My Another Love

My Another Love
As a result



Vallery benar-benar melewatkan makan malamnya, dia terlalu malu dengan Sophia. Vallery tertidur dan bangun di pagi harinya. Saat bangun, hal pertama yang dia ingat adalah kejadian kemarin. Dia menyadari sikap agresifnya pada Josh, membuatnya gugup jika harus bertemu dengan Josh lagi.


Tapi syukurnya Josh telah mengatakan jika dia akan pergi selama seminggu ke Rusia, jadi Vallery bisa bersikap biasa saja jika mereka bertemu lagi di minggu berikutnya.


Vallery beranjak menuju kamar mandi, dia mandi pagi-pagi sekali. Sophia sudah tidak berada dikamar, mungkin di dapur atau sedang pergi keluar.


Vallery menyelesaikan kegiatan mandinya dengan cepat, dia hanya mengenakan hotspan dan kaos putih longgar.



Vallery menuju dapur untuk minum segelas air putih dipagi hari. Saat Vallery melewati kulkas, dia melihat secarik memo yang ditempelkan disana. Rupanya itu adalah pesan dari Sophia.


^^^"Aku membuatkanmu omelet, makanlah! Aku pergi mencari pekerjaan sampingan." -Sophi-^^^


Vallery baru ingat ini adalah hari Sabtu dan mereka libur kuliah.


Vallery menuju meja makan dan dia memakan omelet buatan Sophia dengan lahap, dia lumayan lapar karena dia tidak makan malam tadi.


Suara bel Apartemen terdengar dan Vallery menuju pintu dengan malas-malasan.


Vallery terkejut saat membuka pintu, ternyata Josh yang berdiri disana dengan penampilan yang rapi. Ini kali kedua Vallery melihat Josh mengenakan setelan jas seperti ini. Dia benar-benar terlihat tampan dan Manly.


"Ke-kenapa kau kesini?" tanya Vallery gugup.


"Ini Apartemenku juga, jika kau lupa!" Josh pun masuk tanpa dipersilahkan, lalu duduk di sofa dengan santai, menyilangkan sebelah kaki seraya menatap lurus kearah Vallery yang tercengang akibat kelakuan lelaki itu.


Vallery masih berdiri canggung dihadapan Josh. Dia mengira mereka akan bertemu minggu depan jadi rasa gugupnya pasti sudah hilang, ternyata pagi-pagi sekali lelaki ini sudah datang kesini.


"Bukankah kau bilang akan pergi ke Rusia?" tanya Vallery heran.


"Ya, pesawatku berangkat jam 10," kata Josh enteng.


"Mana Sophi?"


"Dia mencari pekerjaan sampingan." jawab Vallery sambil berjalan kedapur, dia belum menyelesaikan sarapannya.


Josh mengikuti Vallery dan duduk disampingnya di meja makan.


"Kau makan apa?" Josh bertanya sambil melihat isi piring Vallery.


"Kau mau?" Vallery bertanya sambil mengacungkan garpu yang berisi potongan omelet tapi Josh sudah melahap itu dari garpunya.


"Boleh juga." jawabnya telat seraya mengunyah. Vallery hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Mereka sarapan bersama, berbagi omelet dengan garpu yang sama. Tidak bisa mengenyangkan keduanya namun membuat perasaan mereka menghangat satu sama lain.


Saat Vallery berdiri untuk membersihkan meja makan, pinggangnya ditarik oleh Josh, membuatnya terduduk di pangkuan lelaki itu dengan kedua tangan yang masih diisi oleh piring dan gelas di kiri-kanan.


"Josh.." Vallery ingin bangkit tapi Josh menahannya.


"Jangan banyak bergerak, Vall. Itu akan membahayakanmu." goda Josh.


Vallery berdecak lidah. "Pasti kau selalu seperti ini pada gadis-gadis yang kau dekati." kata Vallery sebal.


Josh terkekeh pelan. "Kau salah! Mereka yang menyerahkan diri padaku!" ucap Josh sok bijak.


"Ck! Aku mau mencuci piring!" kata Vallery sambil menunjukkan piring dan gelas yang masih berada di kiri-kanan tangannya. "Lepaskan aku!"


Josh melepaskan tautan tangannya yang melingkari pinggang Vallery dan gadis itu segera berlari menuju kitchen sink.


Saat Vallery tengah sibuk mencuci piringnya, Josh mulai bersuara kembali.


"Vall.." lirihnya.


"hmm?"


"Jangan dekat dengan lelaki manapun kecuali aku." kata Josh mengingatkan.


