
Setelah pertemuannya dengan Jesica, Josh memutuskan untuk bertemu dan berbicara dulu pada Dimitri. Mereka bertemu di Rumah yang disewa Dimitri sebagai tempat tinggalnya selama berada di Texas. Dimitri memang aneh, dia tidak mau menginap di hotel atau ditempat yang sudah difasilitasi oleh Josh.
Setelah mendapat alamat rumah itu, Josh segara menuju kesana dan disinilah mereka sekarang. Berada di Rumah sederhana yang cukup nyaman sambil membicarakan hal-hal penting yang ingin mereka bahas.
Mereka membicarakan soal kedatangan orangtua Josh yang akan tiba di Texas beberapa hari lagi. Mereka juga membahas Clan musuh yang sepertinya sudah mencurigai Josh.
"Apa kau yakin mereka sudah mengetahui tentangku?" tanya Josh dengan dahi berkerut. Dia penuh intuisi, namun juga penuh kekhawatiran. Bukan khawatir dengan dirinya sendiri, tapi dia takut lengah menjaga orang-orang yang disayanginya. Dia takut kejadian yang menimpa Ibu Kandungnya akan terjadi lagi dimasa-masa sekarang. Dendam lamanya belum terbalas, dan dia tidak mau menambah dendam baru. Sebelum ada yang terkorbankan, Josh harus lebih dulu menemukan Antoni, pemimpin Clan Dexa yang perbuatannya tidak pernah dilupakan oleh Josh seumur hidupnya.
Dimitri mengangguk. "Saya rasa, ada seorang kaki-tangannya yang berada dekat dengan lingkungan Anda, Sir. Orang itulah yang menyampaikan gerak-gerik Anda pada Antoni." imbuh Dimitri.
Josh menggeleng. "Itu mungkin saja, tapi siapa?" tanya Josh sambil meneguk tandas satu sloki wine yang disajikan Dimitri.
"Mungkin kau bisa membaca gelagatnya, Sir." ucap Dimitri enteng. Dia tahu Josh memiliki intuisi tinggi bahkan Josh berkali-kali bisa menebak isi kepalanya selama ini. "Apa Anda mencurigai seseorang?"
"Nothing ..." Josh kembali meneguk minumannya dalam sekali tegukan. "Jika dia mencurigaiku, itu berarti dia sudah memastikan informasi tentang diriku." jawab Josh sambil berpikir. Dia mengingat-ingat lagi apa yang terlewatkan.
"Mungkin orang yang dekat dengan Miss Vallery, maybe." ujar Dimitri memberi petunjuk.
Josh mendengus. Pikirannya sekarang malah merindukan gadis itu. Ah, sedang apa dia sekarang? Apa dia sudah makan? Apa dia sudah tidur?
"Sir..." panggil Dimitri, tapi Josh malah tampak melamun.
"Sir, Anda memikirkan seseorang yang mencurigakan?" Desak Dimitri seraya mengibaskan tangannya dihadapan wajah Josh agar lelaki itu sadar dari lamunannya.
"Ah... " Josh tersadar lalu megusap wajahnya asal. "Aku mengingat sesuatu, informasi pribadi tentangku diketahui oleh Edward."
Dimitri mengernyit heran. "Edward? Siapa dia?" batin Dimitri.
"Who's Edward, Sir?" tanya Dimitri karena dia tak tahu nama yang disebutkan atasannya itu.
"Kakak ipar Vallery." jawab Josh tenang.
"Apa Anda mencurigainya?"
"Tidak mungkin dia. Tapi ..."
"Kenapa, Sir?"
"Edward punya seorang Asisten. Aku lupa siapa namanya, itu tidak penting. Tapi, Asistennya itu seorang hacker. Bisa saja dia menjual info tentangku kepada orang-orang Clan Dexa." terka Josh memberikan penjabarannya.
"Maybe, saya akan menyelesaikan ini." kata Dimitri.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Josh kembali saat malam mulai larut. Saat memasuki ruangan, keadaan sudah sepi. Josh melangkah perlahan menuju kamarnya. Dia mencari keberadaan Vallery tapi disana dia tidak melihat Vallery yang tertidur.
