My Another Love

My Another Love
It's oke



"Ada apa?" Vallery terhenyak dari duduknya yang nyaman di jok belakang, karena tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Dimitri berhenti secara mendadak.


Dimitri menggelengkan kepala pelan sebagai isyarat bahwa sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.


"Miss, keluar dari mobil dan larilah sejauh manapun yang kau bisa." Dimitri menyerahkan sebuah pistol pada Vallery. Lalu dia keluar dari mobil setelah seseorang mengetuk jendela mobil secara berulang dengan nada tidak sabar.


Vallery terdiam dengan mulut yang sedikit menganga akibat rasa terkejutnya, disaat bersamaan pula dia melihat Dimitri yang diserang oleh beberapa orang tidak dikenal.


Suara pistol beberapa kali terdengar dan Vallery tahu jika Dimitri sedang mengalihkan perhatian orang-orang itu didepan sana, karena Dimitri sendiri belum terlihat menembak. Dia terlihat berlari menghindar dari serbuan tembakan--menjauhi mobil untuk memancing semua orang menuju kearahnya dan memberikan waktu untuk Vallery agar segera kabur.


Vallery memindai sekelilingnya, mereka berada dikawasan senyap dan sepi dari tempat tinggal penduduk. Ini lebih seperti jalanan lintas yang kiri-kanannya dipenuhi pepohonan dan aspal yang lurus. Vallery sendiri tidak mengetahui dimana letak kantor Josh--karena tadinya Dimitri akan mengantarkannya bertemu Josh disana.


Vallery memasukkan pistol pemberian Dimitri kedalam saku blazer-nya. Secara perlahan dan mengendap-endap, dia keluar dari mobil itu. Tentu saja dia tidak bisa menutupi rasa ketakutannya.


Vallery berlari cepat menuju rerimbunan pohon, diraihnya ponsel dalam saku celananya dengan tangan gemetaran karena menyaksikan perkelahian Dimitri dengan beberapa orang berbadan tegap didepan sana. Nafasnya mendadak tersengal-sengal karena dia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Lalu, diapun menghubungi Josh saat itu juga dengan nafas yang memburu. Rasanya dia ingin menangis, tapi ini bukan saat yang tepat.


"Oh God ... selamatkan aku." Batinnya.


Setelah berhasil menghubungi Josh dan memberitahu keadaan mereka. Dia pun hendak mengirim lokasi terkini sesuai pesan yang Josh katakan, tapi belum sempat mengirim pesannya dia harus dikejutkan dengan suara motor yang berhenti tepat disamping mobil yang tadi membawanya.


Vallery mengintip dari tempat persembunyiannya, dia melihat dua pria asing lain tiba dengan menggunakan motor besar. Mereka menelisik lewat jendela mobil, seperti mencari-cari sesuatu.


Apa mereka mencariku?-batin Vallery.


Tak lama, Dimitri sudah tiba didepan mobilnya seorang diri, meninggalkan beberapa orang lawannya tadi-- yang mungkin sudah tewas ditangannya dibelakang sana, karena tidak terhitung berapa kali suara pistol terdengar dari tadi.


Dua pria asing itu melihat Dimitri kembali. Sepertinya mereka adalah satu komplotan dengan beberapa orang yang lebih dulu menghadang mobil tadi.


Entah apa yang mereka bicarakan dengan Dimitri, lalu satu orang diantara mereka pergi dari sana.


Vallery memutuskan untuk duduk meringkuk dibalik pepohonan itu. Tapi, kesenyapan itu terjadi tidak terlalu lama, karena dia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya.


Ternyata itu adalah pria asing yang tadi pergi dari hadapan Dimitri--kini malah berdiri tak jauh dari tempat Vallery berada. Pria itu melirik Vallery dari balik helm yang ia kenakan. Vallery tampak terduduk dengan tubuh bergetar. "Ikut aku!" ketusnya, namun Vallery tak bergeming. Vallery semakin meringkuk menutupi tubuhnya sendiri.


Pria asing itu menunggu Vallery dengan tidak sabar, dia segera menarik paksa tangan Vallery hingga gadis itupun berdiri dan keluar dari tempat persembunyiannya.


Dimitri mengeluarkan pis tol dari saku dalam jas-nya saat melihat kehadiran Vallery yang ditodong senjata oleh pria yang masih mengenakan helm-nya.


Dari jaraknya, Dimitri balik menodongkan pistol ke arah pria asing yang kini sudah merangkul leher Vallery dengan cara paksa.


