
Kedatangan Vallery dan Josh disambut semringah oleh Alexa.
"Vall, aku merindukanmu." Alexa memeluk Vallery sejenak lalu dia melihat Josh yang ikut serta bersama sang Adik.
"Hai, Josh. Kalian makin serasi saja." kata Alexa sambil menatap Josh dengan senyumannya yang ramah.
"Thanks, Kak." kata Josh.
"Oh No! sudah ku bilang jangan memanggilku Kakak." kata Alexa.
Vallery dan Josh terkekeh kecil.
Alexa ikut terkekeh. "Kau pikir aku setua itu. Aku tidak mau kau memanggilku Kakak. Cukup Vallery saja!" imbuhnya.
Mereka pun masuk ke dalam ruang makan dan Alexa meminta keduanya untuk duduk. Dimeja sudah terhidang banyak makanan yang menggugah selera.
Josh belum melihat seseorang yang dia cari-cari, Edward. Dimanakah lelaki itu? Kenapa dia tidak menyambut kedatangan Adik Ipar kesayangannya?-pikir Josh.
"Mana suamimu, Lex?" tanya Josh pada Alexa.
"Edward tadi sedang mandi." kata Alexa.
Vallery masih diam, dia tidak mau menanyakan hal tentang Edward. Dia menghindari itu dan dia ingin menjaga perasaan Josh walaupun dia juga tahu jika Josh sudah mencium aroma affair saat pertama kali berkunjung kerumah ini dan melihat Edward.
"Apa hubungan kalian baik?" tanya Josh membuat Alexa mengernyit. Sementara Vallery tertunduk, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Tentu saja, Josh. Ada apa?" tanya Alexa heran.
Josh menggeleng, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Tidak ada, aku hanya menanyakannya." kilah Josh.
Padahal sebenarnya dia sangat penasaran bagaimana Ed memperlakukan Alexa, setelah pernyataannya pada Vallery di Apartemen tempo hari. Josh sudah mendengar semuanya dari alat penyadap suara waktu itu dan dia tahu jelas jika Ed benar-benar terobsesi ingin memiliki hubungan dengan Vallery sang Adik ipar, sampai mengajak Vallery hidup bersama di Luar Negeri.
Sedikit banyak, Josh ingin mengetahui teka-teki yang belum bisa ditebaknya tentang percakapan Edward dengan Vallery saat itu. Percakapan tentang "melupakan malam itu" sama sekali tidak bisa ditebak dan diduga-duga oleh Josh.
apa yang dimaksud dengan hal itu?
Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga sangat terdengar jelas, Josh sudah tahu itu pastilah Edward. Josh tidak mau melihat ke arah tangga. Dia sibuk dengan ponselnya sendiri walaupun sebenarnya dia melirik ke arah Vallery yang ternyata mengadah untuk melihat kehadiran Edward.
"Apa kau memiliki perasaan padanya?" -batin Josh bertanya saat tahu jika Vallery memperhatikan kedatangan Edward. Entah kenapa rasanya dia sangat sakit hati dengan kenyataan ini.
"Honey..." Alexa menyapa suaminya dan Ed mengangguk samar.
"Maaf, aku membuat kalian menunggu terlalu lama." kata Ed seraya melirik Vallery dan Josh bergantian.
Josh menatap Edward sekilas, dia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana. "Tidak terlalu lama, Ed." kata Josh santai, berusaha memendam rasa ingin tahunya yang semakin terbakar karena Vallery tidak berkedip melihat Edward.
Edward membalas menatap Josh. "Kau ikut kesini?" tanya Ed dengan nada menyindir.
Josh menggenggam tangan Vallery dan saat itulah Vallery tersadar bahwa ada Josh disisinya. "Iya, Kak. Aku yang mengajak Josh." sahut Vallery cepat.
"Kenapa tanganmu terasa dingin? Kau gugup bertemu dengannya?"- Josh bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, saat merasakan tangan Vallery yang mendingin.
