My Another Love

My Another Love
Beloved



Josh benar-benar menepati janjinya, dia menjemput Vallery di siang hari setelah Vallery mengiriminya pesan bahwa gadis itu sudah tidak ada kelas lagi hari ini.


"Apa sudah lama menungguku?" Josh menghampiri Vallery yang duduk sendirian di kursi taman.


Vallery menggeleng. "Belum lama," jawabnya.


"Kenapa kau tidak bersama Sophia?"


"Sophia sudah pulang hari ini, dia mengatakan akan ke Rumah Sakit."


"Oh ya, bagaimana keadaan Ibunya?"


"Aku belum melihatnya langsung, tapi kata Sophi alat-alat yang tersambung ke tubuh Ibunya tidak jadi dilepas."


Josh mengangguk sekilas. "Apa kau ingin menjenguknya?"


"Ya, nanti aku akan menyampaikan dulu pada Sophi..."


Josh dan Vallery pun berjalan lalu memasuki mobil. Tidak peduli dengan banyak pasang mata yang selalu menatap mereka dengan berbagai komentar setelahnya. Syukurnya Vallery orang yang cuek dan Josh adalah orang yang tidak mau mengurusi hal semacam itu.


Dari kejauhan, seorang gadis melihat kebersamaan mereka. Sebuah senyuman tersungging dari ujung bibirnya lalu dia pun pergi.


Josh mulai melajukan mobilnya lagi, sesekali dia melihat Vallery yang diam dan tampak memperhatikannya.


"Kenapa? Apa aku begitu tampan sampai kau melihatku tidak berkedip seperti itu?" Tanya Josh menggoda gadis yang duduk disebelahnya.


Vallery memutar bola matanya. "Josh, bisakah aku menanyakan sesuatu tentangmu?"


Josh mengangguk berulang dengan wajah tanpa ekspresi. Dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Vallery.


"Josh, siapa kau sebenarnya?" Tanya Vallery dengan raut wajah ragu.


Josh tahu, cepat atau lambat Vallery pasti akan menanyakan hal ini padanya. Apalagi setelah kejadian tempo hari saat Edward terang-terangan meminta Vallery menjauhinya dengan alasan bahwa Josh bukan lelaki yang baik untuk Vallery. Vallery pasti bertanya-tanya tentang siapa dia sebenarnya.


"Siapa aku? Tentu saja aku Josh. Apalagi?" Jawab Josh enteng seraya mengendikkan bahunya.


"Bukan itu maksudku, Josh. Kau pasti memahaminya ..." Lirih Vallery.


"Apa yang ingin kau tahu tentangku? Tanyakanlah dan aku akan menjawabnya." Ucap Josh cepat.


"Pastikan kau menjawabnya dengan jujur." Kata Vallery mewanti-wanti lelaki itu.


Josh kembali mengangguk.


"Josh, aku ingin tahu tentang dirimu, pekerjaanmu, dan kenapa kau tidak pernah masuk kuliah lagi, hemm?"


Josh melipat bibirnya menjadi sebuah garis lurus, kemudian dia menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Vall, hidupku tidak menarik. Pekerjaanku melanjutkan bisnis Ayah, dan kuliahku disini masih ku jalani walau aku sering bolos."


Jawaban dari Josh benar-benar tidak memuaskan rasa ingin tahu Vallery. Dia kembali bersuara.


"Bagaimana dengan keluargamu?"


"Keluargaku di Rusia. Dulu aku memang tinggal disini, tapi kami pindah kesana dan memulai hidup baru. Tapi disini ada usaha Ayahku yang harus ku tangani, jadi aku kembali kesini sekaligus mengawasi Adik tiriku." Jelas Josh seraya tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Jadi Adik tirimu ada dikota ini?"


"Begitulah..." Jawab Josh tidak tertarik.


Vallery mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu, apa yang kau maksud dengan memulai hidup baru?" Selidik Vallery.


Josh tersenyum miring, lalu dia menghentikan mobilnya dipelataran Restoran yang tidak terlalu jauh dari kampus.


