
Saat ini, perasaan Vall terasa bercampur aduk. Antara takut, gugup dan ingin berterus terang.
Mendengar penuturan dari mulut Ed, ia bisa menyimpulkan jika Iparnya itu sudah mengetahui segalanya tentang malam pengantinnya.
"That's you, Vall. Sudah jelas itu kau." Ucap Edward dengan nada terendah bahkan nyaris berbisik.
Vallery mencelos, jantungnya bahkan terasa jatuh ke perut saat tangan dingin Edward menyentuh kulit lengannya. Sekarang lelaki itu bahkan tengah merapat dibalik punggungnya. Mengurung tubuhnya dengan kedua tangannya berada disisi tubuh Vallery. Mengungkungnya dibelakang pintu.
Rasanya Vallery tidak bisa bergerak, ia terdiam dalam posisi menghadap pintu dan Edward berdiri merapat dibelakangnya.
Vallery menahan nafasnya saat Ed tiba-tiba menyibak suluran rambutnya dan sepersekian detik berikutnya lelaki itu menelusupksn wajahnya ke ceruk leher Vallery.
"Kak..." Pekik Vallery tertahan, ia menghela nafas pendek-pendek. Rasanya darahnya mengalir tersendat-sendat akibat perlakuan intens yang Edward berikan pada dirinya.
"Yah, that's you, Vall ... " ucap Ed seraya terus menciumi harum tubuh Vallery yang sangat familiar di indera penciumannya.
Jantung Vallery berdetak semakin kencang, ia bahkan nyaris tak bisa bergerak saat Ed dengan sengaja membalik tubuhnya dan mereka sudah berhadapan satu sama lain. Mata kehijauan itu, menelisik ke mata cokelat milik Vallery, mencari-cari sesuatu didalam jendela hati itu. Menyelidiki kebenaran yang terpancar didalamnya.
"Kau masih tidak mau berterus terang?" Tanya Ed pada Vall dalam jarak yang hanya beberapa senti saja.
Vallery menggeleng dan Edward menangkup pipinya. Lalu, tanpa persetujuan siapapun, Ed melu-mat habis bibir Vallery yang sejak tadi begitu ingin ia eksplore kelembutannya.
"K-kak..." Kata Vallery tercekat akibat ciuman tiba-tiba yang Ed lakukan. Ed tidak mempedulikan pekikan tertahan dari mulut Vallery. Baginya, ciuman ini adalah jawaban untuk rasa ingin tahunya. Rasa ini sama seperti malam itu. Yah, dia bisa mengingatnya sekarang. Rasa yang berbeda ketika dia berciuman dengan Alexa.
Setelah beberapa detik berlalu, Ed pun melepaskan bibir Vallery dari jerat bibirnya dengan perlahan-lahan. Ditatapnya lekat-lekat pemilik mata cokelat itu, nafas Vallery terengah-engah dan berkejaran, tapi kehangatannya sangat terasa dipermukaan kulit Ed, membuat Ed tersenyum penuh kepuasan.
Vallery terdiam, dia tidak protes dan tidak menyuarakan apa-apa. Gadis itu tertunduk kemudian. Ed pun mengelus pipi Vallery yang lembut. Ditatapinya lagi bibir Vallery yang agak membengkak karena ulahnya.
"Apa kau tidak pernah berciuman?" Tanya Ed lembut seraya terus mengelus pipi Vallery yang tertunduk.
Vallery menggeleng pelan. Ed menyeringai, pantas saja ciumannya dengan Vallery terasa lain dengan saat dia berciuman dengan Alexa. Vallery sangat amatir atau bisa dibilang tidak ahli sama sekali. Tapi entah kenapa Ed malah menyukai hal itu.
"Maafkan aku ..." Ucap Ed tiba-tiba, membuat Vallery mendongak untuk menatap wajah tampan lelaki itu. Mata gadis itu seolah meminta penjelasan atas ucapan maaf yang keluar dari bibir Ed.
"Maaf karena aku sempat melupakan kesalahan yang ku perbuat." Kata Ed.
Vallery hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Diam, hanya diam itulah yang ia lakukan. Tidak ada kata dan tidak ada tangis.
Edward menghela nafasnya, kemudian dia melepaskan Vallery dari kungkungannya di belakang pintu. Ed memberi jarak dan mengambil kunci dari saku celananya.
Ed memasukkan kunci kedalam tempatnya, sebelum ia membuka pintu itu, ia kembali menoleh pada Vallery yang terus terdiam.
"Say something, Val..." Katanya lirih. "Paling tidak, caci-maki saja diriku ini. Aku memang breng-sek!" Akunya.
Vallery menggeleng, ia menatapi Ed dengan tatapan yang sulit untuk Ed artikan. Ed malah merasa jika Vallery kini mengharapkannya? Ah, apakah itu mungkin? Setelah apa yang ia lakukan pada gadis itu?
"Atau jika kau mau, pukul aku Vall. Lampiaskan kemarahanmu padaku. Jangan hanya diam seperti ini." Lirih Ed lagi namun Vallery tetap bergeming tanpa suara.
Melihat Ed melunak, Vallery pun segera mengambil alih keadaan, ia memutar kunci dengan tergesa dan segera membuka pintu untuk membebaskan dirinya dari sang Ipar.
