My Another Love

My Another Love
Savior Girl



Sejak sekolah di jenjang Senior, memikirkan tentang seorang gadis adalah hal pantang bagi Josh. Tapi, sejak pertemuannya dengan Vallery membuatnya menjadi seperti ini. Memikirkan gadis itu berulang-ulang. Memenuhi kepalanya dengan Vallery, Vallery dan Vallery.


Pada awalnya, dia menganggap Vall bisa ditaklukkan dengan mudah seperti gadis-gadis lain yang menggilainya dan rela menyerahkan diri padanya dengan senyuman yang melengkung.


Tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya dia menyadari jika Vall berbeda dari gadis lainnya. Vall benar-benar tertutup dan sulit didekati.


Mungkin bagi Vallery, pertemuan pertamanya dengan Josh adalah ketika Josh memasuki kelas yang sama dengannya dikampus mereka. Tapi tidak bagi Josh, pertemuannya dengan Vallery waktu itu bukanlah yang pertama. Karena pertemuan pertama mereka jauh sebelum hari itu. Josh cukup yakin jika Vall yang sekarang, tidak mengenalinya bahkan mungkin sudah melupakannya begitu saja saat pertama kali bertemu dengannya.


Jika mengikuti kata hati dan keinginannya, sudah sejak lama Josh ingin menghampiri gadis itu, menyapanya dan mendekatinya dengan cara baik-baik. Tapi, Josh sadar akan siapa dirinya.


Terkadang kenyataan terasa lucu baginya. Dia menginginkan Vallery sejak lama, jauh sebelum Vall mengenalnya seperti sekarang, tapi dia sendiri tidak bisa meraih Vallery untuk dia letakkan dikehidupannya.


Bisakah dia egois untuk dirinya sendiri kali ini? jawabannya tentu saja bisa. Dia bisa bersikap seenaknya dan semaunya, tapi sikap itu tidak berlaku jika menyangkut tentang Vallery. Jika Josh egois dan mengikuti keinginannya, maka itu bisa melukai Vallery-nya.


Jangan tanyakan sejak kapan dia menaruh hati pada gadis tertutup itu, karena Josh sendiri tidak yakin sejak kapan perasaan itu tumbuh. Semuanya terjadi begitu saja sejak rasa penasarannya muncul.


Pertemuan Josh dengan Vallery yang pertama kali adalah saat dia masih menjadi siswa di Senior High School. Dia adalah siswa nakal, dia mengakui itu. Dia pembuat keonaran, dia pengacau dan dia adalah kepala dari segala bentuk kejahatan yang ada disekolahnya.


Semuanya bukan tanpa sebab, Josh begitu sejak kematian Ibu kandungnya, hidupnya menjadi labil dan tidak tentu arah. Dia menyimpan luka yang hanya dia sendiri yang mengetahui seberapa dalamnya.


Josh remaja adalah pemuda yang sulit dikendalikan, dia hidup dengan tidak teratur, dia berteman dengan gengster--yang mungkin saat itu hanya memanfaakannya karena dia memiliki uang dan tentunya ilmu bela diri yang tinggi. Josh memang terlahir untuk tahan banting. Sejak dini, kekerasan adalah hal lumrah dalam hidupnya. Dia dibesarkan dengan ilmu bela diri yang diajarkan oleh Ayahnya langsung--yang memang seorang petarung.


Selalu membuat keonaran, membuat Josh harus menghadapi kepolisian berkali-kali dan itu adalah kesenangan tersendiri baginya. Dia menikmati hal yang dia anggap sebagai tantangan.


Bukan hanya kepolisian, kadang Josh juga harus berhadapan dengan gengster lain yang tidak se-kubu dengan geng-nya.


Sampai suatu ketika, dia bertemu seorang gadis remaja disaat dia dalam keadaan terdesak. Josh dikejar kerumunan Gengster karena dia mencuri sebuah data penting dari sebuah Clan yang sejak lama diincarnya.


Gadis itu menolongnya, membantunya bersembunyi dan berbohong bahwa dia tidak melihat siapapun. Meski dalam tekanan orang-orang yang memiliki tampang sangar, gadis itu tetap mempertahankan keyakinannya untuk melindungi Josh yang sudah ia minta bersembunyi sebelumnya. Gadis itu juga meyakinkan para geng, bahwa dia tidak melihat siapapun disana.


