
Josh turun dari mobilnya, dia membuka kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.
Pemandangan itu bagai slow motion, seolah bergerak perlahan dan sangat menyegarkan mata siapapun yang melihatnya.
Lelaki dengan perawakan tampan baru saja tiba.
Dari luar gerbang, Josh sudah bisa melihat keberadaan Vallery dan Sophia. Mereka tengah menatap kearah Josh seraya mengobrol. Tapi, ada seorang lelaki diantara mereka, yang sedang Josh pertanyakan siapakah lelaki itu?
Mungkin itu adalah Kakak lelaki Vallery atau kekasih Sophia. Entahlah..
Josh tidak mau memikirkan kemungkinan jika lelaki itu adalah kekasih Vallery. Dia tidak mau membayangkannya.
Josh melihat pada seorang lelaki penjaga gerbang. Dia memberi tahu bahwa dia adalah teman Vallery dan dengan sopan penjaga gerbang itu mengangguk lalu membuka gerbangnya.
Josh memutuskan tidak kembali memasuki mobilnya, dia lebih memilih berjalan santai untuk menghampiri tempat Vallery dan Sophia berada.
Dari sisi lain, Ed meyakini pernah melihat lelaki yang ada dihadapannya ini. Dia berpikir cepat dan langsung tahu jawabannya. Lelaki ini adalah lelaki yang sama dengan yang pernah dia lihat beberapa waktu lalu--yang pernah mengantarkan Vallery pulang dipagi buta.
Penampilannya kali ini berbeda, jika beberapa waktu lalu Ed melihatnya dengan setelan jas mahal yang rapi, kali ini dia datang dengan outfit yang casual. Lelaki itu mengenakan T-shirt navi berkerah sebagai atasan, celana jeans dan sepatu sneakers. Penampilan biasa tapi entah kenapa dia nampak luar biasa.
Heh, Aura penakluk wanita sangat terpancar dari tampangnya.
Dari jauh, Ed sudah melihatnya mengumbar senyum kearah mereka. Lebih tepatnya kepada Vallery.
Hah, siapa dia sebenarnya?
Ed sempat mendengar Sophia menyebut-nyebut lelaki bernama Josh semalam. Lelaki yang Sophia bilang menyukai Vallery. Benarkah lelaki yang tengah berjalan menghampiri mereka ini adalah yang bernama Josh?
"Josh, ada apa kau kemari?" Suara tanya Vallery pada lelaki itu seolah menjawab rasa ingin tahu Ed.
Ternyata benar dia adalah pemuda itu.
Josh tersenyum sekilas. "Aku ingin menjemputmu." jawabnya.
Ed masih bergeming dan menilai sosok dihadapannya. Nyaris sempurna malah jauh dari kata buruk. Ed menerka-nerka siapa dan apa pekerjaan lelaki ini? Dia juga membanding-bandingkan dengan dirinya sendiri.
Josh menyapa Sophia dan tiba-tiba Josh juga menatap Ed lalu mengurai senyuman.
"Hallo ..." sapanya, Ed pun mengangguk kecil.
"Ah, Josh--ini adalah Kak Edward. Dia Kakak iparku." kata Vallery memperkenalkan.
Josh bernafas lega mendengar status lelaki itu dari mulut Vallery.
Dia adalah kakak ipar Vall.-batin Josh.
Josh mengulurkan tangannya pada Ed dengan seberkas senyuman yang tidak surut dari bibirnya.
"Nice to meet you, Ed." sapa Josh ramah.
Mau tidak mau, Ed menyambut juga uluran tangan itu.
"Nice to meet you,--" Ed sengaja menggantung kalimatnya, seolah tengah berpikir tentang nama Josh, pura-pura tak mengingat nama lelaki itu, padahal dari saat Sophia menyinggung nama Josh dimobilnya malam tadi, nama itu sudah dihafalnya luar kepala.
"Aku Josh." Kata Josh menyebutkan namanya.
"Ah ya, Nice to meet you too, Josh." kata Ed.
Josh mengangguk dan beralih.