Edward pun duduk, dia mengisi kursi yang berada diujung meja makan, disebelah kanannya adalah Alexa, sedangkan disisi kirinya ada Vallery dan Josh. Mereka memulai makan malam itu, sesekali Alexa melayani permintaan Edward dengan sabar. Sedangkan Vallery menyaksikan itu dengan diam dan Josh memperhatikan gerak-gerik semua yang ada dimeja makan.
"Josh, aku dengar kemarin kau ke Rusia?" tanya Alexa seraya menatap Josh sekilas.
Josh mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Dalam hal apa kesana? Apa itu urusan pekerjaanmu?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Kebetulan keluargaku juga ada disana." jawab Josh jujur.
"Memangnya apa pekerjaanmu?" tanya Alexa lagi. Vallery ikut menyimak pembicaraan antara Kakak dan Kekasihnya, dia juga cukup penasaran dengan pekerjaan Josh.
"Sepertinya aku sudah pernah menjawabnya," kilah Josh sambil tersenyum kecil.
"Mungkin maksud Alexa, Apa pekerjaanmu? Dimana dan bergerak dibidang apa?" kata Edward menimpali.
"Pekerjaanku karyawan biasa, ku pikir aku pernah mengatakannya." Josh mengendikkan bahu. "Pekerjaan itu bergerak dibidang alat berat dan industri mesin. Aku bekerja di Greselle Group." imbuhnya.
"Benarkah?" tanya Alexa sambil menutup mulutnya yang terbuka.
Josh tersenyum sekilas. "Yah.." jawabnya. Sementara Ed tersenyum miring.
Vallery yang tidak mengetahui apa-apa tetap memilih diam seperti biasanya.
"Itu perusahaan besar, walaupun kau hanya karyawan pastilah kau sangat hebat bisa masuk ke perusahaan itu." puji Alexa dengan matanya yang membola, dia amat antusias.
"Entahlah," jawab Josh enteng. "Mungkin bukan hebat tapi hanya sebuah keberuntungan. Maybe.." lanjutnya.
"Benarkah sehebat itu?" tanya Vallery buka suara.
Edward menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi ku dengar Greselle Group punya usaha lain yang menyokong saham dan popularitasnya, tentunya selain industri mesin dan alat-alat berat seperti yang kau katakan." ucap Edward tiba-tiba menimpali.
"Benarkah? Kau tahu darimana?" kata Josh beralih menatap Edward yang jelas-jelas menyindirnya dan dia tahu maksud lelaki itu.
"Ya, seperti usaha gelap." kata Edward dengan mimik wajah yang dibuat-buat.
Josh terkekeh kecil. "Kau tahu banyak tentang itu? Apa kau menyelidiki hal yang bukan urusanmu?" ejek Josh. Dan hanya dia dan Edward lah yang tahu bahwa mereka saling menyindir satu sama lain.
Alexa dan Vallery hanya menyimak karena mereka tidak tahu menahu persoalan bisnis. Alexa hanya tahu Greselle Group di kotanya adalah perusahaan yang besar dan tersebar diberbagai Negara maju. Sedangkan Vallery memang buta akan hal semacam itu.
Edward terkekeh. "Aku bukan menyelidiki hal yang bukan urusanku," kilah Ed. "Aku hanya mencari tahu orang-orang yang menjadi batu sandungan dalam hidupku." lanjutnya.
"Ya aku mengerti. Maksudmu salah satu orang dari Greselle Group adalah batu sandunganmu itu." jawab Josh tepat sasaran.
"Benarkah Honey? Apa kau punya persaingan bisnis dengan orang-orang diperusahaan itu?" celetuk Alexa.
"Tidak.." jawab Edward cepat.
"Jika bukan persaingan bisnis, apa itu persaingan tentang wanita?" kelakar Josh membuat Ed terdiam sementara Alexa mengernyit.
Melihat mata Alexa yang seakan bertanya-tanya, Ed segera terkekeh hambar untuk mencairkan suasana. Dia menatap Josh. "Are you kidding me, Josh?" tanyanya sambil tersenyum smirk.
Josh ikut terkekeh. "Sorry, aku hanya bercanda, Lex. Maaf jika aku kelewatan." kata Josh pada Alexa. Dia ingin sekali memukul wajah Edward yang sudah mati kutu tadi. Untunglah dia masih bermurah hati mengatakan pada Alexa jika dia hanya bercanda.
