My Another Love

My Another Love
Confession



Edward tidak mau memanfaatkan kesalahan Alexa untuk terlepas dari pernikahan mereka. Dia tidak mau mengambil kesempatan dalam situasi ini, karena Ed juga sadar bahwa sejak awal, dia juga bersalah dalam memperlakukan istrinya. Kesalahan fatal yang dibuatnya adalah awal dari semua problematika di Rumah Tangganya.


"Apa fakta yang ingin kau sampaikan Ed? Kenapa kau diam? Apa ternyata kau juga telah mengkhianatiku?" Alexa membuang pandangannya kearah lain.


Ed menghela nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia meminta Alexa untuk duduk di sofa, karena sejak kedatangan Ed, Alexa ikut berdiri disampingnya.


"Perasaanku mulai tidak enak. Apa yang mau diakuinya padaku?" Batin Alexa menduga-duga jika Edward juga telah melakukan kesalahan yang sama.


"Al, aku tidak tahu seberapa besar perasaanmu padaku. Tapi terlepas dari semua itu, ku rasa fakta ini memang akan menyakitkan untukmu." Edward menatap lamat-lamat wajah istrinya, berharap Alexa akan mengerti apa yang dimaksudkan olehnya. Tapi, tatapan Alexa hanya menunjukkan rasa ingin tahu akan ucapan Ed selanjutnya.


"Al, diawal pernikahan kita ... sebelum aku menyentuhmu, aku sudah lebih dulu menyentuh gadis lain. Aku tidak bermaksud, saat itu aku mabuk dan dalam pengaruh Alkohol." aku Ed dengan suara terendah.


Mata Alexa membola, dia syok karena pengakuan Edward, dia ingin marah, dia ingin protes, dia membuka mulutnya tapi sebelum suaranya terdengar tiba-tiba dia tersadar akan kesalahannya sendiri yang terjadi beberapa saat lalu.


Akhirnya, Alexa hanya bisa diam seraya mencerna setiap ucapan Edward, yang mengatakan sudah menyentuh gadis lain diawal pernikahan mereka. Itu artinya Edward lebih dulu mengkhianatinya, begitukah? Tapi Edward dalam keadaan mabuk! Apa ini termasuk pengkhianatan?


"Aku bukan ingin membenarkan tindakanku. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan fatal. Tapi ... saat melakukan itu aku benar-benar mabuk dan menyangka dia adalah kau, kau yang waktu itu sudah menjadi istriku." jelas Edward dengan hati-hati.


"Si-siapa dia?" hanya pertanyaan itu yang bisa Alexa lontarkan kepada Edward karena dia dihantam rasa syok yang luar biasa. Kepalanya kini menerka-nerka gadis yang dimaksud oleh Edward tapi dia tidak menemukan jawabannya.


Hingga pengakuan dari Edward membuat mulutnya menganga.


"Vallery ..." Lirih Ed dan tubuh Alexa bergetar hebat bersamaan dengan suara tangisnya yang meledak terisak-isak.


Ed dengan sigap merengkuh tubuh Alexa kedalam pelukannya, ini pasti sangat berat dan menyakiti hati Alexa. Dia tahu yang membuat Alexa sedih bukanlah karena suaminya yang belum dia cintai sepenuhnya ini, tapi karena Alexa begitu mengasihi Vallery, adiknya.


"Breng sek! Bia dap! Kau melecehkan adikku!" Alexa memukuli dada Edward berulang kali dengan membabi buta. Pelukan lelaki itu tidak berhasil menenangkannya, dia malah merasa terhimpit dengan rasa sakit yang sulit diutarakan.


"Aku tahu, aku tahu..." kata Edward mencoba menenangkan Alexa, dia menepuk-nepuk pelan punggung istrinya, sementara Alexa terus meronta minta dilepaskan.


Alexa meyakini, kejadian ini pastilah terjadi karena pemaksaan Edward terhadap Vallery, dia mengenal adiknya dengan baik dan dia tahu Vallery bukanlah gadis yang bisa lebih dulu menggoda Ed, apalagi Ed sudah menjadi kakak iparnya.


Tiba-tiba Alexa benar-benar merasa jengah dengan Ed, walau diapun tahu jika dia tidak lebih baik dari Ed, tapi rasanya begitu sesak saat tahu jika Ed melakukan hal itu pada Vallery, adik iparnya sendiri.


