My Another Love

My Another Love
Find out



Edward tiba di kantornya, dia duduk di kursi kebesarannya. Hal pertama yang Ed lakukan dalam ruangan itu bukanlah bekerja, dia tidak berminat memulainya. Yang dia lakukan hanyalah memijat pelipisnya sambil melamun.


"Good morning, Sir.."


Ed menatap sekilas Asistennya, tanpa ada minat untuk membalas sapaannya.


"Sir, hari ini jadwal Anda--"


"Batalkan semua jadwalku hari ini." kata Ed memotong ucapan Sang Asisten dengan nada dingin.


"Baik." Ucap lelaki muda itu dengan takzim, tidak ada protes ataupun keluhan yang keluar dari mulutnya, walau membatalkan jadwal Edward yang sudah disusun rapi akan membuatnya sedikit kerepotan.


"Cari tahu tentang identitas seseorang." titahnya.


"Yes, Sir.."


"Namanya Josh, dia teman adik iparku. Dia mengaku sebagai Karyawan biasa. Cari semua datanya, tanpa terkecuali."


Asisten Edward itu pun mengangguk.


"Waktumu hanya satu jam untuk itu, Willy." ucap Ed seraya mengetuk-ngetukkan jari di keningnya sendiri.


Willy tahu yang diinginkan oleh atasannya itu. "Saya akan melakukannya dengan cepat, Sir.." jawab Willy pugas.


Edward tahu Willy bisa diandalkan. Willy bukan hanya Asisten pribadi biasa, dia memiliki akses dan dia adalah seorang hacker.


Saat Willy ingin beranjak keluar dari ruangan itu, Edward kembali memanggilnya.


"Willy, cari tahu nama keluarganya!"


"Yes, Sir.." Willy sedikit membungkuk dengan sikap hormat sebelum benar-benar meninggalkan Ed diruangan itu.


Setelah Willy keluar dari sana, Ed berdiri dari kursinya. Dia menyibak sedikit tray yang menutupi penglihatannya untuk melihat keluar jendela.


Edward melamun lagi sambil melihat pemandangan diluar sana dari atas gedung tempatnya berpijak.


Entah kenapa, dia memikirkan pernikahannya yang belum genap sebulan. Dia merasa bersalah pada Alexa sekaligus Vallery. Semua masalah yang terjadi sekarang adalah murni kesalahannya.


Ed tidak biasa melamun, hampir separuh umurnya dia habiskan untuk bekerja, hingga dia memiliki usaha property atas namanya sendiri bukan dari keluarganya. Dia tidak memiliki keluarga, dia hanya memiliki seorang Nenek yang menjaganya sejak dia kecil dan itupun sudah meninggal beberapa tahun silam.


Entah karena pernikahannya, atau karena Vallery yang akhir-akhir ini selalu menyita pikirannya, membuatnya sering melamun dan berpikir hal diluar pekerjaan.


Ed pikir dengan memutuskan menikah, dia akan melupakan masa lalunya yang sedikit susah untuk dia terima. Dia ingin membentuk keluarga, dia ingin keluar dari masa-masa terkelamnya.


Tapi ternyata, semua semakin rumit sejak dia menikah. Bukan, bukan pernikahannya yang rumit melainkan kesalahannya pada Vallerry lah yang membuat rumit karena itu membuat hatinya menjadi bimbang.


Edward bimbang menentukan hatinya. Tapi Ed belum memutuskan apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Dia tidak ingin menarik kesimpulan bahwa dia menyukai Vallery. Dia memiliki Alexa tapi dia mengakui bahwa dia lebih sering memikirkan Vallery.


Dan parahnya lagi, dia bahkan belum menyelesaikan masalah hati dengan Vallery, tapi gadis itu sudah lebih dulu pergi dan memutuskan untuk pindah. Vallery benar-benar menghindarinya dan ini membuatnya semakin gelisah. Belum lagi soal Vallery yang sudah memiliki kekasih, entah kenapa itu benar-benar mengganggunya.


Ed mengaku pada dirinya sendiri, jika dia mencemburui Vallery dengan Josh.


Hampir setengah jam Edward melamun didepan jendela. Sampai suara ketukan pintu diruangannya berhasil membuatnya menghentikan aktifitas tidak berguna itu.


"Masuklah, Willy.."


Willy benar-benar membuktikan kredibilitasnya sebagai seorang Asisten Edward. Edward memberinya waktu satu jam, tapi tidak sampai waktu itu dia sudah kembali ke ruangan Edward dengan membawa lembaran kertas ditangannya.


Willy meletakkan lembaran itu tepat dihadapan Ed yang sudah kembali duduk dengan bersedekap dada.


"Silahkan, Sir." kata Willy.


Sebelum Edward membuka lembaran pertama, Willy menginterupsinya sedikit.


"Kenapa kau tertarik dengan latar belakang lelaki itu, Sir?" tanyanya.


Edward menatap Willy sekilas, dia tersenyum miring. "Aku hanya tidak percaya kalau dia adalah Karyawan biasa seperti pengakuannya," jelas Ed.


Edward sempat melihat Josh mengantar dan menjemput Vallery dengan mobil sport yang memiliki double cabin. Lalu kemarin malam, dia menggunakan mobil lain yang tak kalah mewah. Salah satu keahlian Ed adalah menelisik harga aset milik orang lain, karena dia adalah pebisnis dalam bidang property. Walau itu tidak menjangkau ke harga bagian transportasi, tapi Ed cukup tahu harga mobil-mobil yang digunakan oleh Josh dan itu membuatnya tidak yakin jika Josh adalah karyawan biasa seperti yang lelaki itu katakan.


