My Another Love

My Another Love
Thanks



Nafas Josh terasa hangat menerpa kulit wajahnya. Wajah mereka sangat dekat dan Josh menatapnya dengan mata elangnya yang sangat memikat.


"Kau bertanya kan, memangnya aku bisa apa? Aku bisa berbuat apa saja." Kata Josh seraya mengeluarkan smirk-nya didepan wajah Vallery.


Wajah Vallery memanas, ia ibarat ikan yang keluar dari air. Seperti kekurangan oksigen akibat pesona Josh dihadapannya. Tapi, Vallery cukup tahu diri, dia tidak pantas untuk lelaki manapun karena kegadisannya sudah terenggut paksa. Dia tidak mau menyakiti dirinya lagi apalagi Josh. Josh yang telah menolongnya. Dia tidak mau mengecewakan lelaki manapun dengan kondisinya.


Tidak semua laki-laki mau menerima kekurangannya, bukan?


Dan Vallery tidak mau mencoba sesuatu yang mustahil. Mungkin dia akan mendapatkan lelaki yang mau dengannya nanti tapi itu bukanlah Josh. Karena Josh bisa dengan mudah mendapatkan gadis lainnya, jika melihat dari tampangnya yang playboy. Vallery tidak mau terjebak dalam pesonanya, lalu bermain-main.


Vallery takut terperangkap dan tidak bisa keluar dari pesona Josh yang sangat memikat, itulah sebabnya dia menghindari Josh selama ini. Sekuat hati dia menepis keberadaan Josh dan lebih memilih memusatkan pikiran ke permasalahannya sendiri dan Ed.


Vallery mendorong pelan dada bidang Josh yang berada didepannya. Josh mengalah dan melepas kungkungannya. Dia berdehem untuk meredakan rasa canggung diantara keduanya. Tak lama lift pun berdenting dan terbuka tepat dilantai tujuan.


Josh menekan password apartemen nya. "Masuklah." Katanya mempersilahkan Vallery.


Vallery masuk dengan rasa canggung, padahal dimobil tadi dia biasa saja. Tapi akibat kejadian di Lift, membuat perasaannya campur aduk.


Hal pertama yang Vallery rasakan saat memasuki ruang Apartemen Josh adalah perasaan terkesima. Ini penthouse yang mewah, bahkan lebih dari sekedar tempat tinggal biasa.


Siapa sebenarnya Josh? Dari keluarga mana dia? Kenapa huniannya seperti ini? Ah, sebelumnya juga Vallery menaiki mobilnya yang menengah keatas. Kenapa dia baru menyadarinya?


"Minumlah." Kata Josh seraya memberi sekaleng soft drink untuk Vallery.


Vallery menerimanya. "Bukankah ini terlalu larut untuk bertamu kerumah seseorang?" Vallery terkekeh.


Josh ikut terkekeh, dia senang melihat sikap Vallery yang mulai bersahabat, melupakan kecanggungan mereka sebelumnya akibat ulah Josh sendiri.


"Tidak ada istilah terlalu larut untukmu." Kata Josh.


Vallery terdiam, dia kembali pada sikapnya yang tertutup.


Josh memperhatikannya dan lebih memilih tidak mengomentari.


"Disana kamar tamu. Masuklah dan tidur disana." Kata Josh seraya menunjuk ruangan diujung.


"Kamarku yang itu. Jika kau butuh apapun, ketuk dulu pintu kamarku."


"Huum.." Vallery menenggak minumannya dan beranjak menuju kamar tamu.


"Vall..." suara Josh terdengar lagi.


Vallery menoleh.


"Selamat tidur. Semoga kau mimpi yang indah." Kata Josh dan Vallery mengangguk.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Vallery terbangun dipagi hari. Dia mengingat jika hari ini dia ada kuliah pagi. Dia gegas menuju kamar Josh dan mengetuknya perlahan.


Tak berapa lama, penghuni kamar itupun keluar dengan penampilannya yang sudah rapi. Tapi penampilannya lain dari pada biasanya. Josh mengenakan jas slimfit yang sangat cocok untuk tubuhnya. Sangat elegan dan Manly.


