My Another Love

My Another Love
Betrayed



Perasaan takut, bersalah, sekaligus malu, bersatu-padu dikepala Alexa saat melihat suaminya berada diambang pintu.


"Alexa !!!"


Suara Edward yang terdengar memekik sekaligus menghardiknya, semacam alarm yang menyadarkan Alexa untuk segera beringsut menjauh dari seseorang yang tengah berada diatas tubuhnya.


Langkah lebar Edward sampai pada batasnya. Itu begitu cepat tanpa ada persetujuan dari siapapun.


...Bugh !...


...Bugh !...


...Bugh !...


Entah berapa kali Edward memukul seorang lelaki yang dilihatnya tengah bercinta dengan istrinya diataa sofa. Lelaki itu tak sempat menghindari pukulan Edward yang membabi buta.


"Breng-sek!!" Edward mendecih pada lelaki yang sudah terkapar dilantai, lalu dia menatap Alexa yang pias tak bergerak sedikitpun.


Plak!


Edward tidak kuasa menahan pukulannya, tamparan itu lolos begitu saja ke pipi mulus bak porselen milik Alexa. Alexa mengeluarkan airmata, dia pasrah dan dia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk pembelaan sikapnya yang salah.


Saat Edward ingin menampar pipi Alexa yang satunya lagi, kilatan malam panasnya bersama Vallery tiba-tiba melintas dikepalanya. Tangannya yang sudah melayang diudara akhirnya dia turunkan, dia tak jadi menghadiahi wanita itu dengan pukulan kembali. Dia sadar bahwa dia pun memiliki kesalahan fatal terhadap sang istri.


Edward mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, menarik nafas dalam untuk menenangkan hati dan pikirannya yang penuh dengan keemosian.


"Pakai pakaianmu!" ujarnya sambil mendengus-dengus tertahan.


Tidak ada suara jawaban dari Alexa, hanya suara isakan yang terus menjadi-jadi memenuhi ruangan.


"Kau selesaikan ini dan aku tunggu kau dirumah!" kata Edward penuh penekanan. Dia berbalik dan kembali melihat seonggok tubuh lelaki yang hanya mengenakan pakaian dalammnya.


Lelaki itu masih sadar, hanya saja mungkin dia masih merasakan sakit disekujur tubuhnya, hingga dia tidak mampu berdiri. Keadaannya mengenaskan akibat pukulan Ed yang menghujami wajah, perut dan pangkal dadanya.


Edward menginjak perut lelaki itu, dia menatapnya dengan bengis. Lelaki yang tubuhnya berada dibawah kaki Ed hanya bisa meringis dan mengerangg-erang penuh permohonan agar Ed menghentikan kebrutalannya.


"A-aku men--cintai Alexa ..." katanya sambil menahan sakit. Suaranya terdengar pilu, tapi Edward tidak punya kebaikan hati untuk seorang lelaki yang menidurii istrinya, dia tetap menginjak, urung menurunkan tapak sepatunya yang kokoh dari perut rata lelaki yang sudah tidak berdaya itu.


"Sudah, Ed ... Ku mohon lepaskan dia." Setelah diam sedari tadi, akhirnya Alexa mulai bersuara dan dia malah memohon agar Ed melepaskan lelakinya.


Ed menatap tajam ke arah Alexa, terlihat Alexa sudah mengenakan pakaian lengkap walaupun tampak acak-acakan. Ed menatapnya dengan kemarahan, tapi tidak terdapat luka disana walaupun dia sudah melihat penghianatan Alexa secara langsung.


Edward mengalihkan pandangannya lagi. "Jika kau memang mencintai Alexa, aku juga menunggu kedatanganmu dirumahku!" kata Edward pada lelaki itu dengan nada dingin. Suaranya sekarang tidak se-frontal dan sekuat tadi.


Lelaki itu pun mengangguk dalam kesakitannya. Setelah itu, Edward pergi begitu saja dari hadapan keduanya.


Alexa meluruh dilantai, dia memegangi tubuh lelaki itu.


