My Another Love

My Another Love
Be honest



Kedatangan Patricia kerumah mereka benar-benar sangat mengganggu. Sejak Patricia menyarankan Ed menikahi Alexa sebagai bentuk penebusan Rumah, sejak saat itu pula dia tidak berani pulang lagi kerumah itu.


Vall pikir Patricia tidak akan pernah kembali lagi dan memilih jalan hidupnya sendiri. Ternyata sekarang dia muncul kembali dengan tidak tahu malunya.


"Aku kehabisan uang, aku ingin minta uang pada menantuku." Ucap Patricia pada Vallery yang menghadang kedatangannya didepan pintu.


"Menantu yang mana maksudmu?" Tanya Vallery menantang.


"Tentu saja Edward. Dia menantu yang ku pilihkan untuk Alexa."


"Cih. Kau bilang menantu yang kau pilihkan? Kau menjadikan kakakku seperti barang! Kau menukarnya untuk menebus Rumah ini yang sudah kau jual."


"Kau salah, Vall. Dia juga menyukai Ed, aku tidak pernah memaksanya, hanya menyarankan." Ejek Patricia sambil terkekeh.


Vallery mencebik. "Kakak tidak dirumah. Dia sedang bekerja." Ucap Vallery.


"Aku tidak bilang ingin bertemu Kakakmu, aku ingin bertemu Ed, menantuku."


"Kak Edward juga bekerja, belum pulang." Ucap Vall.


Patricia mendengus, "Jam berapa dia tiba dirumah?" Tanyanya.


Vallery mengangkat bahu. "Tidak tahu." Ucapnya seraya membalikkan badan bersiap untuk masuk kedalam Rumah.


"Tunggu, Vall."


"Apa lagi?" Tanya Vallery malas.


"Berikan aku uangmu."


"Aku tidak punya."


Patricia mendekat ke arah Vallery, ia mengamati penampilan Vallery dan matanya menangkap sesuatu dipergelangan tangan gadis itu.


"Berikan gelang itu padaku!" Ucap Patricia sambil menyeringai.


"Tidak! Ini pemberian ibuku."


"Aku juga ibumu."


"Dalam mimpimu!" Kata Vallery melawan.


Patricia geram dan ia menarik paksa tangan Vallery, Vallery ingin melawan karena tangannya terasa panas akibat ditarik oleh sang Ibu Tiri.


Belum sempat Vallery melawan, suara bariton seorang lelaki berhasil menghentikan aksi tarik-menarik yang dilakukan oleh Patricia.


"Lepaskan dia." Ucap lelaki itu pelan.


Vallery melihat ke pemilik suara, ternyata itu adalah Edward. Lelaki itu baru saja turun dari mobilnya seraya melipat lengan bajunya dengan begitu santai. Ia tampak tenang, beberapa saat kemudian ia telah siap melakukan kegiatannya. Ia menatap lekat kearah Vallery, dan mereka saling memandang satu sama lain selama beberapa detik.


Edward mengalihkan pandangan kearah Patricia, "Kau mau uang, kan?" Tanyanya, wanita itupun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias.


Edward memanggil Asistennya yang berdiri didepan pintu mobil. Ia meminta Sang Asisten mengambil sesuatu di tas kerjanya. Sesaat kemudian, Asisten itu mengeluarkan semacam buku yang kemudian ditanda-tangani oleh Edward, lalu Edward merobek sisi kertasnya.


"Ini.." Edward menyodorkan kertas itu pada Patricia dan secara otomatis Patricia pun melepaskan cengkramannya di tangan Vallery.


Mata Patricia membulat saat melihat kertas yang sudah ada ditangannya.


"Kau cairkan cek itu secepatnya dan secepatnya juga kau pergi dari Rumah ini." Ucap Ed dingin.


Patricia tersenyum semringah. "Baik, aku akan pergi. Terima kasih banyak, ini lebih banyak dari yang terakhir kau berikan." Kata Patricia seraya berlalu dari hadapan Ed dan Vall.


Ed memberi kode pada Asistennya agar segera pergi juga dari sana. Kemudian Ed melangkahkan kaki untuk masuk melalui pintu yang masih ada Vallery berdiri disana.


Vallery hendak berlalu karena ia tidak tahan melihat pesona Ed yang semakin hari semakin mengingatkannya akan malam itu. Memang Vall kesal akan kejadian malam itu, tapi makin kesini dia merasa Ed tidak bersalah karena saat itu Ed sedang dalam pengaruh Alkohol. Terkadang Vall malah bertanya-tanya, bagaimana jika Ed melakukan itu dalam keadaan sadar dan penuh kelembutan? Belakangan hari pemikiran Vall semakin aneh dan gila saja.


"Vall.."


Vallery menoleh ke belakang, dimana Edward berdiri.


"Dimana Alexa?"


"Belum pulang, Kak."


"Apa bisa kita bicara sebentar?"


Vallery menaikkan sebelah alisnya, ia tidak mengerti hal apa yang ingin dibicarakan Edward dengannya. Mungkin menyangkut Patricia yang baru saja datang kerumah ini.


"Baiklah," ucap Vall seraya melangkah menuju sofa ruang tamu.


"Di ruang kerjaku, Vall." Kata Edward dengan nada dingin seraya menaiki tangga menuju ruangan yang ia maksud.


Vallery mengerti jika ucapan Ed itu tidak mau dibantah. Akhirnya, Vall mengikuti langkah Edward dengan diam dibelakang punggung bidang lelaki itu.


Ceklek...


