
Setelah melakukan aktifitas seperti biasanya, hari ini Vallery kembali ke Apartemen seorang diri di sore hari tanpa adanya Sophia. Ini adalah kali pertamanya akan tinggal seorang diri. Walaupun dia tidak memiliki teman untuk tinggal, tapi dia tidak terlalu memusingkannya, yang dia pikirkan adalah bagaimana jika kakaknya tahu bahwa sekarang Sophia telah pindah.
Saat memasuki lobby Apartemen, Vallery tidak sengaja melihat seseorang yang tak asing baginya. Mereka berpapasan. Tapi entah mengapa, Vallery justru berharap orang itu tidak akan mengenalinya.
"Vallery?"
Dan ternyata orang itu malah menyapanya. Vallery hanya bisa tersenyum kecut lalu melanjutkan langkahnya menuju Lift.
Saat tangannya hendak menekan tombol lift, ternyata tombol itu sudah ditutupi oleh sebuah tangan, membuat Vallery menoleh ke pemilik tangan yang dengan sengaja mengganggu kegiatannya.
"Vall, kau tinggal di Apartemen ini?" Ternyata orang yang tadi berpapasan dengannya-lah si pengganggu itu.
Vallery memicingkan matanya, menunjukkan sikap tidak senang.
"Bisakah kita bicara?" tanya orang itu.
"Soal apa? I'm busy.." kata Vallery tidak tertarik.
"Aku ingin minta maaf persoalan malam itu di Club." Jawab lelaki itu.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku sudah melupakannya." Kata Vallery seraya kembali ingin menekan tombol lift agar terbuka, tapi lagi-lagi lelaki itu mencegahnya.
"Come on, Vall. Maafkan aku, waktu itu aku sedikit mabuk." Jawab lelaki yang tak lain adalah Steve, pemuda yang berkenalan dengan Vallery di Club waktu itu dan berakhir dengan perkelahiannya dan Josh.
Vallery berdecak lidah. "Ya aku sudah memaafkanmu. Pergilah..." Kata Vallery.
"Bolehkah aku mentraktirmu minum kopi sebagai permintaan maafku?"
Vallery diam, dia sedikit trauma dengan Steve, tapi melihat kesungguhan diwajah lelaki itu membuatnya tidak tega untuk menolak. Steve benar-benar tulus meminta maaf dan Vallery juga serius ingin memaafkannya.
"Vall..." Desak Steve.
"Baiklah, hanya di cafe dekat sini." Jawab Vallery pada akhirnya.
"As you wish... Kau yang tentukan tempatnya." Kata Steve sambil tersenyum cerah.
Mereka pun berjalan dan keluar dari Lobby. Vallery melangkah didepan dan Steve mengikuti dibelakangnya. Vall memasuki cafe yang berada diujung, tepat disebelah pintu masuk basement gedung Apartemen.
Vallery duduk dan disusul oleh Steve yang terus tersenyum melihat wajah datar gadis itu.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Steve pada Vallery.
"Sebenarnya aku bukan penikmat kopi." Jawab Vallery tanpa ekspresi.
Steve mengangguk, "Aku akan memesankanmu cokelat hangat, kau suka itu?" Tanya Steve dan Vallery mengangguk.
Steve beranjak dari kursinya, menuju tempat pemesanan. Sedang Vallery memindai suasana cafe yang baru sekali ini dia masuki. Suasana yang cukup nyaman, pengunjungnya juga tak terlalu ramai.
Dilain sisi, Josh baru saja tiba di Texas. Dia tiba sore hari dan meminta Dimitri untuk membawa barang-barangnya langsung ke Apartemen utama, sedangkan dia sendiri memiliki tujuan lain yaitu menjumpai Vallery. Demi apapun, Josh merindukan gadis itu.
Josh segera mengendarai mobilnya, keluar dari basement dan meluncur membelah jalanan untuk menuju Apartemen yang ditempati Vallery.
Ponselnya beberapa kali bergetar menandakan ada pesan masuk tapi Josh tidak menghiraukan itu, dia memikirkan Vallery di jam ini pasti sudah berada di Apartemen. Dia tahu Vallery bukan gadis yang suka bepergian tidak jelas. Dimana lagi gadis itu jika bukan di Apartemen pada jam ini.