Entah kekuatan dari mana, Alexa pun mendorong dada Edward dengan sisa-sisa kekuatannya. Dia segera beringsut menjauh, mengusap airmatanya dengan kasar.


Alexa menatap Ed dengan nyalang. "Kapan kau melakukannya pada Vallery, hah?" tanyanya dengan intonasi suara yang paling tinggi.


Edward memijat pelipisnya sendiri. "Di malam pertama pernikahan kita." jawabnya pelan.


"Shittt!!! Abadi lah di Neraka, Ed! huhuhu ..." Alexa terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku tahu aku salah, sudah ku katakan aku mabuk. Aku menyadari itu adalah Vallery setelah beberapa hari kemudian. Vallery diam, dia tidak jujur padaku dan dia bersikap seperti tidak terjadi apapun diantara kami." kata Ed menjelaskan dengan lirih.


"Apa kau pikir adikku akan tiba-tiba jujur dan berkata minta pertanggung jawabanmu, begitukah?"


Edward terdiam. Benar, Vallery pasti tidak mungkin melakukan hal itu jika melihat dari sifat dan sikapnya. Vallery lebih memilih diam bahkan tidak mengatakan pada Alexa sang Kakak. Malah dia menyarankan agar Rumah Tangga mereka tetap dipertahankan setelah apa yang terjadi dan merugikannya.


"Adikku...huuhuhu Adikku Vallery...Bahkan kau tidak pernah dekat dengan lelaki manapun! Bagaimana bisa kau mengalami hal seperti ini." Alexa tersedu-sedu, kini dia menangisi nasib tragis sang Adik, melupakan kesedihannya sendiri perihal menyesali pengkhianatannya pada Edward.


"Kau menyakitinya, Ed. Dia pasti memendam sakit hati terhadapmu. Bertanggung jawablah atas tindakanmu, Ed!" kata Alexa penuh penekanan.


Ed menggeleng. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk bertanggung jawab. Dia adalah Adikmu dan kau sudah menjadi istriku." jawabnya dengan nada sendu.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Vallery tersadar dari tidurnya, dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Saat matanya belum fokus menatap sekitar, tiba-tiba dia merasakan kecupan sekilas di bibirnya.


Cup!


"Morning kiss !!!" seru seseorang, membuat mata Vallery membulat sempurna.


"Josh, sejak kapan kau disana?" Vallery beringsut, mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan itu.


Josh menggeleng pelan melihat tingkah Vallery. "Bangun pemalas ..." ejeknya.


Vallery hanya bergumam dalam bekapan bantalnya sendiri. Josh tidak mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.


"Apa kau tidak mau kuliah, hmm? Kita harus kuliah," kata Josh lagi.


Seketika itu juga Vallery terduduk. "Kita? Maksudmu hari ini kau ikut kuliah juga?" tanyanya antusias.


Josh mengangguk yakin. "Hmm, aku akan kuliah hari ini."


Vallery tersenyum kecil. "Bagus. Aku mandi dulu." katanya seraya ingin bangkit menuju kamar mandi.


Josh pun duduk di pinggir ranjang, mengambil sebuah majalah yang terletak di atas nakas, lalu membuka-buka lembaran halaman didalamnya tanpa ada minat.


"Apa semalam kau tidur disini?" tanya Vallery seraya menghentikan langkahnya.


"Ya ..."


"Aku tidak ingat, aku pikir kau pulang.


Vallery memicing ke arah Josh. "Kau yang memindahkanku ke kamar?" tanyanya ragu.


"Yups, sepertinya anda benar-benar lupa, Miss Vallery." ejek Josh, lalu dia meletakkan majalahnya diatas nakas kembali, karena itu benar-benar tak membuatnya tertarik. Sesuatu yang membuatnya tertarik sekarang adalah gadis yang berdiri tak jauh darinya saat ini.


"Kau tidak jadi mandi? Apa ingin ku mandikan?" goda Josh dengan seringaian tipis.


Vallery mendesis malas mendengar penuturan Josh yang terasa nakal di indera pendengarannya. Tanpa menjawab, dia melengos begitu saja menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit kasar.


Brakkk!!!


Bersamaan dengan itu, tawa Josh terdengar renyah seantero ruangan kamar. Suara itupun terdengar oleh Vallery didalam sana. Dia hanya menggeleng pelan memaklumi tawa Josh yang seakan mengejek responnya tadi.


Josh memilih keluar dari kamar karena ponselnya bergetar-getar akibat panggilan dari Dimitri.


