
Alexa mematung ditempatnya, kini ia sadar kenapa sikap Ed terasa berlebihan terhadap Vallery. Saat Vallery memutuskan untuk pindah juga Ed terlihat sangat keberatan. Ternyata Ed memang menginginkan Vallery, bukan karena dia menganggap Vallery sebagai Adik seperti yang diperkirakan Alexa selama ini.
Alexa merasa bahwa dirinya selama ini terlalu naif, menolak lupa bagaimana perhatian-perhatian kecil yang Ed tunjukan dengan nyata untuk Vallery. Alexa selalu mengira jika semua itu hanya karena Ed menyayangi Vallery sebagai Adiknya juga. Tapi semua itu tertepiskan akibat pernyataan Ed yang baru saja dia dengar.
Alexa memejamkan matanya sejenak, ternyata selama ini dia benar-benar menikahi pria yang salah. Akhirnya Alexa menghela nafas panjang.
"Bereskan semua ini. Aku sudah selesai." Kata Alexa pada seorang pelayan, dia meminta pelayan itu membersihkan meja makan karena dia juga sudah hilang selera makan.
Dengan langkah gontai, Alexa berjalan menuju kamarnya.
"Apa kita harus tetap tinggal dalam kamar yang sama?" Kata Alexa saat masuk dan melihat Ed berbaring disana dan tampak melamun.
Ed menoleh kearahnya. "Ya, mungkin kau masih mau berbagi ranjang denganku." Kelakar Ed sambil tertawa miris.
Alexa memutar bola matanya. "Kau tahu kenapa aku meminta berpisah darimu 'kan? Itu karena dalam pernikahan bukan hanya tentang masalah ranjang. Jika kau dan aku sama-sama tidak memiliki perasaan satu sama lain, aku pun tidak bisa tidur denganmu."
"Kemarin-kemarin bisa..." cibir Ed.
"Itu sebelum aku tahu kesalahanmu dan kau pun belum melihat kesalahanku. Waktu itu aku berpikir kita bisa saling menerima. Nyatanya sekarang, kita tidak saling membutuhkan." jelas Alexa sambil mengangkat bahu cuek.
"Hemmm ... Aku tahu itu dan itu benar." Jawab Ed apa adanya. "Lalu kau mau pindah? Atau aku yang pindah kamar sebelum perpisahan kita resmi terjadi?" Tawar Ed.
"Aku akan pindah ke kamar Vallery. Kau tetaplah disini. Ini adalah rumahmu."
Ed menggeleng. "Kau sudah pernah sepakat menikah denganku dan otomatis rumah ini sudah kembali menjadi milikmu."
Alexa mendengus pelan. "Ternyata kau masih bermurah hati padaku." Cibirnya dan Ed tertawa sumbang.
"Bagaimana kabar Vallery?" Tanya Ed seraya menatap langit-langit kamar, sedangkan Alexa tengah bercermin sambil mengoleskan skincare ke wajah mulusnya.
"Ah ya, aku belum sempat cerita, ya. Siang tadi dia datang bersama Josh. Mereka memutuskan untuk tinggal bersama." Kata Alexa dengan gampangnya.
Ed terhenyak kaget. Dia bangkit dari sandarannya di headboard ranjang, menegakkan badannya dan sampai memutar posisi duduknya untuk melihat Alexa dengan seksama. "Apa kau bercanda?" Tanyanya lirih.
Alexa menggeleng. "Apa kau tahu? Rasa sakit yang kurasakan saat suamiku justru menginginkan orang lain? Begitulah rasanya Ed! Persis seperti yang kau rasakan saat ini--saat mengetahui jika Vallery lebih menginginkan Josh daripada kau!" Senggak Alexa dengan santainya, dia mengendikkan bahu, seolah bersikap tak acuh.
Ed terdiam. Dia tahu, walau Alexa belum mencintainya, tapi wanita itu pasti memiliki rasa kecewa yang begitu berat saat tahu Ed justru menginginkan Vallery yang adalah Adiknya sendiri. Walau bagaimanpun, Ed adalah suaminya. Jawaban Alexa benar-benar membuatnya sadar jika semua ini benar. Ini terasa sakit dan Alexa merasakan rasa yang sama seperti yang saat ini dia rasakan.
"Jangan terlalu keras berusaha, Ed !!! Vall juga sudah mengatakan padaku, jika kita benar-benar berpisah pun, tidak akan ada tempat untukmu dalam hidupnya, kau tahu kenapa? Itu karena kau adalah bekas suamiku." Kata Alexa menekankan ucapannya dan itu kembali membuat Ed seperti ditikam sembilu secara perlahan-lahan. Sakit, tapi tidak tahu cara mengobatinya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Kenapa kau harus datang ke Apartemenku?" Tanya Josh pada Jesica yang bersedekap di sebuah sofa cafe.
Sebelumnya, saat Josh keluar dari Apartemennya, ternyata Jesica masih berada di Lobby untuk menunggunya. Akhirnya mereka sepakat untuk bicara di sebuah Cafe, terletak sebarisan dengan emperan ruko yang berjajar rapi diseberang gedung Apartemen.
"Kau tahu aku tidak akan pernah kesana jika tidak ada hal yang mendesak!" Kilah Jesica sambil tersenyum miring.
Josh berdecih. "Kau bisa menghubungi Dimitri, Jes!"
"Kau tahu aku sedang menghindarinya, Kak!" Kata Jesica tegas.