Saat mobil Josh memasuki basement gedung Apartemen yang ditempati Vallery, matanya menangkap sesosok tubuh ramping yang dikenalinya sedang duduk didalam cafe, kebetulan cafe itu berdinding kaca yang membuat pengunjung luar dapat melihat sekilas interior didalamnya.
Mata Josh memicing, dia melambatkan laju mobilnya, selain karena sudah memasuki area basement, dia juga ingin memastikan seseorang yang duduk disana adalah benar Vallery atau bukan.
Josh mendengus keras saat melihat disana Vallery sedang menikmati minumannya dengan seorang lelaki yang tak bisa dia lihat wajahnya, karena posisi lelaki itu memang membelakanginya.
Josh merasa tidak percaya, dia ingin turun dari mobilnya untuk benar-benar memastikan jika penglihatannya tidak salah melihat. Saat dia ingin membuka pintu mobil, ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk.
Josh tahu Vallery sangat penting, tapi telepon ini juga tidak bisa ditolaknya, ini juga menyangkut Vallery.
"Apa?" Kata Josh saat menerima panggilan itu, dia tidak jadi keluar dari mobilnya.
"Vallery bersama dengan seorang pria di cafe dekat basement Apartemen."
"Aku tahu, kau telat. KENAPA KAU TIDAK MENGATAKANNYA DARI TADI?" senggak Josh meluapkan emosinya.
"Aku sudah mengirimkan pesan. Harusnya kau membacanya."
"Shiit!"
"Kau sudah pulang ke Texas? Bagaimana kau bisa mengetahui ini jika belum membaca pesanku? Apa kau melihatnya sendiri?"
Josh tidak menjawab pertanyaan dari ujung sana, dia memutuskan panggilan itu begitu saja, barulah dia membaca pesan yang dimaksudkan penelpon itu.
^^^"Vallery bertemu seorang pemuda di Lobby."^^^
^^^"Mereka sepertinya akan bicara berdua."^^^
^^^"Mereka ke cafe dekat Apartemen."^^^
^^^"Aku tidak mengenali pemuda itu, itu bukan kakak iparnya."^^^
Bugh!
Bugh!
Josh memukul kemudi mobilnya, kepalanya menoleh lagi untuk menatap Vallery yang berbicara dengan seorang pemuda diseberang sana dalam sebuah cafe. Apa Josh harus datang kesana? Menghampiri Vallery dan menyatakan pada lelaki itu jika Vallery adalah miliknya? Tidak bisa, Josh tidak bisa mengakui Vallery pada dunia. Belum saatnya.
Atau Josh kesana, menarik tangan Vallery dan membawanya pergi? Tidak, itu juga tidak bisa dia lakukan. Apalagi mengingat pesan Ayah dan Ibunya sebelum dia kembali ke Texas. Ini sungguh membuatnya dilema.
Akhirnya, Josh menyalakan lagi mesin mobilnya, dia mencoba berfikir jernih. Dia tidak mau cemburu buta. Dia meninggalkan area gedung Apartemen itu seraya menghubungi orang suruhannya.
"Tolong awasi mereka, jangan biarkan terjadi apapun pada Vallery. Satu lagi, pastikan Vallery pulang setelah dari cafe itu. Jangan biarkan pemuda itu mengajaknya kemana-mana." Kata Josh.
"Kenapa tidak kau hampiri saja mereka?" Sahut seseorang dari seberang sana.
"Aku tidak bisa mengendalikan emosiku jika aku melihat wajah lelaki itu. Kau turuti saja permintaanku. Kau sudah bekerja padaku jika kau lupa."
"Oke, oke... Baiklah, Sir." Sahutnya lagi.
Josh pun kembali ke Apartemennya dengan rasa sesak, emosi dan rasa penasaran siapa sosok lelaki yang bersama Vallery di cafe.
"Tidak mungkin dia memiliki kekasih, kan?"
