My Another Love

My Another Love
Remember me



Josh dan Vallery menghabiskan waktu bersama diruang tamu. Lelaki itu dengan telaten memberikan arahan pada Vallery yang tengah menjilid skripsinya.


"Apa kau terlahir dengan otak jenius?" kelakar Vallery, karena dia melihat Josh memahami tentang perkuliahannya.


Bahkan bisa dibilang lelaki itu menguasai materi yang sedang Vallery bahas.


Josh terkekeh. "I dont know, aku hanya mengatakan yang ku ketahui."


"Berarti saat kau menjadi siswa, kau adalah siswa yang benar-benar memperhatikan pelajaran." celetuk Vallery.


Josh mengernyit dan sesaat kemudian dia terbahak. "Aku bahkan tidak begitu memperhatikan para guru yang mengajariku."


"Fix, kau terlahir jenius." kata Vallery lagi dan Josh hanya mengangkat bahunya cuek.


"Entahlah, aku menghabiskan masa sekolahku dengan bermain-main. Kau tahu, dulu aku adalah berandalan tengil." Josh terkekeh nyaring diujung kalimatnya.


"Benarkah?"


Josh mengangguk. "Lalu menjelang kelulusanku di Senior High School, aku mulai berubah menjadi anak manis." akunya.


"Pasti saat itu kau bertemu seorang gadis." terka Vallery dan Josh tersenyum miring.


"Kau tahu kenapa aku tidak pernah mau menerima ucapan terima kasihmu?"


Vallery menggeleng sebagai jawaban.


"Karena akibat ucapan seseorang membuatku sadar bahwa aku tidak layak menerima ucapan terima kasih dari oranglain."


Vallery mengernyit. "Memangnya apa yang seseorang itu ucapkan padamu hingga kau bisa merasa begitu?"


"Dia mengatakan padaku, sangat lucu jika dia menerima ucapan terima kasih... sedangkan dia adalah seorang pembohong. Dia tidak layak menerima ucapan terima kasih dariku.."


"Dia berbohong demi menyelamatkan aku. Tapi dia tidak mau aku berterima kasih padanya. Gadis yang aneh." Josh mengulumm senyumnya seraya menerawang ke masa itu. Masa-masa dimana pertama kalinya dia bertemu dengan Vallery yang masih mengenakan seragan Junior High School.


Vallery mengernyit, seolah memikirkan sesuatu tentang yang Josh ceritakan padanya.


"Jadi, karena gadis itu kau berubah menjadi anak yang manis?" tanyanya.


Josh mengangguk-anggukkan kepalanya.


Josh sudah menceritakan masa lalu itu pada Vallery yang adalah gadis yang dia maksud, tapi reaksi Vallery terlihat biasa saja. Tampaknya dia harus meneguk rasa kecewa, karena Vallery tidak mengingatnya dan sudah melupakan hal yang menurutnya adalah salah satu hal istimewa.


"Dia benar-benar melupakanku. Bahkan dia lupa dengan kalimatnya sendiri. Remember me, Vall.. Please!" batin Josh kecewa. Dia pikir, dengan bercerita pada Vallery, maka Vall akan mengingatnya sebagai berandal yang pernah ditolongnya waktu itu.


"Lalu, apa kau seorang pembohong makanya kau tidak mau menerima ucapan terima kasihku juga?"


"Kadang-kadang aku memang menjadi pembohong." jawab Josh nyengir.


Vallery mengangkat bahunya cuek. Dia tidak mau membalas ucapan Josh. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri tentang cerita Josh mengenai masa lalu lelaki itu yang bertemu seorang gadis.


"Apa dia lelaki itu?"-batin Vallery tidak mau menyimpulkan dan enggan untuk bertanya secara langsung.


Josh pun hanya bisa memperhatikan Vallery yang sibuk dengan kegiatan bersama tumpukan kertas-kertasnya.


"Kuliahmu akan segera selesai?" tanya Josh serius.


"Huum, begitulah." Vallery tidak menatap Josh, dia fokus menyusun lembaran kertas itu sambil terus berpikir.


