My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Mark dan Natasha



Seminggu keluarga Neville berada di Jakarta untuk mengikuti acara tahlilan Ayame dan tampak Hoshi dan Levi sudah bisa menerima kepergian Oma dan Mama yang sangat mereka cintai.


Kisah cinta Eiji dan Ayame merupakan salah satu cerita yang menjadi legenda di kalangan anak dan cucu karena drama Korea abal-abal hasil skenario Javier hingga membuat dua orang menjadi satu.


Tidak ada yang bisa menyaingi panggilan khas Eiji karena hanya dirinya yang selalu memanggil Ayame dengan Diajeng Aya-aya. Levi menatap foto keluarga mereka yang terakhir saat Eiji masih ada dan mengusapnya pelan.


"Mas..." panggil Yanti yang tahu suaminya sangat kehilangan Ayame.


"Mereka berdua lagi apa ya Yan?" gumam Levi.


"Paling papa lagi dijewer mama karena bikin Oom Javier dan Oom Duncan jengkel. Ditambah dengan Ogan Abi yang juga tidak pernah akur dengan papa" senyum Yanti.


"Aku bersyukur lahir dari mereka berdua meskipun kadang kita tidak pernah akur di hal-hal receh ..."


Yanti memeluk suaminya. "Papa dan mama tahu kalau kita sangat mencintai mereka berdua. Oh, mungkin sekarang sedang makan sate ayam buatan bapak?"


Levi tersenyum ke arah istrinya. "Jadi ingat acara makan sate di rumah kamu dulu ya Yan."


Yanti tertawa. "Kalian tuh kalau tidak rusuh, tidak seru!"


( Baca Elang Untuk Rain Bonchap Acara Makan Sate )


"Semoga Toyib senior dan mama damai di surga ya" bisik Levi.


"Oh astaga mas Levi ... Kenapa masih manggil Toyib senior sih?" kekeh Yanti.


***


Giandra Otomotif Co


Hoshi akhirnya memaksakan diri untuk masuk kerja karena dirinya tidak mau terlarut dalam kesedihan ditinggal sang Oma kesayangan. Hidup itu harus berjalan bukan?


Pagi tadi Hoshi memanggil Taufan Abisatya ke kantor nya untuk membicarakan masa depan Taufan di Giandra Otomotif Co. Taufan sendiri yang akan kembali ke Manchester bersama Natasha dan Tristan sore harinya, sudah menunggu di kantor seperti biasa.


Hoshi melihat Taufan sedang berdiskusi dengan Hani dan keduanya segera berdiri ketika melihat Hoshi datang.


"Selamat pagi pak Quinn" sapa Taufan dan Hani bersamaan.


"Selamat pagi. Taufan, ikut saya!" Hoshi pun melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Baik pak Quinn." Taufan menoleh ke arah Hani. "Aku masuk dulu Han."


"Iya bang."


***


Natasha duduk bersama dengan ayahnya, Mark Neville yang baru kembali ke Surabaya lusa karena dia masih ada urusan dengan Bara dan Hoshi.


Pria paruh baya itu menatap lembut putrinya yang terpaksa dirawat oleh seorang pria yang berjanji akan menikahinya waktu kecil. Taufan sendiri sudah meminta ijin kepadanya untuk bisa merawat Natasha pasca operasi melalui panggilan zoom dan Mark mengijinkan asalkan Taufan bisa dipercaya.


Argumen yang diberikan oleh Taufan pun masuk akal, karena tidak mungkin dia akan macam-macam melihat kondisi Natasha yang masih merasa sakit pasca operasi.


"Bagaimana keadaan kamu Nat? Sudah lebih baik? Apakah Taufan merawat kamu dengan baik?"


"Alhamdulillah Dad. Taufan merawat aku dengan baik."


"Apa rencana kamu ke depan?" tanya Mark Neville.


"Taufan meminta aku menikah dengan nya tapi setelah aku benar-benar sehat karena kondisi aku masih belum 100% pulih."


Mark Neville berpindah tempat duduknya ke sebelah putrinya dan Natasha meletakkan kepalanya di bahu ayahnya.


"Apa kamu yakin akan menerima Taufan setelah banyak drama diantara kalian?" Mark mencium pelipis putrinya.


"Dia sudah benar-benar mencintaimu, sayang?" tanya Mark lagi. Dirinya ingin mendengar putrinya sudah memantapkan hati dan diri ke Taufan.