"Tidak, tidak ... sebelum aku memutuskan memasuki hidupnya lagi, aku sudah memastikan jika Vallery tidak memiliki hubungan dengan siapapun di beberapa tahun terakhir ini." Bantah Josh pada dirinya sendiri.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Vallery menggeliat, dia mengerjapkan mata saat bias-bias cahaya pagi memasuki celah-celah ventilasi kamarnya. Belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata, Vallery malah merasa ingin memejamkan mata kembali saat menghirup aroma aftershave yang sangat familiar di indera penciumannya. Dia merasa nyaman dan tenang. Dia suka aroma ini.
Vallery semakin menyusupkan tubuhnya pada sesuatu yang memberikan kehangatan lebih untuk posisi meringkuknya. Dia memeluk gulingnya dengan erat, gulingnya yang entah kenapa hari ini terasa seperti sedang bernafas.
Sresssh ...
Vallery terkesiap saat menyadari sesuatu, bola matanya yang tadi masih mengantuk, kini sudah membulat sempurna dan berhadapan langsung dengan iris mata kehijauan yang juga tengah menatapnya dengan sendu.
Vallery memundurkan tubuhnya, menghindar dari kenyamanan guling bernafasnya yang tak lain adalah Josh.
"Se-sedang apa kau disini?" Tanya Vallery gugup, dia baru sadar ternyata Josh memeluk pinggangnya dan membuatnya tidak bisa bergerak mundur.
Josh mengeluarkan smirk-nya yang menawan. "Aku sedang tidur tapi kau membuatku terbangun." Kata Josh enteng.
"Se-sejak kapan kau tidur disitu? Bu-bukankah seharusnya--seharusnya kau masih di Rusia?" Tanya Vallery semakin gugup karena mata Josh yang menatapnya sangat mengintimidasi.
"Sejak kau tidur dan menyebut namaku." Jawab Josh sambil mengulumm senyum.
Vallery terduduk tiba-tiba, membuat Josh mau tak mau juga ikut duduk karena terkejut dengan ulah Vallery yang refleks.
"Ada apa?" Tanya Josh keheranan.
"Josh, ini benar--kau?"
Josh terkikik. "Kau pasti mengira sedang bermimpi kan? Sejak kapan kau sering memimpikanku?" Goda Josh.
Vallery membuka selimutnya, dia takut terjadi sesuatu dengannya dan Josh seperti saat dia bersama Edward dimalam terkutuk itu. Mungkin saja kemarin Josh mabuk atau malah mereka berdua mabuk dan terjadi hal-hal yang tidak seharusnya tanpa dia sadari.
Vallery menatapi tubuhnya yang masih menggunakan pakaian lengkap. Dia melirik Josh yang juga masih menggunakan kaos bahkan masih mengenakan celana Jeans.
"Kenapa, Vall? Ada apa?" Tanya Josh makin keheranan melihat wajah Vallery yang mendadak pias.
"Kau menginap disini?" Tanya Vall dan Josh mengangguk.
"Kenapa aku tidak tahu?" Tanyanya lagi.
"Karena aku masuk saat kau sudah tidur. Mungkin sekitar jam 3 pagi aku baru disini." kata Josh, dia tidak bisa tidur di Apartemennya sendiri. Kepalanya dipenuhi oleh Vallery dan bukankah dia mempercepat kepulangannya karena rindu dengan Vallery? Jadi dia memutuskan datang ke Apartemen malam itu juga.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Josh sambil mengelus pipi Vallery.
Vallery menepis pelan tangan Josh sambil pikirannya mengingat-ingat lagi apakah ada terjadi sesuatu diantara mereka semalam.
"Jo-josh..." Lirihnya ragu.
"Ya?" Josh menatapi Vallery yang tertunduk.
"Tidak ada yang terjadi diantara kita kan?" Tanya Vallery memastikan.
Josh menghela nafasnya, dia baru sadar dengan apa yang kini dipikirkan Vallery.
"Girl, apa kau pikir aku akan memanfaatkanmu disaat kau tidak sadar?" Josh mengusap wajahnya kasar. "Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu tanpa persetujuanmu." Sambungnya.
Vallery mendesahh lega. "Thank you, Josh..." Kata Vallery menatap mata Josh.
Josh tersenyum simpul. "Jangan ucapkan itu, kau tahu aku tidak menerimanya bukan?" Ucapnya seraya mengacak rambut Vallery, aktifitas yang tidak dia lakukan beberapa hari ini.
...To be continue ......