"Ayo kita turun," katanya seraya membuka seatbelt. Josh ingin mengalihkan pertanyaan Vallery.


Vallery mencegat tangan Josh yang akan membuka pintu mobil dan beranjak keluar dari mobilnya. "Please Josh.. jawab semuanya dengan jujur." Kata Vallery memelas.


Josh menghela nafas berat. "Kau akan tahu, tapi tidak sekarang. Tidak untuk saat ini." Imbuh Josh.


"Kenapa?" Desak Vallery.


Josh tidak tahan melihat wajah Vallery yang penuh harap seperti ini. Dia ingin jujur dan mengakui semuanya tapi diapun belum siap jika Vallery akan menolak kenyataan jika dia tahu siapa Josh yang sebenarnya.


Josh menggeleng pelan. "Belum saatnya kau tahu." Jawabnya lembut.


"Josh, aku mendengar dari seseorang bahwa kau bukanlah lelaki yang baik. Aku ingin menyangkal itu, tapi aku sendiri tidak tahu kenyataan tentang hidupmu." Cecar Vallery dihadapan Josh.


Josh terkesima dengan penuturan terbuka dari bibir gadis itu. "Kenapa kau ingin menyangkalnya?" Tanya Josh.


"Karena yang aku tahu kau adalah orang yang baik."


Josh menggeleng. "Aku tidak sebaik yang kau kira, Vall." Josh mendesahh. "I'm not a good Man, it's true ..." Josh memijat pelipisnya sendiri.


"Josh, tapi setelah aku mengenalmu kau adalah orang yang baik. Kau menolong Sophia, kau juga membantuku. Kau lelaki yang baik."


"Apakah aku lelaki yang baik untukmu?" Tanya Josh dengan intonasi sedikit naik.


"Yes, of course ..." Jawab Vallery mantap.


"Baiklah, jika kau memang menganggapku begitu. Simpan itu untuk dirimu sendiri." Kata Josh.


"Why?" Tanya Vallery nyaris berbisik.


"Mungkin karena aku hanya akan menjadi lelaki baik didepanmu."


"Josh..."


"Ayo turun." Josh sudah membuka pintu mobil dan keluar. Vallery menyusul untuk mengikuti langkah Josh. Dia masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya Josh maksudkan? Kenapa Josh malah mengakui jika dia memang bukan lelaki baik. Tapi bagi Vallery, Josh tetap lelaki baik yang sangat hangat, apalagi setelah kebersamaan mereka pagi tadi. Josh bahkan mampu membuatnya tertawa, padahal Vallery sendiri lupa kapan dia bisa tertawa selepas itu.


"Kenapa kita kesini?" Tanya Vallery saat Josh sudah mendorong pintu kaca restoran.


"Aku lapar dan kau juga harus makan." Sahutnya.


Mereka melangkah masuk kedalam Restoran itu dan memesan beberapa makanan. Josh tampak banyak diam sementara Vallery yang biasanya diam malah seperti banyak pertanyaan dikepalanya mengenai lelaki dihadapannya.


"Ada yang ingin kau tanyakan lagi?" Tanya Josh pada Vallery yang terlihat salah tingkah.


Vallery menggeleng.


"Baiklah," kata Josh singkat.


Vallery memutuskan mengabaikan Josh, dia menelisik ke seluruh ruangan Restoran yang bergaya klasik itu. Sedangkan Josh sendiri, dia membuka gadget-nya, mengirim pesan pada Dimitri untuk menanyakan perkembangan bisnis mereka.


"Josh, bolehkah aku tahu kau menganggapku sebagai apa?" Celetuk Vallery tiba-tiba, membuat Josh mengalihkan pandangannya kearah gadis itu.


Vallery berdecak. "Selain itu?"


"Apakah itu penting?" Tanya Josh sambil mengernyit.