"Sudah Dad karena aku yang merasakan selama aku dirawat, Taufan sangat perhatian bahkan setiap malam selalu mengecek aku apakah sudah nyaman atau masih merasa sakit."


Mark Neville bersyukur mendengar penuturan Natasha bahwa Taufan memperlakukan putrinya dengan sangat baik.


"Apakah kamu keberatan jika kalian berdua menikah tiga bulan lagi?" tanya Mark.


Natasha mendongakkan wajahnya ke arah ayahnya yang menatapnya dengan serius. "Are you serious Dad?"


"Daripada kalian tinggal bersama tanpa ada ikatan yang jelas" senyum Mark Neville meskipun tahu Taufan tinggal di apartemen putrinya karena merawat Natasha.


"Aku rindu mommy."


"Daddy juga" balas Mark.


"Dad, tidak ingin menikah lagi?" tanya Natasha mengingat sang mommy, Anne, sudah lama berpulang.


"Tidak ada yang bisa menggantikan mommymu dan Dad biasa hidup mandiri jadi tidak ada masalah kalau cuma hidup sendiri. Lagipula, kalau Daddy kangen mommymu, bisa nonton video keluarga kita, Nat. Mommy kamu itu adalah wanita yang istimewa dan spesial. Satu-satunya wanita yang mampu membuat Daddy tidak berpaling ke wanita lain."


Natasha mengangguk membenarkan ucapan daddynya karena Anne memang wanita yang luar biasa. Bahkan disaat penyakit kanker payu**dara mulai menggerogoti tubuhnya, Anne masih melayani Mark seperti memasak makanan kesukaan Mark dan Natasha, padahal sang mommy masih harus menjalani kemoterapi.


Ketika efek kemoterapi mulai membuat rambut Anne yang pirang kecoklatan itu rontok, Mark dengan santainya ikut membotaki rambutnya. Dan keduanya sering bercanda menjadi Upin Ipin karena sama-sama botak.


Mark dan Natasha terkejut ketika pagi itu Anne mengeluh sesak nafas dan segera keduanya membawa wanita yang mereka puja itu ke rumah sakit. Hanya dua jam di sana, Anne menghembuskan nafas terakhirnya. Mark dan Natasha hanya bisa termangu melihat tubuh kurus Anne terbujur kaku.


Semua keluarga besar Mark Neville datang untuk ikut berkabung dan Natasha seperti zombie. Tak heran jika dirinya bisa mengerti bagaimana perasaan Hoshi saat ditinggal Oma Ayame.


"Kamu pasti akan menjadi pengantin yang tercantik."


Natasha tertawa. "Dad, anak Daddy cuma aku satu-satunya. Tentu saja bagi Daddy aku adalah pengantin tercantik."


Mark tersenyum sambil memeluk putrinya. Mereka sedang berada di ruang tengah mansion Neville di Jakarta.


"Sayang mommymu tidak bisa melihat kamu jadi pengantin ya sayang."


"Mommy pasti melihat aku dan Taufan, Dad."


***


"Jadi apa kamu sudah diterima di PRC group Manchester?" tanya Hoshi tanpa basa basi.


"Saya belum tahu pak Quinn. Tapi saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri kepada pak Bara, HRD dan sekarang ke bapak." Taufan memberikan sebuah amplop coklat kepada Hoshi. Sebenarnya bisa saja Taufan mengirimkan melalui email tapi dia tetap menghormati Hoshi, apalagi selama beberapa tahun terakhir ini pria cantik itu menjadi mentor nya.


"Kalau kamu tidak diterima di PRC group Manchester? Apa Natasha mau punya calon suami tidak bekerja?"


Taufan tersenyum. "Insyaallah saya bisa mendapatkan pekerjaan di Manchester meskipun tidak di PRC group karena saya juga tidak mau melihat istri saya yang bekerja tapi saya di rumah meskipun saya tidak keberatan namun ego saya sebagai laki-laki kok sepertinya tidak pantas laki-laki diam saja tanpa ada usaha mencari nafkah halal."


Hoshi mengangguk. "Wanita kalau memang mencintai pria itu secara tulus, meskipun kamu hanya bekerja sebagai sopir Uber tapi kamu ada usaha mencari rezeki halal, dia akan menghargai usaha kamu itu. Dan aku rasa Natasha lebih menghargai kamu yang mau bekerja daripada kamu yang nganggur."


"Betul pak Quinn."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️