
Vallery meninggalkan kediamannya, dia menuju kampus menggunakan Bis. Dibanding menaiki Taxi, Vallery lebih memilih Bis, karena itu bisa menghemat pengeluarannya. Dia tidak memiliki penghasilan selain uang saku dari Alexa.
Vallery berjalan cepat tanpa menoleh disepanjang koridor kampus, dia pribadi yang tertutup dan cuek, karena itulah dia tidak memiliki banyak teman. Teman akrab satu-satunya hanya Sophia, yang dikenalnya sejak mereka sama-sama duduk di jenjang Senior High School.
Vallery mencari keberadaan Sophia namun ia tak melihatnya. Dia pun memutuskan untuk duduk di taman kampus sambil membaca novelnya.
"Hai, Vall."
Vallery menoleh dan ada Jesica disana. Vallery tersenyum sekilas dan Jesica pun duduk disampingnya.
Vallery memilih diam, melanjutkan bacaannya. Namun Jesica mulai bersuara.
"Vall, apa kau tidak tertarik untuk berkencan dengan seorang pria?"
Vallery menutup novelnya dan melihat Jesica yang tengah mengulumm senyum.
"Kenapa kau menanyakanku soal itu?" Tanyanya heran.
"Kau gadis yang cantik, kau hanya perlu merubah penampilanmu sedikit dan kau akan mendapatkan teman berkencan."
Vallery berdecak, berbicara dengan Jesica selalu menyangkut tentang pria. "Apakah begitu?" Kata Vall dengan nada tidak tertarik.
Jesica terkekeh. "Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan lelaki manapun selama kita kuliah." Ucapnya.
"Apa itu penting? Aku tidak butuh pacar atau sejenisnya." Kata Vallery cuek.
"Come on, Vall ... Kita bahkan hampir lulus dari Universitas." Jesica menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Atau kau penyuka sesama jeniss?" Ejeknya.
Mata Vallery membulat. "Kau kehabisan obat. Minum obatmu, Jes." Kata Vallery dengan nada tak suka.
Jesica kembali terkekeh kencang, bahkan gadis itu memegangi perutnya. Vallery menyesal meladeni omong kosong Jesica, dia bangkit dan hendak pergi dari sana.
"Sesekali ikutlah denganku. Kita akan bersenang-senang dan kau akan melupakan masalahmu!" Ajak Jesica masih dengan suara tawanya yang nyaring.
Vallery terdiam diposisinya, dia tidak jadi melangkah. Dia memang ingin melupakan masalahnya dirumah.
"Come on, Vall... Jika kau setuju aku akan menjemputmu nanti malam. Kau pasti akan ikut bersenang-senang." Kata Jesica meyakinkan Vall yang tampak mulai tertarik dengan ajakannya.
Vallery masih menimbang-nimbang tawaran Jesica, sepertinya dia memang butuh hiburan dan ingin bersenang-senang untuk melupakan tentang Ed. Hidupnya harus terus berlanjut, bukan?
"Oke." Kata Vallery membuat Jesica berdiri dan mereka berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan.
"Deal. Aku jemput kau jam 10." Kata Jesica semringah.
"Itu terlalu malam."
Jesica terkikik geli. "Jangan bilang biasanya kau tidur di jam itu." Goda Jesica dan Vallery berdecak lidah.
"Baiklah ..." Ujarnya lalu beranjak pergi.
Vallery tidak tahu kenapa dia mengiyakan ajakan Jesica. Beberapa kali juga dia diajak Sophia untuk ikut bersenang-senang tapi Vall tidak tertarik. Mungkin saat itu waktu dan moment-nya belum tepat dan sekarang adalah saatnya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Vallery telah siap dengan pakaian casualnya. Menggunakan crop top yang sedikit menampakkan kulit perut dan pinggulnya, dia juga menggunakan cardigan sebagai outer. Dia tidak terlalu percaya diri mengenakan pakaian terbuka dan meng-ekspos tubuhnya.
Rambutnya tergerai rapi dengan sulur kecoklatan yang panjang. Ia menggunakan celana jeans panjang dan sepatu sneakers untuk pelengkap penampilannya.
Vallery bercermin, memakai bedak tabur dan hanya menggunakan pelembab untuk memoles bibirnya yang tidak biasa menggunakan lipstik.
Dia sama sekali tidak menggunakan make-up tapi kecantikannya terpancar secara alami.
Setelah selesai, Vall menyampirkan slingbag nya dan keluar dari kamar pribadinya.
"Kau mau kemana?" Suara itu mengagetkan Vallery yang baru saja hendak menuju pintu keluar.
Ed menatapi penampilan Vall. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lelaki itu tahu jika saat ini Vall akan pergi dilihat dari outfit yang Vall kenakan.
"A-aku akan pergi, Kak." Jawab Vallery seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Kemana?" Tanya Ed penuh selidik.
