My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Anandhita ke Apartemen David



Jimmy masih memeriksa kaos, jaket dan jeans Tasya dengan seksama, berusaha mencari darah yang berbeda dari waria itu untuk mengetesnya agar mendapatkan DNA si pelaku.


Setelah hampir dua jam memilah dan mengekstrak semua darah, sidik jari, DNA serta sample rambut yang menempel di baju, Jimmy tampak frustrasi. Tanpa sadar dirinya berteriak kesal.


"Kenapa Jim?" tanya David yang sejujurnya berharap menemukan sesegera mungkin pelakunya.


"Semua darah dan DNA yang aku teliti, milik korban. Tidak ada yang berbeda, jadi si pelaku tidak terluka."


Randy yang sudah mengantuk semakin manyun. "Ini sudah jam dua belas dan kalian bukan superhero ala tim CSI series, jadi lebih baik kita pulang, tidur barang empat lima jam supaya segar besoknya. Gimana?"


Ketiga orang disana membenarkan ucapan Randy dan mereka semua tampak lelah. Akhirnya dua kotak pizza yang masih utuh dibawa oleh Jimmy dan Toro sedangkan sisanya dibawa David dan Randy.


Keempat orang pengejar pelaku kejahatan itu berharap, dengan kondisi fisik yang fresh bisa membuat otak dan mata lebih bisa bekerjasama untuk memecahkan misteri.


***


Anandhita sampai di apartemen kekasihnya pukul enam pagi karena semalam David memintanya untuk menjemputnya. Semalam mobilnya dibawa oleh Randy karena kalau dari labfor, lebih dekat ke apartemen David terlebih dahulu dibandingkan ke apartemen Randy. Jika mengantarkan Randy, David nanti harus memutar dan rutenya lebih jauh lagi.


"Pagi sayang" sapa David saat membuka pintu apartemennya. Karena hari ini hari Sabtu, David tampak santai mengenakan sweater warna hitam bergaris putih. Pria itu tampak sudah segar setelah mandi dan harum parfum khas pria tercium di hidung Anandhita.


"Pagi mas. Ini aku bawakan bubur ayam buat sarapan" ucap Anandhita sambil masuk ke dalam apartemen David yang minimalis dan maskulin.


"Ini kenapa bajunya samaan Dit?" selidik David. "Kita nggak janjian lho!"


"Jodoh katanya?" senyum Anandhita sembari berjalan ke dapur untuk mengambil mangkok. Gadis itu memang sudah biasa ke apartemen David jadi hapal seluk beluk ruangannya.


"Dit, kita pacaran dah berapa lama sih?" tanya David sambil menuangkan kopi dari mesin ke dua mug yang sudah dia siapkan.


"Empat tahun kayaknya mas. Kenapa?" Anandhita meletakkan dua mangkok bubur itu diatas meja makan minimalis milik David.



"Habis kasus ini selesai, aku akan melamar kamu ke papa Arya, lagi." David menatap Anandhita serius.


"Kok lagi? Emang kapan mas melamar Ditha?" tanya gadis itu.


"Waktu kamu wisuda menjadi dokter bedah, aku sudah nembung ke papa Arya cuma saat itu papa Arya bilang kamu masih mau kerja dulu."


Anandhita melongo. "Tapi papa nggak nolak mas kan?"


David menatap Anandhita dengan cemberut. "Calon mantu limited edition begini kok ditolak? Rugi! Aku yang rugi ga bisa sama kamu."


Anandhita terbahak. "Mas tuh. Udah sarapan dulu, nanti lanjut lagi."


"Bubur ayam mana ini Dit?" tanya David sambil menyuap buburnya.


"Deket mansion Oom Bara."


"Aku suka bubur ayam disana, rasanya pas dan enak."


"Iya, semua keluarga besar juga suka. Pernah sampai dibooking sama Oom Bara waktu kita pada kumpul semua acara akikah Arkananta."


"Kok aku tidak ingat acara aqiqah anak nakal itu?"


"Mas David lagi ngejar penjahat ke Padalarang, ingat?" Anandhita tersenyum.


"Owalaahhh, ya aku ingat. Baru datang lusanya kan aku, terus Bima ngomel panjang lebar, meledek aku kehabisan kambing guling dan nasi biryani." Bima adalah menantu Bara Giandra.


