
Hujan turun sangat deras ketika Vallery selesai dengan kuliahnya. Dia berpisah dengan Sophia saat didepan pintu kelas karena Jesica sudah menunggunya disana.
"Apa lama?" Tanya Vall.
Jesica menggeleng, "Tidak ... Come on!" Katanya seraya mengapit lengan Vallery dan mereka berjalan seiringan menuju cafetaria yang masih terlihat ramai dengan mahasiswa yang lainnya.
"Apa Josh akan menjemputmu?" Tanya Jesica saat mereka sudah duduk berhadapan di kursi masing-masing.
"Sepertinya tidak, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya." Jawab Vallery datar seperti biasanya.
Jesica menawarkan Vallery untuk memesan makanan tapi mereka hanya memesan minuman untuk menemani pembicaraan mereka hari ini.
"Jika Josh tidak menjemputmu, pulang saja bersamaku." Kata Jesica dengan senyum ramah.
Vallery menggeleng. "Aku bisa pulang sendiri, Jes. Jangan mengkhawatirkan aku seperti Josh. Anggap saja hubungan kita sama seperti kemarin-kemarin. Jangan jadikan aku beban hanya karena aku dan Josh memiliki hubungan." Jelas Vallery.
Jesica tersenyum kecil. "Jadi sekarang kau mengakui jika kalian memang punya hubungan." Katanya seraya menaik-naikkan kedua alis menggoda Vall.
Vallery hanya terkekeh menanggapinya. Mereka berbincang ringan mengenai aktifitas masing-masing. Vallery akan segera menyelesaikan skripsinya dan Jesica masih harus menunggu satu semester lagi.
"Ehmm, Vall. Bolehkah aku bertanya sesuatu tentangmu? Mungkin ini agak sedikit pribadi."
Vallery mengangguk. "Sure, of course..."
"Apa kau benar-benar menyukai Josh? Ehmm--tidak, maksudku-maksudku apa kau mencintai Kakakku?" Jesica mulai melancarkan aksi seperti biasanya. Dia tidak bisa mengabaikan hubungan antara Josh dan Vallery, dia kembali pada sikap lamanya yaitu over protect terhadap sang Kakak.
Vallery mengangguk yakin. "Awalnya aku tidak terlalu-- emm, bahkan aku sedikit risih dan memintanya menjauhiku. Tapi lama-lama aku tidak bisa menutupi perasaanku lagi. Yah, aku dan dia ... Kami--begitulah." Jawab Vallery ambigu tapi Jesica paham maksud dari perkataan gadis itu.
"Apa kau tahu siapa Kakakku yang sebenarnya?"
"Itulah yang ku pikirkan. Hahaha... jujur saja aku tidak tahu siapa dia. Memangnya siapa dia? Apa dia memiliki dua kepribadian yang sewaktu-waktu bisa memakanku?" Vallery menggeleng-gelengkan kepalanya, hari ini dia sudah mendengar kalimat itu dua kali. Pertama dari Josh sendiri, dan sekarang dari Jesica.
Hah! Memangnya siapa Josh yang sebenarnya?-pikirnya.
"Josh tidak punya kepribadian ganda seperti tebakanmu, Vall. Tapi dia bisa berubah menjadi sangat kejam. Ku pikir kau harus tahu ini."
Vallery terkikik, bukan karena dia menganggap Jesica sedang membuat lelucon, tetapi karena dia sudah bisa menebak hal ini. Masalahnya, dia sudah bertekad tidak akan meninggalkan Josh meskipun Josh akan berubah menjadi monster. Jadi Vall tidak peduli apapun tanggapan dan ucapan Jesica yang akan mempengaruhinya.
"Baiklah, jika kau memang serius dengannya. Semoga hubungan kalian lancar." Jesica berkata seraya memainkan ponselnya yang bergetar-getar sedari awal percakapan mereka.
Vallery mengangguk untuk menanggapi itu.
"Aku akan pulang, ahh--hujannya sangat deras, Vall. Apa kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?" tawar Jesica.
"Kau membawa mobilmu?" tanya Vallery.
Jesica menggeleng. "Mark menjemputku." jawabnya dengan senyuman kecil.
"Lebih baik aku naik Bis saja, aku tidak enak jika--"
Jesica menarik lengan Vallery. "Ikut saja bersama kami. Kau juga sudah mengenal Mark ketika di Club waktu itu. Dia tidak akan marah dan terganggu." desak Jesica seraya matanya mencari-cari keberadaan seseorang.
"Tapi apa Josh tidak akan marah?"
Jesica terdiam dan berpikir sejenak, "Dia akan marah jika kau pulang sendirian dan kehujanan." katanya.