Vall mengernyit saat ia menyadari pintu ruang kerja itu sengaja dikunci oleh Ed.


"Kenapa dikunci, Kak?" Perasaanya mulai tidak enak.


Ed mendekat kearahnya, duduk disampingnya yang sudah terdiam disebuah sofa panjang.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Ed tiba-tiba, matanya menyorot tajam kearah mata Vallery.


Vallery semakin merasa tidak enak hati mendengar pertanyaan Ed. Pertanyaan itu membuat hatinya gusar. "Se-sembunyikan apa, Kak?" Tanyanya gugup.


Ed menyugar rambutnya secara kasar.


"Baiklah jika kau tidak mau bercerita, aku yang akan menceritakannya padamu." Kata Edward.


Vallery menangkap maksud lain dari ucapan Ed, ia menelan salivanya dengan berat. Ia terdiam dan suaranya nyaris tak keluar bahkan untuk memprotes keadaan yang diambil alih oleh Ed.


"Pada malam pengantinku, aku pergi ke Club, meninggalkan wanita cantik yang baru saja resmi menjadi istriku." Kata Edward memulai pembicaraannya.


"Kau tahu kenapa aku pergi malam itu?" Ed kembali menatap Vall dan Vall menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Itu karena aku ingin melupakan luka lamaku dan beralih pada orang baru yaitu Alexa."


Vallery diam mendengarkan, akhirnya ia tahu kenapa Ed pergi dimalam pernikahanya.


Dan luka lama? Maksudnya Ed memiliki luka lama, begitu? Entahlah...


"Aku pulang dalam keadaan mabuk, kepulanganku disambut oleh seorang perempuan yang aku pikir adalah wanita yang sudah menjadi istriku." Ed tersenyum miring.


"Aku menghabiskan malam pengantinku bersamanya, Vall." Ed terkekeh diujung kalimat dan Vallery memejamkan matanya sejenak, karena mengingat hal yang diceritakan oleh Edward, pikiran Vall pun jadi berkelana ke malam itu.


"Kau mau lanjut mendengarnya?" Ed mengangkat dagu Vallery yang tertunduk dengan telunjuknya, membuat Vallery merasa terintimidasi.


Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Vallery hanya bisa menganggukkan kepalanya lagi.


Edward tersenyum melihatnya. "Aku pikir, aku tidak bisa melupakan malam pengantinku itu. Walau aku dalam keadaan mabuk, tapi pada akhirnya aku berhasil mengingat semua yang terjadi."


Vallery menyadari arah pembicaraan Ed, dari ucapan Ed yang terakhir, ia menyimpulkan jika Ed sudah tahu bahwa dialah perempuan itu dan bukan Alexa.


"A-aku tidak mau mendengarnya lagi, Kak." Vallery berdiri tiba-tiba, ingin menyudahi pembicaraan ini.


Gadis itu ingin menghindar tapi sayang ia terlalu telat, Ed tidak mungkin membiarkannya pergi begitu saja.


"No!" Ed menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak Vall, kau tidak akan pergi kemanapun sebelum kau mendengar semua ceritaku." Sambungnya.


Ed memegang pundak Vallery dan mendudukkannya kembali ke sofa. Tubuh Vallery bergetar, ia gemetaran disentuh oleh Ed. Entah gugup karena takut atau justru ia berdebar-debar karena sentuhan itu kembali ia rasakan.


"Aku memikirkannya setiap hari, apa yang sebenarnya terjadi pada malam pengantinku karena Alexa mengaku tidak pulang pada malam itu."


Vallery terdiam dan hanya terdiam, seolah menikmati ketakutannya sendiri.


"Sampai akhirnya, aku tahu satu hal. Alexa mengaku pernah berkencan bersama mantan kekasihnya dulu." Ed tertawa hambar.


"Aku tidak mempermasalahkan soal keper*awan-annya, karena akupun bukan menuntut hal itu. Itu hal biasa." Sarkasnya.


"Yang ku permasalahkan disini adalah, siapa gadis yang ku ambil keper*awanannya pada malam itu?" Ed menatap basah ketakutan yang terpancar diwajah Vallery.


Lagi, Vallery memejamkan matanya untuk menetralkan detak jantungnya yang sudah bertalu-talu. Darahnya berdesir hebat. Vall bahkan sempat berpikir ingin Ed mengingat kesalahannya tapi sekarang apa yang harus ia lakukan saat Ed sudah mengetahui semuanya?


"Sekarang aku bertanya padamu, Vall." Ucap Edward. "Kira-kira, kau tahu siapa gadis itu? She's Virgin! Aku mengingatnya." Sambungnya.


"Mung-mungkin kau bermimpi saat mabuk malam itu, Kak." Kilah Vallery.


Edward tertawa mendengarnya.


"Kak, a-aku sudah mengantuk, aku akan kembali ke kamarku." hindarnya, Vallery kembali berdiri dan Edward tidak mencegah langkahnya.


Sesampainya diambang pintu, Vallery kebingungan karena pintu itu terkunci dan kuncinya tidak ada disana.


"Kak, kuncinya?"


Edward menggeleng, wajahnya mendadak berubah menjadi dingin seperti saat melihat Patricia tadi.


Pias, wajah gadis itu berubah pucat pasi. "Apa maksudmu, Kak? Aku harus kembali ke kamarku." Katanya.


"Sebelum kau jujur, jangan harap aku akan memberikan kunci itu dan jangan harap kau bisa kembali ke kamarmu." Ucap Ed dingin.


...To be Continue ......