My Another Love

My Another Love
Your Sister



Vallery terkesiap saat Sophia menyentuh bahunya yang tengah melamun.


"Kau memikirkan Jesica?" tanya Sophia.


"Iya, aku khawatir padanya." jawab Vallery lirih.


Sophia menggeleng. "Josh tidak akan tinggal diam, kau saja begitu dia lindungi. Pasti Jesica juga baik-baik saja." kata Sophia menenangkannya.


"Josh juga berkata begitu padaku malam tadi." ujarnya.


Sophia merangkul Vallery sampai suara ponsel Vallery berdering dan mau tak mau dia harus menerima panggilan itu.


"Ada apa, Kak?" tanya Vallery pada sambungan teleponnya yang ternyata dari Alexa.


"Apa kau punya waktu hari ini? Aku ingin bertemu denganmu." sahut Alexa.


"Aku masih kuliah."


"Jam berapa kau selesai kuliah? Biar Kakak menjemputmu di kampus."


"Tidak usah, Kak. Aku bisa datang ketempatmu. Kau tidak bekerja, Kak?"


"Tidak, aku libur hari ini."


"Tumben sekali."


Alexa tidak menanggapi gerutuan Vallery, dia mengalihkan pembicaraan itu. "Vall, kau datang bersama siapa? Jangan datang bersama Josh dan para pengawalnya itu, aku merasa risih." keluh Alexa dari seberang sana.


Vallery diam sejenak, "Tapi mereka bersamaku, Kak." jawabnya cepat.


"Ck! Itulah aku tidak suka kau berurusan dengan Josh. Kau berada dalam bahaya, Vall." kata Alexa tegas, tapi entah kenapa ucapan Alexa bukan seperti ucapan biasa dipendengaran Vallery, justru Vallery merasa nada bicara Alexa seperti tengah mengancamnya.


"Vall, kau mendengarku?"


"Iya, Kak."


"Aku saja yang menjemputmu di kampus. Usahakan jangan sampai para pengawalmu itu membuntuti. Aku ingin bicara sedikit hal pribadi padamu."


"Tentang apa?" Vallery mengira ini pasti ada kaitannya dengan permintaan Alexa semalam, yang menginginkan Vallery meninggalkan Josh.


"Tentang perpisahanku dengan Ed. Dan tentang Jonathan."


Vallery menghela nafas lega, ternyata kakaknya bukan ingin membahas tentang Josh.


Akhirnya dia kembali berujar untuk menanggapi Alexa.


"Jangan bilang kau kembali padanya, Kak." ucapnya.


"Jangan dibahas sekarang, jika kau ingin tahu ceritaku, maka pastikan kau menemuiku sendirian."


"Tapi, Kak?"


"Itu juga kalau kau masih menghargaiku sebagai Kakakmu."


"Kak!"


"Aku tahu pacarmu kaya raya, tapi jangan karena itu kau jadi tidak menghargaiku, Vall."


Vallery ingin menyanggah ucapan sang Kakak, tapi telepon itu segera terputus sebelah pihak. Alexa menghentikan panggilan secara mendadak, membuat Vallery terdiam dan mengatupkan kembali mulutnya yang sempat terbuka.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Sophia sembari menoleh kearah Vallery disebelahnya.


"Tidak ada, aku hanya merasa kakakku sedikit berubah akhir-akhir ini."


Sophia mengernyit. " Maksudmu Alexa?"


"Hmm, memangnya siapa lagi?"


"Berubah seperti apa? Apa jadi pahlawan bertopeng?" kelakar Sophia.


Vallery memutar bola matanya. "Dia sedikit aneh. Dia memintaku meninggalkan Josh. Padahal dulu dia sangat mendukung hubungan kami."


"Mungkin dia khawatir padamu."


"Entahlah, tapi aku merasa tidak seperti itu. Dia terlalu berlebihan."


Mereka menghentikan aktifitas mengobrol dan melanjutkan sesi kuliah. Setelah jam kuliah usai, mereka menuju cafetaria kampus dan memesan minuman serta makanan ringan.


Vallery mengeryit saat menerima pesan text dari nomor Alexa.


^^^Kakak:^^^


^^^Aku berada di toliet wanita, segera temui aku disini, Vall.^^^


Apa ini maksudnya Alexa sedang berada di toilet kampusnya? Kenapa Alexa harus seperti ini untuk menemuinya? Terkesan bersembunyi. Aneh sekali. Walaupun Vallery tahu jika Kakaknya risih terhadap para bodyguardnya tapi tidak seharusnya seperti ini kan?


Belum sempat Vallery membalas pesan itu, Alexa kembali mengiriminya pesan beruntun.


^^^Kakak:^^^


^^^Cepat sedikit, Vall. Aku tidak punya banyak waktu.^^^


^^^Kakak:^^^


^^^Temui aku sekarang jika kau masih menghargaiku, Vall.^^^


^^^Kakak:^^^


^^^Aku tunggu 5 menit dari sekarang!^^^


"Kenapa memaksa sekali." gerutu Vallery saat membaca pesan-pesan itu.


"Kenapa lagi?" tanya Sophia.