Ed memiringkan kepalanya sekilas sambil menyeringai. "Mari kita lihat apa yang kau dapatkan." kata Ed seraya membuka lembaran yang diberikan oleh Willy.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Kau masuk kuliah hari ini?" sindir Vallery pada Josh yang sudah duduk dibelakang kursinya.


Josh tersenyum simpul, "Maaf aku tidak menjemputmu tadi." kata Josh.


"Aku tidak mengharapkan hal itu." jawab Vallery cepat.


Josh mengangguk kecil lalu fokus pada layar laptopnya. Vallery ingin bicara pada Josh, meminta izinnya agar bisa tinggal bersama Sophia di Apartemen yang dia pinjamkan.


Vallery melirik Sophia dan gadis itu memberi isyarat agar Vallery berbicara saja pada Josh.


"Ehm, uhm.. Josh?" Vallery memulai pembicaraannya karena Sophia meyakinkannya dari tatapan mata.


Josh menatap Vallery sekilas. "Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Josh, dia melihat keraguan di wajah Vallery.


"Aku ingin bicara.." kata Vallery pada akhirnya, tubuhnya sedikit dimiringkan kebelakang agar bisa menatap Josh.


Josh menutup laptopnya. "Yups, tepat sekali. Ada yang ingin ku sampaikan juga padamu." kata Josh.


Vallery melirik Sophia saat Josh tiba-tiba menarik tangannya begitu saja untuk keluar dari kelas. Sophia hanya melambaikan tangan pada mereka berdua.


Hampir semua orang yang mereka lewati tentu melihat aksi mereka tapi Josh tidak mempedulikan tatapan ingin tahu dari orang-orang itu, dia tetap melangkah seraya menggandeng Vallery dibelakang tubuhnya.


Vallery pun berlari-lari kecil mengikuti langkah Josh yang lebar. "Josh, kenapa--kenapa kita keluar dari kelas?" tanya Vallery sambil terus berlari mengikuti Josh yang menarik tangannya.


"Kau bilang ingin bicara, kan? Kita tidak bisa bicara dikelas karena sebentar lagi Dosen akan masuk." kata Josh sambil terus melangkah. Entah kemana dia akan membawa Vallery.


"Ya, tapi-tapi.." Vallery tidak bisa melanjutkan lagi karena Josh sudah berhenti melangkah.


"Masuklah," katanya.


Vallery mengedarkan pandangan, ternyata Josh membawanya ke parkiran dan kini dia menyuruh Vallery untuk masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana? Aku harus kuliah.." kata Vallery, tapi dia tetap masuk ke dalam mobil Josh.


Josh menggeleng dan memasuki mobilnya juga lalu duduk dibalik kemudi. "Katakan, apa yang ingin kau bicarakan!" ucapnya.


Vallery menggaruk pelipisnya. Dia kembali ragu dan sungkan. Walaupun dia yakin Josh akan memberinya tumpangan, tapi dia tidak bisa menebak isi kepala Josh jika dia sudah mengatakan hal itu.


Apa yang akan dimintanya jika Vallery mengatakan niatnya untuk ikut pindah? Sedangkan dengan Sophia, Josh bisa meminta syarat aneh sebagai bayaran. Lalu bagaimana jika Vallery yang meminta permintaan yang sama? Apa yang akan dibuat Josh sebagai syarat?


"Kau tidak jadi bicara?" desak Josh. Wajahnya menatap Vallery dengan serius. Vallery membuang pandangan keluar jendela.


"Baiklah, jika kau tidak ingin bicara lebih dulu, aku saja yang bicara." kata Josh.


Vallery diam dan Josh menganggap Vallery setuju. Josh mendekat ke sisi Vallery, membuat Vallery tercengang tapi ternyata lelaki itu memasangkan seatbelt pada tubuh Vallery lalu mulai menyalakan mobilnya.


"Maaf membuatmu bolos hari ini." kata Josh saat deru mesin mobil terdengar. Vallery hanya memutar bola matanya jengah, itu artinya Josh bolos lagi hari ini dan parahnya sekarang dia juga mengikuti jejak Josh.


Mereka meninggalkan area kampus begitu saja, meninggalkan kelas dan mata kuliah hanya untuk berbicara satu sama lain. Sungguh aneh-pikir Vallery.


"Hal yang ingin kau bicarakan mengenai apa?" tanya Vallery pada akhirnya. Dia cukup heran kenapa Josh harus mengajaknya bolos jika hanya ingin bicara. Sepenting apakah pembicaraan ini?


"Kita bicara setelah kita sampai." kata Josh seraya mengemudikan mobilnya. Vallery mengangguk dan memutuskan untuk diam. Tidak lama, mobil yang dikemudikan oleh Josh perlahan-lahan mulai berhenti disebuah Restoran.


"Ayo," kata Josh seraya keluar dari mobilnya. Vallery mengikuti langkah Josh. Mereka duduk diarea luar Restoran itu dan memesan minuman.


"Vall, maaf jika perkataanku akan sedikit menyinggungmu." kata Josh memulai pembicaraannya. "Mungkin ini akan membuatmu tidak nyaman, tapi entah kenapa aku terus memikirkannya." aku Josh.


Vallery mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Aku tidak tahu kau akan setuju atau tidak, tapi dengarkan saranku ini." Josh benar-benar bicara serius sambil menatap Vallery yang masih diam.


...To be Continue ......