"Lepaskan dia!" kata Dimitri mengingatkan sembari tangannya memegang pis tol yang siap dia tarik pelatuknya kapan saja. Mata Vallery membulat melihat kejadian ini didepan matanya dan dia sendiri sebagai sanderanya, tapi bukan itu yang harus menjadi fokusnya sekarang, karena kini dia harus fokus menyelamatkan diri dari pria disampingnya.


Pria asing itu tergelak dengan nada mengejek pada Dimitri. "Jadi dia benar-benar berharga?" cibirnya pada Dimitri yang berwajah datar.


"Perse tan dengan amanah Atasannya yang mengatakan jangan menembak orang dihadapan Vallery. Keselamatan Vallery sekarang jauh lebih penting, daripada penyamaran Josh didepan gadisnya ini. Biar saja Vallery tahu segalanya." Batin Dimitri.


Dimitri mendekat ke arah dimana Vallery yang sudah menjadi sandera lawannya.


Kini, hanya ada Dimitri, Vallery dan dua orang lawan yang tidak diketahui wajahnya karena masih ditutupi oleh Helm fullface. Yang satu menyandera Vallery dan yang satunya berdiri tak jauh dari Dimitri sambil bersedekap santai, seolah ingin menyaksikan saja perebutan seorang gadis antara kawan dan lawannya.


Vallery terlihat memasang wajah pias dan pasrah.


"Lepaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini." kata Dimitri masih mencoba bernegosiasi.


Pria asing disamping Vallery itu, menggeleng sambil tersenyum licik dari balik helm-nya.


"Apa maumu?" tanya Vallery dengan nafas yang memburu. Matanya melirik sekilas pada pria asing itu.


"Aku mau kau menjadi gadis penurut." kata pria itu seraya menyeringai penuh maksud, tapi tentu Vallery tidak melihat ekspresinya itu.


Vallery menelan salivanya dengan berat.


"Menurutmu, bagaimana jika atasanmu itu melihat gadisnya ini mati dihadapannya?" pria asing itu malah melontarkan pertanyaan lagi pada Dimitri yang masih menodongkan pistol kearahnya.


Dimitri hanya diam, matanya memberi isyarat pada Vallery, seolah mengatakan "Oh, ayolah! Jangan biarkan hal itu terjadi!"


"Ck, gerah sekali." Pria asing dibelakang tubuh Dimitri, lebih dulu membuka helm-nya. Memperlihatkan wajah yang sedari tadi dia tutupi dengan helm fullface.


Vallery melihat itu, dia merasa tak asing dengan pemilik wajah itu, mengingatkannya dengan seseorang, tapi siapa?


Akhirnya, Vall menghela nafasnya pendek-pendek, dia tidak mau mati mendadak dan tidak tahu alasan apa yang menyebabkan dia harus mati ditangan pria asing ini. Dia harus tetap hidup dan menanyakan pada Josh, kenapa harus ada hal seperti ini menimpa dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia memikirkan jalan keluar dan mengasah otaknya saat itu juga.


Disaat bersamaan dan tanpa diduga, Pria asing yang menyandera Vallery pun membuka helmnya dengan satu tangan yang tetap menodongkan pistol pada Vallery, dia seolah sengaja memperlihatkan jati dirinya pada gadis itu.


Mark tersenyum miring lalu menatap Dimitri yang selalu berwajah datar.


Dimitri melihat tatapan Mark-- yang seperti tengah mengejeknya. Dia tahu lelaki ini adalah kekasih Jesica.


Sia lan!


Dimitri pun memperhatikan secara diam, dia ingin mencari letak kelemahan lawannya dan dia mendapatkannya.


Dimitri menyadari Mark selalu memperhatikan pria yang ada dibelakang tubuhnya. Yah, mereka ada kemiripan dari segi fisik dan visual. Dimitri segera meraih tubuh pria muda dibelakangnya dan balik menjadikan pria itu sandera pula. Vallery menatapnya takjub.


Kini mereka sama-sama mempunyai sandera masing-masing.


"Apa-apaan kau?" tanya Mark, saat melihat Dimitri menyandera lelaki yang menjadi kawannya.


"Lepaskan Miss Vallery, atau aku akan menembak kepala saudaramu ini." kata Dimitri. Instingnya mengatakan bahwa Mark adalah saudara dari lelaki yang diajadikan sandera.


