My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Luluhnya Si Cantik



"A..pa?" Natasha menatap Taufan yang wajahnya menyorotkan sedih dan kecewa teramat dalam.


"Apakah berhasil? Move on dari aku?" tanya Taufan sambil meletakkan nampan berisikan mashed potatoes diatas nakas.


"Mas Jendra, aku tutup dulu ya. Aku harus bicara dengan Taufan." Natasha berpamitan dengan kakak lelakinya.


"Jangan terlalu keras kepala Natasha. Kamu diberikan kesempatan bisa bertemu dengan Taufan sekali lagi dan jika kamu memilih melepaskan pria itu sedangkan hatimu masih ada perasaan dengannya, kamu akan kehilangan dia selamanya karena seorang laki-laki jika sudah menyerah karena cinta, dia tidak akan menoleh dua kali. Jangan sampai kamu menyesal seumur hidup. Kita semua tahu bagaimana hatimu kan?" Rajendra berusaha menasehati Natasha karena semua saudara-saudaranya tahu bagaimana gadis itu menyimpan hatinya hanya untuk seorang Taufan Abisatya.


Beruntung Natasha melakukan panggilan telepon biasa dan tidak di loud speaker, jadi tidak ketahuan oleh Taufan apa yang sedang dibicarakan dengan Rajendra.


Natasha terdiam mendengar nasehat Rajendra. Apakah aku sanggup harus kehilangan lagi?


"Baik mas. Aku tutup dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Ingat, pikir baik-baik. Good luck." Rajendra pun menutup panggilannya.


Natasha mematikan teleponnya dan menatap Taufan yang berdiri menjulang karena dirinya duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Nat..." Taufan berlutut di depan Natasha dan menguncinya dengan kedua tangannya di sisi kiri kanan tubuh gadis itu. "Kita selesaikan sekarang. Apakah kamu sudah berhasil?"


Natasha menatap Taufan dengan tatapan sendu. "Be... Lum."


Bibir Taufan tersenyum tipis. "Dan jangan mencoba menutup hatimu rapat-rapat untukku. Maaf jika aku membuat kamu terpaku dengan khayalan kanak-kanak hingga dewasa karena sejujurnya aku tidak yakin kamu akan mengingatnya."


"Bagaimana bisa aku melupakan seorang anak laki-laki tampan yang bilang akan menikahi aku saat dewasa nanti?" pendelik Natasha yang tidak berjalan seiringan dengan air mata yang tiba-tiba muncul di mata hijaunya.


"Jadi kamu menilai aku tampan Nat?... Aduuuhh!" Taufan merasakan bahunya dipukul oleh gadis itu. "Gadis-gadis Pratomo memang terkenal bar-bar."


"Kamu tuh! Iya! Kamu tampan tapi pelupa! Puas?" hardik Natasha sambil mengusap air matanya yang entah kenapa macam jelangkung, nongol ga diundang, ngilang suka-suka.


Taufan terbahak lalu dirinya mensejajarkan wajahnya dengan wajah Natasha. Jarinya mengusap air mata yang masih tersisa di mata hijau Natasha.


"Kamu tahu. Aku suka sekali melihat mata hijaumu ini. Dan menurut ku, matamu adalah mata tercantik yang pernah aku lihat." Taufan menatap mesra ke gadis itu.


"Kata-katamu kok sepertinya agak menggombal?"


Taufan mencium pipi Natasha yang kali ini diam saja, tidak ada KDRT setelahnya. "Aku tidak menggombal, sayang. Mungkin itu cara Allah membuat aku menjomblo selama ini karena ada seorang gadis yang mencintai aku dan menunggu aku dengan tulus hingga diberikan kesempatan untuk dipertemukan kembali."


"Apa selama ini kamu tidak pernah naksir cewek gitu?" tanya Natasha yang tidak percaya Taufan tidak pernah naksir atau pacaran.


Taufan menggeleng. "Hidupku hanya untuk belajar dan bekerja karena aku bukan orang kaya seperti mu Nat. Kalau tidak bekerja ya tidak ada uang buat hidup. Makanya pada saat aku tahu siapa dirimu, aku merasa bodoh main menjanjikan menikah padamu hingga pada akhirnya aku melupakan janjiku."


