
"Ada apa, Josh?" Vallery menerima panggilan telepon Josh didepan Alexa dan Ed.
"Kau baik-baik saja? Aku mengkhawatirkanmu." Tanya Josh dari seberang sana.
"Yes, of course. Apa yang kau khawatirkan?" Tanya Vallery sambil mengernyit. Tentu saja gelagat dan pembicaraannya didengar oleh kakak dan iparnya.
"Apa kau merindukanku?" Tanya Josh yang membuatnya tercengang.
"Y-yah..." jawab Vall jujur walau sedikit gugup.
Josh menyeringai ditempatnya, tapi tentu saja Vallery tidak melihat itu. "Katakan kau merindukanku!" Pinta Josh memelas dari seberang telepon.
"Uhm, uhm.." Vallery ragu mengucapkannya, ia menatap sekilas Alexa yang mengulumm senyum dan Edward yang menatapinya dengan tatapan menyelidik.
"I miss you, Josh." Kata Vallery pada akhirnya yang membuat mata Ed melotot melihatnya.
Josh terkekeh kecil dari seberang sana. "I miss you too ... so much, honey... Ingat pesanku!" Kata Josh memperingatkan.
"Ya, ya aku mengingatnya." Lirih Vallery.
"Baiklah, lanjutkan obrolanmu dengan kakakmu. Bye ... Aku segera menemuimu setelah urusanku selesai."
Vallery sedikit heran, darimana Josh tahu tentang kedatangan kakaknya tapi dia mengiyakan saja ucapan Josh dari sambungan seluler itu.
Vallery menggeleng kecil. Josh meneleponnya hanya untuk mengatakan kerinduan dan mengingatkan soal pesannya pagi tadi. Tentu saja Vallery mengingat pesan lelaki itu tentang jangan dekat dengan lelaki lain. Ah, apa Josh tahu juga jika Ed ada disini? Inikah yang dimaksudkannya? Hm ...
Vallery mengembalikan ponsel Sophia dan kembali menatap kedua tamunya.
"Kalian so sweet sekali." Kata Alexa seraya tersenyum hangat, perkataannya merujuk pada Vallery dan Josh. "Iyakan, Honey?" Tanya Alexa pada Ed dan Ed mengangguk sekilas sambil menyunggingkan senyum keterpaksaan.
"Josh kadang berlebihan, Kak." Sahut Vallery. "Ah, aku lupa mengambilkan kalian minum. Sebentar ..." Vallery bangkit dan menuju kulkas didapur, dia mengambil dua kaleng softdrink disana.
"Ini kak, silahkan diminum." Tawar Vallery seraya meletakkan apa yang dia bawa.
Edward langsung menenggak minumannya sampai tandas, karena perasaannya mendadak berkecamuk mendengar kemesraan Vallery dengan Josh walau hanya lewat sambungan telepon.
"Vall, apa Josh tidak kesini? Kenapa dia hanya meneleponmu? Kalian tidak berkencan di satnight?" Tanya Alexa seraya menyesap softdrink nya secara perlahan-lahan.
"Josh sedang di Rusia." Jawab Vall singkat.
"Wah, berarti kalian akan LDR?" Tanya Alexa. "Berapa lama? Pantas saja kau merindukannya." Sambungnya.
Vallery hanya mengangguk kecil tapi Ed menyeringai ditempatnya.
"Apa karyawan biasa juga diharuskan pergi sampai ke luar Negara, Vall?" Sindir Ed, dia mengingatkan jika Josh pernah mengatakan jika dia hanyalah karyawan biasa. Dia ingin tahu sejauh mana Vallery mengenal lelaki itu.
Vallery menoleh ke arah Edward. "Ku rasa begitu, Kak." Ucapnya.
Edward meremass kaleng softdrinknya seraya menggeleng pelan. "Memangnya kau tidak bertanya apa pekerjaannya?" Kata Edward penuh penekanan.
Vallery diam, dia merasa gugup akan pertanyaan Edward karena dia sendiri memang tidak tahu-menahu perihal pekerjaan Josh.
"Vall, apa kau tahu pekerjaan Josh bergerak di bidang apa?" Timpal Alexa yang melihat adiknya hanya diam akan pertanyaan dari suaminya.