"Dimana dia?" gumam Josh. Josh mengurungkan niatnya untuk mandi. Dia harus mengecek keadaan Vallery dulu sebelum melakukan aktifitas lain.
Josh keluar dari kamar, mencoba mencari Vallery dikamar satunya. Jika di Apartemen lama hanya ada satu kamar, di Apartemen ini terdapat dua kamar yang dulunya pernah ditempati juga oleh Vallery, saat Josh menolongnya di Club.
Dan benar saja, ternyata gadis itu tidur disana. Josh tersenyum kecil melihat Vallery yang nyenyak dalam tidurnya. Dia melangkah masuk dan menaikkan selimut Vallery sebatas dada.
"Goodnight, semoga kau memimpikanku." bisiknya pelan. Lelaki itupun mengecup sekilas pucuk kepala Vallery dengan kasih sayang.
Josh mengelus pipi Vallery sekejap, lalu dia pun beranjak dari sana untuk kembali ke kamarnya. Dia harus mandi karena badannya terasa lengket. Walau ini sudah larut malam, tapi Josh tidak tebiasa tidur dalam keadaan kotor.
Saat Josh hampir meninggalkan ruangan kamar Vallery, dia mendengar Vallery mengigau dan itu cukup membuatnya terkejut.
Dia ingin memastikan apa yang tadi didengarnya dari mulut Vallery, hingga dia kembali melangkah ke sisi ranjang.
"Kak.. jangan..." suara Vallery terdengar lirih dan memilukan.
Josh memegang dahi Vallery yang sudah mulai dibanjiri titik-titik keringat.
"Astaga dia demam." Josh panik dan bingung harus melakukan apa sekarang. Dia membuka laci nakas dan mencari-cari sesuatu disana.
"Kak, jangan. Please! Aku bukan istrimu!"
Deg ...
Jantung Josh terasa melorot ke perut saat mendengar gumaman Vallery dalam tidurnya. Dia menghentikan aktifitasnya, niat awalnya dia ingin mencari pengukur suhu tubuh dilaci itu, tapi sekarang dia malah mematung--mencerna ucapan Vallery yang tidak sadar.
Josh tersentak dari lamunannya saat Vallery menggeliat kesana kemari. Demi apapun, baru kali ini Josh menyaksikan Vallery yang seperti ini dalam tidurnya. Beberapa kali dia sering bersama Vallery saat gadis itu tidur, tapi ini kali pertamanya melihat gadis ini mengigau dan ini sangat parah.
Josh mengguncang pelan tubuh Vallery, berusaha menyadarkannya.
"Vall, sadarlah..." kata Josh lembut.
"Baby, ini aku..." ucapnya lagi dan saat itu juga Vallery tersadar dan langsung terduduk didetik yang sama.
Wajah Vallery dipenuhi bulir-bulir keringat dan nafasnya terengah-engah. Dia menatap Josh yang juga sedang menatapnya penuh tanya.
"It's oke, Vall. Kau hanya bermimpi." Josh mengelus punggung Vallery, menenangkannya.
Vallery mengangguk berulang diposisinya, enggan melepas dan mengurai pelukan erat itu.
Sampai beberapa saat, Vallery mulai tenang dan Josh mengusap anak-anak rambut Vallery yang basah akibat keringat, dia menyekanya dengan tisu yang sebelumnya dia ambil dari kotak diatas nakas.
Josh keluar kamar, mengambil sebaskom air untuk mengompres dahi Vallery. Dia juga membawa air minum dan obat penurun panas.
"Minumlah..." kata Josh menyerahkan segelas air minum dan obat.
Vallery meminum itu dan perasaannya berangsur-angsur mulai kembali tenang.
"Sudah oke?" tanya Josh dan Vallery mengangguk.
Josh mengompres Vallery dengan meletakkan handuk kecil didahinya. Dia tersenyum kecil seraya menatap Vallery yang berbaring dengan kompresan itu.
