
Vallery yang sudah diambang lelap dan sadarnya sedikit mendengar gumaman Josh. Dia membuka matanya yang sayu karena efek ngantuknya.
"Josh, aku ingin berkencan denganmu." kata Vallery nyaris berbisik.
Josh membulatkan matanya, dia pikir Vallery sudah terlelap tadi. "Tidurlah, kapan-kapan kita akan berkencan." kata Josh sambil mengecup bibir Vallery sekilas.
"Em, aku belum memenuhi janjiku. Aku masih memiliki hutang untuk berkencan denganmu." kata Vallery, dia mengingat perjanjiannya saat Josh meminjamkan Apartemen pada Sophia dan Josh meminta bayaran berupa kencan bersama Vallery.
Josh tersenyum kecil. "Iya, aku juga masih mengingatnya, bagaimana jika besok kita berkencan. Hemm?"
Vallery membuka matanya lebar-lebar. "Jangan mengelus rambutku, Josh. Ini akan membuatku mengantuk. Aku ingin membahas tentang kencan kita." protesnya seraya menarik tangan Josh dari kepalanya.
Josh menurut, lalu dia malah menangkup kedua pipi Vallery.
Vallery menatapnya dengan lekat. "Besok tidak bisa, besok orangtuamu akan tiba disini, kan?"
Josh terdiam sejenak sambil menghela nafas pendek. "Sorry, aku lupa jika besok orangtuaku akan datang dan sepertinya kita harus menunda kencan itu."
"Apa kau sering lupa akhir-akhir ini?"
Josh mengangguk. "Aku sering lupa jika bersama denganmu." akunya sambil nyegir.
Vallery tersenyum lembut, dia menatap intens kepada Josh dan Josh seolah mencari-cari pandangan lain. Dia berusaha untuk tidak menatap Vallery karena dia mendadak gugup karena sekarang Vallery sudah tahu jika dia adalah lelaki berandalan yang pernah ditolongnya. Dan memang dia selalu gugup dekat dengan gadis ini. Entah kenapa.
"Kenapa kau tidak mau menatapku?"
"Tidak, siapa bilang." sanggah Josh, namun matanya tetap menatap arah lain.
"Josh..."
"Hemm?"
"Lihat aku, kenapa kau menghindar begini?"
Josh menggeleng. "Tidurlah lagi, ini sudah larut."
"Baiklah," Vallery memeluk tubuh Josh sembari memejamkan matanya. Josh juga memilih untuk menyusul tidur.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Seorang pria dengan setelan jas rapi membalut tubuh atletisnya, tengah menatap lamat-lamat pada seorang Recepsionist yang sedang membaca sesuatu dilayar LCD dihadapannya.
"Bagaimana, ada tidak?"
"Tidak ada data orang yang tinggal disini dengan nama itu, Sir." jawab wanita itu sopan.
Pria yang adalah Edward itu mengetuk-ngetukkan jarinya di meja counter Recepsionist seraya berpikir cepat.
"Kalau Apartemen atas nama Josh Greselle tidak ada, bagaimana dengan Joshua Kolv?" tanyanya lagi tidak sabaran.
Saat ini ia tengah berada digedung Apartemen Josh yang dulu ditempati Vallery dan sempat ia kunjungi bersama Alexa. Dia sedang mencari keberadaan Vallery dan ternyata saat dia sudah menekan bel berulang kali, seorang petugas kebersihan mengatakan bahwa Apartemen itu kosong dan tidak ditempati.
Ed yang sudah tahu jika Apartemen itu sejatinya milik Josh--bukanlah apartemen sewaan Sophia dan Vallery seperti kata Alexa, mulai gelisah karena dia tidak menemukan jejak Vallery. Dia pikir Vallery yang tinggal bersama Josh pastilah berada di Apartemen ini sekarang. Nyatanya mereka tidak ada dan Ed ingin memastikan jika Apartemen itu memang masih milik Josh atau bukan.
Maka disinilah dia sekarang, berada didepan seorang recepsionis wanita dengan lipstik merah menyala yang menyambut kedatangannya dengan senyuman ramah.
"Atas nama Joshua Kolv, ada ..." celetuk wanita itu, seraya tetap fokus pada layar datar dihadapannya. "Tapi, sudah tiga hari ini pemilik menitipkan Apartemennya untuk dibersihkan oleh petugas kebersihan umum."