"Kau harus ke Rumah Sakit. Tubuhmu pasti remuk dihajar Edward." kata Alexa masih terus menangisi apa yang terjadi.


Lelaki itu diam tanpa merespon ucapan Alexa.


"Jonathan, pakai pakaianmu! Biar aku yang bicara pada Edward." Alexa memunguti pakaian lelaki itu, lalu memberikannya. Dia membantu lelaki bernama Jonathan itu untuk segera berpakaian, sebelum semua orang dalam gedung Management ini menyadari apa yang telah terjadi diruangannya. Bagaimanapun, dia harus menjaga image-nya didepan public karena dia sedang merintis didunia permodelan.


"Lexa, biarkan aku bicara padanya secara baik-baik sebagai sesama lelaki." ujar Jonathan dengan susah payah.


"No!" Alexa terisak. "Kau tidak perlu menemuinya, semuanya akan baik-baik saja. Obati dirimu sendiri, aku tidak bisa membantumu, aku harus segera menemui Edward." kata Alexa seraya mengancingkan kemeja Jonathan.


"Lex, apa dia begitu penting bagimu?" tanya Jonathan dengan sisa-sisa kekuatannya.


Alexa mengangguk seraya mengusap kasar airmatanya yang tak henti-henti menetes.


"Bagaimanapun dia suamiku sekarang." jawab wanita itu dengan nada terendah.


"Apa setelah melihat semua ini dia akan memaafkanmu?" Jonathan mencoba merubah posisi menjadi duduk, tapi dia meringis menahan sakit yang luar biasa.


Alexa tidak mau menjawab pertanyaan Jonathan, dia lebih memilih untuk menghubungi rekannya melalui sambungan telepon.


Setelah selesai menelepon, Alexa menuju Jonathan lagi. Dia memapah tubuh tegap Jonathan agar terduduk di sofa.


"Aku sudah menelepon David, dia akan segera kesini. Dia akan membantumu ke Rumah Sakit." kata Alexa dengan cepat. Dia pun bergegas mengambil tasnya diatas meja.


"Biar ini menjadi urusanku, kau urus dirimu dulu." Alexa menatap wajah Jonathan yang sudah babak-belur dengan tatapan sendu.


"Lexa, maafkan aku. I'm so sorry ..." lirih Jonathan dan Alexa hanya menggeleng pelan lalu keluar dari ruangan itu.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Edward mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang, dia benar-benar marah pada Alexa, dia merasa dikhianati, harga dirinya sebagai seorang suami dari Alexa terasa diinjak-injak oleh istrinya sendiri.


Pikirannya terbagi dua sekarang, antara fokus mengemudi dan memikirkan perbuatan Alexa yang benar-benar membuatnya emosi.


"Kenapa aku harus marah? Bahkan aku tidak mencintainya?" batin Ed bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Sekarang Ed sadar, kemarahannya bukanlah karena dia mencintai wanita itu, tapi karena dia merasa tindakan Alexa benar-benar kelewatan sebagai seorang wanita yang masih berstatus istrinya.


"Shitt!! Aku sendiri melakukan hal yang sama dengan Vallery!" Ed mendengus keras. Dia sadar dia juga memiliki kesalahan yang belum dia akui dihadapan istrinya.


Apa sekarang adalah saat yang tepat untuk membuka kedoknya? Sekalian saja dia mengaku pada Alexa bahwa dia menginginkan Vallery. Biar saja Alexa juga merasakan amarah dan perasaan dikhianati.-pikirnya.


Sesampainya dirumah, Edward langsung masuk dan tak mempedulikan sapaan para pelayan yang menyambut kepulangannya.


"Jika Alexa pulang, katakan aku menunggunya diruang kerjaku!" ujar Ed dingin, pada salah seorang pelayan.


Ed pun memutuskan untuk mandi, agar pikirannya sedikit jernih tatkala dia berbicara dengan Alexa nanti.