"Kakakku sudah datang. Aku ke toilet dulu, ya." ucapnya seraya berlalu dari hadapan Sophia.


Sophia hanya mengangkat bahu dan kembali menekuri layar pipih miliknya.


-


-


"Kak, kenapa harus sembunyi-sembunyi begini?"


Entah kenapa Vallery melihat wajah Alexa yang mendengus sebal.


"Kak--"


"Mana para pengawalmu?"


"Mereka didepan, tidak mungkin mengikutiku sampai toilet."


"Bagus."


"Sebenarnya ada ap--"


Alexa langsung menarik tangan Vallery kearah yang berlawanan dan entah mobil siapa yang menunggu disana, Vallery mengernyit heran tapi belum sempat dia bertanya lagi, Alexa segera mendorong tubuhnya untuk masuk ke jok belakang.


Mobil itu bergerak maju perlahan-lahan.


"Sejak kapan kau mengganti mobilmu, Kak? Dan kenapa kau menggunakan supir?" Vallery makin terheran-heran.


"Jonathan yang memberinya padaku."


Alexa mengangguki saja segala macam pertanyaan yang keluar dari mulut Vallery, sampai akhirnya Alexa menceritakan tentang perpisahannya dengan Ed dan soal hubungannya dengan Jonathan. Vallery hanya diam mendengarkan dan larut dalam cerita sang Kakak.


Mobil yang mereka tumpangi tiba disebuah gedung bertingkat yang Vallery yakini adalah sebuah Rumah Sakit Umum.


"Mau apa ke Rumah Sakit, Kak? Kau sakit?"


Alexa masih diam dan hanya mengangguki ucapan Vallery. Mereka masuk kedalam Rumah Sakit dan Alexa memegang kendali atas tujuan mereka. Mereka mamasuki Lift dan Alexa juga yang menekan tombol Lift itu.


Vallery mengernyit saat Alexa menekan tombol paling atas yang terdalat di Rumah Sakit ini. Namun, dia masih berpikir positif dan mempercayai sang Kakak begitu saja.


Mereka keluar dari Lift dan disambut dengan angin sepoi-sepoi, lalu suara apa itu? kenapa terdengar seperti suara deru baling-baling Helikopter? Membuat Vallery tercengang karena mereka berada di Rooftop Rumah Sakit dan ...


Kenapa harus benar-benar ada Helikopter disini?


"Kak, ini maksudnya apa? Kau bilang kau sakit." tanya Vallery makin keheranan dengan sikap aneh Alexa.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, Vall. Kebetulan Jonathan meminjamkan Helikopter pribadi miliknya." ucap Alexa semringah.


"Kak, aku takut ketinggian." ucap Vallery.


"Ayolah, Vall. Kita akan bersenang-senang. Kau mau tidak? Ini sangat jarang terjadi." Alexa terkekeh diujung kalimatnya.


Perasaan Vallery mendadak tidak enak, apalagi tiba-tiba dia mengingat ucapan Josh kemarin yang mengatakan jangan mempercayai siapapun saat ini.


Tapi, apakah dia juga tidak boleh mempercayai kakaknya sendiri sekarang?


Lagi-lagi Alexa segera mendorong tubuhnya untuk masuk kedalam Helikopter dan mereka sama-sama mengenakan perlengkapan yang sudah tersedia disana.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Edward sampai didepan kampus Vallery, berlari dengan sangat tergesa-gesa dari depan gerbang dan matanya tidak sengaja menangkap sosok Sophia yang tengah asyik dengan ponselnya didekat cafetaria kampus.


"Sophia..." sapa Ed pada gadis itu.


Sophia mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat Edward. "Kak Edward?" ucapnya terheran-heran melihat Edward yang terengah-engah.


"Mana Vallery?"


"Vallery? Ah, dia tadi ke toilet. Belum kembali." jawab Sophia tenang.


Ed menghela nafas lega, ternyata dia belum terlambat.


"Kenapa, Kak? Apa ada yang mendesak?" selidik Sophia.


Edward menggeleng. "Toiletmya ada disebelah mana?" tanya Ed cepat.


"Disana..." Sophia menunjuk kearah dimana Toilet wanita berada.


Ed segera berjalan cepat dan Sophia merasa tidak enak hati melihat kedatangan Edward dengan sikap tergesa-gesanya itu, sehingga Sophia berlari-lari dibelakang tubuh Edward untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Ed yang mengetahui jika Sophia masih berada dibelakang tubuhnya kembali bersuara. "Sudah berapa lama dia di toilet?" tanya Ed sambil terus melangkah maju.


Disaat itulah Sophia tersadar jika Vallery memang sudah terlalu lama berada di toilet dan belum kembali. "Se-sekitar 30 menit," jawab Sophia ragu.


Ed membalik tubuhnya dan menatap Sophia sambil mendengus. "Kenapa lama sekali?" tanyanya, berubah kembali menjadi panik.


"Emm, mung-mungkin karena dia akan menemui Kakaknya. Tadi dia mengatakan jika--"


"Shitt!" Edward mengumpat tepat didepan wajah Sophia, membuat Sophia terkejut sekaligus syok. Apa ada yang salah dari ucapannya tadi?