Vallery mengangguk. "Aku ingin sebuah kejelasan. Jika kau hanya menganggapku sebagai Adik atau sau---"


"Adik apanya? Apa-apaan kau ini! Kita bahkan berciuman, bagaimana mungkin aku menganggapmu Adikku." Sergah Josh membuat Vallery terkejut, dia menanyakan itu karena dia tidak mau Josh mengasihaninya atau bahkan menganggapnya seorang Adik seperti Edward yang pernah mengatakan hal yang sama.


"Sorry," kata Vallery lesu.


Josh mendengus. "Dengar, jika kau butuh kejelasan akan semua ini. Baiklah, mulai sekarang kau adalah kekasihku. Kau paham, hmm?"


Vallery mengedip-ngedipkan matanya karena tertegun dengan jawaban enteng dari mulut Josh itu.


"Kau dengar aku, Vall?" Josh mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyadarkan Vallery.


"Y-yah..." Jawab Vallery gugup.


Josh tersenyum miring. "Tadi kau minta kejelasan, setelah ku jelaskan kau jadi diam begini.." kata Josh mengulumm senyum.


"Aku hanya terkejut.."


"Apanya yang terkejut? Bahkan saat ku cium kau tidak terkejut." Kata Josh enteng.


"Josh, jangan bahas itu disini itu memalukan!" hardiknya.


"Memalukan apanya? Aku bahkan bisa menciummu disini sekarang juga!" Seru Josh membuat mata Vallery membola.


Josh terkekeh, lalu seorang pelayan menghampiri seraya menyajikan makanan pesanan mereka.


"Makan yang banyak, Baby..." Kata Josh semringah.


Vallery benar-benar merona mendengar ucapan Josh. Salah sendiri dia yang meminta kejelasan itu pada Josh, jadi dia harus menerima akibatnya sekarang. Akibat yang dengan senang hati untuk diterimanya. Josh bahkan tidak canggung sama sekali setelah pernyataannya tadi.


Mereka makan dalam keheningan, saling berdebat dengan pikiran masing-masing. Vallery dengan pikirannya yang entah kenapa menjadi senang karena kejelasan status dari Josh. Sedangkan Josh merutuki dirinya sendiri karena akhirnya dia tidak bisa lagi menahan perasaannya dan malah menjadikan Vallery sebagai kekasihnya.


"Bisakah aku berkenalan dengan Adikmu kapan-kapan?" Tanya Vallery tiba-tiba.


Josh tersedak makanannya sendiri, Vallery terkejut dan memberi Josh air minum.


"Untuk apa?"


"Bukankah aku kekasihmu sekarang?" Tanya Vallery dengan polosnya.


"Aku memiliki hubungan kurang baik dengannya, kau tahu itu kan?"


Vallery mengangguk. "Tapi aku ingin mengenalnya, Josh."


"Baiklah, baiklah sesuai permintaanmu saja." Jawab Josh pada akhirnya.


Mereka melakukan sesi makan siang itu dengan perasaan bahagia dimasing-masing hati. Saat hendak keluar dari Restoran itu, Josh yang sudah terlanjur mengakui status yang juga dia inginkan terhadap Vallery, dengan tidak sabar langsung menunjukkan sikap protectiv-nya. Dia menggandeng tangan Vallery erat dan mereka berjalan beriringan keluar dari Restoran.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Alexa menelepon Vallery, mengatakan ingin mengadakan makan malam dirumah mereka karena Vallery sudah cukup lama tidak pulang ke rumah.


Vallery sebenarnya tidak mau, karena dia harus bertemu Edward lagi. Dia benar-benar ingin menghindari Edward sejak pernyataan Edward soal ingin meninggalkan Alexa demi dirinya.


Walaupun sejak kejadian itu Ed tidak pernah muncul kembali, tapi Vall paham jika Ed tengah menata perasaannya. Vall cuma berharap Ed bisa menerima kenyataan bahwa Alexa lah yang harusnya dia harapkan, bukan Vallery.


Karena tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menolak permintaan kakaknya, akhirnya Vallery mengiyakan ajakan makan malam itu.


