
"Masih lama?" sebuah suara bariton membuat Anarghya dan Anandhita mendongakkan kepalanya dan keduanya menatap seorang pria yang mirip dengan Anandhita mengenakan kemeja garis-garis biru dengan cup kopi di tangannya. Rambut hitamnya tampak berantakan terkena angin.
Introducing Adrian Putra Ramadhan
"Lu tuh kemana saja cumiii!" umpat Anarghya kesal dengan saudara kembar Anandhita. Ya, Anandhita memiliki saudara kembar bernama Adrian Putra Ramadhan ( Bonchap Bara dan Arum chapter Lamaran Ala Bima 1 ). Pria yang lebih tua sepuluh menit dari kekasih David itu sejak SMP sudah memilih sekolah asrama di Swiss hingga lulus kuliah jurusan engineering dan bekerja di Koenigsegg Automotive AB di Swedia.
"Ke Starbucks dekat rumah sakit. Memang kenapa?" tanya Adrian cuek.
"Adik lu hampir diserang cewek sinting, tahu nggak!" bentak Anarghya.
"Lha kan ada elu, Ga. Emang David kemana?" tanya Adrian sambil duduk di ruang praktek adiknya. Berbeda dengan Adrian, Anandhita setelah menyelesaikan SMP-nya di Swiss, dia memutuskan kembali ke Jakarta dan masuk ke fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
"Bang Dapid ada tugas negara maha penting, Yan" sahut Anarghya.
"David, Arga... D-A-V-I-D bukan Dapid! Macam orang Sunda saja kau" ledek Adrian.
"Suka-suka gue lah!"
"Memang siapa sih yang mau serang Dhita?" tanya Adrian.
"Rivalnya Dhita. Jadi bang Dapid itu ditaksir sama dokter forensik namanya Farah tapi tahu sendiri lah bang Dapid bomat begitu. Eh malah Dhita yang jadi sasaran."
Adrian menatap wajah cantik kembarannya. "Makanya tho, dulu disuruh ke Dojo nggak mau. Mintanya ke arena menembak."
"Eh kan eman-eman tanganku dong, mas. Nanti kalau luka nggak bisa operasi dong! Padahal aku kan inginnya jadi dokter bedah" ucap Anandhita sambil cemberut.
"Eh Yan, elu beneran cuti dari Koenigsegg?" tanya Anarghya ke Adrian yang sekarang jabatannya sebagai head of engineering di kantor pusat perusahaan mobil sport berperforma tinggi itu.
"Aku dapat jatah cuti sebulan, Ga. Lumayan lah setelah biasanya aku cuma ambil cuti lima hari pas lebaran doang" ucap Adrian.
"Lagian dari semua saudara, elu yang paling jarang pulangnya ya Yan."
"Mau gimana Ga. Kerjaan gue disitu." Adrian tersenyum.
Suara ponsel Anandhita berbunyi dan wajah cantiknya tersenyum melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum mas David." Anandhita lalu merubah panggilan menjadi loud speaker.
"Wa'alaikum salam sayang. Kamu nggak papa?" tanya David di seberang.
"Neng Dhita, maafkan Aa yang tidak bisa menolong neng" sahut Toro dari belakang David.
"Siapa itu yang ngaku-ngaku Aa?" Hardik Adrian yang membuat David dan Toro terdiam sedangkan Anarghya dan Anandhita cekikikan.
"Adrian?" David menyebut nama calon kakak iparnya.
"Hai polisi kampret!" sapa Adrian cuek.
"Lha Let, elu dibilang polisi kampret" celetuk Toro.
***
David meminta ke Anandhita untuk berbicara penting ke Adrian dan akhirnya keduanya berbicara berdua menggunakan ponsel Anandhita.
"Kamu berapa lama di Jakarta, Yan?" tanya David.
"Sebulan aku disini mengambil jatah cuti besar aku yang nyaris belum pernah aku ambil. Kenapa Vid?"
"Aku ayem kamu di Jakarta karena aku harus menghadapi kasus pembunuhan berantai."
"Kamu sebenarnya nggak ke Padalarang kan Vid?" Adrian sendiri jarang memanggil David dengan embel-embel 'bang' atau 'mas'.