Usia gadis itu lebih muda dari Josh, terlihat dari seragam Junior High School yang dia kenakan, itu menunjukkan mereka berbeda jenjang pendidikan.


"Kenapa kau menolongku? Seharusnya kau membiarkan saja aku dikeroyok masa. Ah tidak, aku bisa melindungi diriku sendiri." kata Josh dengan percaya diri, setelah kerumunan geng itu pergi. Padahal dalam hatinya sendiri mengatakan kalau dia tidak akan bisa melawan kerumunan orang itu seorang diri.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kenapa semua orang itu mencarimu?" tanya gadis itu heran. Dia ikut duduk memeluk lututnya seperti yang tengah Josh lakukan dibawah jembatan dekat gorong-gorong.


Josh tersenyum getir. "Aku mencuri ..." kata Josh enteng.


"Apa kau tidak punya uang makanya kau mencuri?" gadis itu memarahinya seraya merogohh sakunya sendiri, lalu gadis itu menyodorkan lima lembar uang pecahan 1$ kepada Josh.


"Ambil ini, ini semua uang sakuku. Ini lebih baik daripada kau mencuri." kata gadis itu dengan kepolosannya.


Josh terkekeh geli, apa penampilannya sesusah itu sampai gadis ini menyangka dia tidak memiliki uang? Ah, ya...dia baru saja mengakui perbuatannya soal mencuri.


"Aku bukan mencuri uang," kata Josh. Diliriknya tangan gadis itu yang tetap pada tempatnya, tetap menyodorkan pecahan uang itu kepada Josh. Akhirnya, Josh menerima uang pemberiannya hanya unttuk menghargai gadis itu, bukan karena dia tidak memiliki uang. Dia tidak semiskin itu! Kalaupun dia tidak memiliki uang sama sekali, diusianya yang sudah 17 tahun ini, dia akan memutuskan bekerja saja. Hah! Josh tidak habis pikir dengan pikiran gadis ini.


Kenapa dia polos sekali? bagaimana jika aku adalah orang jahat dan malah mencelakainya? Kenapa dia menolong padahal sudah tahu jika aku bukan orang baik. Tidak ada orang baik yang mencuri bahkan sampai dikejar masa seperti ini.-Josh.


Gadis itu tersenyum kecil saat Josh menerima uang yang dia berikan. "Jangan mencuri lagi!" katanya.


"Hemm..." Josh hanya bergumam kecil.


Gadis itu bangkit, lalu dia menepuk-nepuk rok sekolahnya yang kotor akibat duduk begitu saja tanpa alas.


"Apa kau tidak menuntut ucapan terima kasih dariku?" tanya Josh seraya tersenyum miring.


Gadis itu menoleh, Josh melihat siluet wajahnya dari samping dan entah kenapa Josh menyukai raut wajah datar itu.


"Untuk apa?" tanyanya tak acuh.


"Bukankah setiap orang yang menolong, berharap ada ucapan terima kasih dari orang yang ditolongnya?"


"Lalu, apa kau mau mengucapkan terima kasih padaku?" gadis itu membalik badannya dan menunggu jawaban dari Josh.


"Of course, tentu saja. Terima kasih telah menolongku untuk bersembunyi dan terima kasih untuk uang 5 dolarmu." kata Josh tulus.


"Ck! Kau ini... kau sadar tidak, jika kau berterima kasih pada seorang pembohong?" tanyanya sambil menaikkan dagu--menantang. "Karenamu aku jadi seorang pembohong dan kau malah berterima kasih padaku? Lucu sekali." Gadis itu lalu pergi begitu saja dari hadapan Josh yang terkesima akan ucapannya.


Josh ikut bangkit dan berdiri, dia mengejar langkah gadis itu.


"Hei kau! Beri tahu aku siapa namamu?" Pekik Josh.


Gadis itu menoleh sekilas. "Untuk apa kau tahu namaku?" tanya gadis itu sambil ikut memekik.