Ed mengernyit tidak mengerti. "Maksudnya?" tanyanya langsung.
"Begini, Sir. Biasanya jika pemilik Apartemen sudah menitipkan unit miliknya untuk dibersihkan setiap hari oleh petugas kebersihan, maka dipastikan Apartemen itu tidak akan ditinggali dalam beberapa waktu." jelas wanita itu dan Ed mendengus pelan.
"Oke, Thanks." kata Ed seraya berlalu dari sana. Info yang dia dapatkan sudah cukup, berarti Vallery dan Josh memang tidak tinggal di gedung Apartemen ini, tapi Josh tidak menjual unit Apartemennya, karena itu masih atas namanya sendiri.
"Kemana kau membawa Vallery?" gumam Ed seraya mempercepat langkahnya untuk menuju mobil yang terparkir rapi di slot pelataran Apartemen.
Dia juga tidak tahu kenapa dia harus gelisah kesana-kemari mencari Vallery, dia mendadak khawatir jika Vallery benar-benar menjatuhkan hati pada lelaki bernama asli Josh Greselle itu. Dia takut Vallery akan tersangkut-paut dalam kehidupan hitam yang disandang Josh.
Walaupun dia tahu kehadirannya dihadapan Vallery tidak akan dianggap oleh gadis itu, tapi biarlah dia memperjuangkan sesuatu yang sangat dia inginkan sebelum semuanya benar-benar terlambat dan dia akan menyesalinya.
"Bagaimana caranya untuk bertemu denganmu, Vall?" gumamnya seraya memukul kemudi mobil. Sedetik kemudian, dia seperti mendapatkan ide cemerlang dan tahu kemana harus melajukan mobilnya di jam makan siang seperti ini.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Siapa dia?" Sophia mulai menginterogasi Vallery saat dia melihat seorang lelaki terus membuntuti kemanapun Vallery pergi hari ini. Bahkan sekarang, saat mereka tengah makan siang di cafetaria kampus-pun lelaki itu berdiri tak jauh dari pintu masuk untuk mengawasi Vallery.
"Dia Dimitri. Asisten Josh." jawab Vallery singkat.
"Aku pikir, dia pacarmu yang lain dan kau memiliki hubungan dengannya dibelakang Josh." sahut Sophia cepat sambil tergelak.
"Mana mungkin..."
Vallery yang tengah mengaduk-aduk makan siangnyapun, hanya memutar bola mata malas melihat tingkah Sophia yang terang-terangan memuji Dimitri. "Untuk apa Josh cemburu dengan Asistennya."
"Ya karena, Asistennya benar-benar tampan. Aku akan meminta nomor ponselnya nanti pada Josh. Hahaha."
Vallery hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Sophia.
Hari ini, entah kenapa Josh memintanya diantar kuliah oleh Dimitri. Josh tidak bisa mengantar, tentu saja karena orangtuanya sudah tiba di kantor mereka. Vallery tidak mempermasalahkan, hanya saja dia tsedikit bingung, kenapa Dimitri malah seperti pengawal untuknya hari ini? Dia pikir, Dimitri hanya mengantarnya ke kampus, ternyata malah menjaganya setengah harian ini.
"Jadi, sekarang kau punya bodyguard?" ejek Sophia sambil terkikik kecil kembali.
"Begitulah..." sahut Vallery malas.
"Kau benar-benar beruntung, teman." cibirnya.
Mereka melanjutkan aktifitas makan siang itu sembari mengobrol kesana-kemari. Vallery tidak tahu, sedikit banyak aktifitasnya-- dilaporkan secara berkala oleh Sophia kepada Josh.
Acara makan siang mereka yang hampir selesai, harus dikagetkan oleh kedatangan seorang pria yang tiba-tiba hadir diantara mereka-- Bukan Dimitri yang sedari tadi mereka bicarakan, bukan pula Josh yang mendadak datang.
Tapi ini adalah pria berbeda.
Edward.
Vallery mengernyit melihat kedatangan Edward yang sudah berdiri menjulang diambang meja.
"Bisa kita bicara?" kata Ed memulai ucapannya.
Dan disinilah Vallery sekarang, duduk dikursi taman bersama Edward. Bukan taman biasa yang didudukinya bersama Jesica, tapi ini adalah taman belakang kampus yang cukup sepi karena tidak terawat dan tidak menarik untuk tempat nongkrong mahasiswa lainnya.
