My Another Love

My Another Love
Here we are



Edward mengernyit saat mengetahui Josh yang mendatanginya secara khusus pagi ini di gedung perkantorannya.


"Untuk apa dia menemuiku, Willy?" tanya Ed pada sang Asisten.


"Saya tidak tahu, Sir." jawab Willy sopan. "Mungkin Anda bisa menanyakannya langsung, dia sudah menunggu di bawah."


Edward mengangguk dan keluar dari ruangannya untuk menemui Josh diruang tamu khusus.


"Wow, ada apa kau mencariku dan repot-repot menemuiku?" tanya Edward berlagak merasa antusias dengan kedatangan Josh ke tempatnya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


Edward duduk di hadapan Josh, menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung di sandaran sofa dengan nyaman. "Apa itu?" tanya Edward.


"Caramu sungguh tidak gentleman," Josh mendengus. "Kau sudah kalah dariku, Ed. Kau harus mengakui itu dan jangan meminta Alexa untuk mempengaruhi Vallery." sambungnya.


Edward menautkan kedua alisnya. "Maksudmu? Aku tidak paham apa maksudmu," katanya.


"Kau meminta Alexa untuk menjemput Vallery, kan? Kau membuka siapa diriku didepan Alexa." pancing Josh.


Edward menggeleng. "No! Wait, tunggu dulu... kenapa kau bisa menuduhku?


Aku bahkan tidak pernah bicara pada Alexa lagi. Aku juga sudah meninggalkan rumah orangtua mereka. Kami sedang menunggu proses perpisahan." kata Edward menjelaskan.


Josh terdiam, sebenarnya dia mendatangi Edward untuk memenuhi rasa penasarannya tentang ucapan Alexa kemarin di Apartemen, yang mengatakan bahwa dia tahu siapa Josh dari ucapan Edward. Tapi sekarang apa? Edward bahkan tidak tahu kenapa Alexa bisa mengetahui itu. Edward mengatakan bahwa dia tidak pernah memberitahu Alexa tentang siapa Josh sebenarnya.


"Aku bukan kalah darimu, Josh. Tapi Vallery mengatakan dia tidak mau memiliki hubungan dengan mantan Kakak iparnya dan aku menghargai itu."


Josh mendengus. "Bukan itu poin utamanya," ujarnya.


"Lalu?"


"Darimana Alexa tahu siapa aku jika bukan darimu?"


Edward menggeleng. "Mungkin dia memiliki mata-mata khusus untuk mencari tahu tentangmu." jawabnya enteng.


"Seperti Asistenmu itu?" sindir Josh dan Edward tertawa mendengarnya.


Ini adalah kali pertama percakapan panjang diantara mereka berdua terjadi dan Edward tidak habis pikir jika Josh rela mendatanginya hanya untuk hal remeh seperti ini. Dia tahu Josh pasti memiliki maksud lain.


"Katakan apa tujuanmu sebenarnya mendatangiku?" Edward kini mulai bertanya dengan nada serius.


Josh diam beberapa saat, kemudian mulai bersuara.


"Vallery berada di kampus. Aku memiliki sebuah rencana besar. Aku tidak bisa mempercayai siapapun saat ini."


"Lalu hubungannya denganku apa?" tanya Edward cukup heran.


"Aku mempercayaimu."


Edward menggeleng keras. "Omong kosong macam apa ini?" tanyanya sambil terkekeh hambar.


"Ya, kau mungkin menganggap ini adalah lelucon. Tapi, aku menitipkan Vallery padamu. Aku bersungguh-sungguh."


"Kenapa aku? Vallery memiliki Alexa."


Josh menggeleng. "Kau tahu, kenapa Alexa bisa mengetahui tentangku? Itulah poin utamanya."


Edward menyipitkan mata pada Josh.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Josh mendatangi tempat perjanjian dengan Clan Dexa, tempat dimana seharusnya mereka menukarkan Mark dengan Jesica.