Saat melihat mobil kekasihnya, Jesica melambaikan tangan dan menggandeng lengan Vallery dengan erat.
Mereka memasuki mobil secara bersamaan, Jesica duduk disamping Mark di jok depan, sedangkan Vallery dibelakang.
Mark mencium sisi pipi Jesica sekilas, "Hai... siapa dia?" Mark terlihat menyunggingkan senyum pada Vallery. Tapi entah kenapa Vallery merasa senyuman Mark memiliki maksud terselubung, Vallery hanya menanggapinya dengan senyum kecil dan membuang pandangan ke luar jendela.
Jesica sibuk mengatur rambutnya yang basah karena sempat terkena hujan saat menghampiri mobil Mark. Tapi akhirnya dia menjawab juga. "Dia Vallery, kau ingat? Dia teman yang ku ajak ke Club malam itu."
Mark tersenyum miring. "Yeah, aku sudah mengingatnya. Dia yang membuat Steve berkelahi malam itu." katanya sambil terkikik.
Vallery mendengus, mengingat kejadian malam itu membuatnya tidak senang, tapi dia segera menyingkirkan pikiran itu karena dia juga telah bertemu dengan Steve dan masalah mereka dia anggap telah selesai.
Mobil mulai berjalan perlahan, Vallery hanya memperhatikan jalanan yang basah duguyur hujan dari jendela mobil. Dia mendengar Jesica dan Mark berbicara hal-hal kecil. Tapi, Vallery juga melihat Mark yang diam-diam melihatnya dari kaca spion.
Vallery merasa risih, sekali lagi dia tidak suka dengan sikap Mark. Menurut penilaiannya, Mark memiliki maksud tertentu. Entah apa.
"Apa kau akan ku antarkan ke Apartemen Josh?" celetuk Jesica pada Vallery.
"Em, boleh." jawab Vallery.
"Apa mereka tinggal bersama sejak kejadian itu?" sahut Mark. Dia menatap Jesica lekat. Pertanyaannya mengarah pada Josh yang memutuskan tinggal bersama dengan Vallery sejak menolongnya di Club malam itu. Mark pikir sejak kejadian itulah Josh dan Vall menjadi dekat.
"Mereka tinggal bersama, tapi aku tidak tahu sejak kapan." jawab Jesica dengan nada datar.
"Sepertinya Kakakmu menjalin hubungan yang serius dengannya." Mark terkekeh diujung kalimatnya.
Jesica hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Vallery menghela nafas. "Sorry, tapi itu bukan urusanmu." ketus Vallery dan Mark kembali terkekeh.
"Di Apartemen mana kalian tinggal?" tanya Mark lagi.
Vallery hanya diam dan Jesica-lah yang menjelaskan alamatnya. Mark menyetel GPS untuk menuju Apartemen yang dimaksudkan Jesica.
"Jes, apa dia tahu jika kau dan Josh adalah saudara?" celetuk Vallery tiba-tiba karena tadi Mark mengatakan kalimat 'Kakakmu' pada Jesica.
"Yah, Mark tahu kehidupan pribadiku." jawab Jesica menyahut dan saat itu juga Mark menggenggam tangannya lalu mengecupnya mesra.
Vallery hanya terdiam dan memutuskan untuk masa bodoh. Dia tidak memperhatikan lagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Josh pulang ke Apartemen saat Vallery tengah memasak makan malam didapur.
"Kau memasak?" Josh memeluk tubuh Vallery dari belakang dan gadis itu tersentak kaget.
"Astaga kau mengejutkanku." tuturnya.
Josh terkekeh kecil. "Sorry," katanya seraya makin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Vallery. Dia merindukan gadisnya seharian ini, dia merasa bersalah tidak bisa menjemput Vallery pulang kuliah.
"Mandilah, setelah itu kita akan makan malam bersama-sama." Vallery mengelus tangan Josh yang melingkar di perutnya.
Josh mengangguk. "Senang sekali diberikan perhatian seperti ini." gumamnya, lalu dia pun berlalu menuju kamar mandi. Setelah mandi, Josh menyusul Vallery yang sudah duduk di meja makan dengan makanan yang tersaji.
"Maaf jika rasanya kurang pas di lidahmu. Aku tidak tahu kau menyukai makanan apa. Tapi yang ku masak ini tidak akan membuatmu alergi."
"It's oke, Girl. Sudah ku katakan aku akan memakan semuanya, karena ini masakanmu." Josh mulai menyuap makanannya dan merasainya.
"That's good." katanya seraya menyeringai kearah Vallery.
Vallery tersenyum kecil. "Bagaimana harimu? Kau pasti sangat sibuk." Vallery ikut memakan makanannya sendiri.