"K-kau mau kemana?" Tanya Vallery gugup seraya menelan ludahnya dengan berat. Ini pertama kalinya dia melihat Josh yang seperti ini. Josh tampak dewasa dam berwibawa.


Penampilan Josh hari ini benar-benar bagai visual dalam angan-angannya. Rambut Josh pun menggunakan pomade dan disisir rapi kebelakang, membuat wajahnya yang tampan semakin membuat Vallery terkesima.


Josh berjalan perlahan dan dengan santai memakai arloji bermerk ditangannya.


"Aku ada meeting mendadak." Sahut Josh singkat, ia sibuk dengan dasinya sekarang.


"Meeting?" Tanya Vallery heran.


"Breakfast, Vall.." katanya pada Vallery yang masih kebingungan.


Vallery ikut duduk disebelah Josh. Dia mengambil sepotong roti bakar diatas meja.


"Aku baru tahu kau juga bekerja." Kata Vallery seraya mengunyah rotinya.


"Ya begitulah." Celetuk Josh. "Kau ada kuliah pagi, kan?"


Vallery mengangguk.


"Aku tidak ke kampus hari ini. Tapi aku akan mengantarmu."


"Aku harus pulang dulu karena aku tidak bawa pakaian ganti dan tas kuliahku." Jelas Vall.


"Baiklah, selesaikan sarapanmu dan bersiap. Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak usah, aku akan pulang sendiri."


Josh meminum kopinya dan kembali bersuara. "Aku tidak ada waktu untuk berdebat, Vall. Cepatlah." Katanya.


Vallery mengangguk dan segera menyelesaikan sarapannya. Lalu gadis itu mandi dan membersihkan diri. Saat Vall ingin memakai kembali pakaiannya yang kemarin--karena hanya itu yang dia miliki saat ini--matanya menangkap setelan yang lain. Sebuah blus sederhana yang cantik dan celana denim. Vallery tersenyum melihatnya.


Vallery segera mengenakan setelan yang disediakan Josh itu. Lalu dia keluar kamar setelah memastikan penampilannya sudah rapi.


Josh menatapnya dengan tatapan datar seperti biasanya.


"Thanks, Josh." Kata Vallery seraya menunjukkan setelan yang sudah dia kenakan di tubuhnya.


"Hemm.." sahut Josh singkat.


Mereka segera keluar dari Apartemen dan Josh benar-benar mengantarkan Vallery sampai kedepan rumahnya.


Josh bahkan keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Vallery. Vallery merasa Josh sangat memperhatikannya, dia tidak pernah diperlakukan begini oleh siapapun.


"Josh, Thank's.." Vallery tersenyum pada Josh saat mereka sudah tiba.


"Berhentilah berterima kasih." Kata Josh dengan nada malas.


"Lalu aku harus bagaimana?" Vallery mencebik.


"Aku tidak menerima ucapan terimakasih. Tapi--"


"Tapi apa?" Kata Vallery.


"Tapi aku akan senang hati menerima ciumanmu." Kelakarnya seraya terkekeh kecil dengan sangat manis.


"Hey.." Vallery memukul lengan Josh dan Josh kembali terkekeh.


"Aku bergurau. Masuklah dan pergilah kuliah." Josh mengusap-usap pucuk kepala Vallery.


Vallery mengangguk, ia diam dan menurut. Sebelum benar-benar pergi dari hadapan Josh, ia kembali memutar wajahnya untuk menatap lelaki itu.


"Dasimu belum rapi." Kata Vallerry seraya merapikan dasi Josh.


Josh tertegun dengan aksi Vallery itu, sudut bibirnya melengkung dan dia melepaskan kepulangan Vallery dengan berat hati.


Josh kembali memasuki mobil. Vallery melambaikan tangan kearah mobil Josh yang sudah menyala dan Josh membalas lambaian Vallery dari dalam mobil. Lelaki itu pun pergi dari kediaman Vallery dan akan memulai hari ini dengan senyuman yang tidak surut.


...To be Continue......