Josh tiba bersama orang-orangnya yang berjumlah hampir lima belas orang, diantara mereka semua ada satu orang sandera yaitu Jonas-adik Mark.


Tak lama dari kedatangan Josh dan Clan-nya, beberapa mobil lain tampak berhenti dihadapan mereka-- yang tak lain adalah Clan Dexa, berjumlah hampir sama dengan yang dibawa oleh Josh.


Josh tersenyum mendapati Mark ada diantara Clan Dexa.


"Mana Adikku?" tanya Josh yang tertuju pada Mark, karena Mark yang terlihat memimpin Clan itu. Tidak ada Antoni, yang sebenarnya adalah tujuan dari Josh.


"Kembalikan dulu Adikku." jawab Mark menantang.


Josh terkekeh mengejek. "Kau benar-benar sia lan." katanya.


Josh mengeluarkan senjata dari balik jas-nya, menembakkan peluru ke udara sebagai pancingan. Membuat orang-orang dari Clan Dexa sigap mengeluarkan juga senjata mereka dan mengarahkan bidikan kearah lelaki dengan senyuman miring itu, tapi tidak ada yang berani menembak, karena Mark mencegahnya dengan alasan Jonas yang masih berada di tangan Josh.


"Aku akan mengembalikan Adikmu, Mark. Jika Jesica sudah ada didepan mataku."


Mark terkekeh, kemudian berujar. "Adikmu sudah ku habisi." kata Mark enteng.


Mark menggeleng. "Jonas tidak ada kaitannya dengan ini. Aku yang menghabisi Jesica. Kau bisa menghabisi aku saja. Jangan Adikku!" kata Mark seraya mengangkat tangannya ke udara tanda menyerah.


Dimitri mengarahkan bidikannya pada Mark, siap menarik pelatuknya tapi seseorang hadir diantara mereka dia adalah Antoni.


Antoni datang dan bertepuk tangan, seolah baru saja menonton adegan yang seru dan menegangkan.


"Saling membunuh dan melindungi, hanya karena ikatan darah. Lucu sekali." kata Antoni dengan nada mencibir. Sementara sebagian orang-orang dari Clan Greselle memindah bidikan kearah lelaki setengah baya itu.


"Inilah sebabnya aku tidak mau memiliki hubungan dan ikatan darah dengan orang lain." ujarnya mengejek.


Raut wajah Antoni terlihat tanpa ketenangan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa aura gelap menyelimutinya, dia adalah pembunuh berdarah dingin yang sesungguhnya.


"Josh Melanov Greselle, kita bertemu lagi." kata Antoni yang kini menatap lekat-lekat kearah netra kehijauan milik Josh.


Josh menatap Antoni dengan tatapan bengis, sekelebat bayangan saat pria itu tengah menghabisi nyawa Ibu Kandungnya kembali melintas dikepalanya. Ingatan yang sering muncul dalam mimpinya, ingatan yang sama sekali belum bisa dia lupakan.


"Ternyata, sudah cukup lama ya..." Antoni mulai berkata-kata lagi. "Kau sudah sebesar ini dan sekarang mencari keberadaanku. Dan lagi-lagi itu hanya karena sesuatu yang berkaitan dengan ikatan darah, hingga kau memiliki dendam yang begitu besar padaku." sambungnya terkekeh.


Josh tersenyum kecil kemudian mendengus, tidak ingin meladeni omong kosong Antoni.


"Hari ini kau cukup beruntung karena aku mau menemuimu. Aku cukup penasaran denganmu. Kau bahkan menangkap tangan kananku, Mark." kata Antoni.


"Jangan banyak bicara, dimana Adikku?" tanya Josh.


"Katakan dimana Adiknyaa, Mark!" ucap Antoni mengarah pada Mark.


"Dia sudah mati." jawab Mark lirih.


