
Vallery
Sentuhan Josh di kulitnya terasa begitu lembut dan kian melambungkannya. Membuat naluri alamiah didalam dirinya timbul dan muncul ke permukaan, lolos begitu saja lewat suara lirih yang keluar tersendat-sendat dari bibirnya.
Mungkin wajahnya sekarang kian memerah, menahan ge jolak sekaligus rasa malu mendengar dirinya yang melolong akibat perlakuan Josh yang membuatnya lupa diri. Seolah memanaskan keadaan diantara mereka.
Sama seperti perasaannya yang telah pasrah, begitu pulalah keinginan tubuhnya, yang dalam diam menikmati semua ini. Sentuhan yang terasa begitu sopan dan tidak tergesa-gesa.
"Josh ..." Suara lirihnya menyebut nama lelaki itu. Sebagai peringatan pada dirinya sendiri dan juga Josh. Dia menggeleng sebagai isyarat mencegah sesuatu yang akan terjadi, selagi akal sehatnya masih ada walau hanya beberapa persen.
Tapi, gerakan itu terlihat tidak sinkron dengan tangannya yang justru memeluk leher Josh dengan erat, tidak membiarkan Josh beranjak dan seolah enggan menyudahi yang sudah terjadi sejauh ini.
Bukan hanya tangannya, tapi tubuhnya pun sudah mengunci lelaki itu dalam dekapannya. Sangat menikmati, hingga tanpa sadar dia sudah duduk berpangku di kedua paha kokoh lelakinya dengan jalinan kaki yang menaut dibelakang punggung Josh.
Dia masih bisa merasakan Josh membungkam mulutnya yang me rintih dengan buaian bibir yang men cumbu. Lalu sepersekian detik berikutnya, dia melihat pupil mata Josh yang membesar dengan tatapan nanar, menatapnya penuh damba dan permohonan.
"Vall ..." dia juga masih bisa mendengar suara Josh yang bergetar saat menyebut namanya, seolah meminta persetujuannya.
Dengan lihai, Josh sudah membawanya tergeletak di sofa ruang Tv. Lagi-lagi menyentuhnya dengan lembut dan penuh penghargaan. Seolah takut melukai kulit tubuhnya yang sudah terpampang nyata di penglihatan lelaki itu.
Entah bagaimana, dia hanya mengikuti arus yang menghanyutkannya dan tidak melawan sama sekali. Walaupun tidak ahli dan berpengalaman, lagi-lagi naluri alamiah dalam dirinya lah yang menuntunnya untuk berpasrah diri.
"Lakukan sekarang ..." ucapnya dengan mata yang sarat akan keinginan yang sama seperti Josh.
Gerakan Josh dibawah sana membuat matanya membola, karena terlanjur hanyut oleh arus, dia sampai melupakan hal yang masih dia tutupi pada lelaki itu.
"You're not virgin, Right?" gumam Josh pelan dan dia mengangguk dalam kegiatan yang tetap dilanjutkan lelaki itu. Sedikit meringis karena rasa perih yang tidak bisa dia tutupi.
Josh mengendikkan bahu, "Surprise to me." ucapnya sambil tersenyum miring.
"Im so sorry..." lirih Vallery, namun Josh mengecup kelopak matanya yang mulai berair.
Josh menggeleng padanya. "I dont care, I love you ..." ucap lelaki itu disusul dengan ciuman bertubi-tubi yang Josh suguhkan di keranuman bibirnya.
"Aku butuh penjelasanmu nanti." katanya seraya melanjutkan apa yang sudah menjadi fokusnya.
Setelah itu, segala yang dilakukan Josh terhadapnya, membuatnya tidak bisa mengucapkan kalimat dengan jelas.
Josh memintanya untuk menyebut nama lelaki itu dan dia mengabulkannya. Dia menyebut nama Josh berkali-kali seiring jiwanya yang dibuat terbang berkali-kali menuju langit ke tujuh.
"Josh ..."
"Josh ..."
Entah berapa kali dia menggelinjang, namun Josh tidak mengindahkannya, seolah tidak lelah sama sekali dan malah menjadi-jadi, mengayuh semakin menjauh, menciptakan gelombang yang membuatnya larut didalam sensasi yang sama sekali belum pernah ia rasakan. Menuju puncak bersama-sama dan meneguk kepuasan yang semakin dekat.
Rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya sendiri untuk sementara waktu, karena lagi-lagi rasa malu menerjangnya saat Josh menatapnya dengan tatapan dalam yang menghunus tepat dijantungnya, dia hanya bisa menoleh kesamping, tidak bisa untuk lebih lama lagi menatap sorot mata setajam elang itu.