Bersamaan dengan itu, mereka berdua melihat para pengawal yang tadinya menjaga Vallery tengah kebingungan tak jauh dari posisi mereka.


"Kalian pasti tidak menemukan Vallery!" dengus Ed pada para pengawal itu.


Ed tahu jika orang-orang itu bukanlah bawahannya, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk me-maki ke-empat orang itu.


"Breng-sek!!!" Ed terus mencari kesana kemari dan diikuti oleh Sophia yang belum mengerti keadaan yang sesungguhnya. Kenapa Edward harus sepanik ini jika Vallery hanya bersama Alexa. Kenapa?


"Bagaimana aku bisa menemukannya?" tiba-tiba Ed menggerutu sambil menduduki kursi taman, tempat dimana dia pernah berbicara empat mata bersama Vallery tempo hari.


Sophia mulai memberanikan diri untuk bertanya pada Ed yang tengah mencengkram kepalanya sendiri.


"Kak... se-sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Sophia.


Ed menyugar rambutnya secara kasar lalu menoleh ke arah Sophia.


"Vallery dalam bahaya." ucapnya lirih. "Semua ini karena si breng-sek itu!" sambungnya.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti."


Gigi Ed terdengar bergemelatuk.


"Ini semua karen Josh. Tapi, entah kenapa Vallery lebih memilihnya..."


Ed mulai menceritakan tentang kedatangan Josh ke kantornya pagi tadi pada Sophia, tentang Josh yang terlihat khawatir karena Vallery dekat dengan Alexa.


Dari cerita Ed, sepertinya Josh baru mengetahui siapa Alexa, begitu pula sebaliknya--Alexa yang juga baru mengetahui siapa Josh sebenarnya. Mereka sama-sama tidak mau Vallery berada disalah satu pihak. Josh tidak mau Vallery dekat dengan Alexa dan Alexa pun tidak akan membiarkan Adiknya bersama dengan Josh.


Walau Josh tidak menyimpulkan secara gamblang, tapi Ed bisa menarik sebuah kesimpulan dari semua cerita lelaki itu. Ed mengaitkan semua ini dengan hidupnya sendiri--yang menikahi Alexa karena usul dari neneknya. Lebih tepatnya adalah Nenek kandung Alexa. Itulah alasan mengapa Ed menyetujui pernikahannya dengan Alexa, semua bermula karena wasiat dari Nenek angkatnya.


"Maksudmu, Alexa itu adalah anak dari musuh Josh?"


"Ya, Alexa adalah cucu kandung Nenek yang mengasuhku."


"Lalu Vallery?"


"Mereka bukan saudara kandung. Tapi mereka memang dibesarkan bersama-sama."


"Setelah mendengar dari Josh, aku baru tahu jika nenek angkatku adalah Ibu dari Antoni Dexa, musuh terbesar Josh. Antoni memiliki anak diluar pernikahan dan itu adalah Alexa. Nenek tidak mengasuh Alexa, agar dunia tidak mengetahui jika Antoni memiliki anak kandung. Lalu, Alexa diasuh oleh orangtua Vallery karena waktu itu orangtua Vallery belum memiliki keturunan."


"Sedangkan aku, aku adalah anak panti asuhan yang menyedihkan. Nenek adalah orang yang paling menyayangiku, menganggapku seperti cucu kandungnya dan saat dia telah tiada, dia mewasiatkan agar aku menikahi Alexa, dan mempercayakan Alexa padaku."


"Itu sebabnya kau mau menikahi Kak Alexa? Karena ingin menepati janji terakhir pada mendiang Nenekmu?" tanya Sophia.


Ed mengangguk.


"Lalu, kenapa Alexa membawa Vallery? Apa Alexa tahu jika sebenarnya dia adalah anak Antoni itu?"


Ed kembali mengangguk. "Sepertinya begitu."


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak lama, Kak?"


"Aku juga baru bisa menyimpulkannya setelah mendengar cerita Josh pagi tadi. Selama ini aku memang curiga Alexa dan Vallery bukan saudara kandung."


"Kau tahu, aku bahkan pernah menanyakan kenapa warna mata mereka berbeda dan Alexa bisa menyanggah pertanyaanku dengan jawabannya sendiri."


Sophia mulai memijat pelipisnya sendiri, pantas saja tadi Vallery menggerutu karena Alexa yang sangat memaksa untuk bertemu dengannya hari ini.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sophia pada Ed yang terdiam.


Ed menggeleng lemah. "Tidak tahu." jawabnya seraya mengangkat bahu sekilas.


Tiba-tiba Sophia teringat sesuatu, mengenai pekerjaan sampingannya selama ini.


"Kita lacak keberadaan Vallery, Kak." ucapnya antusias.


"Apa bisa?"


Sophia menjentikkan jari. "Bisa, Aku meletak alat pelacak di sling bag yang sering dia gunakan." jawabnya semringah sementara Ed mengernyit-- menyadari Sophia melakukan hal seperti itu pada Vallery.


...To be continue ......