
Vallery mengusap airmatanya dengan tisu yang diberikan oleh Jesica. Saat ini mereka berhenti di Rest Area. Jesica tidak mau melanjutkan perjalanan jika Vall masih terus menangis.
"Aku pikir kau gadis yang kuat. Baru sekali ini aku melihatmu menangis." kata Jesica sambil mengendikkan bahu.
"Jangan pedulikan aku!" jawab Vallery cepat.
"Yah, well. Aku juga tidak mau tahu." sahut Jesica. "By the way, kau akan ikut dengan penampilan begini?" Jesica memperhatikan penampilan Vall yang tidak menarik sama sekali dimatanya.
"Why?" tanya Vallery malas seraya membuang tisu bekasnya ke lantai mobil. "Apa aku harus berpenampilan sepertimu?" sambungnya.
Jesica berdecak. "Kau ini benar-benar--" geramnya tertahan. "Kau mengotori mobilku. Ck ck ck!" Jesica memutar matanya malas.
"Sorry," kata Vall dengan lirih.
"Oke, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi--" Jesica tersenyum miring dengan ide yang terlintas dikepalanya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Tidak sampai satu jam, mobil Jesica telah terparkir rapi di slot kosong sebuah pelataran Club malam yang mereka kunjungi.
Jesica keluar dari mobilnya, penampilannya begitu glamor dengan dress selutut berwarna maroon yang membentuk sempurna lekuk tubuhnya. Dia sangat percaya diri karena wajahnya yang bisa dibilang cukup cantik.
"Cepatlah, Vall. Kita sudah terlambat!" Jesica menghampiri sisi mobilnya dimana masih ada Vallery didalam sana.
Vallery meremass jemarinya sendiri, dia gugup karena dia tidak percaya diri sama sekali. Jesica memintanya bertukar pakaian, entah apa yang ada dibenak gadis itu. Dia seolah-olah sudah tahu dan bisa menebak penampilan Vall, sehingga dia memang menyediakan baju ganti untuk Vallery.
Sebuah ide gila terlintas dipikiran Jesica, ia ingin melihat Vallery merubah penampilannya. Jarang sekali Vallery mau diajak keluar begini, bukan? Jadi Jesica tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Jesica prihatin melihat Vallery menangis, jauh didalam hatinya sangat ingin tahu apa yang menyebabkan Vallery demikian. Tapi sungguh sangat disayangkan, Vallery benar-benar teman yang tertutup. Jesica pun tak mau memaksanya dan bersikap masa bodoh.
"Come on, Vall." desak Jesica dan Vallery mau tak mau keluar juga dari mobil itu.
Jesica tersenyum puas. "Ayo masuk dan lupakan semua masalahmu! Let's party!" kata Jesica semringah.
Mereka pun berjalan menuju pintu masuk utama. Tidak ada halangan yang berarti. Penjaga pintu mengizinkan mereka masuk hanya dengan kedipan mata dari Jesica. Tampaknya Jesica sudah tidak asing dengan tempat ini.
Vallery sedikit tertegun saat pertama kali memasuki area club. Matanya memicing, bukan untuk mencari keberadaan seseorang tapi pemandangan didepannya sangat samar-samar namun penuh dengan kilatan warna lampu. Suara dentuman musik pun memenuhi ruangan tempat mereka berada.
Banyak mata memandang kearahnya, membuat dia merasa disoroti dengan mata dan pikiran kotor dari masing-masing orang.
"Jes.. aku tidak terbiasa--"
"Maka biasakanlah." potong Jesica cepat.
Jesica melenggang didepan Vallery dengan senyum cerahnya, ia bahkan menyapa seorang bartender dan beberapa orang yang juga menyapanya dengan ramah.
"Ayo kita duduk disana. Disana teman-temanku." kata Jesica menunjuk sebuah sofa setengah lingkaran yang telah diisi oleh beberapa orang lelaki dan perempuan.
Vallery mengikuti arah langkah Jesica dengan hati-hati. Selain matanya tidak fokus melihat karena ruangan yang remang-remang, saat ini Vallery juga menggunakan high hells milik Jesica. Jesica memaksanya menukar sneakers yang tadinya dia kenakan, padahal Vallery sangat tidak terbiasa dengan sepatu ini.
Jesica melambai-lambaikan tangan kearah sekelompok teman-temannya.
"Kau membawa teman baru." sapa seorang lelaki seraya mencium pipi Jesica sekilas.
"Yah, dia Vallery teman kampusku." kata Jesica.
Vallery hanya tersenyum kecut yang amat dipaksakan.
Kedatangan Vallery sangat menyegarkan bagi tiga orang lelaki disana. Terlebih mereka baru pertama kali melihat Vallery datang ketempat ini. Penampilan Vallery yang sempat dirubah Jesica pun sangat membuat mereka penasaran.
Vallery menggunakan dress yang cukup terbuka, dengan aksen tali yang disemat dan diikatkan ke lehernya. Berwarna hitam pekat dan sangat kontras dengan kulitnya yang putih, membuatnya terpancar indah dibawah kilatan lampu.
Tubuh Vallery sendiri terbilang lebih tinggi dari Jesica, kaki jenjangnya sangat mulus dan ditutup dengan High hells yang menyempurnakan penampilannya. Make-up nya tidak terlalu mencolok, serta bibir ranumnya dipoles dengan warna nude sehingga membuat daya tarik tersendiri bagi yang melihatnya.
