My Another Love

My Another Love
I dont care



Begitu tiba di Apartemen, Vallery segera menghempaskan bo kong ke sofa, mencondongkan tubuh ke depan dan menatap lamat-lamat ke arah dimana-- Josh baru saja menutup pintu Apartemen dengan gerakan cepat.


Josh melihat Vallery sekilas yang tengah menatapnya. Selama diperjalanan pulang tadi, dia dan Vallery sama-sama tidak ada yang mau bersuara.


Josh masih enggan membuka suara walau Vallery sudah jelas-jelas melihat segalanya dan Vallery yang malas untuk lebih dulu bertanya.


Vallery menatap Josh yang hanya berdiri mematung didepannya sejak tadi, tanpa berkata apapun. Lelaki itu, iya, dia--tidak mau menjelaskankan semuanya secara gamblang pada Vallery. Damned!


"Apa kau memang tidak ingin menjelaskan semua yang terjadi padaku?" tanyanya dengan suara tercekat, pelan dan nyaris berbisik. Kepalanya sedikit mendongak untuk menatap Josh yang menjulang dihadapannya.


Tanpa perlu diberitahu, Josh sudah bisa memahami apa yang terjadi dengan sikap aneh Vallery, keingintahuannya, serta tatapan tajamnya yang mengintimidasi-- ingin segera diberikan jawaban yang tuntan serta bisa memuaskan kedahagaannya.


Josh bergeming tidak menjawab dan Vallery mendengus melihatnya.


Karena lelaki dihadapannya tetap memilih diam sembari sesekali menghela nafas panjang, akhirnya Vallery kembali bersuara.


"Jika kau tidak mau menjelaskan apa yang terjadi, aku akan menanyakannya pada Jesica, jika Jesica juga tidak mau mengata--"


Kalimat Vallery itu harus terhenti diudara, karena Josh segera menginterupsinya.


"Vall, bisakah jangan membahas ini sekarang?" suara Josh melirih. "Aku akan menjelaskannya nanti, pasti." ucapnya menekankan kata 'pasti'.


"Beristirahatlah..kau sudah melewati hari yang panjang hari ini." sambungnya.


Vallery menggeleng kecewa, dia bangkit tanpa sepatah katapun lagi.


Dia menuju kamarnya sendiri dan menguncinya dari dalam--suatu kebiasaan yang tak pernah dia lakukan selama dia tinggal bersama Josh.


Menjelang malam, Josh mengetuk pelan pintu kamar Vallery.


"Baby..."


"Apa kau sudah tidur?"


Josh melihat cahaya kamar dari celah pintu, menandakan jika gadis yang ada dibalik sana belum tidur namun juga urung menjawabnya.


"Sayang, apa kau masih marah?"


"Aku minta maaf ... ini semua terjadi memang karenaku." Kata Josh dengan pelan, kedua tangannya bertumpu di bingkai pintu.


Josh mengambil ponsel disaku celananya, menelepon ke ponsel Vallery dari tempatnya berdiri. Namun, apa yang dia dapat?


Hanya terdengar sayup-sayup nada dering ponsel Vallery yang kemudian berubah senyap dalam seketika-- Vallery me-reject panggilannya. Itu cukup membuktikan jika gadisnya masih belum terlelap didalam sana.


Dia mengulangi lagi panggilannya, namun jawabannya tetap sama--teleponnya ditolak sebelah pihak oleh Vallery.


Beginikah jika gadis tengah merajuk? Seumur hidupnya, yang dibeberapa tahun kebelakang banyak dihabiskan bersama wanita untuk bermain-main, baru kali inilah dia merasa frustasi karena tidak mempunyai keahlian dalam membujuk dan merayu seorang gadis. Hah! Complicated!


Josh tetap saja terus menghubungi Vallery menggunakan benda pipihnya sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan ritme pelan. Tepat pada panggilannya yang ke 7, saat itulah Vallery menjawab teleponnya.


"Kau boleh masuk jika kau mau menjelaskan semuanya padaku!" sahut Vallery cepat, memberondongnya melalui sambungan seluler.


Dia bahkan menjauhkan ponsel dari telinga, dan menatap benda pipih itu dengan tatapan bingung--seraya cepat mencerna ucapan Vallery, yang hanya diucapkan dalam beberapa detik.


Bagaimana bisa Vallery mengatakan hal itu? Ini bahkan Apartemennya sendiri, bukankah terserah dia mau masuk atau tidak kedalam kamar yang ditempati Vallery? Oh, God? Sebenarnya siapa tuan rumahnya sekarang?


Tapi dia segera menggelengkan kepalanya sendiri karena dia benar-benar malas membalas sikap Vallery dengan sikap yang sama--alias sama-sama marah. Walau sebenarnya bisa saja dia masuk kesana menggunakan kunci cadangan atau mendobrak pintu--karena ini unitnya sendiri--tapi dia tidak melakukan itu. Dia menghargai Vallery dan dia mengerti perasaan kesal dan kecewanya gadis itu terkait apa yang terjadi dan menimpanya sore tadi.


Josh sendiri sangatlah kesal dan marah pada diri sendiri, karena harus membahayakan nyawa Vallery. Bagaimana pula dengan Vallery? Ya jelas saja gadis itu marah sekarang.


Josh menyugar kasar rambutnya sendiri.


Akhirnya, daripada menjawab ucapan menggebu Vallery dari ponsel, dia lebih memilih memutuskan panggilan, memasukkan benda pipihnya kembali kedalam saku, kemudian berbicara dari balik pintu pada gadis itu.


