
Percakapannya dengan Edward tidak menghasilkan apa-apa, justru membuat kepalanya pening dan tingkat kemarahannya naik level. Bagaimana mungkin Ed mengatakan hal itu lagi sementara pernikahannya dengan Alexa pun belum resmi berpisah.
Ah, lalu jika mereka berpisah memangnya kenapa? Apa Vallery akan berharap pada Ed?
Tidak ... walau perbuatan Ed padanya adalah kesalahan yang tidak bisa diterimanya dan kejadian-kejadian intens sempat terjadi diantara mereka beberapa waktu lalu, tapi Vallery tidak mau hal itu terulang kembali. Semuanya adalah kesalahan! Jauh didalam hatinya dia menginginkan Edward dan Alexa untuk tetap bersama.
"Apa anda ingin menemui Mr. Kolv, Miss?" tanya Dimitri yang menyupiri Vallery, saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Apa boleh? Bukankah Josh sedang bertemu dengan orangtuanya?"
"Beliau justru ingin segera bertemu dengan Anda, Miss." jawab Dimitri pelan.
Vallery diam sejenak sebelum kemudian bersuara kembali.
"Apa kau mengatakan padanya tentang kedatangan Kak Edward ke kampusku?" terka Vallery, dan lelaki yang duduk menyupir didepannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Astaga ..." Vallery memijat pelipisnya.
"Maafkan saya, Mr. Kolv meminta saya untuk mengabari aktifitas Anda." jawab Dimitri berbohong. Sebenarnya, walaupun dia tidak mengadukan kedatangan Edward pada Josh, tentu lelaki itu akan tetap tahu dari aduan penguntit bayarannya, siapa lagi jika bukan Sophia.
"Tak apa, aku mengerti. Aku juga tidak mungkin memintamu jangan mengabarinya. Kau bukan orangku tapi kau adalah orangnya Josh." kata Vallery disertai sindiran halus.
Dimitri terkekeh kecil. "Sekali lagi, maafkan Saya, Miss." katanya.
"Sudah ku bilang, jangan memanggilku secara formal. Namaku Vallery. Seperti yang ku katakan tadi, kau bukan orangku, jadi bersikaplah sewajarnya."
"Mr. Kolv tidak akan setuju jika kita, emm ... maksudnya saya dan anda berbicara layaknya seorang teman."
Vallery menggeleng. "Terserahmu saja..." jawabnya malas seraya memutar bola matanya. Diapun larut memandangi jalanan dari jendela mobil.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Josh, Jesica, Jeremy dan Lidya tengah berada dalam salah satu ruangan pribadi di dalam gedung perkantoran yang adalah unit pencakar langit bagian dari Greselle Group atau GG Company.
Mereka mengadakan pertemuan keluarga, setelah sebelumnya membicarakan perihal pekerjaan.
Jesica datang terlambat karena tadinya dia harus berkuliah. Dia datang tepat setelah GG Company resmi dipindah-tangankan Jeremy untuk satu-satunya putra tunggalnya yakni Josh Melanov Greselle.
Rapat penting kepemindahan pemilik dan saham, diatas naungan GG Company pun berjalan lancar. Sesuai janjinya, Jeremy tidak mempersulit jalan putranya untuk meraih posisi teratas, karena sebelumnya Josh sudah menyelesaikan tugas yang cukup penting di Rusia beberapa tempo lalu. Tugas itu sendiri terkait sindikat perdagangan senjata api yang resmi diluncurkan melalui jalur illegal. Berkat bakat dan tangan dinginnya, Josh berhasil mendesain, merakit dan memasarkan produk illegal tersebut.
"Setelah jabatanku resmi naik, bisakah aku keluar dari zona hitam ini?" kata Josh memulai percakapannya setelah hanya mereka berempat yang ada didalam ruangan itu.
Jeremy terkekeh. "Are you kidding me?" tanyanya sarkas.
"Kau begitu ahli bahkan jauh diatas kemampuan Ayah." lanjut Jeremy merendah.