Vallery ikut mendudukkan diri setelah Jesica menarik tangannya. Jesica sendiri sudah asyik dengan teman lelaki yang sepertinya adalah kekasih atau hanya kawan berkencan.
Vallery melirik kearah gadis yang lain, satu-satunya perempuan yang ada di sofa yang sama dengannya dan Jesica. Gadis itu tampak sangat menikmati ciumannya bersama seorang pria disebelahnya, mereka tidak segan dan bahkan melakukannya seperti tidak ada oranglain disana.
Vallery mendengar deheman seseorang dan menoleh sekilas.
"Hai.. aku Steve." Lelaki itu megulurkan tangannya kearah Vallery dan Vallery menyambutnya.
"Vallery.." sahut Vallery memperkenalkan diri.
"Nice to meet you, Vallery. So beautiful.." kata Steve sambil tersenyum hangat. Vallery hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak terbiasa dengan keadaan ini.
Vallery mengangguk lagi dan Steve kembali tersenyum.
"Kau tidak ingin ikut Jesica turun ke lantai dansa?" tanyanya dan Vallery sedikit terkejut melihat Jesica yang ternyata sudah turun dan bergoyang di lantai dansa. Entah sejak kapan Jesica disana, Vallery tidak mengetahuinya.
Vallery menggeleng. "Tidak." jawabnya singkat.
"Kau mau minum?" tanya Steve seraya menyodorkan satu gelas minuman.
"A-aku tidak--"
"Cobalah.." desak Steve.
Vallery menatap steve dengan keraguan tapi Steve mengangguk untuk meyakinkan Vallery.
Dengan berat hati, akhirnya Vallery mencicipi minuman itu untuk menghargai Steve. Dia pun merasakan rasa yang aneh dari minumannya.
Steve terkekeh. "Aku sudah menduganya kau tidak biasa ditempat ini. Untuk apa kau kesini?" tanya Steve ramah.
"Aku hanya menerima ajakan Jesica."
"Mungkin Jesica mau menghiburmu. Tapi Jesica selalu lupa tempat jika bertemu dengan Mark." kata Steve seraya mengendikkan dagu kearah Jesica disana.
Mata Vallery pun melihat kearah yang dimaksudkan Steve, ia terperangah melihat aksi Jesica dan lelaki yang dibilang Steve bernama Mark itu. Jesica dan Mark berciuman panas ditengah-tengah lantai dansa bahkan semua orang riuh penuh antusias untuk menonton kejadian itu.
"Astaga.." Kata Vallery seraya menutup pandangannya dengan sebelah tangan.
Steve terkekeh lagi. "Apa kau mau mencobanya?" tawarnya dengan seringaian penuh maksud.
"Hah? Apa?" Vallery tersentak.
"Mencoba apa yang Jesica dan Mark lakukan?"
Vallery menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berulang-ulang.
"Gadis manis sepertimu tidak seharusnya berada disini. Kau membuatku penasaran tapi kau sama sekali tidak tertarik untuk mencoba." bisik Steve, membuat Vallery merinding.
"Apa maksudmu?" tanya Vallery tidak suka. Vallery beringsut mundur untuk menjauh tapi Steve tiba-tiba meraih tangannya. Vallery menggeleng, menyatakan ketidak-inginannya. Tapi Steve kembali mendekatinya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk hal lain. Tapi dengan syarat.." bisiknya. "Minumlah yang banyak.." sambungnya seraya terkekeh.
"Aku tidak mau." kata Vallery menolak. Vallery tahu jika dia meminum alkohol itu dia akan masuk dalam perangkap Steve. Dia tidak terlalu polos untuk hal itu. Dia belajar dari kesalahan Ed.
Ah, kenapa mendadak dia mengingat Ed?
"Paling tidak, untuk melupakan masalahmu." kata Steve kembali menyodorkan minuman dan Vallery kembali menggeleng.
"Tidak." tegasnya.
"Ah, Jesica kau membawa gadis yang tidak penurut. Tapi aku suka.." kata Steve setengah mabuk.
"Kau gila!" pekik Vallery saat Steve mencoba menangkap pipinya. Sekuat mungkin Vallery menghindar.
"Cepat, minum ini.." Steve menyodorkan gelasnya lagi, kali ini ke mulut Vallery, memaksanya untuk minum. Vallery menepis kuat dan minuman itupun tumpah, membuat baju Steve basah.
Steve melihat Vallery dengan tatapan kesal. "Kau..!!" geramnya. "Aku sudah meminta dengan cara baik-baik." Pekik Steve tepat didepan wajah Vallery.
Steve menarik tengkuk Vallery karena wajah Vallery yang selalu menghindarinya.
Saat Steve ingin meraih bibir Vallery dengan bibirnya. Saat itu juga kerah baju Steve ditarik kasar dari belakang, membuat lelaki itu mau tak mau menoleh dan melepaskan cengkramannya pada tengkuk Vallery.
"Kau..." kata Steve lirih setelah melihat siapa yang berani mengganggu kegiatannya.
Dan Vallery pun menatap sosok yang tiba-tiba melayangkan tinjunya pada wajah Steve.
Bugh..
Bugh..
"Jangan memaksanya jika dia tidak mau!" Pekik orang itu setelah melesatkan tinjunya ke rahang dan dada Steve. Vallery pun terperangah setelah melihat apa yang terjadi didepan matanya
...To be continue ......