"Breng sek!" Josh menembak Mark dan Mark tergeletak begitu saja. Sementara Jonas terduduk melihat sang Kakak yang dalam pikirannya, mungkin sudah mati.


Keadaan yang semula tenang berganti menjadi aksi tembak menembak, kejar-kejaran dan berkelahi.


Josh fokus mengejar Antoni sampai dimana pria tua itu tidak bisa kemana-mana lagi karena mendapati jalan buntu.


Josh mendecih kearah Antoni, dia merasa malu untuk menghajar seorang pria tua. Tapi mau bagaimana lagi. Antoni adalah tujuannya.


Kekuatan Antoni untuk melawannya, tidak bisa diremehkan. Karena ternyata kekutannya tidak setua umur pria itu.


Dengan gerakan cepat, Antoni mampu membuat senjata Josh terlempar jauh karena tendangan kakinya yang panjang.


Josh membiarkan itu, karena dia justru ingin menghabisi Antoni dengan sedikit perlawanan.


Perkelahian antara Josh dan Antoni tidak bisa terhindari, mereka terlibat pertarungan yang membuat keduanya cukup babak belur dalam jangka waktu singkat.


Antoni lebih cekatan menggunakan kakinya, sepertinya dia menguasai bela diri kungfu. Sedangkan Josh, beberapa kali menghadiahi pria tua itu dengan tinjunya yang telak-- menghantam rahang dan dada lawannya.


Sampai suara sebuah Helikopter terdengar mendekat dan berhasil menghentikan kegiatan baku hantam diantara mereka berdua, membuat mereka terpana sesaat.


Keadaan itu juga membuat beberapa orang yang masih terlibat aksi kejar-kejaran dan adu pukulan berhenti dengan aksi masing-masing.


Baling-baling Helikopter itu berhasil membuat keadaan sekitarnya menjadi riuh dan berdebu, sampai akhirnya Helikopter itu mendarat sempurna di tanah yang lapang-- tempat pertemuan dua Clan musuh.


"Kau tidak bisa menghabisiku, aku pergi..." ejek Antoni seraya bangkit dan berdiri, dia ingin kabur dan menuju Heli yang adalah jemputannya.


Josh menggelengkan kepalanya, dia mengambil pisau yang tersembunyi di sela-sela pegelangan kakinya. Pisau itu terselip diantara kaus kaki yang dia kenakan.


Josh berjalan cepat ke arah Antoni yang hampir mencapai bibir Helicopter. Dan dengan gerak cepat dia mencengkram leher Antoni lalu menyelipkan pisau itu diantara wajah dan leher sang pria tua.


Antoni terdiam seketika mendapati benda tajam berkilau yang sebentar lagi akan bersarang diurat nadi lehernya.


"Tunggu ..." suara seorang wanita yang keluar dari dalam Helikopter, berhasil menghentikan Josh yang hampir menyayat leher Antoni dengan pisaunya.


Bersamaan dengan itu, orang-orang yang tersisa dari masing-masing Clan, telah sampai di depan Helikopter dan hanya bisa terdiam melihat apa yang terjadi didepan mereka.


Josh terlihat masih mencengkram leher Antoni sembari mengarahkan pisau, lalu ada seorang wanita cantik yang keluar dari Heli dan berhasil menginterupsi aksi itu.


Josh tersenyum miring mendapati siapa yang kini ada dihadapannya. Tapi, senyumnya menghilang kala dia mendengar suara yang sangat familiar hadir diantara mereka semua.


"Ada apa ini?"


Suara itu semakin dekat saat sang pemilik suara turun dari Helikopter yang sama dengan wanita pertama, lalu dia menatap netra Josh. "Josh...." katanya terpana.


Seketika itu juga darah Josh terasa berhenti mengalir. Kenapa Vallery bisa ada disini? Seharusnya dia ...


"Here we are ..." ucap wanita pertama yang telah bersedekap disamping Vallery dengan santainya.


...To be continue ......