Pria itu menangkup wajah cantik di hadapannya. "Aku tidak tahu kebaikan apa yang sudah aku perbuat hingga Allah memberikan aku seorang bidadari yang cantik, judes, galak dan bar-bar sepertimu."


"Kok yang bagus cuma cantik doang ya?" gerutu Natasha.


Taufan tertawa kecil. "Karena aku tahu kamu itu wanita yang baik hanya saja, judesmu itu yang lebih mengena di hati." Pria itu mencium hidung mancung Natasha. "Kita pacaran kan sekarang?"


Natasha hanya mengerjapkan matanya.


"Kalau soal menikah, tidak mungkin sekarang dong Nat. Kamu masih harus pemulihan dulu. Percuma dong bulan depan kita nikah tapi nggak bisa ngapa-ngapain... Aduuuhh! Kamu tuh kok senengnya mukulin aku sih Nat!" Taufan mengusap bahunya yang terkena pukulan Natasha kesekian kalinya.


"Meshum!" cebik Natasha dengan wajah memerah.


"Kamu makan dulu, sudah aku buatkan ini." Taufan mengambil semangkok mashed potatoes. "Apa aku suapin?"


Natasha menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, aku bisa makan sendiri."


Taufan berdiri dan berjalan keluar kamar.


"Kamu mau kemana?"


"Ambil makanku lah! Mana enak makan sendirian."


Natasha hanya tersenyum tipis. Ternyata memang susah untuk pindah ke lain hati kalau Taufan seperti ini.


***


"Hah? Jadi kamu selama ini...?" Natasha menatap Taufan.


"Aku nggak sengaja Nat! Sumpah! Manalah aku tahu apartemen kamu." Taufan memberikan tanda peace.


Keduanya kini berada di balkon apartemen Natasha, tempat gadis itu rutin minum hot choco sebelum tidur tapi karena sekarang belum boleh, Taufan membuatkan chicken salad yang dimakan berdua di meja teras.



"Enak saladnya" puji Natasha.


Sore tadi Taufan berdiskusi dengan dokter yang mengurus Natasha apakah boleh makan sedikit lebih berat dari bubur dan mashed potatoes, diijinkan memakan salad. Dan Taufan mencoba resep dari Rajendra yang memang dikirimkan khusus untuknya.


"Resep pak Rajendra."


Natasha memicingkan matanya. "Lagi-lagi kamu repotin mas Jendra."


"Eh cuma kirim resep doang kok. Yang repot kan belanjanya Nat, sendirian, nggak ada kamu juga."


Natasha melengos. "Jadi kamu lihatin aku tiap malam dari sana?" Gadis itu menunjukkan apartemen Taufan.


"Kamu ingat saat aku kamu tolak saat datang pertama kali ke Manchester, aku akhirnya kesana karena apartemen yang akan aku sewa tiga bulan memang disana. Malamnya aku baru melihat ternyata kamu sedang menikmati hot choco di balkon dan menurut aku itu adalah blessing in disguise. Disaat kamu menolak aku, eh malah aku bisa melihat mu."


"Jadi kamu sebenarnya tidak tahu dimana apartemen aku?" tanya Natasha penasaran kenapa bisa secara kebetulan begitu.


"Beneran Nat! Wong aku datang ke Manchester saja langsung ke PRC group dan kenapa aku sewa apartemen disana karena ya murah."


Natasha hanya mengangguk. "Iya deh, percaya."


"Jahitanmu besok harus kontrol ya?" Taufan menatap ke arah sisi kanan perut Natasha.


"Iya, besok harus kontrol. Aku senang boleh makan salad setelah selama ini makan bubur."


"Sengaja aku buatkan yang tidak terlalu berbumbu dressing nya."


Natasha tersenyum. "Yang penting terbebas dari bubur sudah bahagia aku."


"Memang bubur buatan aku tidak enak ya?" tanya Taufan sambil menyuap saladnya.


"Enak tapi kan bosen Fan."


Taufan mengangguk. "Besok setelah kontrol, kamu mau kemana? Jangan bilang ke kantor karena dokter tidak mengijinkan! Kamu harus menghindari stress Nat."


"Old Trafford!"


"Hah?" Taufan melongo.


"Kamu kan penggemar Manchester United. Masa selama di Manchester belum pernah kesana?Jadi besok setelah kontrol, kita kesana!" senyum Natasha.


Taufan langsung sumringah.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️