"Nggak Yan, aku menjauhi Didit sementara sampai aku bisa mengungkapkan kasus ini. Aku sih sudah minta tolong Arga melindungi Didit dan sekarang aku tahu kamu di Jakarta, jauh lebih ayem aku" ucap David tulus.
"Segera kamu ungkapkan kasusmu terus Ndang adikku kamu lamar resmi! Kelamaan kalian pacaran!" sungut Adrian kesal.
"Iya Adriaaaann" sahut David dramatis.
"Heran aku. Apa sih yang bikin Dhita tergila-gila sama kamu?" omel Adrian.
"Karena aku rajin menabung dan tidak sombong plus perutku six pack?" kekeh David.
"Soal perut six pack, aku pun six pack cumiii!" balas Adrian kesal.
David terbahak.
"Namanya Toro, salah seorang petugas forensik yang kompeten. Memang sejak awal bertemu sudah ngadi-Ngadi pengen rebut Didit dari aku."
Adrian tertawa. "Belum tahu saja untuk masuk ke keluarga aku butuh mental yang kuat."
"Dia nggak bakalan kuat Yan." kekeh David.
"Jadi penasaran aku sama orang yang hobinya ngadi-Ngadi."
"Nggak usah penasaran, daripada elu ilfill" gelak David.
"Tapi tetap aku harus lihat Vid."
Bagi Adrian, siapa yang berani menggoda adiknya, dia harus tahu.
"Besok malam kamu ketemuan saja ma aku di RR's Meal. Nanti aku bawa full squad" ucap David tegas.
***
Adrian menatap lima orang di hadapannya dan memindai satu sama lain kecuali David. Toro dan Jimmy melongo melihat seorang pria yang wajahnya bisa dikatakan kategori cantik dan sangat mirip dengan Anandhita.
Randy dan Fajar terkesima dengan aura yang dikeluarkan oleh Adrian. Aura kepemimpinan yang tegas.
"Gaeess, perkenalkan ini adalah Adrian Ramadhan, saudara kembar Didit." David memperkenalkan ke para rekannya.
"Kenapa saudara kembarnya cowok sih?" gumam Toro yang didengar oleh Adrian.
"Toro itu Vid?" tanyanya sambil menunjuk ke arah pria yang berkulit coklat itu.
"Yes. Itu namanya Toro, itu Jimmy, ini Randy..."
"Kalau Randy aku tahu lah" kekeh Adrian. "Teman bang*sat kau kan?"
"Anjiirrrr... mulut lu masih pedes ajah Yan" kekeh Randy.
"Itu Fajar" sambung David.
"Aku tahu bukan waktunya intervensi kasus kalian tapi aku berharap segera terungkap semuanya." Adrian menatap David serius. "Soalnya kalau nggak segera terungkap, bocah ini kagak lamar adik gue!"
Toro terkesiap. "Oh kakak ipar, apakah tidak ada kans aku untuk menikung dirinya?" Pria itu menunjuk ke David.
"Maaf mas Toro, anda tidak masuk dalam kategori" seringai Adrian usil.
Toro lalu bergaya menangis di bahu Jimmy. "Betapa malangnya nasibku, Jimbong." Jimmy menepuk-nepuk bahu Toro ikut prihatin.
"Boleh aku tahu kasusnya apa?" tanya Adrian dengan wajah serius. "Tenang, aku tidak akan di Jakarta bulan depan karena aku harus kembali ke Swedia."
"Sebenarnya pak Adrian bekerja dimana sih?" tanya Fajar penasaran.
"Aku bekerja sebagai head of engineering Koenigsegg Automotive AB dan sekarang sedang mengambil cuti besar yang memang menjadi hak saya."
Jimmy dan Toro melongo. "Benar Teng, elu kagak patut masuk sini" kekeh Jimmy.
"Ko... Koenigsegg?" cicit Toro. "Mobil yang harganya bisa beli pulau?"
"Memang berapa sih harga mobilnya?" tanya Fajar kepo karena dirinya tidak terlalu paham merk mobil yang di telinganya aneh kedengarannya.
"Koenigsegg Jesko keluaran terbaru dibuka di harga $4jt." Adrian menjawab dengan santai.
Randy nyaris terjungkal dari kursinya.
"Empat juta dollar Amerika?" teriaknya.
"Itu duit semua?" seru Fajar.
"Bukan! Daun!" balas David judes.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️