Vall duduk bersisian dengan Ed--dengan masih menyisakan jarak diantara mereka.
Diujung taman--masih terlihat Dimitri yang mengawasinya dengan tatapan menyelidik, dia tidak menanyakan apa dan siapa Edward pada Vallery. Dia hanya melihat Vallery sedikit risih sejak adanya pria itu. Tapi dia melihat tidak ada penolakan dari Vallery, akhirnya dia memilih akan bertindak lebih jauh jika Ed melakukan hal diluar batas.
Dilain sisi, Sophia yang tadinya mengatakan akan memberi ruang untuk Vall dan Edward berbicara, malah tampak menghayati perannya sebagai penguntit. Dia duduk di sisi lain taman, tanpa sepengtahuan Vallery.
Sophia ingin mencuri dengar percakapan mereka yang tentunya akan dipilahnya--yang manakah yang akan dia sampaikan pada Bos-nya yang tak lain adalah Josh.
Walau bagaimanapun, Sophia tidak mau merugikan Vallery atas pekerjaannya ini, tapi dia juga ingin mendapat keuntungan dari pekerjaan sampingannya ini. Josh selalu memberikan Fee, setiap dia memberi kabar ter-update.
Dimitri yang sudah tahu jika Sophia adalah orang suruhan Josh, hanya bisa menggaruk dahinya sendiri melihat tingkah Sophia yang malah seperti polisi bayaran yang tengah menyamar karena takut ketahuan.
Dimitri terkekeh kecil dan mengacungi jempol untuk kenekatan Sophia dalam menjalankan tugas. Sophia sendiri tidak tahu, jika Dimitri mengetahui bahwa dia adalah orang suruhan Josh, makanya dia juga seakan sembunyi-sembunyi dari pantauan Dimitri.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Kak?" tanya Vallery seraya memilinn ujung blouse yang ia kenakan. Berdua dengan Ed, terasa seperti tengah menguji adrenalinnya sendiri--darah dan jantungnya seperti tidak bekerja sama didalam tubuhnya. Darahnya seakan mengalir tersendat-sendat dan jantungnya urung untuk memompa aliran dsrah tersebut.
"Aku dan Alexa akan segera berpisah." kata Ed datar.
Vallery menghela nafasnya pelan. "Kenapa, Kak? Apa kau tidak bisa memaklumi kesalahannya?"
Edward menggeleng. "Bukan itu! Tapi aku tidak bisa berusaha untuk mencintainya lagi." Ed menghela nafasnya.
"Hati dan pikiranku penuh dengan dirimu." akunya.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Jantung Vallery seakan tidak bisa diajak berkompromi karena ujaran kejujuran dari mulut Edward. Jika berada bersama Edward lebih lama lagi, maka dapat dipastikan dia akan mengalami serangan jantung mendadak.
"Kak, aku tidak mau melanjutkan percakapan ini." katanya seraya berdiri tegak.
"Kenapa Vall?"
"Aku tidak mau membahas soal perasaan denganmu. Jika kau dan Kakakku akan berpisah itu urusan kalian. Jangan mengaitkan aku." tegasnya.
"Tapi aku menginginkanmu, Vall." lirih Ed, dia merasa dirinya seperti mengemis perasaan pada gadis ini, tapi sekarang dia tidak peduli apapun lagi walau harga dirinya yang selama ini dia junjung tinggi harus terinjak-injak oleh sikap Vallery yang selalu menolaknya mentah-mentah. Dia akan terus mengulangi ini, sampai Vallery benar-benar lelah dan menyerah dalam pelukannya.
"Aku tidak, Kak. Aku mencintai Josh." ucap Vallery cepat dengan penuh ketegasan.
Dan sekarang Edward-lah yang seperti ditikam oleh kata-kata Vallery. Dia benar-benar telat, hati gadis ini sudah berlabuh pada lelaki lain yang bukanlah dirinya.
"Vall, jangan dia..." Ed kembali melirih, bahkan kini suaranya terdengar parau memelas.
"Kenapa? Apa karena kakak sempat mengatakan jika dia bukan lelaki yang baik?" cecarnya.
Ed memaksakan untuk tersenyum. "Ya, dia adalah seseorang yang akan melukaimu lebih dari apapun. Aku tahu aku sudah memberimu luka. Kau sudah menggenggam luka itu, Vall. Jangan menambah luka yang baru!"
...To be continue ......