"Baguslah, itu berarti aku tidak akan menunggu terlalu lama." katanya sambil menyandarkan punggung ke sofa.


Vallery diam, dia mencerna ucapan yang Josh katakan padanya.


Apa lagi ini? Menunggu apa yang dimaksud Josh?


"Menunggu, maksudnya?"


"Mungkin setelah kau lulus, aku akan mengajakmu menikah." sahut Josh dengan enteng.


"What?"


"Yah, jika kau mau." Josh bangkit dari duduknya dan menuju kamar utama. Vallery menyusulnya dengan tergesa.


"Kau--apa kau bercanda?" tanya Vallery butuh penjelasan, dia menghentikan langkah Josh.


"Aku tidak pernah bercanda atas semua yang ku katakan padamu, Vall. Tapi, aku tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang."


Josh mengelus pipi Vallery sekilas dan mendaratkan sebuah kecupan dikeningnya dengan lembut.


Vallery memeluk Josh, menghirup dalam-dalam aroma maskulin dari tubuh lelaki itu. Kemudian dia mengadah untuk menatap Josh, tapi tidak melepaskan tangannya yang melingkar dileher lelaki itu. Mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Josh, jika aku memikirkan laki-laki lain apa kau akan marah?" tanya Vallery lembut.


Wajah Josh memerah, mendengar itu dari mulut Vallery langsung membuat hatinya terbakar. "Tentu saja. Lelaki mana yang kau pikirkan?" tanyanya dengan nada tak senang.


"Lelaki itu adalah lelaki di masa laluku." aku Vallery.


Josh mendengus, dia melepaskan tangan Vallery yang berada dilehernya dengan perlahan. Perasaannya mendadak kacau.


"Lelaki dimasa lalu? Kau punya mantan kekasih?" tanya Josh sambil bersunggut-sunggut. Lelaki itupun berbalik badan ingin meraih handle pintu kamar tanpa mau mendengar jawaban Vallery.


"Josh, tunggu-- aku belum selesai.." Vallery meraih tangan Josh dan mengikuti langkah Josh masuk kedalam kamar pribadi Josh yang selama ini belum pernah dia masuki.


Vallery kembali memeluk punggung Josh dari belakang, Josh pun berhenti melangkah saat itu juga.


"Apa lagi?" tanya Josh, sepertinya dia marah atau cemburu atau mungkin ingin menghindari Vallery hingga amarahnya menghilang. Dia tidak marah pada Vallery, hanya dia merasa berkecamuk karena mendengar fakta yang baru ia ketahui sekarang.


"Josh, kau cemburu? Kau sendiri menceritakan tentang seorang gadis padaku tadi. Apa aku salah jika aku juga menceritakan seorang lelaki padamu?" tanya Vallery.


Josh menghela nafas dalam. "Baiklah, jika kau memaksa ingin bercerita tentang laki-laki itu. Memangnya siapa dia?" tanyanya dengan nada tidak tertarik. Hanya nada terpaksa yang ada di tiap kalimatnya.


"Dia lelaki di masa laluku. Aku bahkan memberinya uang lima dolar." kata Vallery sambil tertunduk. Dia sudah mengingat jika lelaki yang dihadapannya ini adalah lelaki yang pernah dia tolong dan gadis yang dimaksud Josh tadi adalah dirinya.


Josh tidak percaya dengan penuturan Vallery, jadi gadis ini masih mengingat kejadian itu?


"Vall, kau--"


"Josh, sekarang dia menemuiku lagi, dari ceritanya ternyata dia mengingat tentangku. Apa kau tahu kenapa?" Vallery mengangkat wajahnya dan menatap Josh yang juga tengah menatapnya lekat. Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.


"Dia menemuimu lagi... karena tanpa disadarinya, dia sudah jatuh cinta padamu." Josh menjawab sambil menyunggingkan senyumnya yang penuh kelegaan karena ternyata Vallery juga mengingatnya.


"Lalu uangku, bagaimana?" kelakar Vallery.


Josh menghampirinya. "Perhitungan sekali! Aku akan mengembalikannya berkali-kali lipat, bahkan dengan perasaanku yang tidak akan ada habisnya." katanya sambil terkekeh.