"Baiklah, ayo berangkat. Aku akan mengantarmu ke kampus." kata Josh menatap Vallery.
Vallery bersuara. "Sophi?" tanyanya polos seraya melirik ke arah mobil Josh yang terparkir. Mobil itu hanya memiliki double cabin, itu artinya tidak akan bisa menampung Sophia juga didalamnya.
"Ada baiknya kalian berangkat dengan mobilku saja." sela Ed tiba-tiba.
Ucapan Ed membuat Josh kembali menatap Ed, dia melihat tatapan Ed yang aneh terhadapnya.
Vallery dan Sophia saling memandang satu sama lain. Vallery menggeleng pada Sophia sebagai isyarat bahwa dia tidak mau ikut dengan Ed, akhirnya Sophia pun mengambil alih keadaan.
"Em, em.. bagaimana jika kalian duluan saja ke kampusnya. Aku ingin membeli sesuatu, yah aku ada keperluan. Aku bisa naik Bis, nanti aku akan menyusul," kilah Sophia mengerti permintaan Vallery.
"Apa tidak masalah?" timpal Vallery yang diangguki Josh.
Sophia menggeleng, "Tidak, apa-apa. Kau pergilah bersama Josh. Jangan repotkan Kakak iparmu, dia juga harus berangkat bekerja, Vall." Jawab Sophia seraya melirik Ed yang tak bisa menyangkal lagi ucapannya.
Josh tersenyum licik melihat wajah Ed yang berubah suram. Dia ingin menarik sebuah kesimpulan tentang Ed, tapi dia takut membayangkannya.
"Bagaimana jika ku pesankan Taxi." tawar Josh pada Sophia.
"Tidak usah, tidak apa-apa. Nikmati hari kalian." jawab Sophia tulus, sesungguhnya dia juga senang jika Vall dekat dengan Josh daripada terlibat Affair dengan Ed seperti dalam pikirannya.
Karena semua mendadak diam, Sophia pun mengambil kesempatan untuk berlari kecil seraya melambaikan tangannya.
"Bye Vall, Josh.. Sampai bertemu di kampus." jerit Sophia sambil terkekeh senang. Diapun keluar dari gerbang rumah itu.
Sedangkan Josh, mengambil kesempatan itu untuk menarik tangan Vallery dalam genggamannya. Vallery tercengang namun dia diam saja dan mengikuti langkah Josh yang menggandeng tangannya menuju mobil. Mereka meninggalkan Ed sendirian--yang terdiam seribu bahasa ditempatnya.
Josh membukakan pintu untuk Vallery. Setelah Vallery masuk, Josh pun segera mengitari mobilnya untuk mencapai posisi kemudi. Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya, Josh menoleh pada Ed yang terdiam membisu tanpa kata lagi.
Yah, tentu Vallery tadi melihatnya bukan? Dan sekarang dia yang harus menyaksikan kejadian yang sama tapi dilakukan oleh orang yang berbeda.
Jika tadi dia dan Alexa adalah pelakunya dan Vallery yang menyaksikan. Sekarang keadaannya berbalik. Seperti tengah mengejeknya.
"Kami pergi, Ed." pekik Josh dari depan gerbang dan Ed hanya bisa mengangguk tanpa bisa mencegah. Lagi-lagi ucapan Josh itu seperti tengah mengejeknya.
Mobil yang dikemudikan Josh pun perlahan-lahan mulai bergerak dari sana. Menyisakan Ed sendiri dengan kekesalan hatinya yang tidak bisa berbuat apapun untuk menghalau kepergian Vallery bersama lelaki lain.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Apa Ed benar-benar kakak iparmu?" tanya Josh ragu, saat itu mobil mulai meninggalkan kediaman Vallery.
Vallery menoleh sekilas kearah Josh yang tengah mengemudi. Alisnya tertaut satu sama lain, heran dengan pertanyaan Josh yang terkesan aneh. Apa Josh bisa membaca kecanggungan antara Vall dan Ed saat dirumah tadi, sehingga dia bisa menyimpulkan sesuatu?