"Jika kau merasa berbohong adalah kesalahan, lalu kenapa kau tetap berbohong?" Josh menjeda jeritannya. "Aku ingin tahu nama gadis yang rela berbohong demi menolongku." pekik Josh lagi.


"Aku.. Vallery Maylenski." jeritnya tanpa menoleh.


Josh tersenyum mendengar nama itu, dia menghafal nama itu dikepalanya. Lalu dia menatap punggung gadis bernama Vallery yang sudah berjalan menjauh darinya. Sejak itulah Josh mencari tahu tentang Vallery, seorang gadis yang mampu membuatnya mencerna kehidupan dari sikap dan kata-katanya yang polos.


Josh menghabiskan jenjang pendidikannya sebagai siswa yang lebih baik dari sebelumnya, bersamaan dengan kegiatan barunya yaitu menguntit hidup Vallery.


Sayangnya, kegiatan itu harus terhenti kala Josh harus pindah ke Rusia bersama keluarganya.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Josh, hentikan aktifitas gilamu itu! Untuk apa kau berpura-pura kuliah hanya untuk membalas perlakuan adikmu!" kata Jeremy memberi tahu anak laki-lakinya. Mereka tengah makan malam di Mansion utama yang berada di Rusia.


"Ck! Jangan mencampuri urusanku, Ayah." kata Josh datar.


"Sayang, jangan kacaukan makan malam kita dengan perbincangan seperti itu." kata Lidya mencoba menengahi antara Anak dan Suaminya. Lidya bukanlah Ibu kandung Josh, tapi Josh menghargainya sebagai istri Ayahnya dan juga karena Lidya memang tulus menganggapnya sebagai anak. Mereka sudah hidup sebagai Ibu dan Anak selama bertahun-tahun, sejak Josh berusia sembilan tahun. Mereka layaknya seperti Ibu dan Anak kandung.


Jeremy mengalah, dia diam dan mengunyah makanannya. Dia hanya tidak habis pikir dengan aktifitas Josh yang rela berkuliah lagi di Texas, padahal Josh sudah menyelesaikan pendidikannya setahun yang lalu dengan gelar Master.


"Bagaimana dengan Adikmu, Josh?" tanya Lidya mengalihkan pembicaraan. "Apa dia sehat?" sambungnya.


Josh mengangguk. "Dia sehat selama dia tidak mencampuri urusanku lagi. Kini saatnya aku yang mencampuri urusannya, biar impas." kata Josh masih dengan nada datar. Lidya menghela nafas pelan, permasalahan Josh dengan Adiknya kenapa harus berlarut-larut seperti ini?


"Josh, maafkanlah dia. Dia bukan berniat mencampuri urusanmu. Dia hanya terlalu protect terhadapmu. Ibu tahu kalian saling mengasihi." ucap Lidya lembut.


"Tidak ada gunanya membujukku, Ibu. Kami sudah dewasa dan mempunyai hidup masing-masing."


"Nah, kau tahu itu. Lalu untuk apa kau membalas perlakuan adikmu dengan mencampuri kehidupannya juga? Kalian bukan anak-anak lagi, Josh. Kenapa harus saling membalas?" Timpal Jeremy.


"Biar saja, biar dia merasakan bagaimana diikuti oleh bayang-bayangku." kata Josh enteng, dia melahap potongan kentang panggangnya.


Lidya menggeleng kecil, sedangkan Jeremy mengangkat bahunya cuek. Permasalahan Josh dengan Adiknya akan sulit selesai jika tidak ada yang mau mengalah.


Permasalahan ini memang dimulai oleh Adiknya, awalnya sang adik selalu mencampuri urusan Josh. Dia selalu memberitahukan kegiatan Josh pada orangtua mereka. Dia membuat Josh tidak bebas. Mengatakan bahwa dia adalah pacar Josh pada semua gadis-gadis yang dikencani kakaknya itu. Ya, walaupun Josh hanya bermain-main dengan semua gadis itu tapi dia tidak suka Adiknya mencampuri urusannya.