Secara tidak langsung, Edward mulai membuka jati diri Josh didepan Vallery, dan Josh sangat tidak menyukai hal itu. Dia membalas sindiran Ed dengan sindiran lain. Sayangnya, Josh masih menghargai Alexa disini. Jika saja tidak ada Alexa, Josh tidak peduli jika Ed harus membuka jati dirinya didepan Vallery sekalipun, asalkan dia bisa puas memukul wajah lelaki itu.
"Sudah lupakan saja. Aku tidak mengerti percandaan para pria." kelakar Alexa, lalu dia beralih ke Vallery. "Vall, kau banyak diam. Apa kuliahmu lancar?" tanyanya.
"Lancar kak. Aku sudah hampir menyelesaikan skripsiku."
"Baguslah.. bagaimana dengan Sophia?"
"Sophia juga begitu, Kak."
Alexa manggut-manggut mendengar jawaban Vallery. Makan malam itupun akhirnya selesai tapi Alexa belum mengizinkan Vallery untuk pulang begitu saja. Mereka berkumpul diruang keluarga seraya menyalakan DVD yang sebelumnya sudah disepakati akan memutar film action.
"Aku tidak suka film ini..." gerutu Alexa. Hanya dia yang tidak menyukai genre film itu. Dia menyukai film romantis atau horor.
"Ini seru, Kak." sahut Vallery.
Josh berbisik ditelinga gadis itu. "Apa kau suka film seperti ini?" tanyanya.
"Ya aku menyukainya, ini keren." kata Vallery antusias.
Edward memperhatikan interaksi sepasang manusia itu, hatinya sakit melihat Vallery benar-benar layaknya sepasang kekasih bersama Josh. Dia memilih diam tidak mau mengeluarkan sepatah katapun.
"Tentu saja kau suka, kau paling suka film tembak-menembak." kata Alexa sambil menggerutu.
Vallery mendesis mendengarnya dan Josh mengacak rambutnya seperti biasanya.
"Kau tahu, Josh. Vallery pernah mengikuti semacam les menembak." kata Alexa.
Josh terkejut, "Benarkah?"
"Iya, bahkan dia juga mengikuti les memanah. Sungguh hobi yang aneh. Dia memang berbeda denganku." Alexa terkikik geli.
"Aku tidak pernah tahu..." kata Josh jujur, dia menguntit Vallery selama 4 tahun dulu, tapi dia tidak tahu mengenai fakta baru ini.
"Tentu saja kau tidak tahu, kau baru mengenalku." kata Vallery terkekeh.
"Aku mengenalmu sejak kau duduk di kelas sebelas, dan aku melewatkan fakta menarik ini." ucap Josh dalam hati.
"Aku belajar menembak dan memanah saat menjelang kelulusan di Senior High School." jelas Vallery dan Josh mengangguk-angguk.
"Itu bagus, itu berarti kau bisa menjaga dirimu." kata Josh menggenggam tangan Vallery dengan rasa bangga.
Vallery mengerucutkan bibirnya seraya menggeleng cepat. "Tidak bisa, seharusnya aku ambil les bela diri yang lain. Yang menggunakan fisik bukan alat." katanya.
Josh terkekeh. "Kau lucu sekali... kau bisa menggunakan pistol berarti kau bisa menjaga dirimu."
"Yah, kalau aku memiliki pistol. Sayangnya benda itu tidak ku miliki." Vallery terkekeh dan ketiga orang itu menatapnya dengan heran. Terutama Edward yang tak pernah melihat Vallery tertawa seperti itu, hanya karena bersama Josh, gadis itu bisa seperti itu didepan matanya. Ini benar-benar membuat Ed sakit hati.
"Apa kalian bisa diam? Aku ingin fokus menonton." ucap Ed dingin.
Vallery mengulumm senyumnya, begitu juga dengan Josh. Mereka bertatapan satu sama lain dan memilih diam. Sedangkan Alexa merangkul pundak Ed dengan mesra. Vallery tersenyum melihat itu, entah kenapa tidak ada rasa sakit lagi dihatinya.
...To be continue ......