Didetik yang sama, Josh ambruk diatas tubuhnya sembari mengecup dahinya dalam durasi yang cukup lama.
"I love you, Vall. So much ..."
-
-
Josh
Dia menggeliat dan merasakan sesuatu yang hangat melingkari pinggangnya. Dia menoleh kesamping dan mendapati gadisnya yang masih tidur dengan nafas teratur. Dia tersenyum kecil melihat Vallery yang pulas dengan bibir yang sedikit terbuka. Membuat perasaan gemas dan bahagia berpadu menyatu di relung hatinya.
Dia mengusap wajahnya sendiri, bergerak sedikit untuk membenarkan posisi agar kembali nyaman tanpa mengganggu tidur Vallery. Dia melipat tangan dan menjadikan tangannya sendiri sebagai bantalan, menatapi langit-langit kamar, seolah mengabsen apa saja yang telah terjadi semalaman.
Dia mengingat kejadian kemarin, pertengkarannya dengan Vallery justru berakhir dengan kegiatan panas yang mereka lakukan di sofa ruang tv, bahkan mengulanginya lagi di dalam kamar. Oh my...
Sudut bibirnya terangkat. Yah, dia mengaku kalah pada dirinya sendiri. Sekuat apapun mempertahankan diri, nyatanya sekarang Vallery dalam selimut yang sama dengannya dalam keadaan polos.
Dia masih mengingat ucapan Vallery kemarin.
"Love can't choose, Let's fall together..."
Dan ya, mereka memang tidak bisa lagi memilih, cinta membutakan mereka lalu terjatuh bersama-sama ke dalam gelombang perasaan yang menjadi-jadi.
"Enghhh..." Vallery bergerak dan secara tak sadar melepaskan tangan yang sejak tadi melingkari pinggangnya. Sepersekian detik berikutnya, gadis itu mulai mengerjapkan matanya yang lentik.
"Good morning, Baby.."
Cup!
Dia menyapa Vallery seraya mengecup bibir gadisnya sekilas.
"Arkh.. enghh, Josh jam berapa ini?" tanya Vallery.
"Jam 8." jawabnya enteng.
Vallery terkesiap, terlihat seperti terkejut. Vall bahkan melupakan atau benar-benar lupa jika tindakan refleksnya justru membuat selimut yang sejak tadi menutupi tubuh justru melorot ke pangkuannya.
Disaat yang sama, Vallery semakin terkejut melihat tubuh yang polos kembali terpampang akibat respon yang berlebihan barusan.
Dia buru-buru menaikkan selimut Vallery, sebelum has ratnya naik lagi--saat menatap kulit seputih salju itu di jam rawan seperti ini.
Wajah Vallery memerah, "Thanks..." ujar Vallery seraya memegang selimut kuat-kuat, mungkin agar tidak jatuh lagi. Sangat menggemaskan.
"Why?" tanyanya setelah situasi cukup kondusif.
"Aku ada janji dengan Mr. Regard." kata Vallery merujuk pada salah satu Dosennya. "Aku pasti terlambat..." kata Vallery sambil menunduk.
Vallery menepuk jidatnya sendiri. "Astaga ... bagaimana bisa aku lupa ini hari minggu." gumam Vallery.
"Josh..."
Dia menoleh kearah Vallery yang masih setia terduduk di atas ranjang. "Yah?"
Vallery menggigit bibirnya sendiri. "Pakai handukmu!" ucap Vallery mengingatkannya.
Dia hanya mengendikkan bahu dan kembali berjalan masuk kedalam kamar mandi dalam keadaan polos.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Josh dan Vallery sarapan bersama di meja makan, walau kali ini sedikit kesiangan tapi mereka melahap makanannya dengan antusiasme tinggi, sepertinya keduanya benar-benar lapar karena aktifitas semalam.
Mereka saling mencuri-curi pandangan dalam diam disela-sela sarapan itu. Vallery yang mengingat kegiatan panas mereka malam tadi, merasa sangat malu dan bingung mau memulai obrolan dari mana pada Josh.
Josh sendiri, dia tidak bisa menutupi raut wajahnya yang sejak tadi terus mengumbar senyuman riang.
"Vall, ada yang ingin kau katakan?" tanya Josh seraya menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap hangat.
"Aku--aku, pasti kau kecewa dengan keadaanku." sahutnya sambil tertunduk.