"Kau mendengarku, Vall?" tanyanya lagi.


Vallery mengangguk dan Josh mendekatinya.


"Inilah akibatnya jika kau sudah mengetahui perasaanku!" bisik Josh tepat ditelinga Vallery.


Vallery menoleh kearahnya dan Josh mencium bibir Vallery dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ini adalah ciuman kedua mereka setelah sebelumnya Vallery yang mencium Josh kemarin. Sepertinya Josh menyukai ciuman amatir dari bibir gadisnya.


Vallery pun tidak menghentikan ciuman itu begitu saja, jiwa kegadisannya membuatnya menikmati ini dan suatu kebohongan jika Vallery tidak tertarik pada Josh. Bahkan dipertemuan pertama mereka Vallery sudah termakan pesona lelaki itu, hanya saja dia yang selalu menghindar--karena menyadari kondisinya sendiri.


"Aku akan berangkat, Vall." kata Josh masih dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Vallery. Vallery mengangguk, tidak bisa berkata-kata lalu Josh mengecup kening dan hidung gadis itu dengan lembut.


Vallery melepas kepergian Josh begitu saja, kenapa dia semakin tak rela sekarang? Dia ingin mengucapkan kata-kata pada lelaki itu tapi bibirnya tercekat sejak perlakuan hangat yang diberikan oleh Josh beberapa saat lalu.


Vallery mengikuti langkah Josh yang sudah berjalan didepannya, Vallery ingin mengantar lelaki itu sampai depan pintu.


"Jaga dirimu baik-baik." Josh mengacak rambut Vallery sebelum pergi, itu adalah kebiasaannya entah sejak kapan.


Vallery hanya bisa mengangguk dan mengangguk, dia seperti terhipnotis oleh lelaki dihadapannya. Josh tersenyum simpul dan beranjak dari sana dengan langkahnya yang lebar.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Edward pulang kerumahnya disore hari.


Surprise!!


rumah kosong dan sepi. Tidak ada Alexa dan tidak ada Vallery. Jika Ed sudah terbiasa tanpa adanya Alexa di sore hari, tapi Ed belum terbiasa dengan kepindahan Vallery yang sudah dua hari ini tidak dilihatnya pada sore hari.


Edward mengendurkan ikatan dasinya secara asal, dia benar-benar tidak bisa melupakan Vallery begitu saja. Dia tidak terima dengan kepindahan Vallery, itu seperti Vallery menolaknya mentah-mentah.


Hah! Apa yang dia harapkan sebenarnya?


Pelayan dirumahnya datang menyajikan kopi kesukaannya diatas meja.


"Apa Vallery datang berkunjung hari ini?" tanya Ed pada pelayan itu. Dia sendiri tidak sadar sudah mengajukan pertanyaan yang blak-blakan seperti itu pada pelayannya.


Pelayan itu menggeleng. "Nona Vallery belum kesini lagi, Sir. Kemarin dia sempat pulang untuk mengambil barang-barangnya bersama laki-laki yang ikut makan malam bersama waktu itu." ucap pelayan itu sejelas-jelasnya.


Ed memijat pelipisnya karena dia tahu lelaki yang dimaksud Sang Pelayan adalah Josh.


"Thanks.." kata Ed seraya melambai-lambaikan tangannya sebagai isyarat agar pelayan itu pergi dari hadapannya.


"Kenapa di kepalaku hanya ada dia saja." gumam Ed. Dia pun membayangkan Vallery sedang ada dirumah ini. Membayangkan gadis itu tersenyum, menunduk bahkan mengingat saat Vall menantangnya.


Ed berfikir sejenak, lalu dia tersenyum miring. Diambilnya ponsel dan segera menghubungi Alexa.


"Ada apa, Honey?" tanya Alexa saat menerima telepon dari suaminya.


"Apa kau sibuk hari ini?"


"Sedikit..."


"Jam berapa kau akan tiba dirumah?"


"Kenapa sayang? Apa kau ingin mengajakku dinner?" tanya Alexa sambil terkikik.


Ed terdiam. Bukan itu rencananya, tapi dia memilih mengiyakan saja dan menyelipkan rencananya nanti. "Yah, apa kau mau, kebetulan ini Saturday Night?" tawar Ed dengan maksud terselubung.


"Oke honey, aku akan pulang sebelum gelap." Jawab Alexa antusias.


Ed memutuskan panggilan itu setelah Alexa mengucapkan kata-kata manis sebagai penutup pembicaraan.


...To be continue ......