My Another Love

My Another Love
Plan



Selama ini, Josh bukannya tidak tahu apa yang terjadi. Dia bukan pria bodoh yang mengambil suatu kesimpulan hanya dari mulut-mulut orang lain. Dia bisa mengambil sikap hanya dari penelitian gerak-gerik oranglain yang dicermatinya.


Josh tidak pernah menelan bulat-bulat hal yang sontar diberitakan oleh orang-orang yang tinggal bersamanya.


Seperti persoalan tentang Dimitri dan Jesica. Seluruh keluarga besarnya meyakini bahwa Dimitri menyukai Jesica. Hal itu pula lah, yang sering dia jadikan bahan cibiran untuk Dimitri. Tapi sejatinya, itu adalah kesalahan besar yang paling bodoh.


Entah kenapa Josh justru ikut berpura-pura terjerumus dalam kesalahan besar itu dan mengejek Dimitri.


Padahal, Josh sangat tahu betul jika Jesica-lah yang mencintai Dimitri. Sedangkan Dimitri, hanya menganggap Jesi sebagai adik perempuannya, seperti layaknya Josh terhadap Jesica.


Kebohongan itu dibuat Dimitri sendiri, seolah-olah dialah yang menyukai Jesica sejak lama, padahal sebaliknya. Josh juga tahu jika Dimitri melakukan itu agar Jesica tidak merasakan malu karena pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah oleh Dimitri.


Josh pun berusaha untuk bersikap biasa didepan keduanya--yang belakangan hari terlihat seperti perang dingin sejak ungkapan perasaan Jesica pada Dimitri.


Hal itu pulalah yang mendasari Jesica pindah, kuliah dan menetap di Texas. Demi menghindari Dimitri yang dicintainya sejak lama.


Tapi, siapa sangka ternyata sekarang mereka semua justru kembali ke kota kelahiran mereka ini, termasuk Dimitri tentunya, yang sudah bersama keluarga Josh sejak dia masih berada di gengster yang sama dengan Josh.


Dimitri adalah satu-satunya kawan Josh-- yang dia bawa ke kehidupan pribadinya setelah memutuskan keluar dari gengster yang mendidiknya dengan prilaku huru-hara.


Josh membawa Dimitri ke kehidupannya, bukan karena memilih secara sembarangan. Tapi, dia menilai Dimitri adalah orang yang bisa dipercaya. Dan Dimitri memiliki satu kelebihan lain yang tidak dimiliki siapapun. Dimitri adalah anak pemilik sebuah Casino terkenal di Texas.


Dengan Dimitri berada dipihaknya, itu sangat menguntungkan bagi Clan Greselle yang menginginkan berita ter-update.


Di Casino, semua berita hangat dan terbaru bisa didapatkan dari ucapan orang lain yang tergabung disana. Pihak Clan Greselle, bisa mendapatkan info terkait tentang hal apa saja yang ingin mereka ketahui, bahkan sebelum berita itu tersebar luas ke pasaran dan awak media. Maka dari itu, banyak hal yang Josh ketahui lebih dulu, sebelum pihak lawannya tahu, tentu saja.


Ini cukup menunjang proses kesuksesan bisnis dan pencapaiannya. Berpengaruh besar untuk hal apa yang akan dilakukannya kedepannya. Dan dia memilih Dimitri yang sampai saat ini bersedia berada dipihaknya dengan setia.


Lalu, entah sejak kapan Jesica yang amat mencintai Dimitri beralih perasaan pada Mark. Jesica mengaku mengenal Mark dari Steve. Tapi Josh sudah menyelidiki latar belakang Steve dan lelaki itu bersih--Steve tak mengetahui siapa Mark sebenarnya. Mereka hanyalah teman sekolah sebelumnya--Mark dan Steve. Steve tidak tahu ternyata Mark punya rencana sendiri pada Jesica. Yang berujung pada terbongkarnya identitas Josh.


Tapi, setelah menangkap sikap Mark pada Jesica, Josh justru tertarik mengelabuinya. Mungkin kali ini dia harus sedikit berbaik hati pada Adik kecilnya, dia tidak mau Jesica patah hati kembali.


"Jesica diculik oleh Clan Dexa. Itu adalah orang-orangmu kan?" tanya Josh pada Mark yang memegangi dadanya sendiri disudut ruangan.


Mark tidak menjawab, hanya wajahnya yang semakin memerah mendengar kenyataan bahwa Jesica diculik oleh Clan Dexa.


"Sebenarnya, ini tidak ada pengaruhnya untukku. Kau tahu? Jesica itu Adik tiriku, aku tidak peduli apapun yang terjadi padanya." kata Josh seraya mengangkat bahu cuek.


Mark tampak mengernyit dan menimbang-nimbang ucapan Josh.


"Aku tidak peduli apapun yang terjadi pada Jesica. Justru aku berterima kasih mereka mau menculiknya, itu berarti aku tidak perlu memperebutkan harta orangtuaku dengannya." Josh terkekeh kecil diujung kalimatnya.