Kemarahan Josh semakin menjadi ketika sang Adik malah mengenalkannya pada teman-teman perempuannya. Josh merasa seperti pemuda yang tidak laku. Semua itu karena ulah Adiknya. Semua itu dilakukan Adiknya dengan alasan, karena dia ingin yang terbaik untuk Josh. Padahal Josh sendiri hanya ingin bermain-main, bukan untuk serius karena dihatinya sudah ada orang lain dan itu tidak bisa diganggu gugat.


Jeremy meneguk minumannya. "Bagaimana dengan urusanmu disini?" tanyanya.


"Baik, Dimitri sudah mengurusnya. Besok atau lusa aku akan kembali ke Texas."


"Tinggallah disini beberapa hari lagi, kau pulang hanya untuk urusan bisnis. Ck, ingatlah kau masih punya keluarga." celetuk Lidya.


"Aku tahu, Ibu. Aku ingat! Maka dari itu aku ada disini bersama kalian sekarang." jawabnya.


Jeremy mencebik. "Ayah pikir urusanmu di Texas hanya mengurusi urusan Adikmu, Josh. Ternyata kau menemukan seseorang disana?" Jeremy menaik-naikkan alisnya menggoda anak lelakinya.


"Aku tidak menemukan siapapun." kilah Josh.


"Ya, tepatnya bukan menemukan. Tapi mencari-cari sesuatu yang ingin kau temukan." sindir Jeremy dan itu berhasil membuat Josh terdiam.


"Pastikan dia tidak akan mengganggu urusan kita, Josh." Jeremy mewanti+wanti anaknya. "Kau tahu kan, tidak sembarang orang bisa masuk kedalam hidupmu!" sambungnya.


Josh mengangguk samar.


"Apa kau serius dengannya?"


Josh tidak menjawab, dia terdiam dan tidak mengunyah makanannya lagi.


"Baiklah, Boy. Kau tahu apa yang harus kau lakukan jika kau memang menaruh hati padanya."


Lidya menepuk-nepuk pelan punggung tangan putra sambungnya itu. "Jangan sampai dia tahu tentangmu, Josh.. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya dia tahu yang sebenarnya. Jika dia menerimamu, Well..kami akan menerimanya. Tapi, Ibu takut dia mundur dan itu membuatmu kecewa karena sudah berharap banyak padanya." timpal Lidya.


"Bisakah aku egois kali ini? Aku ingin Vallery. Tapi aku tidak bisa melepas tanggung jawabku hanya untuk seorang wanita." batin Josh berkata lirih.


Melihat sang putra hanya diam, Jeremy hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu ini akan berat untuk Josh. Dia harus bisa menyeimbangkan antara perasaan dengan urusannya sendiri.


Jeremy pun sudah melewati itu, bahkan dia pernah mengalami hal terparah. Hal yang membuat Josh takut untuk meneruskan perasaannya, karena Josh memiliki trauma dalam hidupnya, dia tidak mau itu terulang pada gadis yang dia cintai, Vallery.


Jeremy tahu banyak tentang Vallery, dia selalu mengawasi anak-anaknya dan tidak ada yang luput dari pantauannya. Jeremy tahu jika Josh mencintai gadis itu sejak lama tapi Josh juga menahan perasaannya itu, walau Jeremy juga tidak yakin sampai berapa lama Josh bisa menahannya.


...To be continue ......


Makasih untuk readers yang udah baca sampai part ini 🙏🙏🙏🙏


Semoga kita sehat-sehat semua ya.


Jadi, di Part ini aku udah kasi tahu ya sedikit banyaknya tentang Josh. Dia bukan bucin tiba-tiba sama Vallery, ya.. Dia sudah stay sama Vallery selama bertahun-tahun. Udah main sana-sini untuk lupakan gadis yang pernah menolongnya itu tapi tetap sulit ya shay kalo udah cintrong.. hehehe


Nah, kalau ada pertanyaan2 kayak gini.. Othor mau jawab apa ya??


🤔: Thor, siapa Josh sebenarnya dan apa yang membuat dia takut menjalin hubungan sama Vall?


🤧 : Kenapa Josh harus nahan perasaannya kalo dia cintrong, Thor??


Nantikan jawabannya di bab selanjutnya yah🙏🙏🙏 tinggalkan jejak guyssss💕