My Another Love

My Another Love
Everytime n Everywhere



Josh dan Vallery turun dari mobil secara bersamaan. Banyak mata yang memandang ke arah mereka dengan berbagai penilaian. Ada yang menganggap mereka cocok, tapi banyak pula yang memandang dengan tatapan iri dan menyelipkan banyak cibiran.


"Oh my.. sepertinya aku akan punya banyak haters." kata Vallery seraya menatap sekilas orang-orang yang berbisik-bisik disekelilingnya.


Josh hanya tersenyum miring, lelaki itu dengan santainya menggandeng tangan Vallery menuju kelas, mengabaikan orang-orang yang memandang mereka dengan tatapan menyelidik.


Vallery melihat tangannya yang digenggam Josh, dia tidak mengerti apa yang ada dipikiran lelaki itu. Dia pun menoleh ke arah Josh, seolah bertanya 'Apa yang kau lakukan?' tapi Josh hanya diam tanpa sepatah katapun.


"Josh, lepaskan tanganku." kata Vallery pelan.


Josh tidak menggubrisnya, genggamannya malah semakin erat dirasakan oleh Vallery. Akhirnya Vallery bersikap cuek dan masa bodoh. Sampai didepan kelas mereka, barulah Josh melepas tangannya, lalu dia berdiri tepat dihadapan Vallery.


"Temanmu sepertinya belum tiba." kata Josh seraya melirik kedalam kelas.


"Maksudmu Sophia?" tanya Vallery memastikan.


"Hemm.."


"Ya, mungkin sebentar lagi." Vallery akan masuk tapi Josh menarik pergelangan tangannya.


"Pulang kuliah akan ku jemput." Josh mengacak rambut Vallery, sepertinya itu adalah hobi barunya, Vallery hanya mendengus singkat karena ulah Josh.


"Masuklah," ucap Josh.


Vallery mengernyit. "Kau tidak masuk? Ku pikir kita masih sekelas." kata Vallery seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Josh menggeleng dengan senyuman dibibirnya. "Aku masih ada urusan," ucapnya.


Vallery mengangguk-angguk. "Kau bolos kuliah dua hari tapi kau tetap datang ke kampus." sindir Vall pelan.


Josh terkekeh kecil. "Itulah aku." katanya. "Aku pergi, ingatlah pesanku," sambungnya.


"Pesan apa?" Vallery semakin bingung.


Josh berdecak lidah, "Kau ini..." Josh mengacak lagi rambut Vallery. Benar-benar membuat Vallery menggeram.


Josh tertawa melihat ekspresi Vallery yang menggemaskan saat marah. "Pulang kuliah akan ku jemput, itulah pesanku." Josh berjalan mundur seraya melambaikan tangannya. Dia nampak buru-buru seperti tengah melihat sesuatu dibalik punggung Vallery.


Vallery menggeleng pelan melihat tingkah Josh. Saat Vallery berbalik badan, ternyata ada Jesica disana.


"Kau masih menyangkal jika kalian punya hubungan?" tanya Jesica dengan nada malas.


"Kau mengagetkanku, Jes." Vallery berkata seraya melangkah masuk kedalam kelasnya, ber-iring-an dengan Jesica.


"Aku menunggu jawabanmu." kata Jesica.


"Jawaban apa?" tanya Vallery berlagak tak mengerti.


"Hubunganmu dengan Josh?" Jesica menaikkan sebelah alisnya. "Apa?" tanyanya lagi tak sabaran.


Vallery menunjukkan Paperbag ditangannya pada Jesica.


"Dia hanya menemuiku untuk mengembalikan ini. Ini milikmu dan tertinggal ditempatnya." kata Vallery seraya menyerahkan Paperbag itu pada Jesica.


Jesica menghela nafasnya. Dia sungguh tidak percaya jika Josh hanya berniat mengembalikan dress itu. Jesica menduga jika Josh sedang gencar-gencarnya mendekati Vallery.


"Aku tidak percaya." kata Jesica.


"What ever..." Vallery duduk dikursinya. "Thanks untuk dress yang kau pinjamkan." sambungnya.


Jesica yang tidak puas dengan jawaban Vallery, mengikuti Vallery untuk duduk disampingnya. Padahal Jesica tidak sekelas dengan Vallery, dia bahkan tetap diam saat dosen sudah memasuki ruangan. Jesica ikut dikelas yang sama dengan Vallery untuk memuaskan rasa ingin tahunya.


Sophia memasuki kelas, dia datang sedikit terlambat. Untungnya dosen itu mau berbaik hati dan mengizinkan Sophia untuk tetap mengikuti kelasnya.


Sophia melihat Vallery dan Jesica yang duduk disebelahnya secara bergantian.


Kenapa dia disini?-batin Sophia saat melihat Jesica.


Sophia menepuk pundak Vallery yang berada disampingnya juga. Kini Vallery duduk diantara Jesica dan Sophia. Dia berada ditengah-tengah.


"Vall.." sapa Sophia saat dia baru duduk, matanya menyapu ruangan dan seperti tengah mencari-cari sesuatu. "Mana Josh?" tanyanya berbisik seraya melirik Dosen wanita yang masih menjelaskan didepan ruangan.


Vallery hanya mengangkat bahu. "Dia pergi lagi setelah mengantarku." jawab Vallery seadanya.


"Dia tidak kuliah?" tanya Sophia heran dan masih berbisik.


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa? Kami tidak ada hubungan." kilah Vallery.


