
David menatap sekilas ke arah Anarghya, Anandhita dan dokter Rizal seolah tidak melihat siapa siapa saja disana. Padahal jantungnya berdebar-debar melihat kekasihnya disana bersama dengan Anarghya.
"Pak David!" panggil Dokter Rizal yang membuat David menoleh. "Disini!"
David pun berjalan menuju meja tempat ketiga orang itu duduk.
"Dokter Rizal" sapa David.
"Perkenalkan ini dokter Anandhita lalu yang ini ..."
"Dokter Anarghya" sahut Anarghya sambil tersenyum namun matanya menatap David seolah berkata 'follow the game'.
"Dokter Anandhita, dokter Anarghya" sapa David sambil mengangguk tidak memberikan tangannya karena takut terlihat bagaimana bahasa tubuhnya jika menyentuh Anandhita.
"Ada acara apa Letnan David datang kemari?" tanya dokter Rizal.
Anandhita dan Anarghya hanya menatap datar ke arah pria tinggi itu.
"Saya mau besuk dokter Tini Srikandi. Ini saya bawakan makanan favoritnya" David memperlihatkan beberapa kotak makanan yang merupakan favorit dokter Tini dari sebuah restauran China.
"Ayo kita ke ruangannya, mumpung jam besuk. Letnan sendirian atau bersama dengan pak Randy?" tanya dokter Rizal lagi.
"Bersama dengan Randy" David menoleh dan melihat Randy, Toro dan Jimmy disana. Fajar dikirim ke apartemen untuk menjaga ketiga waria itu sekalian untuk menyelidiki korban yang baru. "Nah itu mereka."
Anarghya berdiri dan menggandeng Anandhita, membuat Toro terkejut melihat gadis yang hendak ditikung digandeng oleh pria imut tapi jutek.
"Randy, Jimmy, Toro, perkenalkan ini dokter Anandhita dan dokter Anarghya" David memperkenalkan keduanya kepada anak buahnya.
Anandhita dan Anarghya saling berjabat tangan seolah baru bertemu namun Toro tidak bisa menahan usilnya.
"Dokter neng Dhita, mening geulis euy" ucapnya sambil mencium punggung tangan Anandhita membuat Anarghya dan David melotot.
"Weits! Jangan kurang ajar ya pak!" cebik Anandhita sambil menarik tangannya.
"Aa, neng bukan pak. Saya mah belum tua-tua pisan neng" goda Toro yang membuat Jimmy mengeplak kepala pria itu.
"Jaga sikapmu!" hardik Jimmy kesal karena Toro tidak bisa mengikuti skenario yang sudah mereka susun hanya gara-gara bertemu dengan Anandhita lagi.
"Maaf neng dokter Anandhita" ucap Toro yang merasakan ada dua pasang mata yang ingin membuatnya lenyap di dunia ini.
Untung letnan dan dokter Anarghya manusia biasa, bukan Superman. Bisa-bisa aku tinggal nama kena pancaran sinar pertomax eh ... pancaran sinar laser yang bikin aku bubye world.
Rombongan itu pun berjalan menuju ruangan dokter Tini dirawat dengan posisi dokter Rizal bersama dengan Randy di depan, Jimmy dan Toro di barisan kedua, dan di belakang David serta Anarghya mengapit Anandhita.
Namun ketiga orang itu memutuskan untuk membiarkan rombongan depan masuk dulu ke kamar dokter Tini. Ketiga orang itu memilih duduk di kursi tunggu yang berada di luar kamar.
"Kamu nggak papa?" bisik David sambil menggenggam tangan Anandhita berusaha menghapus bekas ciuman di punggung tangan gadisnya dengan usapan jempolnya.
"Nggak papa mas. Kan supaya nggak curiga" jawab Anandhita sambil menatap lurus ke depan.
"Aku akan mencari tahu soal..." suara ponsel Anarghya berbunyi dan wajahnya merona ketika tahu siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum Amaranggana sayang" sapanya yang membuat Anandhita dan David terkejut. Keduanya menatap pria imut itu karena tahu Amaranggana adalah putri Kris Ruiz dan Kirana Indriani.
"Kamu pacaran sama Amara?" bisik David tertahan. "Sejak kapan?"
