada di sebuah Padang rumput yang hijau asri. Rasanya tenang dan damai membuat dirinya nyaman.
"Enak Dave?" sebuah suara membuat dirinya menoleh.
"Maaf, apa saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya?" David menatap pria tampan itu. Rasanya aku pernah lihat tapi dimana.
"Abimanyu Giandra, opa buyut Arimbi, Abi, Reana, Direndra, Alaric, Anandhita, Anarghya, Pandega dan Adrian" ucapnya sambil mengulurkan tangannya yang disambut David.
Mas Abi
"Senang bertemu dengan anda, Sir" ucap David. "Apakah saya sudah mati?"
"Setengah" ucap Abi cuek yang mengingatkan David ke Anarghya.
"Apa saya akan mati?"
"Tergantung."
"Hah?" David menatap wajah tampan Abi. Sekarang aku tahu dari mana Anarghya mendapatkan wajah tampannya dan dari mana asal njeplaknya.
"Kamu tahu kan kalau Anandhita dan Adrian adalah cicitku dan kamu berpacaran dengan Dhita sudah lama. Apalagi kamu sudah melamar ke Arya bukan?" Abimanyu menatap David.
"Iya sih opa. Aku sudah melamar ke papa Arya" ucap David.
"Dan kamu harus tanggung jawab kasih penjelasan kepada Arya, Anarghya dan terutama Anandhita."
"Iya Opa. Jadi aku harus pulang nih?"
Abi mengeplak kepala David. "Kamu pulang, polisi kampret! Mau bikin cicit aku janda sebelum waktunya? Memang kamu ikhlas Dhita sama si tororong itu?"
"Namanya Toro, Opa buyut" ralat David sambil mengelus kepala.
"Suka-suka aku lah!"
"Mas" sebuah suara merdu membuat kedua pria itu menoleh dan David melongo melihat seorang wanita cantik mendatangi mereka berdua. Oma buyut Dara.
"David, ini Oma buyut kamu. Adara, suruh polisi kampret ini pulang. Dia masih punya urusan sama Arya dan Dhita" ucap Abi judes.
"Ya ampun mas, mbok jangan judes-judes tho. David, kamu pulang ya nak. Waktu kamu belum sekarang" ucap Dara lembut.
"Oh bilang sama Arya, kamu masih normal!" ucap Abi tanpa beban yang membuat David melongo.
"Aku normal opa buyut, normal banget. Malahan kemarin ciuman hot sama Di... Aduuuhh!" Sekali lagi kepala David kena keplak Abi.
"Nggak usah diperjelas!" pelotot Abi.
"Kayaknya aku sadar bakalan ketambahan gegar otak kena keplak Opa buyut terus" sungut David sambil mengusap kepalanya.
Dara cekikikan. "Sini, sini Oma usap biar nggak pusing nanti." Dengan lembut Necan kesayangan keluarga Giandra itu mengelus kepala David dengan sedikit berjinjit.
"Dah pulang gih! Bilang juga sama Arga, opa setuju dia sama Amara."
"Opa pun tahu soal Amaranggana?" tanya David bodoh.
"Adara, kenapa dia makin bloon ya?" tanya Abi ke Dara.
"Makanya Ojo mbok keplak tho mas. Kan mesakke" ucap Dara sambil tersenyum. "Dah, David kamu pulang ya. Sudah dipanggil tuh kamu."
Sayup-sayup David mendengar suara Anandhita dan Anarghya memanggil namanya.
"Pulang sana Dave. Opa dan Oma merestui kamu. Tuh, Opa sudah ditunggu besan julid Opa" tunjuk Abi ke arah sepasang suami istri di seberang yang satu bule dan satunya wanita Asia cantik.
Opa buyut Edward dan Oma buyut Yuna.
"Njih Opa, Oma. David pulang dulu. Pesan opa nanti aku sampaikan. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
***
"Mas David! Mas David! Mas!" panggil Anandhita sambil menangis. Perlahan mata David terbuka dan yang dilihatnya pertama adalah kekasih hatinya.
"Di... Dit..." senyumnya.
"Alhamdulillah!" seru semua orang disana.
"Bagus lu kagak mokat! Bisa gue panggil dukun Voodoo buat balikin nyawa lu!" omel Randy.
"Bang! Elu tuh bikin orang pada jantungan tahu nggak!" omel Anarghya yang tampak lelah.
"Ma..af semua..nya." David tiba-tiba merasakan kepalanya sedikit pusing.
"Jangan banyak gerak dulu. Kamu baru saja dioperasi" ucap Arya. Dan David bingung melihat ada darah di leher calon mertuanya.
"Pa..pa kenapa?" tanya David.
"Kita yang melihat kamu ditembak, sayang" ucap Amberley.
David melongo. "Duh pusing..."
"Sabar dulu. Jangan kebanyakan mikir" ucap Anandhita lembut.
"Ini... bukan karena mikir" ucap David.
"Lha terus kenapa?" tanya Arya.
"Dikeplak opa buyut Abimanyu Giandra."
"HAAAAHH?"
***
Yuhuu Up Sore Yaaaa
Insyaallah lanjut lagi nanti
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bang David yang kena keplak