My Another Love

My Another Love
Not expected



Sesuai dengan janjinya, Alexa pulang kerumah dan disambut oleh suaminya. Setelah bersiap-siap mereka pun melakukan perjalanan menuju sebuah Resto yang berada di Rooftop Hotel berbintang.


"Honey, terima kasih sudah mau mengajakku makan malam yang romantis." Alexa mengelus punggung tangan Edward dan lelaki itupun tersenyum simpul.


"Yah, nikmatilah makananmu." kata Edward lembut.


Edward menatapi Alexa, istrinya itu sangat cantik dan sempurna. Berbeda dengan Vallery yang memiliki mata cokelat, Alexa mempunyai mata biru keabu-abuan, sangat memikat dan mempesona. Alexa juga sudah berusaha menerima dirinya dengan baik.



Tapi kenapa dia tidak bisa memenuhi pikirannya dengan Alexa saja? Alexa adalah istrinya dan tidak salah jika Ed memiliki perasaan padanya. Sayangnya sejak tahu sebuah kesalahan membuat Ed tidak mensyukuri apa yang sudah dia miliki saat ini. Terlebih lagi yang dia harapkan justru adalah Adik iparnya sendiri.


"Ed, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Alexa sambil tersenyum hangat pada suaminya.


"Ehm--uhm.. itu, kenapa warna matamu begitu?" tanya Ed salah tingkah.


"Memangnya kenapa dengan warna mataku? Bukankah ini biasa?" Alexa menggeleng kecil melihat tingkah dan pertanyaan suaminya yang aneh.


Edward ingin menanyakan kenapa mata Alexa dan Vallery berbeda padahal mereka adalah saudara, yah walaupun sekilas wajah mereka memiliki kemiripan. Tapi, Edward tidak berani menanyakan hal itu langsung pada Istrinya.


"Ya, tapi itu indah." kilah Ed sambil tersenyum yang amat dipaksakan.


Alexa terkekeh. "Benarkah?" tanyanya tak percaya. "Jika memang begitu, berarti aku beruntung karena mataku mengikuti warna mata Ibu. Berbeda dengan mata Vall yang sangat mirip dengan mendiang Ayah kami." jelas Alexa panjang lebar sekaligus menjawab rasa penasaran Edward tanpa dia sadari.


Edward mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi kau lebih dominan seperti mendiang Ibumu?" tanya Ed.


"Iya, sayang. Aku adalah duplikat Ibu." Alexa tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Bicara tentang Vallery, bagaimana kabarnya di tempat baru?" Ed memulai rencananya karena mendengar Alexa sudah menyebutkan nama sang Adik.


"Oh ya, aku hampir melupakannya." Alexa sedikit panik dan mencari-cari keberadaan handbag-nya. "Kau tahu, tadi aku akan menanyakan kabarnya, aku ingin meneleponnya tapi karena aku antusias untuk dinner bersamamu, aku jadi lupa." Alexa pun meraih ponsel dari dalam tas-nya.


"Ya, teleponlah dia." kata Edward tersenyum miring.


Alexa menghentikan aktifitas makan malamnya, dia ingin menelepon Vallery segera. Dia cukup merindukan Gadis yang selalu dianggapnya masih kecil itu.


Beberapa kali Alexa menelepon Vallery tapi nomornya tidak bisa dihubungi.


"Kenapa?" tanya Edward pada Alexa yang tampak khawatir.


"Teleponku tidak tersambung." Alexa memberengut sedih.


"Mungkin Vall sedang sibuk dan ponselnya kehabisan baterai." kata Ed menenangkannya.


"Yah, nanti aku akan meneleponnya lagi." kata Alexa menatap Ed. "Adik kecilku, kemana kau?" gumamnya.


Ed tersenyum sekilas, ternyata ini tidak sesusah yang dia bayangkan. Dia memang ingin mengajak Alexa menemui Vallery dengan berbagai macam alasan dan rencana yang terancang dikepalanya, tapi dengan kejadian ini dia bisa memanfaatkan situasi. Benar begitu 'kan?