Vallery bersiap-siap, dia keluar kamar dalam keadaan rapi. Dia menggunakan dress selutut berwarna peach. Mengikat sebagian rambutnya dibagian atas lalu menyisakan sedikit agar tergerai indah.


"Astaga..." Vallery memegangi dadanya akibat terkejut. Dia melihat Josh yang dengan santai berselonjor di sofa samnil menonton tv. Dia pikir Josh sudah pulang setelah mengantarnya tadi, ternyata Josh masih berada di Apartemen itu. Vallery tidak sadar karena dia sibuk dengan tugas skripsinya di kamar, dia tidak keluar kamar lagi dan juga Josh memang tidak mengganggunya seharian ini.


Josh mengernyit, menatap penampilan Vallery yang rapi. Walau selalu cantik di indera penglihatannya, tapi saat ini Josh yakin jika Vallery akan pergi.


"Mau kemana?" Tanyanya menyelidik.


"Kau masih disini? Aku pikir kau pulang." Kata Vallery mengacuhkan pertanyaan Josh.


Josh mengangguk samar. "Mau kemana? Rapi sekali seperti akan berkencan saja." Kelakar Josh.


"Aku akan makan malam dirumah bersama kakak. Dia memintaku datang."


Mendengar itu, Josh langsung terduduk tegap. Kaki yang awalnya diselonjorkan pun sudah nampak cecah ke lantai. Dia menatap Vallery lekat-lekat.


"Apa kekasihmu boleh ikut?" Tanyanya serius.


Vallery terkekeh. "Memangnya kau mau ikut?" Katanya balik bertanya.


"Yes, Baby ..." Sahut Josh secepat kilat. Bagaimana mungkin dia membiarkan Vallery berkunjung seorang diri ke rumah yang ada Edward didalamnya. Dia akan menyesal seumur hidup jika itu sampai terjadi.


Vallery mengangguk. "Baiklah, aku tunggu disini. Tapi apa kau punya baju ganti?" Tanya Vallery, dia pikir disini tidak ada pakaian ganti milik Josh lagi karena Apartemen ini telah lama dikosongkan oleh lelaki itu.


"Aku akan menelepon Asistenku. Dia akan membawakanku setelan." Kata Josh seraya mengotak-atik ponselnya.


"Dimitri, kirimkan pakaianku ke Apartemen lamaku." Titahnya setelah sambungan teleponnya tersambung ke sang Asisten.


"......"


"Tidak usah, Aku tunggu kau dalam 15 menit." Ucapnya lalu memutus panggilan begitu saja.


Vallery yang masih berdiri ditempatnya tercengang melihat Josh. Ini kali pertamanya mendengar Josh menelepon sang Asisten. Menurutnya, Josh pastilah atasan yang sangat Arrogant.


"Pasti Asistenmu sangat sabar menghadapimu." Cibir Vallery.


Josh terkekeh. "Aku mandi dulu. Dia akan datang 15 menit lagi." Josh hendak mengacak rambut Vallery seperti biasanya, tapi Vallery yang sudah tahu kebiasaan lelaki itupun langsung menahan tangan kekar itu.


"No, Josh! Rambutku akan berantakan." Kata Vallery sambil menatap Josh tajam.


Josh tersenyum kecil. "Baiklah," katanya singkat lalu hendak melangkah meninggalkan Vallery menuju kamar mandi. Tapi bukan Josh namanya jika dia membiarkan Vallery begitu saja, dia mundur selangkah lebar, mendekati kembali posisi Vallery yang masih berdiri ditempatnya dan ...


Cup!!


Josh mengecup bibir Vallery sekilas, mencuri ciumannya--membuat Vallery membeku dan terkejut karena aksi spontan lelaki itu yang sulit ditebak.


Josh terkekeh melihat wajah merah Vallery. Dia bergerak cepat ke kamar mandi sebelum akhirnya Vallery memekik. "Josh !!!" Teriaknya.


Josh terkekeh kencang sambil menutup pintu kamar mandi.


...To be continue ......