"Ya, aku sudah menunggumu, Dimi." kata Josh, dia memang menunggu Dimitri membawakan pakaiannya.


Tak berapa lama, Dimitri benar-benar datang mengantar setelannya untuk kuliah.


"Sir, beberapa hari lagi Mr. Greselle akan tiba di kota ini." kata Dimitri mengingatkan Josh sembari menyerahkan sebuah paperbag berisi pakaian sang Atasan.


"Hem ... aku ingat, Dimi." jawab Josh singkat.


"Tapi, Sir ..." suara Dimitri terdengar ragu untuk menyampaikan kata yang selanjutnya.


Josh melihat gelagat aneh dari Dimitri, dia langsung bersuara. "Apa?" tanyanya.


"Sepertinya kedatangan Ayah anda kemari bukan hanya untuk melakukan rapat penghibahan perusahaan dan menandatangi surat penyerahannya. Ada hal lain..." kata Dimitri mengemukakan pendapatnya.


Josh mengangguk, dia paham yang dimaksud oleh sang Asisten. "Aku sudah berjanji untuk kuliah bersama Vallery hari ini, jadi kemungkinan aku tidak ke kantor seharian." ujarnya.


Dimitri tahu dan dia mengangguk.


"Temui aku di Apartemenku nanti sore."


"Setiap hari saya memang disana." kata Dimitri.


"Bagus, tunggu aku disana."


Dimitri mengangguk sekilas. "Setiap hari saya menunggu Anda disana, tapi Anda jarang tidur disana. Sepertinya Anda sudah pindah kesini." sindir Dimitri tepat sasaran.


Josh berdecak. Dia memiringkan kepalanya untuk menatap Asistennya yang menyebalkan. "Kau ini, benar-benar terlalu berani mengomentariku. Gajimu aku potong bulan ini." kata Josh enteng.


"Ja-jangan, Sir." Dimitri mengibas-ngibaskan tangannya didepan Josh.


"Apa kau pikir aku mau bernegosiasi denganmu? Sudah pergi sana!" usir Josh pada lelaki itu.


"Sir, maksud saya bukan begitu. Ini ada kaitannya dengan datangnya Mr. Greselle kesini. Anda pasti tahu soal Clan itu, sepertinya orang mereka sudah berada disini juga dan--"


"Lalu apa masalahnya? Sudah ku bilang tunggu aku nanti sore di Apartemenku dan kita akan membahasnya disana. Jangan membahas disini. Tidak ada hubungannya." sanggah Josh, dia ingin segera menutup pintu tapi Dimitri mencegahnya.


"Saya tahu, Sir. Mungkin anda lupa apa kaitannya hal itu dengan kegiatan anda disini. Maka saya akan mengingatkan anda." kata Dimitri secepat mungkin agar Josh tidak menutup pintu sebelum ucapannya benar-benar selesai.


"Apa maksudmu?"


Dimitri menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan lelaki yang menjadi Atasannya ini. Biasanya Josh akan bersikap kritis, waspada dan berhati-hati setiap melakukan apapun. Tapi, karena Vallery, membuat Josh lupa akan sesuatu. Tindakannya yang sering berada didekat Vallery justru akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri dan membahayakan gadisnya.


"Kaitannya adalah mereka akan tahu kelemahan Anda dan ini akan melibatkan Miss Vallery, jika Anda sering terpantau berada di Apartemen ini maka ..."


Josh menepuk pundak Dimitri. "Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku tahu apa yang harus ku lakukan selanjutnya. Ini terakhir kali aku di Apartemen ini, Dimi." Josh menutup pintu setelah melihat Dimitri sedikit tercengang akan penjelasannya yang absurd.


"Apa maksudnya? Ini terakhir kali dia disini? Apa itu artinya dia akan memutuskan hubungannya dengan Miss Vallery?" Batin Dimitri bertanya-tanya seraya melangkah keluar dari gedung Apartemen lama milik Atasannya itu.


Josh melihat isi paperbag-nya setelah kepergian Dimitri, bersamaan dengan itu Vallery tiba dihadapannya dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik seperti biasanya.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Vallery karena dia mendengar sekilas suara oranglain tadi.


"Dimitri." jawab Josh singkat.


Vallery mengangguk-angguk, Josh menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Vall ..."


"Yah?"


"Maafkan aku," katanya lirih.


Vallery mengernyit dan tak paham kenapa Josh harus meminta maaf padanya.


...To be continue ......