"Kenapa kau bisa beranggapan begitu?" Josh tahu ucapan Vallery merujuk kearah mana.
"Kau merasa terkejut bukan? Kau pasti mengira aku bukan gadis baik-baik."
Josh meletakkan cangkir kopinya, lalu dia meraih jemari Vallery untuk dia genggam.
"No, Vall..." Josh menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak kecewa padamu. Semua orang punya masa lalu. Dan seperti yang ku katakan, I don't care, aku tidak peduli itu. Kau tetaplah gadis yang ku cintai." jawab Josh tulus.
Vallery berkedip seraya mencerna ucapan kekasihnya yang sangat mendamaikan.
"Sampai kapan?" tanyanya.
"What?"
"Sampai kapan kau akan mencintaiku?"
Josh terkekeh kecil. "Aku tidak bisa menjanjikannya sampai kapan." jawabnya enteng.
Vallery melepaskan tangan Josh yang berada dipunggung tangannya. Dia mencebik. "Jika sewaktu-waktu perasaannu itu hilang maka kau akan mencampakkanku, kan?" sarkasnya.
Josh tergelak. "Darimana kau punya kesimpulan seperti itu?" tanyanya balik.
"Karena jawabanmu tidak memberiku kejelasan." sungutnya.
Josh menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vallery. "Kalau kau mau ku beri kejelasan, ada baiknya kita menikah saja." jawabnya pongah.
"Josh..."
"Menikah itu sebuah kejelasan!" kata Josh penuh penekanan.
"Kau benar-benar serius?"
Josh mengangguk yakin. "Sejauh ini, yang menjadi kandidat untuk jadi calon istriku cuma kau saja." kelakarnya, tapi itu memang yang sebenarnya.
"Kau tidak mau menanyakan kenapa aku--" ucapan Vallery terpotong oleh interupsi yang Josh katakan.
"No! no! aku tidak mau mendengarnya." potong Josh mengerti arah pembicaraan Vallery. Sebenarnya, dia memang tidak kecewa pada keadaan Vallery. Tapi, dia kecewa pada dirinya sendiri yang tanpa disadarinya, bisa lengah, hingga menyebabkan Vallery kehilangan mahkotanya.
Sejujurnya, Josh ingin tahu siapa lelaki itu. Karena setahunya Vallery tidak memiliki mantan kekasih. Tapi, jika dia menanyakan pada Vallery, rasanya sangat tidak etis dan mungkin dia tidak akan sanggup mendengarnya.
Sedangkan bagi Vallery, jika bisa, dia ingin mengubur semuanya dalam-dalam tanpa memberitahukan semua pada Josh, tapi entah kenapa dia ingin menjelaskan agar Josh tidak mengira dia adalah perempuan murahan yang suka berganti pasangan. Walaupun Josh tidak akan pernah menuduhnya seperti itu, tapi Vall benar-benar ingin Josh tahu kebenarannya. Semua itu terjadi bukan karena keinginannya--seperti saat dia melakukannya bersama Josh semalam.
"Kak Edward ..." ucapan ragu Vallery untuk mengaku terdengar sangat lirih.
Deg!
Mendengar nama itu, membuat perasaan Josh mencelos. Dia langsung memutar memori ingatannya kebelakang. Tentang tatapan Ed pada Vallery, tentang rekaman CCTV saat di apartemen dan tentang obrolan Ed dan Vall yang dia dengar tengah membicarakan tentang 'malam itu'.
Apakah 'malam itu' artinya adalah ...
Josh memikirkan apa lagi yang terlewat. Lalu, dikepalanya teringat Vallery yang berbicara didalam tidurnya. Saat itu Vallery ketakutan dan ucapannya saat itu terngiang dikepala Josh sekarang.
"Kak, jangan. Please! Aku bukan istrimu!"
"Dia--dia ..."
"Stop it!" Josh tiba-tiba menghentikan ucapan Vallery dengan intonasi suara yang meninggi, rahangnya mengeras dan giginya bergemelatuk.
Josh bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar, menyebabkan kursi makan itu terjatuh begitu saja dan membentur lantai. Vallery sampai memekik kaget karenanya.
Tangan Josh mengepal dan itu menunjukkan dia sudah tahu segalanya sebelum mendengar kelanjutan cerita Vallery.
"Breng sek!" gumamnya seraya melangkah cepat.
"Josh, kau mau kemana?" Vallery sedikit berlari mengejar langkah lebar Josh.
"Jangan hentikan aku, aku akan membunuhnya!" ucap Josh berapi-api.
...To be continue ......