"A-aku belum menanyakannya, Kak." Aku Vallery.
Alexa menatap suaminya, seolah ingin tahu penilaian lelaki itu mengenai hal ini. "Bagaimana menurutmu, sayang?" Tanyanya.
Ed tersenyum kecil, jelas saja Vallery tidak tahu pekerjaan Josh, bahkan jika Vallery menanyakannya pada lelaki itupun belum tentu dia akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari mulut Josh.
"Ku pikir, kau harus tahu dengan siapa kau menjalin hubungan, Vall. Jika dia memang baik untukmu ... mungkin dia akan menceritakan tentang dirinya dan soal pekerjaannya." Celetuk Edward.
Vallery kembali menatap lelaki tampan itu, matanya mengisyaratkan kata-kata 'apa maksudmu?' tapi Vallery tidak kuasa melontarkan kalimat itu.
"Aku baru menjalin hubungan dengannya, aku tidak mau terlalu mencampuri urusan pribadinya." Jawab Vallery.
"Yah, itu baik. Tapi kau juga harus memastikan kalau lelaki yang berpacaran denganmu adalah pemuda baik-baik."
"Honey..." Alexa memegang pergelangan tangan suaminya, agar Ed menghentikan kalimatnya. Alexa takut jika adiknya akan tersinggung akibat ucapan suaminya.
"Tidak apa-apa, Kak. Yang dikatakan Kak Edward itu benar. Aku harus tahu siapa lelaki yang berkencan denganku. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan lelaki yang tidak baik. Lelaki yang tidak baik cenderung suka mengganggu orang lain dan tidak mensyukuri apa yang dia miliki." Ucap Vallery enteng tapi Edward merasa Vallery sedang menyindirnya. Mereka saling menatap untuk beberapa detik seolah-olah mengutarakan isi hati mereka sendiri.
Sedangkan Alexa terkekeh kecil mendengar ucapan Adiknya yang terdengar sangat bijak.
"Huum, Kakak juga harus mengenali siapa yang menjadi suami kakak." Timpal Vallery yang membuat Edward terbatuk-batuk.
"Vall, kau membuat suamiku gugup karena ucapanmu." Alexa masih terkekeh. Dia menganggap Vallery sedang membuat lelucon. "Tapi kau benar, kami memang harus saling mengenal. Bukan hanya aku, tapi Edward juga harus mengenaliku sebagai istrinya." Alexa mengelus punggung tangan Ed dan suaminya hanya tersenyum kikuk.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Setelah kepulangan kakaknya, Vallery makan malam sendirian lalu masuk kedalam kamar untuk tidur.
Vallery melihat Sophia yang berbaring memainkan gadgetnya. Hati gadis itu tergelitik untuk tahu sesuatu yang membuatnya sedikit penasaran. Dia hanya ingin pengakuan dari mulut Sophia.
"Apa kau yang memberikan nomor ponselku pada Josh?"
Sophia menggeleng. "No! Untuk apa? Hubungan kalian dekat, aku pikir kalian saling menyimpan nomor ponsel." Jawab Sophia enteng sambil tetap pada aktifitasnya menatap layar pipih itu.
"Lalu, apa kau yang mengatakan jika Kakakku dan Kak Edward datang kesini?"
Sophia terduduk dari posisinya. "Maafkan aku, Vall. Apa aku salah?" Tanyanya.
Vallery menggeleng. "Tidak, kau tidak salah." Jawabnya.
"Are you oke, Vall? Aku melihatmu seperti tidak bersemangat setelah kedatangan kakakmu?" Sophia menatap sang sahabat dengan tatapan ingin tahunya.
Vallery menghela nafas panjang. "Entahlah, Sophi ... Aku masih saja menjadi pecundang karena merasa tidak terima dengan hubungan Kakakku."
Sophia mengelus bahu gadis itu. "Wajar jika kau merasakan hal itu, Vall. Bagaimanapun Edward adalah lelaki pertama yang menyentuhmu. Kau pasti tidak terima karena sejatinya dia adalah Kakak iparmu." Jawab Sophia bijak.