"Bu-bukankah kau me-menyayangi...nya?" tanya Mark dengan suara tersendat-sendat.


Josh menggeleng sambil mencebikkan bibirnya. "No! Dia salah satu batu sandunganku. Kau harusnya tahu jika karena kebodohannyalah, identitasku jadi terbongkar."


Mark terdiam dengan semua ucapan Josh.


"Kalau mereka ingin membunuhnya ya silahkan saja." Josh berdiri dari duduk santainya dihadapan Mark.


"Dan soal kau, aku sangat ingin membunuhmu. Aku pikir, mereka ingin menukar Jesica denganmu. Sayangnya, aku tidak tertarik menyelamatkan Jesica." kata Josh mencibir kearah Mark.


Mark menatap Josh dengan tatapan tajam. "Breng sek! Jika kau memang tidak mau menyelamatkan Jesi, lepaskan aku!" katanya tegas.


Josh kembali menoleh kearah dimana Mark yang terduduk.


Mark menatap Josh dengan tatapan nyalang, ucapan Josh seolah membangkitkan kemarahannya kembali.


"Kau kenapa terlihat marah sekali? Bukankah kau memanfaatkan Jesica hanya untuk mengetahui tentangku?" ejek Josh. Dia menyulut api rokok dengan koreknya dan menghisap tembakaunya tepat dihadapan Mark yang sudah lemah tak berdaya.


"Kau tidak lebih baik dariku!" hardik Mark. "Bagaimana bisa kau menyingkirkan Jesica seperti ini." lanjut Mark sambil berdecih.


Josh terkekeh, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke wajah Mark. "Untuk apa kau memikirkannya? Jesi bukan urusanmu !!!" cibirnya.


"Aku mencintai Jesi." kata Mark yang membuat Josh tertawa sumbang dan tersenyum miring. Kena kau!


"Kalau begitu, aku akan melepaskanmu. Aku bermurah hati untuk orang yang dimabuk cinta." Josh terus mencibir kearah Mark.


"Kau saja yang menyelamatkan dia, aku tidak mau bersusah payah menyelamatkannya dan mengorbankan orang-orangku yang setia hanya untuk menyelamatkan Adik tiriku."


Kini Mark yang tertawa sumbang mengejek Josh. "Semudah itu?" tanyanya tak tertarik.


"Yeah, selagi aku masih mau bernegosiasi padamu. Tapi setelah itu, jangan biarkan dia mengusik hidupku lagi." kata Josh dengan nada tak acuh.


Mark tersenyum miring seraya menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.


"Kau tidak bisa menjebakku, Josh!" kata Mark penuh arti.


Dan Josh tersenyum kecil menanggapinya. Mereka sama-sama menangkap maksud dan arti dari ucapan satu sama lain.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Saya sudah mendapatkan titik terakhirnya, Sir. Itu adalah sebuah jurang." kata Dimitri yang telah memberi kabar pada Josh melalui sambungan seluler.


Josh dan beberapa orang dibelakangnya terus berjalan keluar dari perusahaannya. Seolah-olah tidak terjadi apapun dan dia hanya sedang menerima panggilan biasa.


"Dia tidak mungkin membuang Jesica ke jurang. Itu akan merugikannya karena Mark masih berada ditanganku. Pasti itu hanya ponsel Jesica yang dibuang kesana." ucap Josh disela-sela perjalanannya menuju lobby perusahaan.


Dimitri mengangguki ucapan Josh, walau dia tahu Josh tidak mungkin melihat itu. "Saya akan menemui Anda, Sir." katanya.


"Okay..."


Mereka sudah sama-sama tahu jika disaat seperti ini tujuan pertemuan mereka adalah Casino milik orangtua Dimitri. Disanalah mereka akan mendapatkan jejak yang mereka cari.


Casino itu adalah tempat tertutup yang cukup terkenal di kota. Tempat pelarian paling apik bagi orang-orang kriminal serta orang-orang suruhan untuk menghabiskan upah dari pekerjaan kotor mereka, tempat melepas penat dan bersenang-senang.


Dimana lagi orang-orang seperti itu akan berkumpul jika tidak ditempat judi? Menghabiskan uang upah yang mereka dapatkan. Perkumpulan itu pasti akan bersatu ditempat judi atau minum-minum dengan wanita cantik-- yang semuanya tergabung disatu tempat yakni Casino milik orangtua Dimitri.


Josh meminta supirnya untuk jalan saat dia sudah duduk dan menaiki mobil di jok belakang.


"Jalan..." titahnya dengan tegas.


Mobil itu pun perlahan-lahan mulai meninggalkan area gedung perkantoran, disusul oleh dua mobil lain yang mengawal kepergiannya.


Didalam mobil, Josh menghela nafasnya sejenak. Dia memikirkan nasib Jesica dan orangtuanya yang pasti saat ini tengah kebingungan. Inilah yang dia khawatirkan, apalagi mengingat wajah-wajah orang yang dia kasihi. Dia mungkin tidak akan tenang sampai melihat Antoni benar-benar mati didepan mata kepalanya sendiri.


...To be continue ......