My Another Love

My Another Love
What ever



Vallery membungkam mulutnya yang menganga karena efek terkejutnya. Ia menatap lelaki yang baru saja menolongnya dari situasi absurd bersama Steve. Jika saja lelaki ini tidak datang, Vallery tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan dirinya.


Steve berdiri dan menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah, ia tersenyum miring kemudian bersiap membalas pukulan lawannya.


Bugh..


Satu kali pukulan Steve terkena ke wajah lelaki yang menolong Vallery. Lelaki itu tidak sempat menghindar karena ia sempat tak fokus akibat melihat sorot mata yang Vallery berikan padanya.


Saat Steve ingin melayangkan tinjunya agar sama-sama menjadi dua pukulan seperti yang diberikan lawannya tadi--Steve tidak sempat melakukannya--karena dia langsung dibekap oleh beberapa orang lain yang berpakaian Security.


"Keluarkan dia dari sini. Jangan sampai aku melihat wajahnya lagi." Kata lelaki yang menjadi lawan Steve itu.


Tubuh Steve yang meronta-ronta pun tak dipedulikan, dia diseret begitu saja dari sana.


Kejadian itupun tak luput dari perhatian orang-orang yang berada didalam Club. Mereka tergopoh-gopoh untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi.


"Ada apa?" Tanya sebagian orang. Vallery sudah tak mendengar apapun lagi karena kini sorot matanya tetap fokus menatap teduh sosok yang baru saja menolongnya.


Tak berapa lama, Jesica pun datang menghampiri, ia berjalan cepat dari bawah lantai dansa, menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai posisi Vallery.


"Vall, kau tidak apa-apa?" Jesica memegang kedua pundak Vallery dengan wajah khawatirnya.


Vallery tetap diam dan menatap ke lelaki diseberangnya. Tampaknya, Jesica belum menyadari keberadaan sosok itu, dia fokus pada Vallery.


"Apa yang dilakukan Steve padamu? Astaga.. aku minta maaf, Vall." Kata Jesica penuh sungkan.


Lelaki yang baru saja meninju wajah Steve pun mulai bersuara.


"Jadi kau yang mengajaknya kesini?" Tanyanya menjurus pada Jesica.


Jesica menoleh. "Josh? Apa yang kau lakukan disini?" Jesica menatap Vallery dan Josh bergantian. "Jangan bilang jika yang menghajar Steve tadi adalah kau." Sambungnya sambil menggeleng pelan.


"Aku akan pulang." Kata Josh singkat seraya membalikkan badannya.


"Thanks, Josh." Kata Vallery lirih.


Josh menoleh lagi, "Kau akan tetap disini?" Tanyanya pada Vallery dan Vallery terdiam.


Josh cuek dan melangkah lagi tapi suara Vallery kembali menghentikannya.


"Aku akan pulang," kata Vallery. "Bersamamu.." sambungnya.


Jesica menatap Vallery tidak percaya, "Vall.." Jesica mencegat tangan Vallery.


"Aku harus pulang, Jes. Aku memang tidak seharusnya disini."


"Maafkan aku, Vall. Aku yang akan mengantarmu." Kata Jesica.


"Cepatlah.." desak Josh diujung sana.


"Tidak usah, aku akan pulang bersama Josh. Nikmati saja pestamu, maaf aku merusak kesenanganmu." Kata Vallery.


Jesica menggeleng. "Hati-hati. Besok kita akan bicara." Sahut Jesica.


Vallery pun berjalan mengikuti langkah Josh didepannya. Dia menjadi serba salah, tapi dia lebih memilih untuk keluar dari Club.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Dimana rumahmu?" Tanya Josh seraya mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran Club itu.


"Aku.. aku tidak mau pulang kerumah." Sahut Vallery seraya membuang pandangan ke luar jendela.


Josh berdecak, "Kalau kau ada masalah, jangan datang ke Club lagi jika kau tidak terbiasa." Ucapnya.


Vallery mengangguk-angguk, kenapa semua orang jadi tahu jika dia punya masalah?


"Lalu kemana kau mau ku antarkan?" Tanya Josh. Dia melihat sekilas jam dipergelangan tangannya. Hari sudah beranjak menuju dini hari.


"A-aku tidak tahu."


Setelah memberikan waktu untuk Vallery berpikir, Josh mulai bersuara lagi.


"Mana tasmu?" Tanya Josh dengan tidak sabar.


"Untuk apa?"


"Mencari alamatmu di kartu Mahasiswa."


"No!" Vallery mendelik. "Aku tidak mau pulang." Sambungnya. Vallery tidak mau melihat Ed untuk sementara, biarlah dulu semuanya menjadi tenang, terutama hatinya. Mengingat Ed yang menganggapnya adik, cukup membuat pikirannya berkecamuk. Entahlah..


Josh menggaruk keningnya. Bingung menghadapi Vallery yang keras kepala.


"Kalau kau tidak memberi alamatmu, maka jangan salahkan aku membawamu ke tempatku." Josh menyalakan mesin mobilnya kembali dan mulai putar arah menuju kediamannya.


Melihat Vallery diam, Josh melanjutkan tujuannya tanpa banyak bicara lagi. Dia mengartikan diamnya Vallery berarti tidak ada penolakan.


"Kenapa kau bisa disana?" Tanya Vallery.


"Disana? Disana dimana maksudmu?" Tanya Josh tidak mengerti, dia fokus mengemudikan mobilnya sambil mendengarkan ucapan Vallery.


"Di Club." Sahut Vallery.


"Aku kesana karena ingin."


"Bukan karena kau mengikutiku?" Terka Vallery.


Josh terkekeh pelan. "Untuk apa aku mengikutimu?" Tanyanya balik.


Vallery memutar bola matanya malas.


"Vall, kau yang memintaku menjauhimu, bukan? Aku tidak mengikutimu." Kata Josh.


"What ever..." Timpal Vallery malas.


Mobil Josh memasuki basement sebuah Apartment mewah. Vallery mengernyit heran dan menatap Josh seketika.


"Kita kemana?" Tanyanya.


"Apartemenku."


"Kau tinggal disini?"


Josh mengangguk dan mobilnya berhenti.


"Keluarlah.." kata Josh seraya membuka seatbeltnya. Vallery diam dan menurut. Mereka keluar dari mobil bersamaan, kemudian Josh berjalan memasuki lift diikuti oleh Vallery.


"Kau tidak takut aku akan macam-macam padamu?" Goda Josh saat mereka memasuki lift dan pintu besi itupun tertutup rapat. Hanya ada mereka berdua didalam lift.


Vallery menggeleng sebagai jawaban untuk Josh.


Josh tersenyum miring seraya menekan angka 22. Lantai tempatnya tinggal.


"Tapi aku normal. Aku lelaki dan kau seorang gadis." Katanya seraya terkekeh.


"Terserahlah.. aku tidak peduli." Kata Vallery.


"Kau aneh. Tadi kau ketakutan di Club, sekarang kau malah pasrah bersamaku." Ejek Josh.


"Memangnya kau bisa apa?" Ejek Vallery.


Josh terdiam, ucapan Vallery cukup mengganggunya. Sedetik kemudian, dia sudah mengungkung Vallery disudut lift. Vallery mendadak pias dengan apa yang Josh lakukan.


"J-Josh kau mau apa?" Tanya Vall gugup.


...To be continue...