"Ya, dia suami Kakakku." jawab Vallery santai.
Josh mengangguk-angguk.
"Kau sudah sarapan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan tadi yang terkesan absurd.
"Sudah.."
"Baguslah." Josh kembali fokus menatap jalanan, tidak ada pembicaraan berarti diantara keduanya sampai Vallery kembali bersuara.
"Kenapa kau menjemputku hari ini? Ah ya, aku juga mendengar kau mencariku sore kemarin di kampus." tanya Vallery.
"Sebenarnya aku ingin mengembalikan dressmu," jawab Josh seraya mengendikkan dagu ke arah Paper bag yang tergeletak di dashboard mobilnya.
Vallery mengernyit. "Dress? Dress apa?" tanyanya.
"Kau lupa jika telah meninggalkan Dress itu saat menginap di Apart."
Vallery menepuk jidatnya. "Oh my, ya ya ya.. aku melupakan dress itu. Itu milik Jesica." Vallery meraih paper bag, membukanya dan melihat dress itu dengan perasaan lega.
"Sudah di loundry dan bisa segera kau kembalikan padanya." kata Josh seraya tersenyum kecil.
"Thank's..."
"You're welcome. Tapi kau tahu kan jika aku tidak menerima ucapan terima kasih?" kata Josh dengan seringaian liciknya.
Vallery hanya memutar bola mata malas. Gadis itupun terdiam dan dia jadi berpikir jika ucapan Sophia tempo hari adalah sebuah kesalahan. Sophia justru mengira jika Josh menyukai Vallery karena mencarinya.
Hah, berlebihan sekali !
Nyatanya lelaki ini hanya ingin mengembalikan dress yang tertinggal. Bahkan Vallery pun melupakan dressnya karena dia merasa tidak memiliki dress itu. Wajar saja, karena dress itu memang milik Jesica.
"Apa aku boleh bertanya?" celetuk Vallery tiba-tiba.
"Hmmm..."
"Kenapa di Apart mu ada baju perempuan? Kapan kau membelinya? Itu bahkan masih baru saat akan ku pakai." Vallery menanyakan sesuatu yang cukup membuatnya penasaran.
Josh diam sejenak, melajukan mobilnya kembali saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
"Itu punya Adikku." kata Josh lirih.
"Kau punya Adik?" tanya Vall cepat.
"Yah, Adik tiriku," jawab Josh. "Ayahku menginginkan agar kami bisa dekat lagi sebagai kakak adik." lirih Josh.
"Lagi? Maksudnya?"
Josh menghela nafasnya sejenak. "Saat masih anak-anak kami sangat dekat, Tapi sekarang kami berselisih paham. Ayah dan ibu tiriku berusaha mendamaikan kami. Kadang kami sengaja dipertemukan oleh orangtua kami, berniat untuk mendamaikan. Tapi sayang semuanya selalu berakhir dengan pertengkaran." kata Josh menjelaskan.
"Apa yang membuat kalian berselisih paham?" tanya Vallery lagi.
Josh tersenyum sekilas. "Kau mau tahu?" tanyanya.
Vallery mengangguk cepat dengan wajah polosnya, membuat Josh mengacak rambut gadis itu.
Vallery mencebik, protes karena rambutnya menjadi kusut, namun Josh hanya menyeringai kecil.
"Aku terlalu banyak cerita padamu. Aku tidak pernah menceritakan tentang keluargaku pada orang lain."
"Hmmm, sorry." kata Vall tak enak hati, dia merasa lancang karena ingin tahu lebih banyak.
"It's oke, Vall. Kau akan tahu lebih banyak nantinya."
"Kenapa begitu?" tanya Vall heran.
Josh kembali melengkungkan bibirnya. "'Cause you're special."
Vallery tersenyum miring mendengarnya. "Lalu apa cerita selanjutnya?" katanya.
"Tidak sekarang, next time--" jawab Josh dengan nada misterius. "Kau adalah gadis pertama yang mendengarkan tentang keluargaku." imbuhnya.
...To be continue ......