"Oke, jangan dilepas!" peringatnya. "Aku akan mandi. Setelah itu aku akan kembali kesini dan memastikanmu supaya tidur dengan nyenyak." kata Josh.
Vallery menatap mata Josh yang menenangkan jiwanya, dia menggeleng cepat sebagai jawaban.
"Baby, aku harus mandi. Aku tidak terbiasa tidur dalam keadaan begini." jelasnya.
"Mandi disana." Vallery menunjuk kamar mandi yang masih berada dalam lingkup kamar yang dia tempati. "Jangan tinggalkan aku." lirihnya.
Josh hanya bisa tersenyum kecil sambil menghela nafas panjang. "Oke," katanya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Vallery benar-benar menunggu Josh sampai selesai dengan kegiatan mandinya. Saat Josh kembali, dia langsung mengisi sisi kosong ranjang dan duduk bersandar disamping gadis itu.
"Kemarilah..." kata Josh seraya membawa Vallery dalam dekapannya. Vallery menurut, dia melepas handuk kecil dikeningnya dan dia diam dalam dada bidang Josh yang terduduk.
Josh memegang dahi Vallery dan suhu tubuhnya tidak sepanas tadi. Dalam hati Josh merasa lega, tapi setelah ini dia akan mencari termometer untuk benar-benar memastikan suhu tubuh Vallery.
"Vall, aku ingin mengakui sesuatu padamu. Tapi, kau juga harus jujur menjawab pertanyaanku." kata Josh memulai pembicaraannya.
Vallery mengangguk. Dia tidak tahu apa yang akan Josh akui dan tidak tahu juga apa yang akan Josh tanyakan padanya.
"Sebenarnya, aku bukan Mahasiswa di kampusmu." akunya.
Vallery mengadah untuk melihat wajah Josh, mata mereka bertemu dan Vallery hanya bisa membalas tatapan Josh dengan wajah sendu.
"Aku kuliah disana untuk mengawasi Jesica. Sebenarnya aku bukan Mahasiswa seperti kalian." imbuhnya.
"Kau menipu banyak orang, termasuk aku." kata Vallery pelan dan Josh mengangguki ucapan itu.
"Pantas saja kau sering bolos."
Josh terkekeh pelan sambil mengelus rambut Vallery.
"Sekarang, aku yang akan bertanya padamu. Ku harap kau menjawabnya dengan jujur. Anggap saja ini seperti pengakuan, seperti yang ku lakukan tadi."
"Hemmm" Vallery berdehem.
"Berjanjilah, Vall.." kata Josh.
"Oke, I promise ..." ujar Vallery pada akhirnya.
Josh diam sesaat, lalu dia mengecupi pucuk kepala Vallery. "Tadi, aku sempat mendengarmu berbicara dalam tidur.." kata Josh memulai.
Vallery meneguk salivanya dengan berat, dia tidak tahu apa yang sempat dia ucapkan dalam tidurnya.
"Aku mendengarmu mengatakan 'Aku bukan istrimu' dan kau mengatakan itu dengan nada ketakutan."
Vallery terdiam. Dia ingat apa yang dia mimpikan tadi, tapi dia tidak menyangka jika ucapannya dalam mimpi itu sampai terdengar di telinga Josh. Vallery beringsut dari dekapan Josh dan tidak berani menatap wajah Josh yang menunggunya menjawab.
Sedangkan Josh, seperti biasa, dia selalu membaca gelagat lawan bicaranya. Menilai dan menela'ah sikap Vallery saat ini.
"Vall, kau juga memanggil seseorang dengan sebutan 'Kak', siapa dia Vall? Siapa yang ada dimimpimu?" tanya Josh dengan nada lembut.
"Eumm--Josh, aku-aku tidak bisa meneruskan pembicaraan ini. Lupakan ini dan anggap ini hanya bunga tidurku."
Seperti yang Josh duga, gadis itu akan menghindar dari pertanyaannya.
"Kau sudah berjanji, Vall. Tepati janjimu untuk membuat pengakuan." desak Josh.
...To be continue ......