Ed membiarkannya. Ed tahu Vallery butuh waktu karena semua ini tidak mudah.
Vallery keluar dari ruang kerja Edward tanpa sepatah katapun lagi. Ia berlari menuruni tangga untuk menuju kamarnya dilantai bawah.
Sesampainya dikamar, Vall menutup pintu dengan keras lalu menguncinya.
"Apa yang dia lakukan?" isaknya, "Atau apa yang ku lakukan? Kenapa aku diam saja saat dia menciumku lagi?" Vallery pun luruh di lantai kamar.
"Aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa terus tinggal bersamanya seperti ini." Vallery terisak dalam kesunyian malam seraya menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas ranjang.
"Aku takut, aku takut terbuai oleh pesona lelaki yang sudah menjadi Kakak iparku." Gumamnya seraya menelusupkan kepalanya ke dalam bantal.
Selama beberapa hari ini, Ed terus memikirkan siapa yang bersamanya dimalam itu. Malam pengantin yang seharusnya ia habiskan bersama Alexa.
Ed sudah menyangkal banyak orang dikepalanya. Semua perempuan yang diduganya, semuanyapun terasa tak mungkin.
Sampai pada dugaan terakhirnya, dugaan itu jatuh pada Vallery. Ed ingin menyangkalnya juga, tapi entah kenapa ia merasa penasaran.
Sebenarnya Ed ingin melupakan itu dan menjalani hubungannya dengan baik bersama Alexa. Bagaimanapun rumah tangga mereka baru dimulai dan mereka masih harus mengenali diri lebih banyak satu sama lain. Tapi, sekelebat ingatan tentang malam pengantinnya perlahan-lahan mulai bisa dia ingat dan sulit untuk dia tepiskan.
Saat melihat mata Vallery, ia justru berharap jika gadis yang ia gagahi malam itu benar-benar adalah Vallery.
Dan ciumannya beberapa saat lalu bersama Vallery, menjadi sebuah bukti akurat untuknya. Walau Vallery tidak mengatakan apapun dan hanya diam, ciuman tadi masih tetap sama seperti malam itu dan Ed pun menyadari semuanya, semua kesalahannya pada Vallery.
Atau mungkin kini dia juga bersalah pada Alexa.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Kenapa dia seperti terjerat diantara kakak beradik itu?
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Rutinitas pagi dalam beberapa hari ini terasa berbeda, Alexa yang menyadari posisinya sekarang adalah seorang istri bagi Ed, selalu menyempatkan untuk melakukan sarapan pagi bersama suaminya.
"Jam berapa kau pulang tadi malam?" tanya Ed pada Alexa yang sedang menikmati sepotong sandwich.
Alexa mengambil tisu dan membersihkan mulutnya, "Sekitar jam 12 malam." jawabnya.
"Maaf aku tidak menunggumu." kata Edward.
"No problem, kau lelah bekerja dan sepatutnya kau tidur di jam itu." jawab Alexa seraya tersenyum hangat dan meminum segelas jus apel.
Edward memang tidak membatasi karir dan pekerjaan Alexa, ia tahu Alexa baru merintis dan sekarang adalah masa emasnya. Ed mengerti impian Alexa dan dia tidak mau menyurutkan impian itu hanya karena pernikahan mereka.
"Kau tahu, aku akan pemotretan untuk sebuah majalah fashionweek." Cecar Alexa semringah. "Itu salah satu impianku dan aku tidak mungkin melewatkannya," sambungnya.
Edward mengangguk-angguk kecil, lalu dia meraih gelas kopinya, menyesap cairan hitam itu dan menikmatinya.
"Itu bagus. Aku ikut senang dengan keberhasilanmu." kata Ed mendukung Alexa.
Alexa berdiri dari duduknya, "Thanks, honey..." katanya seraya memeluk Edward yang masih terduduk. Ed pun menepuk-nepuk pelan punggung Alexa.
Disudut lain, Vallery melihat kedekatan kakaknya dengan Edward yang semakin hari semakin mesra. Ada perasaan aneh menelusup ke hatinya melihat pemnadangan itu. Ia ingin acuh dan melenggang pergi tapi ternyata suara Alexa berseru memanggilnya.
"Vall... kau mau berangkat?" tanya Alexa.
Dan mau tak mau Vallery menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk melihat kakaknya yang sedang bicara. Ia pun melihat mereka berdua yang sedang menautkan tubuh satu sama lain.
Edward menoleh juga untuk melihat keberadaan Vallery, matanya seperti hendak mengatakan sesuatu pada gadis itu, tapi Vallery tidak mau memperhatikannya.
Entah kenapa hati Vall menjadi sakit melihat kemesraan mereka. Apa yang terjadi dengannya?
"Ya, aku pergi, Kak." jawab Vall datar.
"Sepagi ini? Kau tidak sarapan dulu?" tanya Alexa lagi, Vallery hanya melambaikan tangannya dengan malas lalu berlalu begitu saja.
"Vallery, adik kecilku yang manis." gumam Alexa yang masih terdengar oleh Ed. Ed pun tersenyum mendengarnya.
Adik kecil, kenapa kau cemberut? Kenapa aku mengharap kau cemburu padaku. - Batin Ed.
...To be continue ......