"Pergi bersama temanku." Vallery melangkah lagi menuju pintu. Dia ingin segera pergi, dia takut Ed akan melakukan kesalahan lagi seperti kemarin. Terlebih kesalahan itu tak Vall tolak sama sekali. Vall sadar dia juga salah tentang itu.
"Teman? Girl or boy?" Selidiknya lagi.
Vallery yang tengah menekan knop pintu menoleh sekilas kearah Ed. "Bukan urusanmu, Kak." Katanya jengah.
"Begitukah?" Sarkas Ed. "Kau adalah adik Alexa. Itu berarti kau adalah adikku juga." Sambungnya.
Vall terdiam, ia merasa tertampar oleh ucapan Ed. Itu berarti Ed menganggapnya adik? Begitukah?
"Adik katamu? Kau berbicara seolah kau adalah kakakku. Tapi kau lupa apa yang kau lakukan padaku." Tangan Vallery mengepal.
"Apa ada seorang kakak yang berbuat seperti yang kau lakukan padaku?" Vall menahan isak tangisnya. Matanya berkaca-kaca. Semburat kemerahan muncul disekitar bulu mata lentiknya. Entah ia ingin menangis karena mengingat perlakuan Ed padanya atau karena ia sakit hati karena Ed menganggapnya sebagai seorang adik.
Kenapa dia tidak mau Ed menganggapnya begitu? Kenyataannya memang begitu 'kan? Lalu apa yang dia harapkan sebenarnya?
Ed terdiam, ucapan Vallery adalah kenyataan. Kebenaran yang tidak bisa dia sanggah. Vallery adalah adiknya dan apa yang telah dia lakukan padanya?
"Pergilah. Aku memang tidak berhak atas dirimu." Kata Ed lirih.
Vallery segera keluar dari rumah, dilihatnya mobil Jesica yang sudah mengklakson dengan tidak sabar diluar pagar.
Vallery pun memasuki mobil itu lalu terisak didalamnya. Meluapkan tangis yang sejak tadi dia tahan dan tak mungkin dia tunjukkan didepan Ed.
"Vall, are you oke?" Jesica memegang pundak Vall yang tertunduk dengan lemah.
Vallery mengangguk dan melanjutkan tangisnya hingga puas.
"Aku sudah mengira kau punya masalah. Lupakan itu !!! kita akan bersenang-senang." Bujuk Jesica, ia mengelus-elus bahu Vall yang berada disampingnya kemudian dia mulai menyalakan mobil dan mengemudikannya menuju sebuah Club malam dipusat kota.
Dilain sisi, Ed melihat dari balik jendela. Sebuah mobil yang baru saja bergerak meninggalkan kediamannya. Didalam mobil itu ada Vallery, Adik iparnya.
Yah, Vallery adalah adik iparnya dan itu adalah kenyataan. Awalnya Ed menganggap Vallery sebagai adik Alexa yang telah menjadi adiknya juga, tapi makin kesini dia tidak tahu harus menempatkan Vall sebagai apa dalam hidupnya, itu semua karena kesalahannya.
Sejak tahu dimana letak kesalahannya, Ed memandang Vall dengan cara yang berbeda. Dia tidak mau menganggap Vall sebagai adik. Dia ingin menyangkal kenyataan itu. Dia tidak ingin memiliki perasaan lebih pada Vall tapi setiap melihat mata Vallery, ia merasa terjerat dan tenggelam didalam sana.
Ed terpikat, bukan hanya malam itu saat dia mabuk. Tapi sejak ia tahu kesalahan yang ia buat pada Vallery, entah kenapa itu cukup berdampak untuk hatinya.
Sedangkan dengan Alexa, Ed memang menempatkan Alexa sebagai istrinya. Dia ingin mendukung Alexa dan membahagiakannya.
Awalnya dia memang ingin membuka lembaran baru bersama Alexa. Namun siapa sangka, diawal pernikahannya dengan Alexa malah dimulainya dengan sebuah kesalahan fatal.
Niat awalnya jadi goyah dan hatinya mulai ragu untuk terus bersama Alexa. Tapi dia tidak mau menyakiti siapapun, baik Alexa ataupun Vallery. Ed menjadi serba salah, terlebih dia harus mempertanggung jawabkan keputusannya yang telah menikahi Alexa.
Tapi hatinya juga mengatakan. Apakah dia tidak harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dia lakukan pada Vallery?
Ed menyugar rambutnya, diliriknya jam yang menempel di dinding ruang tamu. Hatinya semakin gusar karena melepas kepergian Vallery ditengah malam begini.
Mau kemana dia?
Lalu Ed teringat Alexa, bagaimana mungkin dia khawatir pada Vallery sedangkan istrinya pun belum pulang di jam segini?
Edward menggeleng pelan, pikirannya menjadi serba salah. Dia merasa tidak ikhlas melepas kepergian Vallery malam ini.
...To be continue ......