Anarghya menoleh. "Kepo! Bukan sayang, David et Anandita sont surpris d'apprendre que nous sommes liés ( David dan Anandhita terkejut soal hubungan kita )."
David melengos sebal karena dia paling lemah dengan bahasa. Dirinya hanya fasih berbahasa Inggris dan Jawa selain bahasa Indonesia tentunya.
Anandhita hanya tertawa kecil melihat wajah kekasihnya yang tidak bisa kepo. Bukan salah David kalau tidak bisa berbahasa asing lainnya karena di keluarga klan Pratomo diwajibkan paling tidak menguasai dua atau tiga bahasa asing selain Inggris dan Jepang.
"Tapi Dit, apa tidak apa-apa Anarghya berpacaran dengan Amara hingga menikah?" bisik David lagi.
"Melihat dari silsilah keluarga, Anarghya dan aku tidak ada keturunan langsung keluarga Pratomo. Kami masuk karena pernikahan. Oma Rhea menikah dengan Opa Duncan yang merupakan keturunan langsung klan Pratomo jadi dilihat dari manapun, kami tidak berhubungan darah tapi hubungan kami seperti kami memiliki darah yang sama" papar Anandhita.
"Kira-kira Oom Kris setuju tidak ya dengan hubungan keduanya?" gumam David.
"Pasti setuju sebab tidak perlu screening lagi kan?" kerling Anandhita.
"Iya juga sih. Tapi Amara kan di New York memegang PRC group sana. Masa mau pindah ke Jakarta juga? Sudah cukup penuh Jakarta dengan keluarga durjana kalian!" omel David yang membuat Anandhita tertawa dan Anarghya melotot.
Anandhita cekikikan mendengar keributan Anarghya dan David.
"Kalian tidak masuk ke dalam?" tanya Randy melihat ketiganya duduk di kursi tunggu.
"Masuk saja pak David. Saya harus ke ruangan saya karena ada pasien hendak konsultasi" ucap Anandhita manis.
David pun berdiri dan berjalan menuju ruangan dokter Tini tanpa menoleh ke arah Anandhita.
***
Anandhita terpaksa harus pulang malam karena ada operasi lagi sedangkan Anarghya tidak bisa mengantarkan sepupunya pulang karena dia harus mengurus korban kecelakaan.
Pria itu meminta David untuk menjemput Anandhita sebelum harus mengurus semua korban kecelakaan.
"Tolong bang, Anandhita sendirian."
"Oke Ga." David pun mengambil jaketnya dan menyetir HRV miliknya menuju rumah sakit. Sesampainya disana ternyata sudah ramai para keluarga yang mencari informasi korban kecelakaan karambol di tol Cikampek.
David memilih jalur belakang karena tahu dimana ruang kerja Anandhita. Sepanjang perjalanan, pria itu memilih memakai masker agar tidak dikenali.
Pria itu tiba di ruang praktek Anandhita dan mengetuk pintunya. Terdengar suara gadisnya meminta masuk.
David membuka pintu dan melihat gadisnya sedang membuat laporan sembari ditemani lagu breaking dawn dari anime noblesse.
so why does everybody hurt each other?
sono te o n0bash~te kuretara
we can be the dawning light so
boku wa make wa shinai
breaking dawn tobitatō
kowaku wa naiyo boku o shinjite...
"Halo sayang" sapa David. Anandhita mendongakkan kepalanya dan tersenyum. "Kita pulang sekarang?"
"Yuk. Aku juga sudah lapar." Anandhita mengambil tasnya. "Makan enak yuk!"
"Kemana enaknya?" David menunggu sampai Anandhita mengunci ruangannya.
"Seafood?"
"Boleh deh!" David memakai masker nya lagi dan berjalan sambil menggandeng Anandhita menuju parkiran.
"Mas tadi nggak hajar Aa Toro kan?" tanya Anandhita cemas.
"Hajar lah! Enak aja nyolong kesempatan cium tangan kamu! Padahal mas sudah lama nggak..."
Anandhita mendorong David ke tembok parkiran lalu membuka masker pria itu dan mencium bibirnya.
David yang mendapat serangan mendadak, terkejut atas keagresifan Anandhita. Tapi setelah itu, David pun menyambut bibir Anandhita.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bonus Amaranggana Ruiz