Josh mendengus mendengar Jesica menyebutnya dengan panggilan 'kakak', itu sudah lama tidak didengarnya dan sepertinya sudah terlupakan. Hubungan Jesica dan Dimitri sendiri memang menjadi tidak baik beberapa tahun belakangan ini. Semua itu karena diam-diam Dimitri menyukai Jesica dan Jesica menjadi marah lalu menghindari Dimitri setelah mengetahui hal itu. Entah kenapa Jesica marah, padahal menurut Josh, Dimitri adalah kriteria pria yang cocok untuknya.
"Ayah dan Ibu akan tiba di kota ini Lusa." Kata Jesica.
"Jika tentang itu, aku tahu." Jawab Josh malas sembari meneguk minuman dinginnya.
"Bukan itu poin utamanya!" Kata Jesica.
"Lalu?"
"Kedatangan orangtua kita juga sebagai pancingan untuk Clan Dexa. Clan Dexa tahu, jika kita berdua kembali ke kota ini. Tapi mereka belum menemukan identitasmu. Mereka sedang mengincarmu dan ku harap kau berhati-hati."
"Ya, aku sudah menebaknya. Harusnya aku bicara pada Dimitri sore tadi mengenai hal ini, tapi sekarang Vallery tinggal bersamaku jadi pembicaraan kami tertunda."
"What? Kalian tinggal bersama?" Pekik Jesica tertahan. Dia tidak menyangka dengan kelakuan Josh, dia tahu Josh menyukai Vallery dan keyakinannya tentang Josh yang sedang gencar mendekati Vallery ternyata benar. Jesica pikir kedatangan Vallery ke Apartemen Josh tadi hanyalah sekedar kunjungan biasa.
Membawa Vallery ke Apartemen pribadinya saja merupakan suatu yang tidak lazim untuk seorang Josh. Dia tidak pernah begini sebelumnya. Ada apa ini?
Apa lagi untuk tinggal bersama dengannya? Jesica yang adiknya saja ditoIak mentah-mentah, walaupun orangtuanya sudah menyarankan mereka untuk tinggal bersama selama di Texas. ini benar-benar diluar kebiasaan Josh yang biasanya. Josh yang Jesica kenal adalah lelaki tertutup dan urung membawa seorang gadis ke ranah pribadinya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Vallery sendirian."
"Dia punya rumah, Josh!" Jesica menghilangkan kata-kata 'Kakak' nya kepada Josh, karena dia merasa tindakan Josh ini bukan seperti kebiasaan Kakaknya yang biasa. "Kenapa kau merasa dia sendirian? Dia punya keluarga.." Tanyanya.
Josh menggeleng. "Sepertinya dia punya problem dirumahnya."
"Sepertinya? Tunggu---dari kata-katamu itu, kau tidak tahu persis masalah apa yang Vallery hadapi. Kau hanya menyimpulkannya, right?"
"Hmmm..."
"Ini tidak seperti dirimu!" ketus Jesica.
"Sudahlah, jangan campuri urusan pribadiku lagi." kata Josh sambil beranjak.
"Kau serius dengannya?" tanya Jesica membuat langkah Josh terhenti.
"Ku ingatkan sekali lagi, jangan ikut campur urusanku lagi, Jes!" kata Josh menekankan kata-katanya.
"Kak, bukan begitu maksudku." Jesica mencegat tangan Josh lalu menatapnya intens. "Jika Vallery memang sangat penting bagimu. Aku hanya mengingatkan agar kau tidak lengah menjaganya." ujarnya.
Josh hanya mengangguk sekilas dan berlalu dari hadapan Adik tirinya itu. Jauh didalam hatinya, dia sangat menyayangi Jesica seperti Adik kandungnya sendiri. Sejak usia 9 tahun, dia dan Jesica dibesarkan bersama-sama. Waktu itu Jesica masih berumur 5 tahun dan dia adalah salah satu penghibur untuk Josh yang masih dirundung duka sejak kematian Ibu Kandungnya.
Jesica menatapi punggung bidang sang Kakak yang berangsur-angsur menjauh. Dia menghela nafas pelan, sebenarnya dia lelah untuk terlalu peduli pada Josh. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang begitu menyayangi Kakaknya itu. Maka dari itulah, dia terlalu bersikap protectif pada lelaki itu hingga sikapnya terkadang mulai menjengkelkan dan mengganggu kehidupan pribadi Josh. Dan Josh tidak menyukai itu, maka problem itulah yang membuat hubungan mereka merenggang. Padahal mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Well, kita sudah sama-sama dewasa, Kak. Aku mengenalmu dengan cukup baik dan aku pikir kau memang sangat serius pada Vallery." gumam Jesica seraya menyeruput jus yang belum habis digelasnya.
Jesica sadar, sikap Josh terhadap Vallery saat ini adalah sama dengan sikap dirinya sendiri yang protect terhadap Josh. Sedangkan Josh tidak sadar, bahwa secara tidak langsung sikapnya sama saja dengan Jesica jika menyangkut tentang Vallery.
Satu lagi, secara tak langsung, Josh sudah memasukkan Vallery dalam kehidupannya yang tidak biasa. Jesica hanya bisa berharap semoga Vallery mau menerima kekurangan Kakaknya itu.
"Ck! Ku harap kau mau menerima segalanya tentang dia, Vall. Sikapnya itu kadang bisa berubah menjadi monster." gumamnya. Jesica pun bergidik membayangkan sikap Josh jika sedang marah.
...To be continue ......