Vallery ikut terkekeh. Dia tidak menyangka jika Josh adalah lelaki dimasa lalunya itu. Lelaki tengil yang sudah membuatnya berbohong didepan banyak orang hanya untuk menyelamatkannya saat itu.


Vallery memukul dada Josh, "Kau jahat! Kenapa kau tidak mengatakan dari awal jika kau adalah lelaki itu?"


Josh merengkuh Vallery dalam dekapannya. "Bagaimana aku mau mengatakannya, Baby? Apa aku harus bilang, jika aku adalah orang yang pernah kau beri uang lima dolar dan tidak pernah mengembalikannya?" ejek Josh.


Vallery terkekeh didada Josh. "Yeah, bilang saja seperti itu."


"Lalu kau akan memberiku uang lagi?" godanya.


Vallery menggeleng. "Uangmu sekarang lebih banyak dari uangku."


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Jam di dinding menujukkan pukul 12 malam, saat Vallery keluar dari selimutnya. Dia bergerak perlahan mencari keberadaan Josh yang didengarnya tengah menelepon. Dia melihat sekitar, ternyata dia tertidur di kamar utama Apartemen Josh.


Kakinya melangkah kecil menuju pintu balkon, Josh sepertinya sedang menelepon disana. Vallery dengan rasa penasarannya ingin mencuri dengar obrolan Josh melalui sambungan seluler itu. Bagaimanapun, dia masih penasaran tentang percakapan Josh dan Dimitri tempo hari, hanya saja dia sungkan untuk bertanya secara frontal pada Josh.


Saat dia melangkah semakin dekat untuk menguping, ternyata Josh sudah lebih dulu mengakhiri panggilan telepon itu. Vallery ingin berbalik menuju ranjang dan-


Krekkk....


Pintu dibuka dari luar dan menampilkan Josh dengan setelan kaos dan celana pendeknya.


Vallery yang belum sampai diranjang pun harus memasang senyum sejuta watt didepan Josh.


"Baby, kau terbangun?" tanya Josh sambil mengernyit.


Vallery mengangguk seraya memperhatikan Josh yang begitu menggoda jiwa kegadisannya.


"Apa kau mimpi buruk lagi?"


"No! aku hanya terbangun dan tidak bisa untuk melanjutkan tidur." jawabnya lembut seraya menggigit bibir bawahnya.


"Yasudah, ayo tidur lagi." Josh menarik tangan Vallery dan mendudukkannya di ranjang.


Vallery mencuri pandang kearah Josh. Tapi Josh hanya diam seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Kau tadi ... menelepon siapa?" tanya Vallery.


"Apa kau mendengarnya?"


"Aku mendengarmu menelepon seseorang tapi--"


"Kau mendengar pembicaraan kami?"


Vallery menggeleng. Ingin rasanya dia menjawab 'belum sempat, Josh' tapi itu tidak mungkin diucapkannya.


"Aku tadi menelepon Dimitri." katanya.


Akhirnya Vallery berbaring dan Josh menyusul disebelahnya.


"Apa tidak apa-apa jika aku tidur dikamar utamamu?"


"Bukan masalah, Vall. Memangnya kenapa?"


"Aku pikir ini adalah ranah pribadimu."


Josh tersenyum miring. Kemudian dia mengelus-elus pucuk kepala Vallery dengan kasih sayang, Vallery menjadi mengantuk karena kegiatan Josh dirambutnya.


Josh memperhatikan wajah Vallery yang mulai terlelap nyaman. "Kau akan mengetahui semua tentangku. Ku harap kau serius tidak akan pernah meninggalkanku." gumam Josh. Dia merasa perasaannya semakin menyayangi Vallery. Setiap hari semakin menjadi-jadi seiring kebersamaan mereka. Josh tidak keberatan jika nanti Vallery akan menjauhinya setelah tahu siapa dia sebenarnya. Tapi, Josh akan selalu menuju Vallery seperti janjinya pada dirinya sendiri dan pada gadis itu tentunya.


...To be continue ......