Sophia terkikik kecil. "Tapi dia sudah jelas menyukaimu." ujarnya yakin.


Vallery bersungut-sungut. "Kau selalu salah mengartikan niat orang lain. Dia mencari dan menjemputku untuk mengembalikan Dress." kata Vallery tanpa berpikir.


Sophia mengernyit tidak mengerti. "Dress apa?" tanyanya.


"Dress ku tertinggal saat aku--" Vallery menghentikan kalimatnya. Dia baru ingat bahwa Sophia tidak mengetahui perihal dia yang sempat menginap di Apartemen Josh.


"Tertinggal dimana, Vall?" Desak Sophia tidak sabar dengan ucapan Vallery yang setengah-setengah.


"Ah, ya itu.. itu saat dia menolongku waktu di club. Dress ku tertinggal dimobilnya." jawab Vallery berbohong. Dia tidak berniat membohongi Sophia, hanya saja jika Sophia tahu perihal dia yang menginap di Apartemen Josh pasti gadis itu akan terus meyakinkan Vallery jika Josh menyukai Vall, Vallery tidak mau berharap lebih. Lagi pula, dia sadar akan kondisinya yang tidak sempurna.


"Kau membawa dress ke Club?" tanya Sophia lagi. Dia merasa jawaban Vallery sangat aneh.


"itu- itu dress Jesica. Dia memintaku mengganti pakaian dengan dress itu. Sudahlah, tidak usah dibahas. Aku juga sudah mengembalikannya." Vallery mengendikkan dagu ke arah Paperbag yang ada didekat Jesica dan Sophia pun mengangguk-angguk.


Mereka terus berbisik-bisik sampai Jesica pun penasaran apa yang tengah mereka bicarakan. Tapi gadis itu tidak bisa mendengar karena posisinya ternyata tidak tepat. Harusnya tadi dia duduk dibelakang Vallery.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Josh benar-benar datang menjemput Vallery, bahkan dia sudah menunggu saat kelas belum selesai.


Vallery berlagak cuek dan pura-pura tidak melihat Josh. Dia ingin melarikan diri dari Josh, entah kenapa Vallery merasa Josh ingin mempermainkannya. Lelaki itu seolah mendekati Vallery tapi setiap Vallery mulai merasa demikian, Josh seakan punya alasan sendiri untuk melakukan tindakannya.


Contohnya seperti kemarin dan pagi tadi saat Josh menjemputnya, Vall sudah mengira jika ucapan Sophia benar bahwa Josh menyukainya, tapi ternyata Josh hanya ingin mengembalikan Dress. Apa maksud lelaki ini sebenarnya?


Apa Vallery ternyata sudah berharap padanya?


Vallery berjalan perlahan-lahan, bahkan dia sampai menahan nafas saat menyadari Josh berada didepan Cafetaria kampus. Entah kenapa dia sampai seperti itu. Mungkin Vallery takut Josh bisa mendengar suara nafasnya?


Vallery memutar arah dan berusaha menghindar. Lebih tepatnya, dia ingin kabur dari Josh.


Saat Vallery melangkahkan kaki untuk menjauh, Josh meneriaki namanya.


"Vallery..." pekik Josh, bahkan Vallery baru melangkah satu kali dan dia terpaksa berhenti karena tindakannya sudah terlanjur ketahuan.


Vallery menoleh dan menyengir dihadapan Josh. Josh tersenyum tampan dan perlahan berjalan mendekati Vallery.


"Kau lupa pesanku?" tanyanya.


Vallery menggeleng lemas, Josh terbahak melihatnya. "Kau mau menghindariku, hemm?"


Vallery hanya cengengesan salah tingkah. Tak biasanya dia memasang ekspresi seperti itu. Entah kenapa dia bisa memasang wajah itu didepan Josh.


"Ayo pulang, ajak temanmu..maksudku Sophi, right?." saran Josh.


Vallery menggeleng. "Aku dan Sophi harus pergi. Kami ada sedikit urusan."


"Apa itu?" tanya Josh menatap serius.


"Masalah perempuan." jawab Vallery cepat, dia berharap jawabannya membuat Josh menyerah dan memilih pulang.


Tapi sayangnya Vallery belum tahu sifat asli Josh, lelaki itu pantang menyerah dengan suatu hal yang sudah dia pikirkan matang-matang. Dia bahkan menukar mobilnya agar Sophia juga bisa ikut bersama mereka. Paling tidak, itu akan menjadi peluangnya jika Vallery menjadikan Sophia sebagai alasan untuk menolak.


"No problem, aku akan mengantar kalian." kata Josh tenang.


Vallery menghela nafasnya pelan. "Josh, sejak kapan kau jadi supir pribadiku?" sindirnya.


Josh terkekeh nyaring. "Sejak kapanpun. Asal itu kau, everytime and everywhere. Aku akan melakukannya." jawab Josh menyeringai.


Vallery mendengus melihatnya. Dia sadar bahwa dia tetap akan kalah oleh Josh, bukan hanya kalah berdebat dengannya, tapi Vallery juga mengaku telah kalah karena pesona Josh.


Hah, apa bedanya aku dengan semua gadis yang ada di kampus ini?-batin Vallery.


Vall pikir dia tidak akan termakan oleh pesona Josh seperti gadis-gadis lain. Nyatanya dia sama saja.


"Baiklah, kita tunggu Sophi. Dia masih di toilet." kata Vallery menyerah.


...To be Continue ......