"Hu um. Padahal aku sudah bilang lho tapi tetap saja semua pada durjana meledak mas" sungut Anandhita manyun.


"Dit, keluarga mu kan memang begitu. Nggak usah aku yang kasarannya masih calon mantu, sepupumu sendiri juga banyak dinistain" kekeh David.


"Iya sih." Anandhita tersenyum. "Mas acaranya apa hari ini?"


"Ke rumah sakit Bhayangkara dulu, melihat kondisi Tasya, lalu setelahnya kita ke laboratorium forensik. Duo kadal sedang lembur soalnya."


Anandhita sudah mengetahui siapa saja rekan kerja David, tahu siapa duo kadal yang dimaksud.


"Mobil mas masih di bang Randy?"


"Iya, biarin saja. Kan mas masih ada motor."


***


Jam delapan pagi David dan Anandhita tiba di rumah sakit Bhayangkara, langsung ke ruang tempat Tasya dirawat setelah mengalami penyerangan yang nyaris merenggut nyawanya.


Kopral Udin yang melihat David datang langsung berdiri memberikan hormat.


"Pagi Let."


"Sama Aiptu Fajar, Let. Semalam dia bilang akan menjaga disini."


David mengangguk. "Kamu boleh pulang, Din. Kasihan istrimu lagi hamil kan?"


Udin mengusap tengkuknya kikuk. "Iya Let. Semalam sedih tidak ada yang mengusap-usap punggungnya tapi kan memang resiko menikah dengan aparat ya Let."


"Sudah berapa bulan?" suara Anandhita membuat Kopral Udin menoleh dan wajahnya terkejut melihat gadis cantik yang digandeng David.


"Let? Pacarnya?" bisik Kopral Udin.


"Bukan! Calon istri aku" ucap David sambil tersenyum.


"Wuuiihhhh! Salam kenal mbak, nama saya Udin Samuji, istri saya sedang hamil enam bulan."


Anandhita mengangguk. "Dijaga ya pak Udin, istrinya. Kalau minta diusap-usap punggungnya, wajar. Karena capek membawa beban berat di depan."


"Iya mbak." Suara ponsel Udin berbunyi.


"Udah, kamu pulang sana! Tuh bini lu dah nyariin" kekeh David.


"Baik Let. Permisi. Selamat pagi."


"Pagi."


David mengetuk pintu ruang rawat Tasya dan pelan membukanya. Tampak Tasya masih terlelap sedangkan Yulia tidur di pinggir tempat tidur dengan berbantalkan tangannya.


Pria itu mencari-cari Viola tapi tidak menemukannya. Satu kotak pizza semalam yang masih utuh dibawanya setelah sebelumnya dipanaskan di oven yang berada di dapur David.


"Mas cari siapa?" bisik Anandhita.


"Viola. Dia tidak..."


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat David dan Anandhita menoleh. Tampak Viola keluar dengan kaos hitam dan celana jeans semalam. Tidak terlihat bahwa pria itu adalah seorang waria karena sekarang seperti pria-pria pada umumnya.


"Eh, pak pol sudah datang" sapanya genit.


Asal nggak buka mulut saja, kamu kelihatan pria normal. - batin Anandhita. Bubar benar casingnya.


"Mas, aku lihat laporan pasien dulu ya" bisik Anandhita yang dijawab anggukan David.


"Siapa itu pak pol?" Viola mengedikkan dagunya ke arah Anandhita yang sedang mengambil papan laporan pasien yang terletak di ujung tempat tidur pasien.


"Dokter Anandhita."


"Cantik. Cucok sama pak pol deh!"


David hanya tersenyum tipis. "Bagaimana Tasya? Sudah sadar?"


"Belum pak pol. Tasya kayak kebo tidurnya, akikah sampai pusing bangunin dia" jawab Viola.


"Belum bangun dari semalam?" David berpikir. "Dit, memang berapa lama efek obat anestesi sampai sadar?"


"Biasanya dua sampai enam jam. Kejadiannya jam berapa?"


"Jam delapan malam dan saat itu Tasya sudah tidak sadar dan dioperasi sekitar jam setengah sepuluh" ucap David.


"Kok lama banget sadarnya?" gumam Anandhita.


"Jangan-jangan..." David menatap Anandhita dan Viola bergantian.


"Lho kok ada pak pol?" Yulia terbangun dengan suara serak. "Lha kenapa ada wanita disindang?"




***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️