
*Readersku... Apa bahasaku kurang halus kah? Apa banyak kata-kata kasar kah? Gue bingung jujur. Sudah berusaha EYD meskipun terselip bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Korea, Jawa n Sunda sih. Kalau ada yang kasar seperti misuh gitu, sudah berusaha aku sensor. Kasih tahu ya dimana kasarnya*
Oke kembali ke babang kampret... eh babang Dapid.
David datang ke kantornya dan langsung masuk ke ruang kerjanya diikuti oleh bawahannya Fajar. Kenapa David masih mempertahankan Fajar, pertama dia tidak ( belum tepatnya ) terbukti ada kaitannya dengan kasus pembunuhan berantai, kedua David ingin mengintai suster Mentari dari Fajar. Mbok menowo keceplosan ngunu.
"Randy masih di Subang dan sekarang jadwalnya kita ke rumah sakit Bhayangkara, ke tempat dokter Tini untuk melengkapi berkas si Vino" ucap David.
"Siap Let. Kita tinggal ambil laporan autopsi kan?" tanya Fajar.
"Yoi. Yuk berangkat sekarang."
***
David dan Fajar tiba di koroner rumah sakit Bhayangkara menggunakan mobil patroli. Sesampainya disana, mereka langsung menemui dokter Tini.
"Pagi dok" sapa David dan Fajar bersamaan.
"Pagi Let, Fajar" sapa dokter Tini yang duduk di meja kerjanya sedang menulis sesuatu.
"Laporan autopsi korban Yulianto sudah siap dok?" tanya David sambil duduk di depan meja dokter Tini.
"Ini sedang aku tanda tangani."
"Dia dibunuh dengan ditusuk kah?" tanya David yang lupa menanyakan karena dirinya sudah penuh dengan semua kemungkinan.
"Iya, ditusuk tepat di dada kirinya yang langsung ke jantung" jawab dokter Tini.
"Ckckck... Orang kalau sudah buta hati, buta akal, buta otak." David menekankan kata terakhir ketika melihat dokter Farah datang.
Dokter Farah hanya melirik tajam ke arah David yang masih menatap lurus ke arah dokter Tini yang hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Semua jalan dilakukan demi memenuhi ambisinya meskipun ambisinya itu kriminal termasuk membunuh orang. Hasilnya apa? Nothing!" lanjut David. "Uang tidak seberapa kamu dapat tapi kamu menyerahkan hidupmu, kebebasanmu di balik jeruji besi."
Dokter Tini hanya mengangguk-angguk seolah menyetujui ucapan David. Dokter Farah melengos melihat pria itu.
"Duh pengantin baru. Habis nikah makin pedes ya mulutnya. Benar-benar si Dhita itu membawa pengaruh jelek ke kamu ya Let" ucap Dokter Farah sinis.
David tertawa. "Justru itu pengaruh yang bagus untuk aku."
Dokter Farah mencebik.
Dokter Tini yang mendengar kata pembunuh-pembunuh langsung menatap David serius.
"Jadi benar Let, pembunuhnya lebih dari satu?" tanya Dokter Tini.
"Iya, Dok. Hasil penyelidikan sementara tapi kami yakin itu memang pembunuhan berantai itu dilakukan oleh orang-orang yang saling berhubungan dengan tujuan sama tapi obyek berbeda" jawab David. "Dan aku sudah mendapatkan bukti semuanya."
"Kapan anda akan menangkapnya Let?" tanya Dokter Tini sambil menatap serius ke David.
"Tidak lama lagi."
Dokter Farah menatap David dan dokter Tini dengan wajah yang tidak dapat dijabarkan.
"Apa kamu yakin akan mendapatkan pembunuhnya? Sepertinya kamu kekurangan barang bukti deh" sindir dokter Farah.
"Kok dokter tahu?" David tiba-tiba berbalik dari tempat duduknya dan menatap tajam ke dokter Farah.
"Eh?" Dokter Farah tampak gelagapan.
"Makanya saya tanya kok dokter tahu? Apakah dokter tahu sesuatu?" Mata David tampak menyelidik.
"Aku...hanya mengira-ngira" jawab dokter Farah gugup.
"Ooohhh..." jawab David.
***
Yuhuu Up Sore
Maaf pendek soalnya aku di rumah sakit ini
Rajendra dan Hoshi insyaallah besok Yaaaaaa
Maaf banget
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️