Setelah selesai dengan aktifitas mandinya, Ed segera memasuki ruang kerjanya dan ternyata disana sudah ada Alexa yang terduduk.


"Ed, maafkan aku. Aku tahu tindakanku adalah salah." kata Alexa memulai pembicaraannya, dia mencondongkan tubuh ke arah Ed, ingin menyentuh tangan Ed tapi Ed segera menepisnya.


"Jika kau memang menginginkan lelaki itu, kenapa kau mau menikah denganku?" tanya Ed dingin.


Alexa menggeleng, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa kalian memang memiliki hubungan dan kau menikah denganku hanya karena untuk menebus rumah ini?" tanya Ed masih dengan ke-kaku-an-nya, dia tidak mau menatap Alexa. Alexa hanya bisa tertunduk sambil meremass jari-jarinya sendiri.


"Ed, Jonathan memang mantan pacarku tapi kami sudah berpisah sebelum kita menikah. Aku setuju menikah denganmu karena aku memang menyukaimu." jelas Alexa dengan susah payah.


"Jika begitu, lalu apa yang ku lihat tadi? Apa itu? Apa bisa kau jelaskan?" cecarnya, kini suaranya naik satu oktaf dan matanya menatap tajam ke mata sang istri.


"Aku--aku," Alexa mencoba menatap segala arah, tidak berani membalas tatapan mata Edward yang seperti akan menikamnya secara perlahan-lahan.


"Katakan!" senggak Ed.


Alexa terhenyak, tubuhnya sedikit bergetar mendengar kemarahan Ed sekarang.


"Ed maafkan aku, Jonathan menemuiku hari ini dan ternyata kami---" suara Alexa tercekat.


Edward menggeleng. "Kau belum bisa melupakannya." tebaknya.


Alexa terdiam. Kata-kata Ed benar-benar seperti menudingnya, tapi ini semua memang murni kesalahannya yang tak bisa menjaga sikap sebagai seorang istri. Dia memang belum bisa melupakan Jonathan sepenuhnya. Walau dia menyukai Ed, tapi Jonathan adalah lelaki yang mencintainya dan Alexa mengetahui itu.


"Dia mencintaiku Ed ... dan kau tidak." lirih Alexa dan Ed seketika terdiam.


Alexa menatap Edward. "Aku paham jika kita sama-sama baru memulai, jadi aku tidak pernah menuntut cinta darimu. Tapi, aku juga butuh dicintai, Ed. Aku ingin merasakan juga bahwa kau memang menginginkanku."


Mendengar itu, sekarang Ed paham dan sadar bahwa selama ini dia memang tidak pernah memperlakukan Alexa menjadi seperti miliknya. Dia tidak pernah menunjukkan sikap bahwa dia menginginkan Alexa. Alexa lah yang lebih aktif dalam hubungan mereka, sementara dia selalu bersikap pasif dan pasrah. Dia sadar yang dia inginkan hanya Vallery, maka secara harfiah, dia melakukan kewajibannya pada Alexa hanya semata-mata karena Alexa adalah istrinya, bukan karena dia memang menginginkan wanita itu.


"Sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Ed dengan rasa putus asa. Dia paham kekeliruannya dalam bersikap pada istrinya sendiri.


"Aku ingin kau memaafkanku, memberiku kesempatan dan mau mencintaiku, Ed."


Edward menggeleng, "Sebelum aku menemukanmu bersama lelaki lain hari ini, aku sudah berulang kali mencoba untuk mencintaimu. Tapi, setelah kejadian hari ini, apa kau pikir aku akan mencobanya lagi?" Ed pun tertawa sumbang.


Ed tahu, sebelum Alexa melakukan kesalahan pun dia tidak bisa mencintai wanita itu, apalagi sekarang?


"Ed, ampuni aku, Ed .." Alexa mulai menitikkan airmata kembali.


"Baiklah, aku akan memberimu satu fakta. Aku akan mengaku padamu tentang kesalahanku juga." ujar Ed membuat Alexa berpikir keras akan ucapan suaminya itu.


...To be continue ......