"Aku akan menjelaskannya, buk--" Belum siap Josh mengucapkan kata-kata, pintu kamar Vallery terbuka dari dalam dan nampak seorang gadis berambut panjang dengan mata membengkak tengah menatapnya nyalang--dia sedikit terkejut melihatnya.


"Kita bicara, oke?" ucap Josh nyaris berbisik didepan Vallery yang urung memberinya akses jalan untuk masuk kedalam kamar.


"Di ruang tv!" celetuk Vallery dingin.


Dan lagi-lagi, Josh harus mengalah demi tidak memperkeruh keadaan. Dia tahu dialah biang dari segala permasalahan ini. Andai daja dia bisa menjelaskan lebih awal pada Vallery. Andai ...


Mereka duduk bersisian di sofa ruang tv. Vallery memasang wajah datar sambil bersedekap, seolah tengah menunggu apa yang akan Josh jelaskan padanya.


"Vall, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Aku ingin kau tahu segalanya. Setelah ini, terserah kau mau tetap bersamaku atau justru memilih pergi,"


"Aku--aku anak dari ketua mafia di Rusia." lanjutnya dengan suara tercekat. Dia bahkan menelan salivanya dengan berat sampai tiga kali dalam hitungan dua detik.


Vallery terdiam, tidak memberi respon apapun mendengar pengakuannya, membuat Josh sulit menangkap maksud dari gelagat gadis yang tanpa ekspresi itu.


Intuisi Josh yang biasa bekerja aktif, kini harus mengalah karena tak bisa membaca apa yang dipikirkan Vallery sekarang.


"Apa dia kecewa?"


"Apa dia marah?"


"Atau justru dia takut dekat denganku?"


Batin Josh terus saja mencerna situasi dan mimik wajah Vallery yang datar.


Josh menggeleng sendiri, tidak menemukan jawaban apapun dikepalanya-- terkait apa yang Vallery pikirkan sekarang. Buntu!


Vallery berdehem sebelum akhirnya mengeluarkan suara.


"Jika memang begitu, mau bagaimana lagi." kata gadis itu sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.


Josh menoleh kearahnya sembari mengernyit heran. "Maksudnya?"


"Yah, aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa menentukan hatiku harus jatuh cinta pada siapa. Love can't choose! Aku sudah terlanjur dan ... let's fall together!"


Jawaban tegas yang keluar dari bibir Vallery membuat mata Josh membulat. Seriously?


"Vall, kau boleh memikir--"


"No! No! Aku bisa menerima semua ini." potong gadis itu cepat.


Apa segampang ini? Apa Vallery memang sudah sejatuh itu pada dirinya? Hingga benar-benar memasrahkan diri?


Josh memang akan tetap memaksa Vallery, seperti tekadnya--jika memang Vallery memilih pergi darinya. Tapi ternyata, tanpa paksaan-pun gadis ini sudah mengajaknya untuk jatuh sedalam-dalamnya bersama-sama. Yeah, not bad! Setidaknya dia tidak sendiri. Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, karena Vallery membalas tepukan itu. Really relieved! Melegakan..


"Vall, aku bukan hanya anak seorang mafia tapi aku juga punya dendam yang bisa membuatku berubah kejam sewaktu-waktu." akunya sebagai warning untuk Vallery. Agar sewaktu-waktu Vallery tidak terkejut mendapatinya tengah meregang nyawa orang lain.


Vallery menggeleng. "I don't care anything!" sergahnya.


"Setidaknya kau bisa seterbuka ini padaku sejak lama. Tapi aku menghargai kejujuranmu saat ini, dan ku harap selanjutnya kau bisa berterus terang padaku." kata Vallery lagi.


Josh merapat kesampingnya, "I'm so sorry ..." lirihnya.


Vallery melihatnya dan menggeleng dengan sorot mata yang masih saja tajam. "Aku sudah pernah mengatakan jika aku tidak akan meninggalkanmu meski kau adalah monster."


"Yeah, it's me... Monster." desis Josh dengan suara penuh penyesalan.


Vallery memutar bola matanya malas. "Setidaknya jangan berubah menjadi monster saat bersamaku." kini gadis itu tertunduk.


Josh tersenyum kecil saat menyadari sikap 'malu-malu mau' yang ditunjukkan Vallery.


Bagi Josh, penerimaan Vallery sudah melambungkan dirinya dan menghindarkannya dari sakit hati yang berkepanjangan.


Bolehkah dia berbangga diri saat ini?


"Lalu kau mau aku menjadi siapa saat bersamamu, hmm?" tanya Josh dengan sangat lembut, pertanyaan itu berubah menjadi intens saat Josh merapatkan diri mereka satu sama lain hingga tidak ada jarak.


-


-


Josh


Malam semakin larut saat tidak ada satupun diantara mereka berdua yang ingin melepaskan tautan.


Entah sejak kapan terjadi, Vallery sudah berada dalam pangkuannya. Dengan tangan yang tertaut dan melingkari lehernya. Dia menggeram tertahan saat mendapati dirinya sendiri dengan has rat yang sulit untuk dikontrol.


Suara berat tertahan di tenggorokannya. Ia ingin menguasai keadaan, tapi sangat sulit karena nalar yang sudah samar-samar dan mulai meredup dikepalanya.


Tangannya mendapati paha mulus gadisnya tengah berada dikiri-kanan tubuhnya dengan kaki yang menaut dibelakang punggungnya. Laksana koala yang menempel erat dalam gendongannya.


Suara lirih Vallery disela-sela kegiatan mereka, berhasil membuat nalar nya yang tadi redup, kini justru menggelap. You lose, Josh! Loser - sebuah suara dikepalanya sendiri terdengar seperti mengejeknya.


...To be continue ......