"Emmm, mengenai itu...aku memang agak sibuk, apalagi besok orangtuaku akan sampai di kota ini. Ayah pasti akan mengevaluasi pekerjaanku. Semuanya tidak mudah." Josh menghela nafas berat.
Vallery meletakkan sendoknya, tangannya terulur dan mengelus punggung tangan lelaki itu. "Semuanya memang berat, tapi kau pasti bisa melewatinya. Oke?"
Josh tersenyum lembut. "Oke," ucapnya seraya membalas genggaman tangan Vallery juga.
"Bagaimana denganmu? Apa kuliahmu lancar?"
"Huum begitulah..."
"Tadi kau pulang naik Bis? I'm so sorry, aku tidak bisa menjemputmu..." sesal Josh.
"I'ts oke, Josh. Aku tadi tidak naik Bis. Aku pulang bersama Jesica."
Josh terdiam sejenak.
"Josh, are you oke? Itu tidak masalah bukan? Ayolah, dia adikmu sendiri... Jangan membatasi pertemanan kami."
Josh tetap diam, lalu dia meneguk segelas air putih sampai tandas.
"Oke, aku tidak akan membatasi kalian. Bertemanlah..." kata Josh dengan berat hati.
"Josh, apa ada yang kau pikirkan? Jesica teman yang baik--"
"Aku tahu, aku juga mengenal adikku, Vall."
"Lalu?"
"Aku takut dia mempengaruhimu. Itu saja." Sebenarnya Josh takut Jesica mengatakan identitasnya yang sebenarnya pada Vallery. Selain dia belum siap mengaku, dia ingin Vallery tahu hal itu dari mulutnya sendiri.
Vallery memutar bola matanya malas. "Mempengaruhi soal apa? Apapun katanya, itu tidak akan merubah perasaanku." jawab Vallery pelan.
"Benarkah?" mata Josh menatap Vallery lekat.
"Ya..."
"Lalu, apa dia mengantarmu sampai depan pintu?"
"No...hanya sampai lobby karena Mark menunggu di mobil."
Josh mengernyit. "Mark? Who's Mark?"
"Mark pacar Jesica, kau tidak tahu jika Jesica memiliki kekasih? Bukankah kau menyamar menjadi Mahasiswa di kampus untuk mengikuti adikmu?"
Josh terdiam, rahangnya mengeras. Dia memang kurang memperhatikan Jesica belakangan ini. Dia mengakui itu karena seelah menemukan Vallery, pikiran dan perhatiannya terbagi pada gadis itu.
Josh melupakan tujuan awalnya yaitu mengganggu kehidupan Jesica, seperti yang Jesica lakukan padanya dulu. Dia menjadi ingat ucapan sang Ayah yang mengatakan kalau tujuannya ke Texas malah mencari-cari sesuatu, ucapan Jeremy saat itu mengarah pada Vallery dan sekarang ucapan Ayahnya itu memang terbukti. Josh tidak fokus pada membalas kelakuan Jesica sekarang, dia malah fokus pada Vallery.
Tapi, mendengar ucapan Vallery barusan, membuat yang dipikirkan Josh adalah kenapa Jesica mengajak orang lain untuk mengantar Vallery? Bukan karena cemburu, tapi tindakan Jesica benar-benar ceroboh karena ini menyangkut penyamarannya di kota ini.
"Apa Mark tahu kau tinggal disini bersamaku?" tanya Josh.
Vallery mengangguk lagi seraya membereskan sisa makanan mereka.
"Shiit!!" umpat Josh pelan tapi Vallery mendengar itu.
"Kenapa Josh? Apa ada yang salah? Jesica hanya tidak mau aku pulang naik Bis dalam kondisi hujan yang deras sore tadi."
Bagaimanapun Josh menjelaskannya pada Vallery, gadis itu akan sulit memahami kerumitan hidupnya, karena Vallery tidak tahu siapa dia sebenarnya.
"Apa lelaki bernama Mark itu tahu jika aku dan Jesica adalah Kakak adik?"
"Ya, mungkin Jesica sudah mengatakannya lebih dulu. Yang ku lihat, Mark tidak terkejut dengan hal itu." kata Vallery enteng.
Josh menggelengkan kepalanya. Sekarang dia benar-benar ingin bertemu lelaki bernama Mark itu. Pasti lelaki itu sudah mengetahui identitasnya dari Jesica.
"Kau mengingatkanku agar tidak lengah, ternyata kau sendiri yang ceroboh karena seorang lelaki." gumam Josh mengarah pada Jesica.
Vallery tidak mendengar itu karena dia sudah sibuk mencuci piring di kitchen sink.
...To be continue ......