Lidya dan Jesica yang mendengar hanya melirik satu sama lain karena mereka tahu Josh benar-benar tidak nyaman mengurusi bisnis hitam sang Ayah.
"Aku tidak mau melanjutkan yang illegal, bisakah aku berjalan di jalan yang lurus-lurus saja?" tanya Josh dengan nada frustasi.
"Kau menyerah? Bahkan bakat alamimu di zona ini sudah menurun dariku sejak kamu lahir." ejek Jeremy tapi diangguki oleh Lidya.
"Bukan begitu Ayah, aku tidak mau terjun terlalu jauh. Ku rasa semua pencapaianku ini.. cukup membuktikan agreditasku didepan Ayah. Itu saja sudah cukup bagiku, tidak perlu lagi orang lain tahu siapa aku."
"Hahaha, rupanya kau sudah nyaman dengan identitas palsumu?" cibir Jeremy.
"Begitulah." sahut Josh tidak tertarik.
"Lalu jika aku mati, siapa yang akan meneruskannya Josh? Jika nama belakangmu saja sudah berganti?" ejek Jeremy lagi.
"Berikan saja warisan zona hitam ayah pada Jesica." timpal Josh seraya mengendikkan bahunya cuek.
Jesica melotot ke arah Josh. "Tidak-tidak." katanya seraya mengibaskan tangannya. "Aku akan berbisnis didunia fashion." sambungnya.
Lidya tersenyum kecil saat Jeremy memandangnya akibat ucapan Jesica.
"Kau bisa membuat bisnis fashion itu sebagai kedok. Seperti yang Ayah lakukan." cibir Josh mengarah pada Jeremy sang Ayah.
Mereka semua tergelak, kecuali Josh tentunya.
"Sudahlah, keputusanku sudah bulat. Aku akan keluar dari zona ini."
"Kau tahu itu tidak mudah, Nak." sahut Lidya yang sejak tadi hanya diam.
Sedikit-banyak, wanita paruh baya itu tahu, jika Josh tidak akan bisa keluar dari lingkaran api yang membelenggunya. Ini sudah turun temurun dan jika Josh memaksa keluar begitu saja, otomatis segala yang melindunginya dari segi hukum dan keamanan tidak bisa bertanggung jawab atas kehidupan yang dia pilih. Sementara, diluar sana banyak musuh yang mengincar putra tunggal dari Jeremy Greselle untuk mereka singkirkan.
"Josh, jika kau masih labil seperti ini, pertahananmu akan segera tumbang." kata Jesica mengingatkan.
Jesica mendelik. "Apa maksudmu?" tanyanya lugas.
Dan Jeremy beserta Lidya sudah tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya jika Josh dan Jesica bertemu dalam satu meja seperti ini, pasti akan berujung perdebatan dan pertengkaran, karena mereka selalu tidak sepaham.
"Kau memberi tahu identitasku pada kekasihmu, kan? Apa itu namanya? pertahananmu sudah tumbang karena tipu daya perasaan!" ejek Josh semakin menjadi.
Lidya dan Jeremy hanya diam untuk mendengar maksud ucapan Josh, mereka memberi waktu agar kedua anak mereka ini memberi penjelasan masing-masing terkait tuduhan atau sanggahan yang mereka kemukakan.
"What? Maksudmu Mark?"
"Yes..."
Jesica menggeleng. "Dia tidak tahu siapa kau!" jawabnya yakin.
"Kau yakin? Bukankah dia tahu aku adalah kakakmu!"
"Yah, tapi dia tidak tahu jika kau seorang Greselle!" kata Jesica penuh penekanan namun Josh tergelak kencang.
"Jesi...Jesi... kau bodoh sekali!" kali ini Josh benar-benar mengejek dengan terang-terangan membuat Jesica mendengus.
"Apa kau pikir, lelaki itu tidak menyelidiki latar belakangmu dulu sebelum kalian berpacaran?"