"Jika kau mengkhawatirkannya, kenapa tidak mengunjunginya saja di Apartemen?" Ed bertanya sekaligus menyarankan hal yang sudah terlintas dikepalanya. Dia benar-benar ingin bertemu Vallery.


"Ah, benar. Lagipula aku belum berkunjung ke tempat barunya. Aku ingin melihat tempat tinggal Adikku yang baru. Apakah itu nyaman dan aman. Seharusnya begitu 'kan, Honey?"


Yap, tepat sekali Alexa malah meminta sarannya. Jelas saja Edward tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Aku setuju, kau perlu melihat keadaan dan kenyamanannya ditempat baru. Kau tahu tempatnya?" Timpal Edward dengan smirk penuh kemenangan.


"Aku tahu, Vall sudah memberitahuku sebelumnya."


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Vall, apa kau dan Josh sudah menjalin hubungan?" Sophia mulai mengajukan pertanyaan pada sahabatnya.


Vallery menggeleng. "Kami tidak memiliki hubungan, Sophi." katanya lirih.


Sophia mengernyit. "Aku melihat kalian berciuman. Bagaimana dengan itu?" tanya Sophia yang membuat wajah Vallery memerah membayangkan kejadian tempo hari.


"No, itu hanya--"


"Jangan bilang itu hanya main-main." Sophia mengingatkan Vallery karena dia tahu Vallery masih memiliki perasaan pada Edward. Sophia lebih mendukung Vallery bersama Josh dan jangan mempermainkan perasannya.


"Aku tidak tahu Sophi, aku melakukannya begitu saja. Dan pagi tadi saat Josh menciumku aku juga tidak menolaknya."


"What? Jadi kalian berciuman lagi tadi pagi?" Sophia tampak kaget dan Vallery mengangguk untuk mengakui.


"Josh menyukaimu! Kau tahu itu 'kan?" timpal Sophia.


"Ya, aku harus bagaimana? Aku tidak percaya diri. Aku menyuruhnya mencari gadis lain yang pasti lebih baik dari aku." lirih Vallery.


"Fix kau bo*doh!" kata Sophia sambil tergelak.


Vallery memukul Sophia dengan bantal sofa. "Aku cuma tidak mau dia mempermainkanku setelah dia tahu keadaanku yang sebenarnya." ucapnya.


"Lalu, kalau dia mau menerimamu, bagaimana?"


"Itu tidak mungkin, Sophia."


Suara Bell Apartemen terdengar, Sophia beranjak untuk membukakan pintu. Dia memang sedang menunggu pesanan makanan mereka.


"Hai Sophi ..."


Sophia terhenyak kaget saat yang datang ke Apartemen bukanlah kurir pengantar makanan melainkan Alexa dan ... Edward.


"K-kak.." Sophia tersenyum kikuk.


"Mana Vallery?" Alexa mencari-cari Vallery dengan pandangan menyelidik kedalam ruangan.


"Vallery--" belum sempat Sophia menjawab, Edward lebih dulu menyelanya.


"Apa kami tidak boleh masuk?" sela lelaki itu dengan suara baritonnya.


"Makanannya sudah datang, Sophi?" teriak Vallery dari dapur. Dia pikir makanan mereka sudah tiba, dia menyiapkan piring dan gelas untuk makan malam mereka di ruang makan.


"Silahkan masuk, Kak." ucap Sophia gugup, awalnya dia mau berbohong dengan mengatakan Vallery pergi bersama Josh, agar Alexa dan Ed tidak masuk kedalam lalu menemui Vallery. Tentu maksud Sophia bukan untuk menjauhkan Vall dengan kakaknya, melainkan dia tahu ada kelicikan dimata Edward yang memanfaatkan Alexa untuk bisa menemui Vallery malam ini.


Karena Vallery sudah bersuara, mau tak mau Sophia pun menyuruh mereka masuk.


"Hai adik kecilku, bagaimana kabarmu?" Alexa langsung masuk dan menemui sang Adik yang tengah berada didapur. Sedangkan Edward duduk di sofa ruang tamu.


Vallery tersentak tapi dia senang begitu melihat kehadiran Kakaknya.


"Kakak? Kau disini?" Vallery memeluk sejenak tubuh sang Kakak.


