My Another Love

My Another Love
Talk to each other



"Vall, maaf jika perkataanku akan sedikit menyinggungmu." kata Josh memulai pembicaraannya. "Mungkin ini akan membuatmu tidak nyaman, tapi entah kenapa aku terus memikirkannya." kata Josh.


Vallery mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Aku tidak tahu kau akan setuju atau tidak, tapi dengarkan saranku ini." Josh benar-benar bicara serius sambil menatap Vallery yang masih diam.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Vallery pada akhirnya.


"Aku memikirkan sesuatu, lebih tepatnya ini sudah ku simpulkan sendiri.." ucap Josh dengan nada terendah.


"Tentang?"


"Tentang kau dan kakak iparmu. Aku sudah menyimpulkannya. Kau mengerti maksudku?"


Vallery mencelos mendengar ucapan Josh. Apakah Josh memang bisa menebak apa yang sudah terjadi diantara dia dengan Edward?


"Maaf jika kau tersinggung. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu." kata Josh lirih. "Aku hanya peduli padamu, Vall." sambungnya.


"Why?" Vallery mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini. Dia paham jika Josh cukup peka akan keadaan yang terjadi.


Josh diam seperti menimbang-nimbang kosa-katanya. "Tidak ada, aku hanya peduli padamu." kata Josh menatap ke manik cokelat milik Vallery.


Vallery terdiam. "Ya, tapi kenapa?"


"Aku tidak punya alasan, Vall. Cukup dengarkan saranku, tinggalkan rumah itu." kata Josh seraya menggengam tangan Vallery yang berada dalam pangkuan gadis itu.


Vallery cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Josh, dia memang ingin meninggalkan rumah dan saran Josh seperti angin segar untuknya.


"Ya, aku akan meninggalkan rumah itu. Itu juga yang ingin ku katakan padamu tadi."


"Jadi kau setuju?" sudut bibir Josh melengkung, dia merasa lega mendengar jawaban Vall.


"Hemm.. bolehkah aku tinggal bersama Sophia di Apartemenmu?"


"Of course," Josh sudah bisa terkekeh sekarang. Padahal tadi dia seperti sulit untuk menyunggingkan senyum. Walau tidak sepenuhnya lega, tapi keputusannya yang diiyakan Vallery cukup membuatnya tenang. Sejujurnya, Josh masih belum puas jika belum mendengar pengakuan Vallery soal perasaannya pada Edward. Karena dari panilaian Josh, Vall juga memiliki rasa untuk Kakak iparnya itu. Dia tidak mau Vallery tetap tinggal dirumah itu. Dia tidak rela.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Di lain tempat, Edward tertawa sumbang karena baru saja mengetahui sesuatu hal tentang Josh. Mungkin Josh tidak akan menyangka jika Edward akan mengetahui sisi terkelam lelaki itu dengan sangat mudah. Tidak sia-sia dia mempekerjakan Willy sebagai Asistennya. Hanya dalam hitungan menit, Edward sudah mengantongi semua identitas tentang Josh tanpa terkecuali. Identitas yang ditutupi dari khalayak dan kini Edward sudah mengetahui semuanya. Semuanya!


Bukan hanya data pribadi yang terpajang di internet, tapi diluar prediksinya bahwa Josh bukan lawan yang mudah untuknya.


Tapi tunggu dulu. Lawan? Apa Edward benar-benar akan menempatkan Josh sebagai lawannya sekarang? Kenapa? Apa hanya karena Vallery?


"Willy, apa tidak apa-apa jika aku mengusiknya?" tanya Ed sambil terkekeh. Dia sendiri tidak yakin akan melakukan tindakan bodoh mengingat siapa yang akan dihadapinya kali ini.


"Mengusik tentang apa, Sir?" tanya Willy.


"Mengusik kesenangannya. Aku rasa dia menyukai adik dari istriku." kata Ed masih dengan tawanya yang miris.


"Kenapa kau harus mengusiknya, Sir? Itu akan membuatnya tidak senang. Dia bukan orang sembarangan. Dia juga bukan pebisnis biasa." imbuh Willy.


Edward tertawa lagi, sejujurnya dia bingung langkah apa yang akan diambilnya untuk mengintimidasi Josh agar tidak mengusik Vallery. Apalagi setelah mengetahui siapa Josh sebenarnya, Edward jadi tidak yakin dengan dirinya sendiri.


"Ku rasa kau tidak perlu mengganggunya, dia bukan orang biasa seperti kelihatannya." saran Willy.


"Yah, aku tidak akan mengusiknya. Aku akan bicara baik-baik padanya. Apa kau rasa dia mau bernegosiasi denganku?" tanya Ed serius.


"Jika soal untung-rugi dan masalah uang, ku rasa dia mau mempertimbangkannya. Tapi jika itu menyangkut hal pribadi aku tidak yakin." kata Willy.


Ed mengangguk setuju dan Willy hanya diam memperhatikan tingkah sang Atasan yang belakangan hari tampak berbeda. Willy cukup mengenal Edward dengan baik. Mereka bukan mengenal setahun-duatahun, tapi mereka layaknya saudara karena besar di panti asuhan yang sama. Untuk itulah Willy mau bekerja dan mengabdi pada Edward, mengingat Nenek Ed lah sang pemilik panti tempatnya tinggal dulu.


Dan Edward mengatakan jika Josh mungkin menyukai adik istrinya. Memangnya kenapa dengan hal itu? Memangnya kenapa jika Josh memiliki hubungan dengan Adik ipar Ed?


Sepertinya Edward terlalu mencampuri urusan adik iparnya itu?-Pikir Willy.