Vallery terdiam. Dia mengakui ucapan Sophia adalah benar dalam hatinya sendiri.
"Tapi, Vall ..." Sophia menatap Vallery dan gadis itu menoleh sekilas. "Jika Edward bukanlah kakak iparmu, apa kau akan memilihnya? Ehm ... Maksudku, apa kau rasa dia layak untuk dicintai?"
"Jika Edward bukan Kakak iparku, aku--aku akan memilihnya, maybe. Mungkin karena kejadian malam itu membuatku jadi memandangnya dengan cara yang salah." Sahut Vallery ragu. "Tapi jika kejadian malam itu tidak pernah terjadi, ku pikir aku tidak akan merasakan apa-apa padanya."
"Oh Vall, itu artinya kau harus melupakan malam terkutuk itu."
"Bagaimana bisa, Sophi?"
"Lakukan dengan orang lain." Jawab Sophia enteng. "Mungkin jika kau melakukannya dengan orang lain, kau akan melupakan itu perlahan-lahan. Come on, Vall !!! Anggap itu hanya One night stand, jangan pakai perasaan!"
"Aku tidak bisa, Sophi."
"Kau belum mencobanya." Jawab Sophia cepat. "Aku yakin jika ada orang lain yang kau biarkan masuk kedalam hidupmu, kau akan melupakan malam itu."
"Benar begitu?"
"Yah, mungkin." Sophia menyengir. "Tapi, tidak ada salahnya mencoba. Banyak yang melakukan hubungan satu malam di Negara kita. Itu hanya untuk sebuah kebutuhan dan tidak menyangkut-pautkan perasaan."
Vallery menggeleng cepat dengan ide gila Sophia. Dia tidak mau mencoba hal-hal seperti itu karena dia bukan gadis murahan yang bergonta-ganti pasangan. Mungkin dia akan memikirkannya jika dia memang bertemu orang yang tepat dan dia yakini.
"Keputusan ada ditanganmu sendiri, Vall. Jika kau terus menutup diri, kemungkinan Edward akan menguasai pikiranmu karena kejadian malam itu terus membayangi hidupmu." Kata Sophia menasehati tapi lebih seperti menakut-nakuti Vallery.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Vallery menghabiskan hari minggunya dengan bersantai di Apartemen bersama Sophia. Mereka melakukan banyak kegiatan mulai dari membereskan ruangan hingga berenang di kolam renang yang ada di Rooftop Apartemen mereka. Kolam renang itu tersekat pagar dinding jadi tidak ada yang bisa melihat aktifitas mereka disana dan membuat privasi mereka terjaga.
Setelah puas berenang, mereka makan dan bermalas-malasan.
Senin pagi, Sophia dan Vallery kembali kuliah seperti biasanya. Dan pada sore hari, Sophia mengatakan akan mencari pekerjaan sampingan lagi.
Vallery kembali ke Apartemen seorang diri, dia melamun memikirkan semua yang terjadi, dia berdiri di balkon kamar menatap jauh kedepan sana dari Apartemen tempatnya yang sangat tinggi.
Dia memikirkan ucapan Sophia tempo hari. Benarkah dia bisa melupakan malam terkutuk itu dengan cara membuka hati dan memasukkan seseorang dalam hidupnya? Lalu bagaimana jika seseorang itu akan menyakitinya dan meninggalkannya setelah puas bermain-main dengannya?
Vallery menggeleng, dia tidak mau terjerumus sampai sejauh itu. Dia tidak mau merasakan sakit untuk yang kedua kali. Tapi apakah jika terus menutup diri akan membuatnya tidak bisa melupaknlan Edward?
Entahlah apa yang harus dia lakukan sekarang. Pikirannya berkecamuk tapi mencoba saran Sophia memang tidak ada salahnya. Setidaknya, jika dia akan disakiti lagi oleh orang baru, perasaannya dengan Edward sudah hilang.
Malam mulai beranjak naik saat Vallery memutuskan kembali masuk ke kamarnya.
Bell Apartemen berbunyi, Vall pikir Sophia sudah pulang, tapi alangkah terkejutnya dia melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu.
...To be continue ......