"Aku merindukanmu." kata Alexa manja tapi Vallery terkekeh.


"Kakak, jangan bersikap begitu lagi padaku, kau sudah menikah. Manja saja dengan suamimu!" kata Vallery secara harfiah, dia tidak tahu jika Edward juga ada disana dan bisa mendengar itu dengan cukup jelas. Entah kenapa, Edward tidak senang mendengar ucapan Vallery itu.


"Bicara soal suamiku, dia juga ikut kesini. Ayo sapa dia didepan.." kata Alexa membuat mata Vallery membulat karena terkejut.


"Aku pikir kau sendirian, Kak. Aku pikir kakak mampir sehabis pulang bekerja." kata Vallery agak mengecilkan volume suaranya.


Alexa terkekeh. "No, Vall. Kami baru saja makan malam romantis." jawab Alexa semringah. Vallery mencoba tersenyum walau dalam hatinya merasa ada hal aneh yang membuatnya tidak suka kala mendengar kakaknya dan Edward dinner berdua dan ... Romantis?


"Kalian belum makan?" Alexa melihat Vallery yang memegang piring kosong. Vallery mengangguk dan tak lama Sophia juga memasuki dapur. Dia sudah menenteng bungkusan makanan yang ternyata sudah diantar kurir.


"Sophi, kau makanlah dulu. Aku akan menyapa Kakak iparku didepan." Vallery melihat Sophia dengan sorot matanya yang mengembun. Sophia tahu jika saat ini Vallery tidak sedang baik-baik saja.


"Baiklah," jawab Sophia singkat.


Vallery dan Alexa pun menuju ruang tamu. Alexa duduk disebelah Ed dan Vallery mengisi single sofa diseberangnya.


"Hai, Kak ..." Sapa Vallery pada Edward, berusaha bersikap ramah didepan Alexa. Ini bukan sesuatu yang dia harapkan.


"Hai, Vall. Bagaimana kabarmu?" tanya Edward sambil mengulumm senyum.


"Aku baik, seperti yang terlihat."


"Apartemen kalian sangat bagus. Kalian betah disini?" tanya Alexa seraya menatap ke sekelilingnya.


Vallerry mengangguk. "Ya kak, Aku nyaman tinggal disini." sahutnya.


"Senyaman-nyamannya disini, lebih nyaman lagi dirumah sendiri, Vall. Apalagi rumah yang banyak kenangan bersama orang yang special." timpal Edward, sengaja menekankan kata-katanya.


Vallery menghela nafasnya. Dia tahu yang dimaksudkan Edward adalah kenangan yang salah satunya adalah bersama lelaki itu sendiri.


Kenangan pahit-benak Vallery.


"Aku tidak punya rumah sendiri. Selama ini aku menumpang pada orangtuaku dan selanjutnya menumpang dirumah Kakak iparku." kata Vallery datar, sesungguhnya dia menyindir keadaannya sendiri.


Ed menyeringai, dia suka melihat Vall yang menantang dan menyindirnya.


"Aku tidak menganggap begitu." sahut Ed dengan senyuman tipis.


Alexa tidak menyadari perdebatan mereka yang terjadi secara tak langsung itu, dia hanya diam mendengarkan sambil menilai interior ruangan yang sangat Aestetic.


"Vall, Josh meneleponmu. Nomormu tidak aktif." tiba-tiba suara Sophia menginterupsi percakapan yang hanya didominasi oleh Edward dan Vallery itu.


"Josh meneleponku? Dia bahkan tidak punya nomorku?-batin Vallery bertanya-tanya.


"Ya, Vall ... tadi kakak juga menelponmu sebelum kesini tapi tidak tersambung." kata Alexa menimpali.


"Ponselku di kamar, Kak. Mungkin aku lupa mengisi baterai." kata Vallery jujur.


Saat Vallery ingin beranjak untuk melihat ponselnya yang ada dikamar, Sophia segera menghampirinya.


"Ini, Josh meneleponmu!" Sophia menyerahkan benda pipih kepunyaannya pada Vallery. Membuat Vallery menatapnya bingung.


...To be continue ......