Willy tidak berani menyimpulkan apa-apa, walau dalam kepalanya sudah mendapat jawaban akan tindakan Ed yang terlalu jauh dan ingin tahu soal lelaki bernama Josh. Dia lebih memilih bungkam.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Josh mengantarkan Vallery kerumah, dengan niat membantu Vallery yang akan pindah.


"Masuklah, Josh. Aku hanya sebentar," kata Vallery.


Josh masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Vallery melangkah masuk ke kamarnya, sebelumnya dia sudah menyiapkan tas dan kopernya. Dia mengambil itu dan keluar dari sana. Josh melihatnya dan membantu Vallery mengangkat koper dan sebuah travel bag.


"Josh, terima kasih banyak." ujar Vallery sungkan.


"Aku tidak butuh itu." kata Josh singkat dan Vallery hanya tersenyum kecil.


Mereka pun keluar rumah, Josh memasukkan barang-barang Vallery kedalam bagasi mobilnya. Hari belum terlalu sore karena mereka tidak kembali ke kampus lagi tadi. Mereka benar-benar bolos kuliah.


"Okay, Let's go.." Josh menyalakan mobilnya dan perlahan-lahan meninggalkan pekarangan rumah.


"Aku tidak mau membahasnya."


"Ya, aku tahu semua punya problem masing-masing. Termasuk Sophia, kau dan aku." kata Josh tetap fokus mengemudi.


"Begitulah..." ujar Vall. "Kau sendiri? Apa permasalahanmu?" tanya Vallery serius.


"Aku? Aku cukup mempunyai banyak masalah." kelakarnya.


"Salah satunya?"


"Kau sudah tahu jika aku bermasalah dengan adik tiriku." kata Josh seraya mengangkat bahunya.


"Selain itu?"


Josh mengacak rambut Vallery sambil terkekeh dan Vallery mendengus keras.


"Kapan kita berkencan, hah?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.


Vallery mencebik. Dia membuang pandangan keluar jendela mobil. Josh terkekeh lagi melihatnya.


"Kau tidak akan tertarik dengan cerita hidupku, Vall." ujarnya. "Aku tidak menceritakannya karena itu membosankan." sanggah Josh.


Vallery tetap diam sambil memberengut kesal, entah kenapa dia kesal jika Josh tidak terbuka padanya.


Saat Josh ingin kembali mengganggu Vallery dengan mengacak rambutnya, ponsel Josh terdengar berdering.


Josh melihat siapa yang meneleponnya, dia tampak ragu menerima panggilan itu didepan Vallery.


"Terima saja, mungkin itu penting." celetuk Vallery dan mau tidak mau Josh pun menerima panggilan itu.


Vallery mencuri-curi dengar pembicaraan Josh melalui jaringan seluler itu. Sedikit banyak dia ingin tahu kehidupan Josh yang tertutup. Walau sepertinya Josh sangat terbuka pada Vallery, tapi Vallery tahu jika lelaki disampingnya ini memiliki kehidupan yang misterius.


"Aku akan menemuinya nanti."


"Ya,"


"Biar ku urus."


Hanya itu yang keluar dari mulut Josh saat menjawab panggilan itu. Vallery menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia tidak mendapat sesuatu yang berarti dari kegiatan mengupingnya.


Josh tampak memutuskan panggilan. Lalu dia menatap Vallery sekilas. "Sorry.." katanya.


Vallery mengangguk, menurutnya tidak ada yang perlu dimaafkan.


"Josh, ceritakan tentang dirimu!" tuntut Vallery. Dia sadar tidak akan mendapat apa-apa jika dia hanya diam dan menguping, jadi dia memutuskan untuk bertanya langsung.


"Come on, Vall. Tidak ada yang menarik." kilah Josh.


"Aku ingin mendengarnya. Jika kau menganggapku sebagai teman maka ceritakan tentangmu."


"Aku tidak menganggapmu sebagai teman." Kata Josh sambil terkikik.


Alis Vallery menyatu. "Lalu?" tanyanya heran.


"Bukankah kau mengatakan jika aku adalah pacarmu pada Alexa?" Josh tersenyum miring.


"Maaf untuk itu. Seharusnya aku mendiskusikannya dulu padamu." kata Vallery lirih.


"Hemm.. Vall?"


"Yah?" Vallery menoleh menatap Josh yang mengetuk-ngetuk jari di kemudi.


"Aku tidak masalah kau mengakuiku sebagai pacarmu didepan Alexa." kata Josh mulai serius, tawanya sudah lenyap entah kemana. "Tapi dilingkungan luar, jangan pernah mengaitkanku denganmu." kata Josh dengan hati-hati.


Vallery mengedip-ngedipkan matanya. "Kenapa?" tanyanya heran. Dia merasa Josh menolaknya walau hanya sebatas pacar pura-pura.


"Tidak ada. Aku tidak punya alasan untuk itu." sahut Josh lirih.


Vallery meremass jemarinya sendiri. Dia benar-benar bingung melihat tingkah Josh. Apa dia benar-benar tidak menarik dimata lelaki itu? Sampai untuk menjadi pacar pura-pura pun Josh tidak berminat.


"Baiklah, jika kau keberatan akan hal itu. Aku minta maaf Josh. Aku akan mengatakan pada kakakku jika kita sudah putus."


"No!" tegas Josh. "Biarkan Alexa dan suaminya mengetahui jika kita berpacaran. Cukup sampai disitu. Diluar itu tidak." katanya penuh penegasan.


"Josh, aku tidak mengerti jalan pikiranmu."


Josh diam dan dia keluar dari kursi pengemudi karena mobil telah sampai di basement apartemen yang akan ditempati Sophia dan Vallery.


"Percayalah padaku. Apapun yang ku katakan itu untuk kebaikanmu." kata Josh sambil membukakan pintu mobil untuk Vallery.


...To be continue ......