"Jangan menilai Mark. Kau tidak mengenalnya!"
Josh menggelengkan kepalanya. "Justru kau yang tidak mengenalnya." ejek Josh lagi, seraya berdiri dari duduknya, dia menuju rak buku yang sebelumnya sudah dia letakkan beberapaa berkas disana sebelum rapat dimulai tadi.
"Kenapa kau malah mengejek kekasihku? Lihat Ayah, Ibu....dari ucapannya, Dia menilai kekasihku adalah seorang mata-mata! Kenapa kau tidak mencurigai kekasihmu saja!" Jesica ikut berdiri dengan kaki yang menghentak ke lantai.
Josh tertawa sumbang.
"Sudah, sudah... Jes, mungkin yang dikatakan Josh ada benarnya. Apa kau menyelidiki kekasihmu dulu sebelumnya?" kata Lidya menengahi.
Jesica menggeleng, dia mengenal Mark orang yang baik dan dia menyukainya.
"Darimana kau mengenalnya?" tanya Jeremy.
"Kenapa semua menyudutkan Mark? Kenapa tidak ada yang menyudutkan kekasihnya saja! Bisa saja Vallery juga seorang mata-mata." kata Jesica dengan nada marah, dia mengendikkan dagu kearah Josh.
Josh hanya tersenyum miring menanggapi ucapan sang Adik yang tidak mau kalah, padahal sudah jelas-jelas dia salah karena tidak mengetahui latar belakang kekasihnya sendiri.
"Josh sudah mengenal Vallery cukup lama. Dia mengetahui latar belakang Vallery. Bagaimana denganmu?" tanya Jeremy.
"Benarkah? Jadi kau lebih dulu mengenal Vallery dibanding aku mengenalnya?" tanya Jesica tak percaya.
Josh mengangguk. "Kau sendiri? Darimana kau mengenal Mark?"
"Dari Steve." kata Jesica pelan, dia sudah kehilangan kepercayaan dirinya sejak salah menilai Vallery sebagai mata-mata tadi. Sejujurnya, hati kecilnya pun tidak setuju akan ucapannya sendiri, hanya saja dia tidak terima Josh mengatai Mark.
"Steve? Si pecundang itu?" Wajah Josh berubah merah, kini dia marah karena mengingat Steve yang hampir mencium Vallery saat di Club malam.
Jesica mengangguk dan Josh melemparkan setumpuk berkas kehadapannya.
"Kau menyuruhku berhati-hati dan jangan lengah. Kau termakan ucapanmu sendiri." kata Josh saat Jesica membaca semua data diri Mark yang baru saja dilemparkan sang Kakak kehadapannya.
Begitu mendengar nama Asing dari Vallery-- yakni Mark--yang adalah Kekasih Jesica, Josh segera meminta Dimitri untuk mencari tahu latar belakangnya dan ternyata Mark memang seorang mata-mata dari Clan Dexa.
"I-ini tidak mungkin!" ucap Jesica syok dan terduduk kembali ke kursinya sambil memegang data diri Mark yang sesungguhnya.
Saat itu juga kedua orangtua mereka memijat pelipis masing-masing karena sudah bisa menebak apa yang terjadi. Jesica telah lengah dan jatuh ke orang yang salah.
Disaat yang bersamaan, ponsel Josh berdering. Vallery lah yang meneleponnya. Tidak seperti biasanya, karena suara Vallery terdengar terengah-engah dan ketakutan.
"Josh..."
Josh mengernyit, mendengar suara aneh Vallery. Intuisi dalam otaknya secara otomatis bekerja, agar peka menebak situasi apa yang terjadi pada Vallery.
"Yah? Ada apa, Vall?" desaknya.
Vallery terdengar mengatur nafas dari ujung sana.
"Sa-saat ini... aku dan Dimitri, kami... kami dihadang o--"
"Dimana kau? Kirim lokasinya padaku sekarang!" potong Josh dengan tergesa.
...To be continue ......