"Hahaha," Mark tertawa sumbang. "Tembak saja dia, Kau pikir aku akan melepaskan gadis ini demi menyelamatkan nyawanya." kata Mark bersikap seolah tak acuh. Ucapannya mengarah pada lelaki yang disandera Dimitri. Seolah-olah memang mereka bukan saudara seperti yang Dimitri katakan. Tapi Dimitri tahu dis berbohong.


"Well," kata Dimitri santai sembari menarik pelatuknya secara perlahan-lahan, matanya menatap tatapan nanar Mark yang masih menyandera Vallery. Jelas sangat terlihat, jika Mark takut kalau Dimitri akan menembak saudaranya.


Disaat yang sama, Dimitri mengedipkan matanya pada Vallery dan Vallery menangkap isyarat itu. Vall menginjak kaki Mark dengan kuat saat perhatian Mark tertuju pada lelaki muda yang disandera Dimitri-- hingga pistol yang ada ditangannya menembak ke arah atas, efek dari rasa sakit dikakinya yang muncul secara tiba-tiba akibat injakan dari Vallery.


Duar!!!


Suara pis tol yang mengeluarkan pelurunya ke udara pun menggema.


Vallery menepak tepat di selang kangan lelaki itu, membuat Mark terhenyak dan secara refleks memegang benda pusakanya.


"Breng sek kau!" umpat Vallery kesal seraya menendang jauh pistol milik Mark yang terjatuh agar masuk ke selokan.


Mark menatap Vallery dengan nyalang, dia ingin membalas perlakuan Vallery, tapi telat karena kini tanpa dia duga gadis itu malah balik menodongkan pistol kepadanya. Dia tidak menyangka jika Josh membekali Vallery dengan senjata. Yah, tepatnya senjata itu dia dapat dari Dimitri tadi, bukan dari Josh. ckckck!


"Vallery!" suara yang tak asing memanggil namanya saat dia sudah menodongkan pistol kearah Mark. Vallery menoleh ke arah orang yang memanggilnya dan itu adalah Josh.


"Mark ..." suara familiar lain juga menyebut nama Mark dengan lirih, dan itu adalah Jesica.


Vallery segera melemparkan pistolnya pada Dimitri dan pria itu menangkapnya dengan satu tangan.


Vallery pun menghambur pada tubuh Josh dan memeluknya erat.


Dilain sisi, Mark terpaku pada kehadiran Jesica.


"Jesi..." Mark menatap Jesica yang tadi memanggilnya dengan suara lirih.


"Pe cundang!" umpat Jesica pada Mark. Jesica beringsut sedikit, lalu tanpa diduga dia justru mengeluarkan pistol miliknya, menodongkan kepada Mark dengan deraian airmata.


Mark mengangkat kedua tangannya, dia tidak melawan Jesica, seakan-akan bersikap pasrah apapun yang akan dilakukan Jesica terhadapnya.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Josh ke arah Jesica. "Bunuh dia!" lanjutnya tanpa ada rasa iba. Vallery yang berada didalam dekapan Josh pun merinding mendengar penuturan kekasihnya itu. Dia cukup syok.


Jesica yang memegang pistolnya dengan tangan bergetar dan serbuan airmata yang sudah membasahi pipi, menarik pelatuk dengan sangat perlahan.


"No! Jesi!" Pekik seseorang yang ternyata masih disandera oleh Dimitri. Dia adalah Jonas-adik Mark. "Mark benar-benar mencintaimu. Jangan lakukan itu!" lanjut Jonas.


Terdengar suara tawa sumbang yang dikeluarkan oleh Josh.


"Terserahmu saja." kata Josh pada Jesica yang kini terlihat semakin ragu-ragu, Josh pun menarik tangan Vallery menuju mobilnya dan pergi dari sana.


Dimitri menatap Jesica, ada kekecewaan dimatanya dan Jesica tidak berani membalas tatapan itu. Tangannya masih lurus dengan pistol yang mengarah ke wajah Mark.


Dimitri memahami ini, dia segera mengambil alih keadaan saat melihat orang-orang dari Clan Greselle yang juga tiba disana bersamaan dengan kedatangan Josh dan Jesica tadi.


"Urus mereka berdua!" titah Dimitri pada orang-orang bawahannya.


Setelah Mark dan Jonas diurus oleh orang-orang mereka, Dimitri mendekati Jesica yang mematung ditempatnya.


"It's oke, Jes. Mari kita pulang!" kata Dimitri lembut dan Jesica hanya menatapnya dengan pandangan kesal.


...To be continue ......